Nita sibuk menelpon dengan Irfan dengan sedikit menjauh dariku. Nada bicara Nita yang kadang sedikit meninggi membuatku berfikir, kalau mereka sedang ada masalah. Jadi lebih baik kubiarkan saja. Rumah Sakit ini cukup ramai oleh pengunjung yang berlalu lalang. Kursi yang kududuki hanya ada beberapa orang Ibu- ibu yang sedang beristirahat sambil mengobrol dengan sesama pengunjung karena mungkin bosan berada di dalam ruang inap dimana sanak saudara mereka dirawat. Ku alihkan pandanganku menatap layar ponsel milikku.
'Arka? Dimana? Kita udah sampe, lagi nunggu Joe sholat dulu. '
Begitulah pesan singkat yang baru saja kuketik untuk Arka.
Sambil membuka beberapa sosial media milikku, aku sesekali terkekeh kecil melihat postingan teman- temanku yang lucu dan aneh.
Hingga suara berisik dari anak anak kecil di sekitarku membuatku terganggu.
Anak siapa sih? Main lari- latian di rumah sakit. Nggak ada yang negur lagi.
Tapi, tidak ada satupun anak kecil yang sedang bermain seperti ku pikirkan tadi. Bahkan keadaan lebih sunyi dari sebelumnya. Hanya ada Nita diujung koridor masih sambil memegang benda pipih di telinganya.
Dan Ibu ibu di sekitarku pun hanya tinggal 3 orang.
Dreeeeet!
Dreeeet!
Ponselku bergetar, dan ternyata Arka membalas pesanku.
'Oke, Yas. Langsung kesini aja ya. Joe udah tau kok tempatnya. Aku nggak bisa nyusul. '
'Oke, Arka. Bentar yah'
Kembali suara berisik anak anak kecil terdengar. Kira- kira ada 2 anak yang sedang berlarian di sekelilingku. Dengan gerakan cepat aku menoleh. Dan lagi- lagi, kudapati suasana hening.
Kali ini, perasaanku mulai tidak enak. Bulu kudukku merinding. Entah mendapat instruksi dari mana, aku pejamkan mataku. Anehnya saat mataku terpejam, suara anak anak itu kembali terdengar. Bahkan aku seperti bisa melihat keadaan sekitarku hanya dengan memejamkan mata. Bagaimana kedua anak itu bermain, saling kejar kejaran. Dengan boneka di pelukan mereka.
Eh, TUNGGU! Anak itu? TIDAK MUNGKIN!
Ku buka mataku dan menatap sekitarku dengan rasa takut. Dan lagi- lagi anak anak itu tidak ada di sekitarku. Kembali kupejamkan mata dan kembali suara itu terdengar. Dan saat kubuka mata, mereka hilang.
"Yas? " Suara Joe tiba tiba terdengar tepat disamping telingaku.
"Joe! " ucapku kaget.
"Kenapa?" tanya Joe sambil memperhatikanku dengan teliti.
"Itu ... Anak ... Itu tadi. " ucapku dengan tergagap.
"Yasmin? Kenapa sih? " timpal Nita yang terlihat khawatir melihatku.
"Nggak apa apa kok. Hehe. Emang aku kenapa?" tanyaku mencoba bersikap biasa saja walau pikiran dan hatiku kalut.
"Loe dari tadi diem aja loh, Beb. Kayak orang kesambet. Hampir 15 menit kita panggilin elo! " tutur Nita serius.
"Kamu liat apa, Yas?" tanya Joe.
"Nggak apa apa kok, yuk... Arka udah nunggu kita. ajak kuak lalu berjalan lebih dulu. Mereka berdua pun menyusulku.
Ruang rawat inap Mama Arka lebih jauh kedalam. Jadi kami masih berjalan makin masuk melewati beberapa poli kesehatan lain. Suasana Rumah sakit agak lenggang. Aku dan Nita berjalan beriringan dengan Joe. Beberapa kali aku menoleh kebelakang. Suara mereka sungguh mengganggu. Yah, anak kecil itu. Anak yang kulihat bersembunyi di balik korden kamarku saat pertama kali aku pindah ke rumahku. Kenapa dia bisa ada disini? Lalu siapa anak kecil yang bermain bersamanya. Kenapa mereka menggangguku. Kenapa anak itu mengikutiku.
"Kenapa sih, Yas?" tanya Nita heran.
Aku memang lebih pendiam karena sangat terusik oleh gangguan mereka.
Joe memperhatikanku lalu ikut menoleh kebelakang sepertiku.
"Biarin aja, Yas. " ujarnya.
Aku hanya menatapnya dingin. Lalu mengangguk dan kembali fokus ke depan.
Hingga sampai disebuah ruangan, Joe masuk lebih dahulu.
Ruang Kamboja.
Saat memasuki ruang Kamboja ini, udara di sekitarku terasa sedikit panas. Aku sangat tidak nyaman entah karena apa. Beberapa kali ku Raba tengkuk ku sambil tengak- tengok kesana kemari. Nita sudah mendekat dan berbincang dengan Arka dan Joe.
Aneh!
Ada yang aneh dengan tempat ini. Tapi apa yah?
"Yas.., " panggil Nita.
Sontak aku menoleh ke arahnya dan ternyata mereka bertiga sedang menatapku dengan tatapan aneh.
"Kenapa, Yas?" tanya Arka penuh selidik.
"Hm? " aku menggeleng lalu memaksakan senyum di bibirku. Kemudian mendekat. "Mama kamu gimana? " tanyaku basa- basi.
"Udah stabil kok. Cuma masih diliat perkembangannya. " tutur Arka sambil memandangi wajah Ibunda nya dengan tatapan nanar. Ku tepuk pundak Arka, sebagai ungkapan kepedulianku. Dan Arka mengangguk dengan senyum di bibirnya. Hatiku sejuk melihat senyum Arka.
Sejuk?
Ponsel Joe berbunyi, karena tidak ingin mengganggu Mama Arka, Joe pergi keluar.
"Haduh! Aku lupa dompetku ketinggalan di mobil. Aku ambil bentar ya. " ungkap Nita.
"Nanti aja kenapa sih, Beb. Mau beli apa emangnya? " tanyaku Heran.
"Kartu nama produser rekaman di dompet. Irfan lagi minta nih. Harus sekarang. Bentar ya. " ujarnya lalu keluar ruangan. Tinggal aku dan Arka saja disini, menemani Mama nya. Arka banyak diam dan terus menatap wajah Ibu nya yang terlihat tidak berdaya. "Yas ...," panggil Arka.
"Iya, Ka? "
"Aku ke kantin bentar nggak apa- apa? Belum makan dari tadi. Cacing udah demo nih. " kata nya sambil menunjuk perutnya sendiri.
"Hehe. Oke deh. Biar aku jagain Mama kamu. Bentar lagi juga yang lain balik paling. " tuturku.
Arka mengangguk lalu berlalu keluar kamar. Sunyi. Hanya terdengar bunyi alat bantu yang menempel di tubuh Mama Arka. Aku tidak tau apa namanya. Kudekati perlahan dan duduk di kursi samping bed pasien. Entah kenapa ruangan ini terasa lebih dingin. Padahal sudah kupastikan AC kumatikan sejak tadi.
Kreeeteeek
Kutoleh ke belakang, kanan, dan kiri ku, namun tidak kutemui hal yang aneh. Tapi, aku tetap merasa ada yang aneh. Hingga lemari yang ada didekat jendela bergerak. Seolah ada seseorang didalamnya. Hmm ... Atau sesuatu?
Gerakan didalam lemari makin kuat. Aku takut. Tapi penasaran. Perlahan kudekati lemari itu. Langkah pelan, dengan tubuh gemetar seakan - akan mengingatkan ku akan ... Lemari kamarku. Kujulurkan tangan kananku dan berhasil memegang gagang pintu lemari ini. Tidak terkunci. Kutarik pelan. Dan ...
"HWAAAAAAAA! " Teriakku kencang.
Kepalaku terantuk tembok hingga aku mengaduh dengan mata terpejam. Rasanya aku tidak sanggup melihat makhluk yang baru saja keluar dari lemari ini. Sekilas wajahnya sudah pasti buruk. Aku terus merengek sambil menutupi wajah dengan kedua tanganku. Menangis sejadi - jadinya. Sekalipun pandangan mataku tertutup rapat, tapi aku bisa merasakan sosok itu mendekat dan ada di depanku. Terasa dari bau nafasnya yang busuk. Bahkan aku sampai mual dibuatnya.
Dahiku terasa pedih, seperti ada benda tajam menyentuhnya. Jemari tanganku terasa basah. Kuintip sedikit dari celah- celah jariku, dan ternyata kuku panjang milik seseorang di depanku lah yang membuat cairan kental berwarna merah menetes perlahan dari dahiku.
Dia makin mendekat, tiba- tiba kedua tanganku terhempas kesamping dan terasa kaku. Otomatis kini tidak ada lagi penghalang antara aku dan wanita ini. Aku berteriak, namun suaraku seperti tertahan di tenggorokanku. Dia menaikan telunjuk kirinya didepan bibirnya yang hitam dan retak. Menyuruhku diam. Bukannya aku diam, malah aku semakin histeris karena kini matanya yang sebagian besar berwarna putih, hanya menyisakan setitik warna hitam ditengahnya, melotot tajam ke arahku yang hanya berjarak beberapa centi darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Q kalau jadi Yasmin nangis juga pasti,ngeri2 sedap ya Yas😖😖
2024-04-30
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
ya ampun Yasmin gak henti 2nya diteror
2023-04-03
0