"Yas, Yasmin ...." panggil Arka yang sudah duduk di samping ranjang.
Kubuka mataku perlahan, Arka sedang tersenyum sambil menggenggam segelas susu.
"Arka," sahutku lalu mencoba duduk dan bersandar pada bahu ranjang belakangku.
"Minum dulu, kamu nggak usah berangkat sekolah ya. Kamu demam semalem," ujar Arka, mengulurkan gelas itu padaku.
"Aku demam? Masa sih?"
Kuteguk susu yang masih hangat itu perlahan.
"Iya, bahkan kamu meracau nggak jelas. Udah aku kompres tadi malem. Untung panasnya udah reda sekarang. Tapi, muka kamu masih pucet. Jadi, mending istirahat dulu aja ya, " tutur Arka panjang lebar.
Aku mengangguk dengan terus mengamati wajahnya yang sedikit kelelahan. Terdapat kantung mata dengan mata sedikit sayu. Dia pasti tidak tidur semalaman.
Arka tersenyum, lalu beranjak.
"Aku pulang ya, " ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku lembut.
"Makasih, Arka. " sahutku sembari menempelkan bibirku pada gelas.
"Istirahat, nanti aku mampir lagi, oke?" tukasnya lembut.
Aku mengangguk. Arka keluar dari kamarku dengan menenteng jaketnya. Suara mobil pergi dari halaman rumahku, menandakan Arka sudah pergi.
Sepi.
Kuhabiskan sisa susu buatan Arka sambil duduk santai di balkon.
Tok
Tok
Tok
Ceklek!
Pintu kamarku dibuka oleh Bu Lastri.
"Mba Yasmin, sarapan dulu," katanya datar.
Aku hanya menoleh dan mengangguk. Tanpa disuruh dua kali, segera saja aku keluar kamar dan menuju ruang makan. Bu Lasti masih menyiapkan makanan di meja makan.
"Mama, Papa, ke mana sih, Bu? " tanyaku dengan terus menatap masakan Bu Lastri pagi ini.
Bu Lastri diam. Dan masih sibuk melakukan pekerjaannya.
Aku meliriknya heran.
'Ini orang denger apa nggak sih?'
"Bu, Bu Lastri?" panggilku agak mengeraskan volume suaraku.
Bu Lastri mendadak diam, lalu menoleh pelan padaku. Reaksinya kali ini benar- benar mengerikan. Aku bahkan sampai mundur sedikit darinya.
"Saya tidak tau, kemarin pagi, Ibu dan Bapak sudah tidak ada di kamarnya. Mungkin ada pekerjaan mendadak, " jawabnya datar.
Aku masih diam dan baru lah setelah beberapa menit, kuteruskan sarapan tadi. Nasi goreng.
Entah kenapa aroma nya agak membuat perutku mual. Anyir.
"Bu?" panggilku ragu.
Bu Lastri menoleh pelan dan menatapku dingin.
"Ini kok rasanya aneh ya, Bu?" tanyaku makin ragu. Tatapan mata Bu Lastri benar benar membuatku takut. Ini adalah salah satu alasan, aku tidak betah di rumah jika kedua orang tuaku pergi.
Bu Lastri berjalan menuju arahku, lalu meraih piring dan menciumnya.
Dahinya berkerut, dihidupnya kembali aroma masakan itu, dan tanpa basa basi lagi, dia menuju tong sampah lalu membuangnya begitu saja.
"Biar saya masakan lagi yang baru!" ucap Bu Lastri tanpa menoleh padaku.
Aku hanya melihat apa yang dia akan lakukan, pisau besar dikeluarkan dari laci. Sedikit melirik padaku lalu dengan sigap memotong bawang dengan kasar.
BRAK!
Aku terkejut, karena papan kayu tempat memotong bawang terbelah menjadi dua. Kuraih ponselku dan segera berlari menuju kamar sambil menghubungi Arka.
"ARKA! CEPET KE SINI! PLEASE, AKU TAKUT" bisikku lalu segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
Sebelum aku naik ke kamar tadi, sekilas kutengok Bu Lastri, dia menyeringai melihatku ketakutan.
Aku makin panik dan terus mondar mandir dikamar. Kuhubungi kedua orang tuaku. Mataku terbelalak, kutajamkan pendengaranku, karena suara dering ponsel Mama ada tidak jauh dariku. Berkali-kali kuulangi menghubungi Mama sambil kucari di mana ponselnya berada. Agak aneh, kalau Mama pergi tanpa ponselnya. Karena Mama adalah seorang Nomophobia. Orang yang tidak bisa hidup tanpa ponsel.
Semakin kuhubungi Mama, semakin aku mendekat ke lemari pakaianku. Kini, aku sudah ada di sisi dalam ruang pakaianku yang kemarin Arka buka.
'Aku denger ada orang minta tolong! '
Sekilas aku teringat kata-kata Arka kemarin. Hingga berbagai pikiran negatif pun muncul diotakku.
"Apakah suara yang didengar Arka kemarin adalah suara ... MAMA?!" gumamku.
Kuhubungi lagi Arka dan menceritakan apa yang baru saja terjadi beserta kemungkinan yang aku pikirkan tadi. Arka bilang dia sedang menuju rumahku.
"Jangan bertindak apa- apa sebelum aku balik! Ngerti?!!" ancam Arka serius.
Rasa takut dan cemas terus hinggap diotakku membuatku segera pergi dan menunggu Arka di balkon. Aku khawatir, jika benar Mama ada di lorong gelap itu. Seharusnya, Papa juga ada beserta Mama. Karena ke manapun Papa pergi, pasti Mama ikut, begitu juga sebaliknya.
Aku terus mondar- mandir dengan perasaan gugup sambil terus melihat ke jalan. Berharap Arka segera datang.
Tok
Tok
Tok
Spontan aku menatap pintu kamarku, ku berlari untuk menahan pintu itu terbuka. Walau sebelumnya telah kukunci rapat, tapi perasaan takut, kadang mengalahkan logika. Tidak mungkin Bu Lastri bisa menerobos masuk dengan pintu yang sudah kukunci rapat.
"Mba Yasmin, sarapannya sudah siap, " suara Bu Lastri datar. Dan entah kenapa selalu seperti itu. Dia itu bagai robot bahkan saat pertama kali kuinjakkan kakiku di rumah ini.
Aku merasa dia bukan manusia. Selama ini, beberapa kali, kuperhatikan kakinya napak ditanah. Dia juga makan makanan yang sama sepertiku. Dia tidur. Semua terlihat normal. Hanya sikapnya yang aneh. Tidak normal seperti manusia pad umumnya. Dia manusia pertama yang kusebut, tanpa ekspresi.
"Aku belum laper, Bu. Nanti aja!" jawabku mencoba bersikap wajar.
Hening.
Tak lama, hanya langkah kakinya meninggalkan kamarku.
Aneh bukan?
Tin
Tin
Klakson mobil Arka terdengar nyaring di halaman. Aku segera berlari kembali ke balkon. Kulihat, Bu Lastri ada di halaman menemui Arka. Lalu, anehnya Arka seolah ragu untuk masuk, dan melihatku dari bawah tanpa ekspresi. Dia kembali ke mobilnya dan segera pergi dari rumahku.
"Apa apaan sih, Arka! Kok pergi! " ucapku kesal.
Kriiiiing!
ARKA CALLING!
Aku : "Arka kamu apa apaan sih? Kok pergi?"
Arka : "Maaf, Yasmin. Aku nggak diizinin masuk rumah kamu. Bu Lastri bilang kamu harus istirahat dan nggak bisa diganggu. Makanya aku pergi, "
Aku :"terus? Aku dibiarin nih sekarang? Kamu tega, Ka! Kamu nggak tau, aku sekarang ketakutan !"
Arka :"Kamu tenang, Yas. Aku balik lagi kok! Tunggu!"
Aku :"ARKA? ARKA!!"
Telepon mati. Kulempar ponselku ke kasur sambil mengumpat kesal. Dalam keadaan makin panik, aku segera menuju ruang pakaianku dan mencari seprai sebanyak banyaknya. Kuiikat ujungnya masing- masing, agar membentuk tali yang panjang.
Yah, aku akan kabur!
Setelah dirasa cukup panjang, ku ikat ujung seprei tadi dipegangan besi, yang ada di balkon.
Tiba-tiba kakiku digenggam seseorang.
"Aaaakkkkh!" teriakku sambil berusaha menjauh dari tangan yang ada dibawah balkon.
Begitu kepala itu muncul, baru lah aku bernafas lega.
"ARKAAAA!! "pekikku lalu segera membantunya naik.
"Sebentar, kan?" tanyanya meledek.
Plaaaak!
"Apaan, sih! Bikin panik aja! Aku pikir, kamu nggak bakal balik ke sini lagi!" cerocosku sambil memukul lengan Arka kesal.
Arka langsung memelukku erat. Membuat mulutku terhenti untuk terus memarahinya.
"Aku nggak akan ninggalin kamu!" bisik Arka pelan tepat ditelingaku.
Badanku terasa lemas seketika, hingga beberapa detik setelahnya baru lah Arka melepas pelukannya.
Ia menuju ke ruang pakaianku. Ku ikuti dia yang ternyata kembali membuka lorong kemarin.
"Bener, kan? Aku yakin kalau aku nggak salah denger, Yas. ADA ORANG DI SANA!" tunjuk Arka ke lorong yang baru saja dibukanya.
'Benarkah, Mama yang ada di sana? Jika benar, bagaimana bisa Mama masuk ke dalam ruang sempit di depan sana. Apakah ini ada hubungannya dengan Bu Lastri?'
_to be continue_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Bu Lastri mencurigakan juga,apakah dia manusia bukan ya,dan Arkana kemna kamu🤔
2024-05-01
1
Khadijah Aisyah Syauqi
tegang euy....serius...deg deg an...
2023-05-14
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Bu Lastri juga kerasukan..
ya ampun ..begitu banyak misteri dirumah itu. Arkana keman coba
2023-04-03
0