"Pagi, Yasmin ...." sapa Arka yang tiba - tiba sudah mensejajari langkahku.
"Hai ... Pagi juga, Arka. Eh gimana Mama kamu? "
"Hm, masih sama, Yas. Belum ada perubahan. Eum, kamu udah sarapan belum? Aku tadi beli nasi kuning dua bungkus. " ucapnya sambil menunjukan bungkusan di tangannya. Dia berjalan mundur di depanku dengan terus menyunggingkan senyumnya. Sepertinya pagi ini Arka tampak bahagia.
"Eum, boleh, Ka. Kebetulan aku belum sarapan. " sahutku.
'Belum sarapan? Terus yang ngabisin nasi goreng tadi pagi siapa ya? ' bisik seseorang di telingaku.
Arkana!
Aku melirik ke samping kananku dengan tatapan sinis. Angin berhembus agak kencang lalu hilang begitu saja.
"Udah pergi kayaknya tuh orang. Eh kok orang. Hm, aku sebut apa yah enaknya." gumamku pelan.
"Apa Yas? Kamu bilang apa barusan?" tanya Arka bingung.
"Eh ... Nggak apa- apa kok. Hehe. Lagi nyanyi nggak jelas aja. Hehe" jawabku bohong.
Kami sampai di taman yang ada di sudut sekolah, dimana disini ada kursi taman yang dekat dengan sebuah pohon beringin yang cukup rindang. Duduk. Dan mulai membuka bungkusan nasi yang dibawa Arka.
Perlahan udara terasa berbeda, agak panas tapi entah kenapa tengkuk dan lenganku malah merinding. Arka yang sedang asik makan sepertinya tidak merasakannya. Ku toleh kebelakang, lebih tepatnya di mana pohon beringin itu berdiri kokoh. Dan, mataku terbelalak, karena di salah satu dahan ada seorang wanita sedang duduk sambil menggoyang goyangkan kakinya pelan. Wanita itu memakai baju merah, rambutnya panjang sekali bahkan sampai menyentuh tanah. Wajahnya remuk sebagian, terlihat bibir sebelahnya yang memang hanya sebelah itu sedang menyeringai kepadaku. Aku langsung kembali melihat ke depan dengan tubuh gemetaran. Arka yang menyadari kegelisahanku lalu menatapku.
"Kenapa, Yas? " tanyanya sambil menyentuh pundakku.
Aku menoleh padanya lalu menunjuk kebelakang kami, "iiitu ... Ada ... Itu, "ucapku terbata - bata. Keringat dingin mulai muncul disekujur tubuhku. Tiba- tiba, datang angin dari arah depan kami seolah menembus ketubuhku. Sejuk. Saat aku menoleh ke belakang, kulihat Arkana sedang berjalan menghampiri wanita berbaju merah tadi. Dan anehnya wanita itu terlihat ketakutan. Dan, hilang. Arkana pun ikut hilang entah kemana. Barulah aku bisa bernafas lega. Arka memberikanku botol air mineral yang dia bawa. Aku meminumnya.
"Eh eh eh ... Ada yang lagi mojok disini rupanya, " celetuh seseorang yang ternyata adalah Irfan bersama teman - temannya. Wajah Arka terlihat merah padam, nafasnya mulai tidak beraturan.
"Ngapain loe disini? " tanya Arka ketus.
"Kenapa? Nggak boleh gue kesini? Mentang- mentang bokap loe kepala sekolah disini gitu? Eh, gue juga bayar sekolah disini. " Irfan juga mulai terpancing emosinya.
Kini mereka sudah berdiri berhadapan, teman - teman Irfan juga sudah mulai mengitari kami.
"Mau loe apa, hah?!" tanya Arka sambil mencengram kerah baju Irfan. Teman - teman Irfan mulai maju.
"Arka ...," gumamku pelan sambil menarik ujung bajunya agar segera mundur.
Arka malah meraih tanganku dan menggenggamnya. "Aku nggak apa - apa, " ujarnya dengan sedikit melirik ke arahku yang ada dibelakangnya.
Kulihat Irfan mengangguk ke salah satu teman nya, dan diujung ekor mataku, seseorang mendekat dengan sebuah balok kayu kecil.
"ARKAAA!! " Teriakku sambil sedikit bersembunyi karena dia akan melayangkan balok kayu itu ke arah Arka.
Arka menoleh sedikit lalu menghalangi pukulannya dengan lengan kirinya. BUG! Dia tidak terlihat kesakitan. Wajahnya makin merah padam. Dihampirinya orang yang memukul barusan. Arka merampas kayu ditangannya. Dan membuangnya jauh- jauh. Arka makin mendekat dan ... BUG! Sebuah pukulan telak mendarat diperutnya. Dia langsung jatuh tersungkur terkena pukulan Arka. Tidak sampai disitu, Arka melirik ke samping kirinya, dan kembali memukul satu persatu teman - teman Irfan. Anehnya, kenapa mereka seperti tidak ingin membalasnya. Irfan tersenyum dan ternyata sedang merekan kejadian ini. Kuhampiri Irfan dan segera merebut ponsel miliknya. "HEH! BALIKIN! " Teriak Irfan padaku.
Kutatap sinis ke arahnya. Licik!
Kuhapus rekaman barusan, namun Irfan lebih dulu mengambil ponselnya dengan sedikit mendorongku hingga aku jatuh terantuk kursi taman. "Aww, " erangku, "Arkaaa!! Hapenya!! " teriakku ke Arka yang kini sedang melihatku. Arka melirik tajam ke Irfan. Namun saat Arka akan mendekatinya, teman- teman Irfan kini mendekat dan menghalangi Arka. Irfan yang akan segera pergi tiba- tiba terlihat ketakutan saat melihat ke pohon beringin disampingnya. Dan, sosok wanita tadi terlihat duduk kembali disana sambil terus menatap Irfan tajam. Dia lalu melayang mendekat. Irfan makin histeris ketakutan, ponselnya terlempar jauh. Kupungut segera dan menghapus video tadi. Kini semua orang bingung melihat Irfan yang menangis histeris. Sepertinya mereka tidak melihat wanita berbaju merah yang sedang duduk diatas Irfan sambil tertawa melengking. Arka mendekat padaku. "Kenapa dia? "
"Rasain! Jahat sih! "
"Tapi kenapa sih dia? " tanya Arka masih penasaran.
"Panggil Joe aja deh, Ka. " suruhku.
Arka mengangguk dan mengambil ponsel disaku bajunya.
Tak lama, beberapa orang mulai berdatangan kemari. Tangisan Irfan mulai menarik perhatian orang - orang. Semua hanya berkerumun tak berani mendekat. Diantara kerumunan itu, Joe muncul. Melihat kami sambil menarik nafas panjang. Dia mendekat, sambil melantunkan ayat suci alquran. Irfan berontak. Kesurupan?
"BANTUIN PEGANGIN!! " teriak Joe ke teman- teman Irfan. Mereka malah mundur ketakutan. "Astagfirullohaladziiiim ... Bantuin WOII! " Joe kewalahan menangani Irfan seorang diri. Karena kini dia mulai menyakiti diri sendiri, menggigit tangannya hingga berdarah. Arka langsung mendekat dan memegangi Irfan, seolah lupa atas apa yang telah Irfan lakukan padanya tadi. Guru guru pun mulai berdatangan. Banyak orang disini, bukannya membantu malah hanya menjadikan ini tontonan. Sampai saat Bapak Kepala Sekolah datang dan membubarkan siswa disini. Hanya tinggal dewan guru yang sebenarnya hanya menonton saja. Pak Ratno, guru agama disekolah ikut membantu mereka. Hingga sekitar 15 menit kemudian Irfan mulai diam. Pingsan. Dia segera dibawa ke UKS untuk mendapat pengobatan atas luka - lukanya. Aku, Arka dan Joe masih menunggu didepan UKS. Tak lama Nita datang dengan wajah panik.
"Irfan kenapa? " tanya Nita panik.
Aku memeluknya, "nggak apa- apa kok, Beb. Bentar lagi juga sadar paling. " hiburku.
"Ini gimana ceritanya sih? Kenapa dia bisa kesurupan gitu? " Nita kembali cemas. Rupanya pelukanku tidak berhasil membuatnya tenang.
Joe melirik padaku. Arka diam sambil melihat arah lain. Entah kenapa tatapan mata Joe aneh. Seolah bertanya tentang hal ini. "Kenapa ngeliatinnya gitu amat, Joe? "
"Kamu tau sesuatu." hardik Joe.
"Aku? Hm, iya aku tadi emang liat gimana kejadiannya. "
"Serius, Beb? Terus gimana tadi kejadiannya? " tanya Nita tak sabaran.
Kuceritakan bagaimana kejadiannya, dari awal sampai akhir. Semua diam dan terus menyimak ceritaku.
"Serem juga. " celetuk Arka sambil bergidik ngeri.
"Iya, serem juga ya sosok yang dampingin kamu, Yas. " sahut Joe sambil menatapku dalam. Lalu pergi.
Arka dan Nita menoleh padaku. Dan aku hanya mengerikan bahuku saja dan mengikuti Joe pergi.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Mungkin kalau Arkana didepan Yasmin ganteng kalau di depan mahkluk tak kasat mata nyeremin kali ya😅😅
2024-04-30
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
waah Arkana bisa mengendalikan makhluk sesamanya
2023-04-03
0