Dia membuka mulutnya lebar lebar bahkan terlalu lebar hingga perlahan pipinya mulai robek searah dengan bibirnya. Darah mengalir dari kedua pipinya yang lama kelamaan makin lebar. Daging segar berwarna merah serta gigi - gigi putihnya pun terlihat jelas. Tak lama mulutnya penuh akan hewan kecil yang menggeliat memenuhi mulutnya. Belatung. Yah, ratusan belatung terlihat memenuhi mulutnya dan memaksa keluar hingga berjatuhan ke lantai.
Aku bergidik ngeri sambil terus mundur, walau sudah tidak bisa lagi aku bergerak karena tembok belakangku sudah menempel erat dengan punggungku. Belatung dari mulutnya tidak kunjung habis, malah semakin banyak menggeliat dilantai. Kini, lidahnya menjulur ke arahku. Panjang dan terus memanjang. Dan entah kenapa aku tidak bisa berkutik lagi hingga membiarkan lidah nya yang menjijikan itu terus masuk ke mulutku. Makin dalam dan terus masuk kedalam kerongkonganku. Kini aku makin sulit bernafas. Lalu tiba tiba ...
Traaaaash!
Lidahnya terpotong dan berhasil keluar dari mulutku. Wanita itu berteriak kesakitan. Saat aku menoleh ada sosok pria berdiri disampingku dengan pedang panjang yang terlihat mengkilap. Pakaian nya putih dengan ikat kepala berwarna emas. Sepatunya bertali seperti aktor TV pemain film kolosal. Auranya putih terang. Dia menoleh sedikit padaku dengan menaikan sebelah bibirnya. "Mba Yasmin ndak apa- apa?"
Aku terperangah dibuatnya. Pria ini berwajah tampan, berbadan atletis dengan rahang kuat. Wajahnya bersinar. Aku bahkan sampai melongo dibuatnya. "Mba Yasmin..., " panggilnya lagi.
"Hah? Oh iya iya. Nggak apa apa kok, Mas. " sahutku dengan mata yang terus menatapnya tanpa kedip.
Dia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri terus mendekat ke wanita tadi yang sepertinya mulai gentar. Wanita itu ... Maksudnya hantu wanita itu, mundur perlahan. Melihat lawannya yang ketakutan, pria ini makin mengarahkan pedang nya ke arah wanita itu. Merasa posisinya diujung tanduk, hantu wanita itu tiba- tiba menghilang dibalik tembok.
Pria ini, eum ... Sepertinya dia bukan manusia, tapi terlalu tampan jika kusebut hantu. Dia menoleh dan mendekatiku. Jongkok lalu memperhatikanku seksama.
"Mba Yasmin, nggak apa-apa apa?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk kaku. Berkali kali kutelan ludah karena tenggorokanku yang kering akibat berteriak dan menangis tadi. "Kamu ... Siapa? "
"Arkana! " ucapnya.
Siapa yah?
"Yas!! " teriak Arka sembari berlari mendekat padaku. "Kamu kenapa? Yasmin ... Yasmin! " panggil Arka dengan posisi jongkok sambil mengguncang - guncangkan tubuhku.
Suara Arka sangat jelas ditelingaku, tapi tubuhku masih belum mampu sinkron dengan otakku. Arka menangkupkan kedua tangannya diwajahku, barulah aku bisa kembali fokus padanya.
"Eh ... Kenapa, Ka?" tanyaku bingung.
"Kamu yang kenapa, Yas? " ucapnya dengan tatapan cemas.
"Aku? Nggak apa- apa kok, Ka" sahutku ragu.
Arka mengerutkan keningnya sambil terus menatapku. Tak lama masuk Nita dan Joe.
"Kalian kenapa? " tanya Nita sambil meletakan bungkusan tas kresek putih ke meja.
"Yasmin tadi teriak - teriak nih. " ujar Arka sambil menunjukku yang masih duduk bersimpuh dilantai dan tepat ada dihadapannya. Nita mendekat lalu menatapku iba.
"Loe nggak apa- apa, Beb? " tanya nya pelan. Kujawab dengan anggukan dan sekilas senyum padanya. Joe melipat kedua tangannya didepan dadanya sambil melihat ke sekitar kami. Dia juga berjalan disudut dimana sosok wanita astral dan pria tak kasat mata tadi muncul dan menghilang. Tak lama dia kembali menatapku.
"Yang tadi siapa ya, Joe? " pertanyaan itu terlontar begitu saja, karena aku yakin Joe pasti tau sesuatu.
Dia menarik nafas panjang, "penjagamu ...," ucapnya singkat.
"Maksudnya? " tanya ku tak paham maksud kata- kata nya.
"Iya, laki - laki yang tadi itu, penjagamu. Sepertinya itu turun temurun dari keluargamu, Yas. " jelas Joe.
"Dari keluargaku? Hm ... Aku kok nggak ngerti ya, Joe. "
"Penjaga gaib? " celetuk Nita sambil menatap Joe tajam. "Semacam khodam pendamping gitu? " sambung Nita.
Joe mengangguk.
"Jadi dia jagain aku, Joe? " tanyaku masih bingung.
Joe berjalan lalu duduk di sofa, "Yah, gitu deh, Yas. Dia ditugaskan menjaga kamu, terutama dari makhluk tak kasat mata yang punya niat jelek ke kamu. Kurang lebihnya gitu. " tutur Joe.
Entah dari mana datangnya sosok pelindung itu, kata Joe, itu pelindung keluargaku sebelum - sebelumnya. Entahlah.
Malam ini kami menjenguk Mama Arka hingga pukul 21.00. Karena jam besuk sudah berakhir. Kami pamit ke Arka. Keluar dari ruang kenanga, Joe dan Nita terlibat obrolan yang aku tidak mengerti. Jadi kuputuskan berjalan dibelakang mereka. Suasana sudah sepi. Hanya sesekali kami berpapasan dengan keluarga pasien.
Tap
Tap
Tap
Kurasakan sekujur tubuhku sedikit dingin dari semula. Bulu kudukku pun berdiri pertanda ada sesuatu disekitarku. Ku toleh ke kanan kiri dan belakangku. Entah kenapa aku merasa seperti diikuti. Hingga sampai parkiran, kami pun segera pulang setelah sebelumnya mereka mengantarku pulang lebih dulu.
\=\=\=\=\=\=
Mama dan Papa sudah pulang dari luar kota. Jadi tidak ada alasan lagi aku takut tidur dirumah. Sekalipun, suasana rumah tidak berubah sama sekali. Sampai dirumah, Papa dan Mama masih menonton TV. Aku segera duduk diantara mereka berdua dan memeluk lengan Mama yang ada di sebelah kananku.
"Udah makan kamu, Nduk? " tanya Papa sambil fokus menonton siaran berita malam.
"Udah, Pa. Tadi makan sama Nita sama Joe juga" sahutku santai.
"Gimana sekolah kamu? " kini giliran Mama yang bertanya.
"Biasa aja, Ma"
"Kamu kemaren malem tidur dikamar Mama? "
"Enggak. Kenapa emang? " tanyaku cuek.
Jangankan tidur dikamar Mama, masuk saja aku tidak pernah sejak kami pindah.
"Kamar Mama agak berantakan, baju - baju Mama juga berantakan di atas kasur. Kamu pake, Nduk? "
"Idih Mama. Kurang kerjaan amat deh aku pakein baju Mama. Lagian seleraku masa baju ibu- ibu? Aku kan masih ABG, Ma. " belaku.
Tunggu!
"Hmm, ada yang ilang, Ma? " tanyaku kali ini lebih serius.
"Enggak sih, Nduk. Tapi bener bukan kamu yang pake? "
"Jangan- jangan ada pencuri selama kita nggak di rumah. " celetuk Papa.
"Pencuri? " seru aku dan Mama bersamaan.
"Iya. Ya udah, besok Papa mau pasang cctv di rumah. "Ucap Papa sambil menyecap kopi di tangannya.
Cctv? Entah akan jadi ide yang baik atau buruk?
Aku pamit masuk ke kamarku, karena hari sudah larut.
Klek!
Reaksi pertama ku saat membuka pintu kamar adalah diam sejenak, mengamati kamarku lekat - lekat. Setiap gerakan aneh langsung tertangkap indera penglihatanku.
Tek!
Kunyalakan saklar lampu dan kini kamarku terang.
"Yasmin! " panggil seseorang sambil menepuk bahuku
"Eh, Papa. Hehe. " sahutku sedikit terkejut.
"Kenapa? Kok mau masuk kamar kayak maling aja. " tanya Papa yang heran melihat tingkahku.
"Hehe. Nggak apa - apa, Pah. Yasmin masuk dulu ya, mau tidur. Dah Papa. " segera aku masuk dan menutup pintu.
Setelah kupastikan mengunci pintu balkon, dan menutup kordennya aku segera merebahkan tubuhku dan menutupnya dengan selimut tebal. Mataku masih memeriksa keadaan kamarku.
Sekarang kan aku udah ada pelindung, jadi pasti aman. Nggak akan diganggu lagi sama 'mereka' batinku.
Saat kututup mataku untuk segera tidur tiba - tiba telingaku seperti ditiup - tiup. Aku melotot kembali sambil merapatkan selimut sampai bawah hidung. Hening.
"SHOLAT! " ucap seseorang yang kini berdiri di sampingku.
Aku terkejut dan langsung menjauh sambil menutup tubuhku dengan selimut. "SIAPA KAMU!! " teriakku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Tuh Yas suruh Shalat sama Arkana,mungkin karena Aura nya jadi Yasmin sering diganggu hantu,untung ada Arkana sekarang jadi aman2 saja..
2024-04-30
0
Khadijah Aisyah Syauqi
ada Arkana d sini...si ganteng muncul d sini...jadi mikir...Yasmin ad hubungan apa y Thor sama Aretha????
2023-05-14
1
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Arkana baru nyampe rumah kah, atau sebelum nya fia dicegat sama penghuni rumah itu
2023-04-03
0