Aku pun menoleh cepat ke balkon kamarku. Kupincingkan mataku dan akhirnya apa yang dikatakan Nita tertangkap oleh indra penglihatanku.
Seorang anak kecil berdiri di balik korden kamarku sambil memeluk boneka di tangannya. "Siapa ya?" gumamku.
"Beb... Kok aneh ya. " kata Nita sambil menarik tanganku dan berbisik.
"Apanya?" tanyaku balik tanpa melepaskan pandangan dari anak itu.
"Kakinya, Beb! NGGAK ADA ! " kata Nita dengan kalimat bergetar.
Dan memang saat ku lihat kakinya, tidak ada apapun disana. "Ah, nggak keliatan kali, Mak. Yuk kita liat! " ajakku lalu berjalan cepat masuk ke dalam. "Eh!! BEB!! TUNGGU IH! " Teriak Nita lalu berlari menyusulku.
Papa dan Mama yang ada di ruang tengah dengan Bu Lastri dan Pak Jaka bingung melihatku berlari ke atas. "Loh, kenapa Nduk?" tanya Papa heran. Aku diam tak menggubrisnya. Aku sangat penasaran, anak siapa itu.
"Eh, Om ... Tante ...." sapa Nita dan mereka sepertinya mengobrol sebentar. Namun aku tak lagi mendengar mereka karen sudah sampai di depan kamarku. Ku buka pintu kamarku lebar-lebar dan ... Hening.
Di balik Korden tidak ada siapapun hanya korden yang berayun tertiup angin. "Beb ...." Nita menyentuh bahuku pelan. Aku menoleh sebentar dan menarik tangannya masuk.
"Nggak ada, Beb! Mana tu anak tadi coba! " tunjukku ke sudut ruangan tempat kami melihat anak tadi.
"Anak apa? " suara Mama tiba tiba sudah ada di belakang kami. Nita melotot lalu menggeleng pelan. "Oh... Itu, Ma. Anak kucing tadi ada disini. Tapi kok nggak ada. Hehe. " jawabku gugup. "Eh, Pak Jaka udah sampai? " tanyaku basa basi, padahal tadi aku sudah tau Pak Jaka sudah datang tak lama setelah kami sampai. Pak Jaka adalah supir pribadi Papa.
Pak Jaka hanya tersenyum lalu tengak tengok ke sekitar kamarku. Keringatnya bercucuran, beliau seperti kepanasan. "Saya permisi keluar, Bu. Bapak sepertinya butuh bantuan saya dibawah. " kata Pak Jaka gugup. Lalu berjalan cepat keluar kamarku. Aku dan Nita saling pandang dan sama sama mengerutkan kening. Pak Jaka aneh.
"Ya udah, Mama lanjutin beres- beres ya. Ayok Bu Lastri. " ajak Mama sambil lalu.
Kini tinggal aku dan Nita berdua. Ku rapatkan tubuhku dan memeluk lengannya sambil menatap sekitar kami. "Gue temenin malam ini deh. " katanya.
***
"Beb ... Elu sekolah bareng gue pan?" tanya Nita sambil menyisir rambutnya dan duduk di depan meja rias kamarku.
Yah, malam ini dia akan tidur disini, menemaniku tentunya. Reynita atau kalau disingkat namanya menjadi Nita ini adalah asli dari Jakarta. Jadi bahasanya kadang bercampur dengan logat betawi. Orang nya slengean, cerewet, bawel, dan suka seenaknya. Kami berdua bagai tom and jerry. Sering bersama tapi juga tak jarang saling mengumpat satu sama lain. Jadi jangan heran dengan tingkah kami nanti.
"Ya iyalah, Beb. Kangen berantem sama elu,"jawabku asal sambil asik makan cemilan dengan novel ditanganku, lalu berbaring diatas ranjangku yang Empuk.
"Elu pasti bakal betah, Mak, di sono ... Banyak cowok cakep." katanya sambil cekikikan.
"Halah ... Cowok mulu yang ada diotak elu," hardikku.
"Yaelah, Mak. Kek gue kagak tau yang ada diotak elu aje deh. Lu pan sama kek gue. Kalo liat cowok ganteng jelalatan kemana mana. Kek liat duit!"
BUG!!
Bantal kulempar ke arahnya dan tepat mengenai kepalanya.
"Kampret!" dia menoleh lalu berjalan kearahku sambil meraih bantal lain lalu dilemparkannya padaku dengan kasar. Aku berlari menghindari amukan Nita. Jadilah kami perang bantal. Kami cekikikan dan berteriak lepas. Seolah tidak peduli kebisingan yang kami ciptakan.
'BRISIK!!'
Seketika kami diam dan saling pandang satu sama lain. Nita menaikan alisnya beberapa kali, seolah bertanya. 'Siapa tuh?'
Dan kubalas dengan mengerdikan kedua bahuku ke atas.
BuG!
Kali ini wajahku menjadi sasaran empuk lemparan Nita karena dia lengah.
"Awas ya elu, Mak! " ancamku lalu mengambil guling dan berlari ke arahnya.
DuG!!
DuG!!
DuG!!
Pintu seperti digedor- gedor seseorang dari luar.
'BRISIIIIK!'
DIAAAAM!!'
Kembali teriakan terdengar nyaring.
Lalu ...
Braaaak!
Pintu kamar tiba- tiba terbuka dengan kasar. Otomatis kami berdua spontan diam dengan memegang bantal masing masing yang sebenarnya bersiap akan saling serang. Aku menoleh ke Nita, dia pun demikian. Tanpa pikir panjang segera kututup pintu itu dan ku kunci. Lalu berlari ke ranjang, langsung menenggelamkan tubuhku dibalik selimut.
"Beeeeeeb! Ikuuuut!" rengek Nita lalu ikut berbaring disampingku.
"Siapa tadi yah?" tanyaku sedikit gemetar.
"Setan udah pasti mah!" katanya sambil bersembunyi di sampingku.
"Setan apaan ye, Mak?" tanyaku yang sependapat dengannya.
"Mana gue tau. Elu aje sono kenalan. Gue mah ogah." timpal Nita sambil bergidik ngeri.
Kriiiiiiiittttt.
Kali ini terdengar suara cakaran benda tajam yang mengenai kaca. Suaranya sungguh memekakan telinga. Kami berdua makin ketakutan.
"Ya ampun, Beb. Demit dirumah elu reseh banget ...." rengek Nita.
"Heh! Jangan asal ngomong elu, Beb. Makin ngamuk tar mereka, Bego!" umpatku kesal. Dan, tak lama ...
Hening.
"Eh-- sepi," celetuk Nita yang pertama kali menyadarinya.
Aku pun ikut diam sambil memutar bola mataku di dalam selimut. Seakan akan, waspada pada tiap gerakan atau bayangan di luar selimut.
"Liat yuk," ajak Nita lagi.
Aku menggeleng kencang.
"Udah ayuk ah." selimut dibuka paksa olehnya. Dan kosong.
Tidak ada apapun di kamarku, selain kami berdua. Namun pintu balkon terbuka lebar, hingga korden melambai lambai tertiup angin.
"Tutup gih, Mak." suruh ku.
"Idih, ogah. Yang punya rumah siapa Bu. Elu sono ...." Suruh Nita sambil mendorongku. .
"Bareng kalo gitu!" kutarik tangannya agar dia ikut berjalan bersamaku.
"Eh, ogah Beb ah. " tolak Nita sambil berusaha melepaskan tanganku.
"Bodo mamat. Kudu ngikut!" perlahan kututup pintu balkon pelan. Setelah tertutup rapat, segera ku-kunci. Memang sisi kamarku di bagian balkon ini semua terbuat dari kaca. Jadi kami bisa melihat pemandangan di luar saat siang, dan mereka yang di luar, bisa melihat kami jika malam. Korden segera kami tutup rapat semua.
"Mending tidur aja yuk," ajakku ke Nita.
Kami pun tertidur. Rasanya tidak sanggup jika harus berhadapan dengan makhluk makhluk itu. Sungguh mengerikan kalau ternyata aku tinggal di tempat yang penuh hantu. oh tidak! Ingin rasanya aku pergi tapi itu tidak mungkin terjadi. Karena aku sudah terlanjur terjebak di sini. di rumah hantu ini. aku harus kuat. jangan menyerah. itu saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini kami sudah menapakkan kaki di sebuah halaman sekolah yang cukup luas dengan taman yang cukup bagus dan rindang. Ada sebuah tulisan terpampang di tengah taman bertulisan 'TAMAN WIYATA MANDALA"
'Sekolahnya bagus' batinku sedikit tertegun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Kayak nya Pak Jaka juga ada yang di lihat deh😁
2024-04-29
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
persahabatan yang seru, menyenangkan.
Kalimantan provinsi dengan sejuta misteri
2023-04-02
0