"Ini? Kantor Kelurahannya?"
Ali terkejut.
Sebuah bangunan kecil yang lebih mirip kos-kosan, hanya ada papan plang ukuran satu meter kali setengah meter bertuliskan:
...KELU-AHAN DESA KA-DUT...
...WONO-IRI...
...JAWA TE-GAH...
Mata Ali menyapu seluruh tulisan yang ada beberapa hurufnya hilang.
Bahkan warna dasar papan yang harusnya putih telah berubah menjadi kuning kusam saking kurang layaknya kantor kelurahan itu.
Keti turun dari jok belakang sepeda gunung Ali.
"Iya."
"Ya ampun, kondisinya beneran mengenaskan!" gumam Ali pelan. Takut juga Ia jika suaranya sampai terdengar aparatur negara yang bekerja di kelurahan itu.
"Mana Pak Setan ya?"
"Kata Bu Susanah, pak Setan disuruh babat rumput di sekitar kantor!" jawab Keti membuat Ali berdesis. "Kantor apanya? Ini mah lebih mirip ruangan kosong!" Pelan sekali suaranya.
"Ayo!" ajak Ali pada Keti.
Keti menurut.
Gadis itu mengekor Ali sembari mengibaskan rambutnya yang dikuncir seperti seekor kucing yang mengibaskan ekornya.
"Assalamualaikum, permisi!"
"Waalaikum salam. Ada yang bisa dibantu?"
Ali terkesiap.
Seorang pria sekitar berumur 50 tahun berpakaian dinas layaknya para PNS di kantor kelurahan berdiri dari duduknya.
Mata mereka saling berpandangan.
"Keti? Ada apa? Mau mengurus surat-surat?" tanya pria itu, tetapi menoleh kearah Keti.
"Bukan, Pak Toha. Ini, Ali Akbar. Warga baru yang tinggal di kampung Kandut. Mengisi rumahnya Mbah Toro Margens. Mau buat laporan pindah dari Jakarta."
"Oh, begitu! Mari, silahkan duduk!"
Ali mengulurkan tangannya sembari tersenyum.
"Saya Ali Akbar, Pak! Saya mau bikin laporan kepindahan ke kampung ini. Jadi warga bapak. Hehehe..." katanya berusaha seramah mungkin.
"Saya Toha, Kadus disini. Hehehe... Semoga betah tinggal di sini!"
Ternyata Kepala Dusun Kelurahan Kandut orangnya ramah juga.
Ali memberikan map yang sedari tadi dipegang Keti.
"Ini, surat keterangan pindah dari tempat tinggal saya sebelumnya. Ini, fotokopi KTP juga."
Pak Toha memeriksa dokumen yang Ali serahkan. Kepalanya mengangguk-angguk.
"Anak muda yang baik. Tahu tata cara berwarga negara yang baik." Serunya membuat Ali tersipu.
"Banyak orang yang cuek dengan tempat tinggalnya sendiri. Terutama pendatang yang hanya akan tinggal sebulan dua bulan. Hehehe... Mereka jarang buat laporan pindah domisili."
Ali ikut tertawa kecil. Ikut mengangguk-angguk meskipun tak berani berkomentar.
"Tinggal di sini karena saya punya surat sertifikat rumah Mbah Toro, Pak! Hehehe..., sekalian pulang kampung orangtua."
"Bagus itu. Berdayakan kampung halaman. Jangan kelamaan urbanisasi. Kampung sepi karena warganya pada pergi ke kota. Hehehe..."
"Ngomong-ngomong warga di sini berapa KK, Pak?" tanya Ali setelah merasa obrolan mereka sudah lebih akrab.
"Sebenarnya, warga sini ada seratus KK."
Ali tertegun. Wajah pak Kadus Toha terlihat menegang.
"Seratus KK, cukup banyak sih. Tapi... kenapa rumah-rumah terlihat sepi dan kosong? Bahkan banyak rumah yang ambruk karena ditinggal pemiliknya. Apa seratus KK itu termasuk pemilik rumah-rumah yang ditinggal, Pak?"
Pak Toha menatap wajah Ali dengan serius.
"Ini sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun lamanya."
Ali menyimak perkataan Pak Toha.
"Apa... ada masalah?"
Pak Toha menghela nafasnya.
Jeleggerrr
Plashhh
Byuurrr
Seketika hujan deras turun tiba-tiba setelah petir menyambar di atas langit.
Mereka beranjak dari tempat duduk yang terletak dekat kaca sehingga terasa air hujan yang tampias.
Keti langsung melompat mencari tempat yang lebih hangat, jauh dari semburan air hujan yang masuk lewat jendela.
Kuprak kuprak.
Semua menoleh ke arah pintu.
Terlihat Pak Setan yang kebasahan terguyur air hujan yang datang tiba-tiba.
"Ali? Keti? Sedang apa di sini?"
"Buat laporan kepindahan, Pak! Bapak sedang apa?" Ali balik tanya setelah menjawab.
"Lagi babat rumput, Li!"
"Ternyata kalian sudah saling kenal." Pak Toha menimpali.
"Iya, Pak. Ali ini cucunya Embah Toro."
Pak Toha dan Pak Setan saling berpandangan.
Jeleggerrr
Petir kembali menyambar membuat Keti mendekati Ali hingga kulit mereka saling bersentuhan.
"Pak, yang saya bingung... Kartu Keluarga penduduk asli sini ada seratus. Tapi, dimana para warganya? Karena sepanjang jalan ini, saya hanya melihat warung Pak Setan dan beberapa buah rumah warga yang ada penghuninya. Selebihnya, bahkan saya tidak melihat lagi."
Lagi-lagi Pak Toha dan Pak Setan bertatapan mendengar perkataan Ali.
"Ali..., kampung ini, kena kutukan!"
Ali melongo.
Jeleggerrr
Jeleggerrr pyarrr
Krek krek krek
Syuuung gubrak!!!
Semua terkejut bukan main.
Sebuah pohon besar sepertinya tersambar petir dan jatuh tumbang hingga menimbulkan suara keras.
"Astaghfirullah, astaghfirullahal'adziiim!!! Ku_kutukan apa?" pekik Ali mengucap kalimat istighfar.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments