Kekasihku, apa yang kau risaukan?
Kerjamu hanya melamun saja
Tak berguna, kau bersedih hati
Tertawalah, Sayang
Buat apa susah, buat apa susah
Lebih baik kita bergembira
Buat apa susah, buat apa susah
Lebih baik kita bergembira
Petikan gitar Ali dengan lantunan suara lembut Laila menjadi pengiring kebersamaan mereka yang terakhir kali.
Lagu beat ceria, tetapi mereka bertiga justru bersedih karena harus berpisah.
Untuk pertama dan terakhir kalinya, tangan ketiganya saling berpegangan.
"Semoga kita bertiga selalu bahagia di manapun berada!" kata Laila semakin membuat Firman down hingga nyaris memeluk Laila.
Tapi gadis itu juga memiringkan tubuhnya condong ke arah Ali hingga Firman justru hampir nyungsep jatuh ke bawah.
"Lailaaa!!! Njirrr ampir gue nyium tanah!" pekik Firman langsung disambut tawa cekikikan.
Kesedihan berubah seketika jadi canda tawa.
"Kikikikikikiikikiiiiii..."
"Ehh? Apaan tuh?"
Gubrak gubrak, krosak krusuk.
"Se setaaann!!!"
"Mamaaa!!!"
"Gue duluan yang turuuuun!!!"
Kuntilanak ikutan nimbrung juga rupanya karena ini sudah pukul delapan malam dan mereka bertiga masih nangkring di rumah pohon.
"Bangk*e, gue kira rumah pohon Lo ga ada penghuninya!" semprot Firman dengan nafas ngos-ngosan karena kaget dan panik sampai nyaris mendorong Laila terjun dari ketinggian sepuluh meter.
Ali tertawa, tapi dalam hati deg-degan juga.
Takut, iya. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah rumah kontrakannya bersama keluarga dahulu.
Mau tak mau, tidur sendiri akhirnya Ali jabani daripada harus tidur dikolong jembatan.
Firman yang biasanya menginap pun malam itu pulang ke rumahnya dengan alasan tidak enak badan. Sepertinya dia penakut juga.
Tapi, ya sudahlah ya. Mau apalagi. Toh ini adalah rumah kontrakannya sendiri, bukan kontrakan Firman. Apa mau dikata.
Kini Ali hanya kembali fokus memikirkan kepindahan Laila ke Lombok besok.
Laila akan pergi untuk jangka yang cukup lama.
Persahabatan yang terjalin tanpa terasa kini mulai merenggang.
Laila, Firman... keduanya mencari jalannya masing-masing.
Laila pindah kuliah di kota Lombok. Firman juga ambil pekerjaan di wilayah bagian Ibukota yang berbeda dan cukup jauh juga letaknya hingga ia harus stay nge-kost di sana.
Sementara Ali, masih terus bertahan dan berjuang melanjutkan hidup tanpa sahabat-sahabat yang dulu selalu setia menyupport.
Benar kata lagu Bang haji Rhoma Irama, kalau sudah tiada baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga.
Laila memang berharga, Firman juga.
Dulu diawal, kehadiran Firman saat usia kanak-kanak membuat Ali merasa jenuh dan risih. Sebab Firman menempelnya terus bahkan nyaris setiap hari setiap saat.
Tapi semakin dewasa usia dan semakin terasa beban kehidupan, Ali baru memahami artinya pertemanan. Memang terlihat seperti saling ejek, saling hina namun dibalik semua itu ada hati yang tulus yang selalu mendukung sepenuhnya langkah teman dengan bantuan supportnya.
Ali masihlah Ali yang dahulu.
Pendiam karena keadaan ekonomi yang lemah.
Penurut karena keuangan yang dianggap pantas untuk dijadikan kacung.
Lemah mental, iya. Bodoh secara pemikiran, memang.
Kemiskinan yang merantai membuat mental 'babu' semakin mencuat kepermukaan.
Ada kalanya Ali menyesali tindakannya yang bodoh karena diam dan hanya diam ketika dihina orang.
Bukan tak punya harga diri. Bukan.
Bukan tidak punya lagi rasa sakit di hati. Bukan.
Tapi jika Ali melawan, ia justru akan semakin jadi bulan-bulanan.
Begitulah pemikirannya saat ini.
Seperti kali ini.
Ali semakin terpojok ketika tahu pemilik tempat kerjanya saat ini ternyata adalah sepupunya Anton Darmawan.
Dunia benar-benar kejam kurasa. Sempit dan seolah lahannya hanya dikontrak oleh orang-orang picik saja.
"Lah? Elo Li? Gue kira siapa!?"
"A-Anton?"
"Lo ngapain disini? Hah?"
"Ali baru lima hari kerja di sini, Ton! Kalian saling kenal?"
"Gue kira masih kerja milah-milah sampah, Li! Emang sih, seusia kita itu harus banyak pengalaman jangan terus terusan jadi pemulung. Badan Lo sampe sekarang masih kecium bau sampah!"
Yasssalam... Cungur ini orang!
"Ton, jangan ngomong kasar kayak gitu sama karyawan gue!"
"Dia temen SD gue, Yan! Kerjanya bagus ga? Kalo Lo nyaman jadiin dia karyawan, gaji bulanan Lo potong buat beliin minyak wangi ke dia! Njirr bau sampahnya mengkontaminasi toko kaos distro Lo yang menengah ke atas nih! Oh iya gue lupa! Walaupun diguyur minyak wangi sebotol tetep bau sampah ya? Khan Lo tinggalnya ditumpukan sampah! Hehehe... Sori gue lupa, Li!"
Mata Ali mulai pedas.
Anton sangat berlebihan membenci dirinya begitu sadis.
"Kenapa sih, Ton? Lo ada masalah apa sama gue? Apa kemiskinan gue menulari hidup Lo? Sebegitu bencinya Lo sama gue! Apa salah gue?"
Ali meradang. Perlu juga meradang. Otaknya merespon kalau Anton seperti sengaja untuk menginjak-injak harga diri ini. Sedangkan Ali merasa tak pernah sekalipun berbuat jahat padanya.
"Hei, pemulung! Lupa Lo ya? Gara-gara Lo, gue hampir ga bisa ikutan UAN di kelas 6 SD?"
Mata Ali membulat.
Gara-gara gue? Dia hampir ga bisa ikutan UAN? Kenapa?
"Cuih! Otak sampah! Bapak Lo tanya noh, kenapa bisa kartu ujian sekolah gue ada di dia? Mau sabotase nilai gue? Hah?!?"
"Ya ampun! Ternyata manager A&W ini otaknya kosong sampe ga bisa mikir lagi!"
Seketika amarah Ali meninggi.
Ditariknya kerah baju Anton dan menuntunnya kasar ke luar toko distro bang Piyan.
Walau Ali sedang emosi tingkat tinggi, tapi masih sadar dan tak mau buat keonaran di dalam toko orang.
"Heh nyomet! Ngapain Lo narik-narik baju gue? Ngajak ribut Lo!?"
Buggg.
Dilayangkan pukulan ke arah bibirnya yang masih nyerocos mengatakan hal tak guna.
"Bang...sat!!!"
Anton teriak mendapat jotosan telak dari Ali.
Dia yang terdorong ke belakang nyaris jatuh terduduk langsung maju dengan tangan penuh dikepal.
Syuttt
Pukulannya segera Ali hindar dengan tangkisan tangan kanan.
Dug.
Kedua tangan mereka saling beradu dengan keras.
"Lo boleh hina gue, tapi jangan hina almarhum bapak gue! Dan Lo harusnya berterima kasih sama beliau!!! Karena beliau akhirnya Lo bisa ikut ujian! Orang Beg*! Ditolong malah ngatain yang ga engga!"
"Apa maksud Lo? Gue bego? Terus... Siapa yang lebih bego, gue apa elo? Gue sekarang adalah Manager restoran terkenal. Dan Lo, siapa? Baru kerja lima hari jadi pelayan distro sepupu gue aja udah songong, Lo!"
Ali memiting tangan Anton sampai berteriak kesakitan dengan tangan terpelintir ke belakang.
"Minta maaf atas nama bapakku!!! Ayo, minta maaf!!!"
"Buat apa gue minta maaf?" teriaknya masih dengan kesombongan yang hakiki.
"Bapak gue udah meninggal! Bapak sama Ibu gue udah ga ada di dunia!"
"Itu bukan urusan gue!!! Aw aw awww sakit, gobl*k!!!"
Ya Tuhan! Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang seperti si Anton ini! Sok kaya, tengil, merasa paling hebat di dunia. Dan satu lagi, gobl*knya ga ketulungan.
Mata Ali yang merah perlahan merebakkan airnya.
Bug bug bug.
Tiga pukulan keras menghujam dada Anton Darmawan hingga limbung dan muntahkan seluruh isi perutnya.
Langkah Ali serasa terbang melayang. Tidak menapak ke bumi karena perasaan yang hancur lebur tak bertepi.
Tuhan! Kenapa hidupku harus seperti ini? Kenapa, Tuhan? Kenapa orang kaya itu begitu semena-mena? Kenapa diriku yang miskin ini selalu dipandang hina? Tuhaaan!!! Dimanakah keadilan-Mu Tuhan!?!
Hujan turun perlahan lalu kemudian menjadi deras sederas-derasnya seperti dituangkan sekaligus oleh Sang Maha Pencipta.
Tubuhnya seketika basah kuyup oleh hujan deras yang mengguyur.
Air mata dipipi seketika luntur bercampur air hujan yang diturunkan Tuhan.
Ali tetap berjalan melangkah meninggalkan toko distro tempatnya bekerja.
Tak dipedulikan panggilan Bang Piyan meneriakkan namanya. Tak dihiraukan suara hardikan Anton Darmawan yang memakinya sampai keluar semua penghuni kebun binatang dari dalam mulut kotor.
Hari ini, status karyawan yang baru Ali sandang lima hari harus diganti lagi menjadi status 'pengangguran'.
Selamat jalan dunia yang kejam! Selamat tinggal kemiskinan! Aku... Tidak kuat lagi, Tuhan! Maaf... Aku putuskan untuk hengkang dari dunia ini! Bapak, Ibu... Izinkan aku menyusulmu!
...BERSAMBUNG ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
kenangan nih
2023-04-05
0
AnakMama AnakPapa
lagu koes ploes
2023-04-04
0
Mom La - La
akh... ku mengsedih kk..
2023-04-04
0