"Mbah Toro adalah dukun sakti di desa ini. Bahkan namanya harum sampai ke pelosok lain."
Ali menyimak serius cerita Ibu Susanah. Nama istrinya Pak Setan.
"Tetapi sejak kedatangan Mbah Kandut, suasana desa selalu panas. Begitu juga dengan cuacanya. Kami seringkali dilanda kemarau yang berkepanjangan. Dan nyaris jarang hujan. Ditambah sumber air bersih sangat sulit ditemukan bahkan meskipun kami berusaha menggali sumur sampai ratusan meter!"
"Wah, pasti penduduk desa sangat kesulitan kala itu, ya Bu?"
"Begitulah, Ali!"
"Terus, Bu? Apa yang terjadi?"
"Pertikaian antara mereka membawa dampak yang sangat buruk bagi kami, penduduk desa yang tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti apapun. Hingga suatu ketika, puncaknya adalah perseteruan keduanya dengan duel tanding ilmu satu lawan satu."
Ali menatap Bu Susanah tak berkedip.
"Ilmu spiritual keduanya ternyata sama-sama kuat. Hingga akhirnya keduanya hanya kalah oleh kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Petir menggelegar menyambar keduanya sampai,"
Jelegerrr...
Sontak Ali dan Bu Susanah terkejut setengah mati.
Kilat tiba-tiba memekakkan telinga dan hampir membuat keduanya meloncat saking kagetnya.
"Sepertinya, Tuhan tidak ingin kisah itu diceritakan kembali!" kata Bu Susanah dengan mimik wajah ketakutan.
"Ini mungkin hanya kebetulan saja, Bu!" timpal Ali yang sebenarnya penasaran tingkat dewa dengan cerita yang sangat menarik hatinya itu.
"Sebentar ya? Ibu ke dapur dulu. Periksa kompor dulu!"
Ali menelan salivanya.
Kampung ini penuh dengan misteri.
Wajahnya tegang. Ia menengok jalan raya yang sepi dan lengang. Hanya angin semilir sesekali menerpa wajah tirusnya sambil menengok kiri dan kanan.
Kenapa desa ini bagaikan desa mati? Kenapa tidak ada tanda-tanda kehidupan masyarakat pada umumnya padahal kampung ini memiliki akses jalan raya yang jauh lebih bagus material aspalnya di banding pinggiran kota Jakarta?
Dada Ali berdesir.
Sepertinya Ia merasakan bulu kuduknya merinding. Dan.
Puk
"Astaghfirullah, astaghfirullahal'adziiim!!!"
Ali nyaris lompat dari bale bambu tempatnya duduk ketika sebuah tangan menepuk pundaknya agak keras.
"Hahaha... ternyata kamu cowok penakut ya?"
"Keti!?"
Mata Ali melotot. Keti mengejutkannya.
"Maaf, maaf! Hehehe... Jangan marah!"
"Ish! Untungnya kamu perempuan. Kalau laki-laki, refleks sudah kupukul pasti!"
"Hehehe... maaf, Ali!"
Keti duduk di sebelah Ali. Senyumnya masih mengembang.
Lo cantik, Ket! Senyumnya manis. Bikin hati jadi adem. Ali bergumam dalam hati.
"Sarapan? Mau? Nasi sama telur ceplok!"
"Boleh deh. Tapi telurnya dua nasinya sedikit ya?"
"Lah? Malah banyak permintaan!"
"Hehehe... Boleh ya?"
Ya ampun! Imutnya! Gaya si Keti koq mode on kucing gemoy nan imut manis manja gitu?
Ali tertawa kecil.
"Bu! Nasinya satu lagi, buat Keti tapi minta telurnya dua!"
"Iya!" terdengar suara sahutan dari dalam rumah kecil Pak Setan.
Angin kembali menghembus agak kencang.
Hujan perlahan turun dan petir sekali lagi menggelegar.
Pak Setan terlihat berlari tergopoh-gopoh dari arah selatan jalan. Hujan membuatnya sedikit basah dan sang istri memberinya handuk kecil.
"Ini, Pak'e!"
"Makasih, Bune!"
Pasangan yang sederhana tapi saling mengasihi.
Ali teringat Bapak dan Ibunya. Mereka dulu juga seperti Pak Setan dan Bu Susanah. Saling peduli walaupun tidak lebay menyikapi cinta.
Tidak suka pamer kemesraan tapi saling terlihat dari caranya menjaga kesehatan satu sama lain.
Bahkan Bapak Ibu Ali meninggal dunia hanya selang dua minggu saja karena terpapar virus yang sama, dua tahun lalu. Tepatnya ketika ia kelas tiga SMA dan menjelang kelulusan virtual.
Hhh...
Ali menghela nafas panjang.
Kini ia ada di kampung halaman almarhum bapaknya, yang ternyata adalah anak orang kaya dan keturunan orang pintar alias faham ilmu perdukunan.
Bergidik tengkuk Ali menerima tiupan angin yang kadang kencang kadang lembut.
"Di kebun tadi ada perubahan!" seru pak Setan niatnya mengobrol dengan istrinya.
"Perubahan apa, Pak?" timpal Ali yang penasaran dan ikutan nimbrung menyela obrolan pasangan paruh baya itu.
"Ah, Ali?!"
Ternyata Pak Setan baru menyadari kalau ada Ali dan Keti tengah duduk di bale depan rumahnya samping warung.
"Pak, hehehe..."
"Pohon buah-buahan bapak berbunga!"
"Iya kah?" tanya bu Susanah dengan mata berbinar senang.
"Iya!"
"Wah, alhamdulillah!"
"Memang sebelumnya tidak berbunga dan berbuah, Pak?" tanya Ali.
"Sudah hampir lima tahun ini, semua pohon buah tidak berbunga apalagi berbuah. Sudah coba pakai pupuk, tetap tidak berubah! Sampai lelah dan cuma bisa tanam ketela saja. Itupun hasilnya sangat menyedihkan!"
Ali termangu mendengar cerita pak Setan.
Sebegitu tragisnya rupanya desa ini setelah pertarungan Mbah dengan Pak Kandut. Sampai berdampak sangat buruk bagi perkebunan bahkan para penduduk setempat yang satu persatu pergi tak kembali dan bahkan ada yang mati. Hingga yang tersisa adalah bangunan-bangunan rumah rapuh yang terbengkalai ditinggalkan para penghuni. Ck ck ck... Benar-benar desa menyeramkan!
"Tapi alhamdulillah sekarang sepertinya ada angin segar!" timpal bu Susanah.
Ali hanya bisa melihat raut-raut wajah penuh rona bahagia setelah tangan keduanya mengusap wajah.
"Pak Setan,... semoga kampung ini bisa kembali jadi kampung yang ramai penduduknya seperti dulu lagi!"
"Aamiin! Iya, Ali. Ini bisa jadi karena kedatangan kamu!"
"Weh? Mana ada! Hehehe, bapak udah bikin aku ge'er nih!"
Ali tersipu. Wajahnya merah apalagi setelah dilihatnya Keti juga tersenyum manis menatapnya tanpa berkedip.
Aduh dipuji gini bikin gue jadi grogi nih! Oiya! Gue butuh bala bantuan buat beberes rumah Mbah yang segede gaban!
"Pak, Bu, Keti! Saya boleh minta bantuan ga?"
"Apa?" serempak ketiganya bertanya.
"Saya..., mau bebenah rumah si Mbah! Tolong..., tapi saya tidak punya uang untuk,"
"Ayo! Nanti setelah hujan reda, kita kerja bakti sama-sama. Biar yang perempuan bantuin nyapu dan nge-pel di dalam. Kita babat rumput di luar."
Netra Ali berbinar terang.
Hatinya senang, ternyata Pak Setan bisa jadi sahabat sekaligus kerabat baginya yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Sahabat tidak harus seumuran. Karena yang seumuran belum tentu bisa diandalkan.
Terlebih kini keadaan Ali sangat terpuruk tak punya apa-apa selain rumah besar warisan Mbah Toro sang Kakek.
Orang desa memang memiliki hati yang tulus, murni dan penuh belas kasih. Ali bersyukur pada Illahi.
Mereka mulai melakukan kegiatan bersih-bersih setelah satu jam kemudian.
Bu Susanah bahkan sampai menutup warungnya demi untuk membantu Ali bebenah.
Alat-alat untuk membersihkan rumah besar warisannya tak lupa dibawa. Sehingga mereka terlihat seperti segerombolan pasukan perang.
Bu Susanah dan Keti menyapu lantai setelah membuka seluruh kain putih penutup perabotan yang masih sangat bagus itu.
Ali bersama Pak Setan membabat rumput ilalang yang tumbuh subur di halaman rumah dan sekitarnya.
Arit dan clurit menjadi alat bantu keduanya membabat rumput.
"Hati-hati, takutnya ada ular!" kata Pak Setan memperingati Ali yang tampak bersemangat sekali.
"Iya, Pak! Terima kasih banyak atas bantuan semuanya!"
"Saya juga senang. Akhirnya desa ini terlihat hidup setelah sekian lama mati suri!"
Ali teringat cerita Pak Setan yang menggantung kemarin sore ketika mengantarkan uang kembalian lilin.
"Pak! Lanjutkan cerita kemarin dong!" pinta Ali sambil terus bekerja.
"Nanti saja. Kita lagi pakai senjata tajam. Bahaya kalau sambil ngobrol, Li!"
Iya juga sih!
Ali mengangguk pelan.
"Tapi janji nanti lanjutin ceritanya ya?"
Ali seperti bocil yang kepo penasaran maksimal ingin tahu kelanjutan cerita Pak Setan. Tentu saja yang ditodong cerita hanya tertawa kecil.
Cukup menguras tenaga juga, padahal Ali tidak bekerja sendirian.
Perutnya yang tadi pagi kenyang setelah sarapan, kini terdengar kembali keroncongan.
Keti dan Bu Susanah sudah menyelesaikan tugasnya membersihkan ruangan lantai satu. Tinggal lantai dua yang belum mereka sapu karena menyiapkan mi instan yang rupanya Bu Susanah bawa juga tanpa sepengetahuan Pak Setan dan Ali Akbar.
Sampai penciuman Ali menghirup aroma mie yang wangi dan nikmat.
"Waah, ternyata..."
"Ayo makan dulu! Mie saja ya, seadanya." Bu Susanah dengan logatnya yang kental membawa dua mangkuk mie instan untuk Pak Setan dan Ali Akbar.
Tentu semakin senang hati Ali. Rasa laparnya akan segera terobati.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
like 👍
2023-04-07
0