"Pertarungan antara Mbah Toro dan Mbah Kandut menyebabkan kami para warganya terisolasi dan terbagi dua dan hilang sebagian!"
Ali terperangah.
Mbah-nya ternyata memiliki andil atas apa yang terjadi di kampung misterius ini.
"Apakah masih ada kutukan ditengah jaman globalisasi seperti sekarang ini? Masih berpengaruhkah ilmu-ilmu kebatinan dan kedigjayaan yang membuat hilang para penduduk? Penduduk hilang karena mutasi atau...?"
"Menghilang tanpa diketahui jejaknya! Tapi..., terkadang mereka terlihat. Namun hanya sebentar kemudian, hilang lagi seperti berada di dunia lain tapi masih di kampung ini!"
Ali kembali teringat Simbah Marsinah.
"Ya! Saya juga pernah melihat Mbah Marsinah, bahkan makan singkong rebus buatannya. Tapi, hanya satu jam setelah saya pulang kembali ke rumah dan Mbah Marsinah beserta rumahnya justru hilang tidak ada lagi di belakang rumah Mbah Toro!" seru Ali menceritakan kejadian pertemanannya waktu itu dengan Mbah Marsinah.
Mereka saling berpandangan.
"Apa yang terjadi, Pak? Bisakah keadaan ini dikembalikan seperti semula lagi? Seperti dahulu, hidup aman, tenteram dan damai?"
"Semuanya adalah kehendak Yang Kuasa. Jika keadaan ini bisa kembali lagi seperti semula, betapa bahagianya kami." Pak Setan menggumam.
"Tapi, tiga hari lagi malam satu suro kesepuluh tahun sejak kejadian itu!" ujar Pak Toha membuat bola mata Pak Setan membelalak dan Keti makin mendekat ke pada Ali.
"Malam satu suro? Apa itu, Pak?"
"Malam tahun baru Islam. Malam satu Muharram. Dan kami meyakini semua mitos serta kepercayaan malam satu suro dari nenek moyang."
Ali adalah anak milenial. Lahir di tahun 2000-an ke atas dan berasal dari Ibukota Jakarta yang tidak faham bulan-bulan Islam seperti yang diceritakan Pak Setan dan Pak Toha.
"Saya hanya tahu bulan umum. Bulan Januari sampai Desember. Bulan Islam hanya tahu beberapa bulan saja seperti Bulan Rabiul Awal tanggal 12 adalah hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, bulan Rajab tanggal 27 hari perjalanan Nabi Muhammad Isra' dan Mi'raj menerima perintah sholat lima waktu dari Allah Ta'ala. Sama bulan Ramadhan dan Syawal. Karena Kita wajib puasa sebulan penuh dan berakhir di hari Kemenangan tanggal satu Syawal."
Netra Pak Toha berbinar.
Ditepuknya pundak Ali dengan bangga.
"Betul. Tapi urutan bulan di tahun hijriah itu antara lain adalah Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqaidah dan terakhir bulan Dzulhijjah. Semua bulan memiliki keistimewaan masing-masing. Begitu pula bulan awal bulan Muharram yang kami yakini sebagai malam satu suro."
Merinding bulu kuduk Ali.
"Leluhur kami menganut faham Islam Kejawen. Dan kami masih melakukan ritual Nenek moyang sampai sekarang meskipun kampung ini masih berada dalam lingkaran kutukan dari akibat gesekan ilmu hitam dan ilmu putih yang mengakibatkan sebagian warga menghilang namun terkadang ada di dunia berbeda. Mereka ternyata melakukan rutinitas sama seperti kita. Hidup seperti kita juga. Makan minum dan tidur hanya berada di dimensi yang berbeda. Dan kami semua berharap, ada seseorang Satria Piningit yang datang dan membuka mantera kutukannya. Membebaskan kami semua dari keadaan yang tidak mengenakkan ini."
Ali tertegun.
Sungguh cerita mistis yang luar biasa.
Antara percaya atau tidak. Apakah mitos atau fakta. Sekedar kisah karangan biasa atau memang ini nyata. Apa yang dahulu selalu Ia sebut tahayul ternyata di kampung ini bukan cerita isapan jempol. Tapi nyata adanya.
Mereka semua menunggu Satria Piningit itu datang membuka pintu tabir dari misteri yang tidak pernah terpecahkan ini.
Ali gemetar.
Jantungnya berdetak kencang. Seiring dada Keti yang tanpa sadar menempel di bahu kirinya.
"Ke_keti?! Kamu ketakutan?" tanya Ali sedikit menggeser tubuhnya karena malu dan juga risih mendapati perlakuan Keti yang tidak biasanya.
"Iya."
Jawaban Keti singkat. Tetapi dia masih tidak beranjak meski Ali menggeser posisi duduknya agar tubuh mereka tidak saling bergesekan.
Keti baru menyadari kalau Ia terlihat seperti perempuan genit yang sedang menyender di bahu Ali.
"Ah, maaf... astaghfirullah!"
Sontak wajah keduanya bersemu merah jambu.
Ada desiran halus yang mereka rasakan. Debaran aliran adrenalin yang memacu jantung kian kencang.
Hujan akhirnya berhenti.
Langit yang tadinya gelap perlahan cerah lagi.
Ali melihat pergelangan tangannya dan melirik jam yang melingkar.
Hampir pukul sebelas siang.
"Pak Setan masih ada kerjaan?" tanya Ali pada Pak Setan. Ia mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pertanyaan.
"Masih, Li! Kamu sudah selesai urusannya?"
"Sudah. Tapi, apa Pak Toha butuh bantuan? Bolehkah saya bekerja di sini sebagai apapun? Saya, butuh pekerjaan untuk menyambung hidup. Setidaknya, untuk beli makanan setiap hari, Pak."
"Hm. Lihatlah sendiri. Saya pun tidak punya kerjaan, Ali. Tidak ada gajinya juga kecuali dari pemerintah pusat yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Hhh..."
"Terus, keluarga Pak Toha makan apa sampai menunggu gaji turun dari pusat?"
"Istri dan anak-anak saya... ikut menghilang, Li! Saya tinggal sendiri."
Jawaban yang menyesakkan dada Ali.
Sungguh ini adalah hal yang mustahil tapi ternyata ada. Ali mau berontak tak percaya tapi Ia sendiri mengalaminya.
Entahlah. Seperti berada di sebuah kampung yang benar kata Pak Toha, kampung terisolasi. Tak ada hubungan baik dengan luar. Padahal kampung ini juga bukan kampung yang terpelosok seperti anak rimba.
Ali menghela nafas panjang.
Rumitnya kehidupan yang Ia jalani di kampung ini.
Tapi ada rasa syukur yang sedang Ia agungkan. Ali bersyukur bertemu orang-orang baik seperti mereka. Dan kini bertambah satu lagi, yaitu Pak Toha, Kepala Dusun kampung Kandut.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
forza 💫✨🎗️🪙👑
cerita kok cma bgtu" aja..ga ada perkembangan signifikan..
2024-02-11
0
Elisabeth Ratna Susanti
hadir 😍
2023-04-15
0
Mom La - La
next thor, pinisirin dgn kejadian mlm 1 suro
2023-04-14
0