Ali memandang seisi rumah dengan mata terpukau. Rasanya bagaikan mimpi, kini ia jadi pemilih sah tunggal rumah yang bagaikan kastil ini.
Rumah tua memang. Tapi rumah ini jauh dari kata kumuh meskipun keadaannya tidak terlihat bersih dan berkilau.
PR besar buat Ali untuk membersihkan rumput dan ilalang yang tumbuh subur di halaman.
Ali masih menelusuri kamar demi kamarnya yang super besar dan masih lengkap perabotan. Hanya ditutupi dengan kain putih yang berdebu tebal sehingga membuat Ali sesekali terbatuk-batuk menghirupnya.
Si Hitam terus mengekor.
Sesekali buntutnya dikibaskan ke mata kaki Ali Akbar sambil mengeong.
"Hitam, kamu selama ini tinggal di sini?" tanya Ali setelah melihat ada wadah kecil tempat yang sepertinya biasa ditiduri oleh kucing berwarna hitam polos itu.
Bau pesing pipis kucing menyergap penciuman Ali.
"Ufff... Bau ompolmu itu!" tutur Ali sambil menunjuk ke arah tempat tidur si Hitam.
"Baiklah. Sebelum Aku beberes, sebaiknya kita bersihkan dulu tempat tidurmu. Oke?"
"Meooong..."
Kucing hitam itu merespon Ali.
"Dimana Aku bisa dapatkan air? Semua akses mati. Aliran listrik, PAM juga kayaknya udah gak fungsi deh!"
Ali bergumam dengan dirinya sendiri.
Si Hitam mengibaskan ekornya. Ia berjalan cepat menuju ruang belakang dari pintu samping. Matanya menatap Ali sebelum melesat pergi. Seperti memberi kode supaya Ali mengikuti langkahnya.
Ali kini mengekor si Hitam.
"Woah! Ternyata ada kolam disini!"
Ali berseru senang melihat ruang terbuka yang ada di belakang rumah terdapat kolam seperti kumpulan mata air karena ada aliran air yang mengalir keluar tak henti-henti.
Ali mencoba menepuk air bening yang ada di dalam kolam.
Sejuk sekali rasanya.
Pemuda berumur 19 tahun itu langsung meraup air yang dingin dan mengusapkannya ke wajah.
"Hm... Segarnya!" katanya senang.
Seperti terangkat semua beban berat yang ada ditubuhnya. Ali lupakan sejenak kesedihan serta kepedihan hatinya selama ini.
Ali ingin mandi. Tubuhnya terasa lengket sekali karena perjalanan jauh menuju tempat yang ada di pelosok ini.
Ia membuka seluruh pakaiannya tanpa pikir panjang.
Tubuh polosnya kini tanpa sehelai benang pun. Karena fikirnya di rumah ini hanya ada dia seorang dan seekor kucing yang terlihat sibuk mengais-ngais tumpukan baju milik Ali.
Jebur jebur jeburrr...
Ali berkecipak di dalam kolam air yang tidak begitu besar dan dalam itu.
Seperti bocah, ia bermain air dan berenang kesana-kemari.
Ia lupa, ada seekor hewan imut yang sedari tadi menatapnya malu-malu. Dan jika Ali balik menatap, si kucing hitam itu seolah sibuk bermain dengan pakaian Ali yang teronggok di atas lantai.
"Hitam, hitam, pusss sini! Hahaha segar lho! Sini dong, gabung mandi bareng Aku!"
Si Hitam terpana dengan gaya canda Ali. Matanya bersinar terang. Sesekali kucing itu mengeong seolah ingin memberitahu Ali kalau dia adalah seekor kucing betina yang malu melihat tubuh polos pria tanpa busana sedang bermain air di kolam sana.
"Hehehe..., Aku tahu, kucing itu takut air bukan? Tapi nanti kau harus mau mandi bareng Aku ya?"
Ali yang telah beranjak dan berjalan keluar dari kolam mengelus kepala kucing hitam itu walaupun tangannya basah.
So Hitam mengibaskan bulu-bulunya yang basah kena usapkan Ali.
"Yassalam, hahaha... Sombongnya kau!"
Ali masih dalam keadaan bugil, mencoba mencelupkan kembali tangannya ke air kolam lalu memercikkannya ke badan si Hitam.
Si Hitam mengeong keras. Hewan imut itu melonjak dan berlari cepat keluar ruangan.
Ali tertawa terbahak-bahak.
Wajahnya bersinar cerah.
Ini pertama kalinya Ali merasakan tubuh begitu ringan dan jiwa yang besar. Seperti, perasaan bahagia yang muncul dari dalam hati sampai dirinya bisa enjoy bercanda meskipun hanya dengan seekor kucing.
Ali mengobrak-abrik tas ranselnya. Mengambil handuk kecil butut miliknya dan mengusahakan seluruh bagian tubuhnya yang basah setelah mandi berenang di dalam kolam.
Ia mengenakan kembali pakaiannya yang sama. Tidak berganti karena berfikir akan mulai bekerja keras membersihkan rumah kastil warisan Kakek Nenek nya ini.
Ali masuk sebuah kamar besar tepat di sebelah ruang tamu.
Sepertinya ini kamar utama! Gumam hati Ali.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Hei! Mana si Item? Koq ngilang tu kucing?
Tidak ada siapapun. Ali seorang diri dan mulai agak resah karena rasa kesepian yang tiba-tiba menyergap.
"Haish! Ga boleh jadi orang penakut! Ini rumah gue, rumah peninggalan almarhum Kakek Toro! Masa' gue takut tinggal di rumah keluarga sendiri? Kalo pun harus pergi, gue mau pergi ke mana? Duit kaga punya, kerjaan juga ga ada, apalagi rumah... Hhh!"
Ali mencoba menguatkan hati dan tekadnya.
Ruang kamar menjadi prioritas utama untuk dibenahi dan dibersihkan semua kotoran debu.
Mumpung masih siang dan cahaya matahari masih bersinar masuk ke dalam rumah lewat celah jendela kaca yang lebar besar.
Ehh?!? Kalo malam gimana ini? Pasti gelap dong? Gue harus cari warung buat beli lilin!
Ali kembali panik.
Ia mencoba mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk penerangan nanti malam.
"Hm. Gue cari warung dulu deh! Beli lilin buat tar malem!"
Ali keluar kamar dan berjalan menuju pintu utama rumah untuk keluar.
Tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang teronggok disudut ruangan.
"Sepeda!!! Woah!!! Sepeda gunung limited edition !!!"
Ia setengah berlari menghampiri sepeda gunung yang teronggok tanpa ditutupi kain putih seperti perabotan yang lain.
Dikotak-kotiknya rantai yang mengait dengan roda. Agak berkarat dan sedikit seret ketika digowes.
Ali melihat ada wadah kecil dipojokan.
Minyak rem? Beneran minyak rem?
Girang hati bukan kepalang. Ternyata tebakannya benar.
Ia segera mengolesi rantai sepeda yang sudah lama tidak dipakai itu dengan minyak rem yang dikucurkan.
Berhasil!!!
Ali senang, Ia bisa mencari warung di sekitar rumah Mbah Toro dengan menggunakan sepeda.
Kini perjalanannya tidak terlalu membutuhkan waktu lama. Syukurlah.
.............
"Kanan atau kiri?"
Ali menoleh ke dua arah itu. Jalanan terlihat lengang, sunyi sepi.
Akhirnya ia memutuskan untuk ke arah kanan lebih dahulu.
Dikayuhnya sadel sepeda yang mulai terlihat kekuatannya setelah beberapa kali kayuhan. Minyak rem benar-benar berjasa besar hingga kini sepeda mahal itu kembali menunjukkan kehebatannya.
Jalanan yang bagus membuat Ali seperti terbang menggowes sepeda gunungnya.
Dan Ali bersyukur ketika akhirnya Ia melihat sebuah warung kecil di pinggir jalan.
"Akhirnya, yeeaay! Alhamdulillah!"
Pemuda itu perlahan mulai menurunkan speed kecepatan kayuhnya.
Sebuah warung kecil terbuka daun jendelanya dan seorang pria paruh baya sedang duduk di bale bambu dengan tangan memegang gelas kopi sembari menyeruputnya pelan.
"Kulonuwun! Permisi, Pak! Saya mau beli lilin!"
Ali terkesiap. Bapak itu ternyata matanya bolong satu.
Seketika Ali menunduk, tidak enak hati jika raut wajah yang menampakkan keterkejutan dilihat langsung oleh si bapak.
"Lilin? Berapa?" tanya bapak itu.
"Harga satuannya berapa?" Ali balik tanya dengan suara lembut.
"Seribu!"
Wah, harganya sama seperti di kota! Padahal warung ini terpencil dan sekitarnya juga tidak ada rumah penduduk. Tapi... harganya murah.
"Beli sepuluh, Pak!"
"Baik! Ini!"
"Bapak asli warga sini?"
Ali mencoba berinteraksi dengan mengajak ngobrol. Untuk jadi teman daripada dia hidup sendiri tanpa tetangga juga saudara.
"Saya disini sejak lahir. Turun temurun. Adik ini sepertinya orang baru," jawabnya. Meskipun terdengar ogah-ogahan tapi Bapak itu merespon pertanyaan Ali.
Ali senang sekali.
Disodorkannya tangan dan meraih telapak tangan si bapak sambil berkata, "Saya Ali Akbar, Pak! Saya cucunya Bapak Toro Margen yang rumahnya diujung jalan itu!"
Bapak itu membulatkan matanya. Nyaris Ali bergidik ngeri. Tapi segera tersadar dan bertindak secara wajar saja.
"Kamu? Cucunya Mbah Toro? Cucunya Mbah Jangkung?"
Ali mengangguk.
Hampir Ali melonjak kaget. Bapak itu menepuk pundaknya agak keras.
"Akhirnya... setelah sekian lama rumah itu kosong tak berpenghuni! Syukurlah... Hehehe! Syukurlah!"
Ali senang. Respon pak pemilik warung membuatnya lega. Bahkan wajah yang tadi datar tanpa ekspresi itu terlihat lebih sumringah karena senyum tipisnya tersungging.
Syukurlah! Akhirnya gue ada tetangga!
"Nama bapak siapa?" tanya Ali setelah saling berpandangan dan lempar senyuman.
"Nama saya SETAN!"
"Hah?!? Se setan???"
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
mantull
2023-05-29
0
Elisabeth Ratna Susanti
karya antimainstream nih 😍 top 👍
2023-04-05
0
Mom La - La
akh.... apa mungkin itu desa hantu???
next dong thorr.. berasa digantungin nih..
2023-04-04
0