Pada saat itu, Firman diam-diam memberikan Laila sepucuk surat cinta.
Dia mengungkapkan isi hatinya.
Tapi bukannya mendapat jawaban cinta yang sama, juga tidak mendapat penolakan justru Laila pergi dari circle pertemanan yang sudah terjalin dua tahun sebelumnya.
"Li! Laila kayaknya beneran marah sama gue. Nomor WhatsApp gue sama sekali ga direspon walaupun ga diblokir juga. Kalo Lo gimana? Masih suka chattingan sama Laila ga?"
Ali menggeleng lemah. Memang mereka jarang sekali chattan. Selain hape Ali yang seringkali habis masa tenggang nomor nya karena jarang beli pulsa, terkendala oleh ekonomi yang menghimpit. Ali juga canggung serta bingung untuk memilih kata-kata yang ingin diketik jika menchattnya.
"Lagian kenapa sih Lo ngebet banget pengen cinta-cintaan, Man? Berteman kayak gini gue rasa lebih asik ketimbang menakar kata cinta! Mumet sendiri khan Lo jadinya! Lagipula cinta butuh modal Broh! Buat ngapel, jajan bakso, kulineran, traveling,... emang Lo punya modal buat ngajak Laila kencan? Nongkrong di rumah pohon Bokap gue kayaknya jauh lebih berharga karena Lo bisa pelototin Laila hampir tiap hari!" omel Ali membuat Firman menunduk.
Ali juga cinta Laila.
Hatinya memendam perasaan yang sama seperti yang Firman rasa. Tetapi hanya Ia simpan dalam hati saja. Cukup dirinya dan Tuhan saja yang tahu.
Ali punya pemikiran beda.
Ali ingin sukses dulu, baru mengejar cintanya yang begitu agung dan wajib Ia perjuangkan untuk dimiliki jika memang berjodoh.
Walau Ali ragu, apakah mimpinya menjadi orang sukses akan kesampaian?
Itu yang sampai kini masih jadi khayalan yang memusingkan.
Saat itu Ali turut mencoba meluluhkan amarah Laila yang menghilang dari pertemanan Tiga Serangkai.
Ali bolak-balik menemuinya di sekolah, bahkan menunggu Laila menemuinya di depan gerbang rumahnya yang kokoh tinggi menutupi pandangan orang yang lalu-lalang.
Demi pertemanan yang sudah dua tahun terjalin bersama ini. Juga demi Firman yang mulai depresi sampai-sampai makan mie instan dicampur pisang goreng. Hhh...
Sedikit berbangga hati, Laila kembali ke pertemanan kami karena Ali yang terus menerus mendatangi dan memohon maaf atas nama Firman.
"Denger ya? Gue ga mau dengar lagi hal-hal yang ga mutu keluar dari tingkah maupun bibir kalian! Oke? Gue ga mau persahabatan kita putus cuma gara-gara cinta-cintaan. Kalo gue nolak, tetap persahabatan kita jadi rusak. Kalo gue terima dan ternyata cinta Lo ke gue cuma sesaat dan kita putus, persahabatan juga jadi ga bagus. Gue ga mau itu sampe terjadi! Hik hik hiks..." isak tangis Laila pada saat itu.
Begitulah jawaban Laila.
Gadis cantik idaman setiap pria itu hanya ingin bersahabat dengan mereka berdua.
Tidak ingin lebih.
Hanya ingin bersahabat.
Dan sampai kini, selalu Ali ingat janji persahabatan mereka bertiga.
Bahkan persahabatan itu tetap terjalin walaupun kini usia mereka sudah mulai beranjak dewasa dan memiliki circle pertemanan lain di luar sana.
Memang mereka berbeda sekolah setelah tamat SD. SMP, SMA tidak lagi sama. Tapi hampir setiap hari mereka bertemu di atas rumah pohon samping kontrakan rumah keluarga Ali.
Selalu ada kegiatan selain belajar bersama seperti ngerujak, jajan seblak, jailin orang lewat, ngeghibah sehat dan sebagainya.
Selalu ada canda tawa Laila disela banyolan Firman.
Selalu ada suara nyanyian merdu Laila ditengah petikan gitar butut milik Ali yang setia berada di antara pertemanan kita.
Semua begitu luar biasa.
"Gaes, gue...ada sesuatu yang mau disampein sama kalian berdua."
Dug dug dug dug
Seketika jantung Ali berdegub.
Ada apa ini? Kenapa Laila seperti ada hal besar yang ingin dia sampaikan? Apa gadisku itu kini sudah punya pacar?
Ali dan Firman menanti lanjutan ucapannya dengan hati cemas juga bertanya-tanya.
"Gue, mau pindah ke Lombok!"
"Pindah? Ke Lombok?"
Tentu saja respon Firman yang paling frontal ketimbang Ali yang hanya diam walaupun hati potek dan berhamburan menjadi serpihan yang menyesakkan dada.
Laila akan pindah ke Lombok. Lantas bagaimana dengan Aku? Bagaimana dengan Firman? Bagaimana kita berdua nanti melanjutkan hidup tanpa dukungan support dan semangat Laila Purnama?
Firman berteriak histeris sementara Ali hanya menunduk pilu.
"Kenapa sejauh itu pindahnya, La?"
"Bokap gue dipindahtugaskan ke Lombok! Nyokap ga izinin gue kost dan kuliah jauh dari pantauannya, Man!"
"Tapi usia Lo khan udah dewasa untuk hidup mandiri, La?"
"Bagi Nyokap gue, itu beda Man! Gue masih gadis cilik yang patut dikhawatirkan apalagi pergaulan jaman sekarang. Gitu kata Nyokap!"
"Dan Lo setuju ikut pindah?"
"Mau gimana lagi? Mereka orang tua gue, Man! Ya gue harus ikut Mereka-lah!"
"Hhh..."
"Kapan rencananya pindah, La?" tanyaku pelan.
"Lusa, Li!"
"Lusa???"
Ali dan Firman berteriak bersamaan.
"Secepat itu? Kenapa ga Lo ngomong jauh-jauh hari sih, Laila?"
"Maaf... Gue juga baru tau seminggu lalu! Dan gue gak berani jujur kemaren-kemaren karena khawatir kalian bakalan sedih terus-terusan padahal gue masih ada! Gue ingin kita selalu tertawa walaupun kenyataannya tidak sebahagia itu juga!"
"Laila?!?"
"Terus kita harus gimana?"
"Hehehe... Maaf, mau gimana lagi?"
"Lailaaa...!!!"
Hari yang menyedihkan, sekaligus hari terakhir kebersamaan mereka bertiga. Juga hari bahagia terakhir bagi Ali. Karena setelah Laila pergi, hidup Ali semakin miris dengan kisah yang tragis.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Mom La - La
setelah sampi di Bab ini keknya Ali punya kemiripan ma gatot ya...
akh mudah2an z nggak gagal total. he he he...
2023-04-04
1
Elisabeth Ratna Susanti
tiga bab yang top banget 😍
2023-04-03
0