Seharian kerja bakti bersama Pak Setan, Bu Susanah dan Keti seperti orang yang kesetanan. Rumah besar dengan dua lantai dan juga halaman rumah yang luas berhasil mereka bersihkan hari itu juga.
Alasan Pak Setan adalah karena esok ada kerjaan di kebunnya. Sehingga pekerjaan membabat rumput dan membersihkan rumah hanya bisa dibantu hari ini saja.
Jadi mereka berempat pun sigap kerja sama membuat rumah warisan Mbah Toro menjadi lebih baik setidaknya lebih bersih dari sebelum Ali datang.
Ali baru tersadar setelah senja menjelang. Ia baru merasakan sakit sekujur badannya ketika semuanya pamit pulang ke rumah masing-masing.
Pak Setan, Bu Susanah dan Keti izin pulang secara bersamaan. Tinggalkan Ali yang kini sendirian di rumah besar yang terang karena bantuan cahaya api dari lilin yang Ia nyalakan.
Bahkan Ali sampai lupa todongan janji cerita bersambung yang pak Setan ungkapkan kemarin.
Ternyata malam beranjak tanpa sempat Ali pergi mandi karena hari telah gelap. Dia tak mau mandi dalam kegelapan yang menakutkan.
"Hitam! Hitam?! Miaoww..., Hitam!"
Ali mencari-cari kucing hitam yang biasanya menemani. Tapi tak nampak ekor indahnya seharian ini setelah pergi pelan-pelan disaat Ali mandi pagi.
"Puuss, miaoww..! Hitam, Hitam..."
Tak ada suara jawaban.
Ali meremang bulu kuduknya.
Ini adalah malam kedua Ia tinggal di kampung halaman Bapaknya.
Rumah besar Mbah Toro terlalu besar untuk Ali tempati sendirian.
Semalam ada kucing hitam yang menemaninya meskipun tidak mau tidur di atas ranjang. Kini, sepertinya Ali harus berani tidur sendirian.
Sengaja Ali menyalakan tiga lilin sekaligus di dalam kamar. Fungsinya untuk menambah penerangan lebih baik pastinya.
Walaupun tubuhnya lelah, tetapi Ali belum mengantuk dan masih ingin duduk menikmati suara-suara alam dan hewan-hewan yang berbunyi di luar sana.
Ali memeriksa ponselnya.
Ia berdecak. Dua hari handphonenya tidak berfungsi.
Dipandanginya chargeran hape. Tidak ada aliran listrik, otomatis charger ponsel pun tiada arti.
Helaan nafas panjang menjadi pamungkas kepasrahan Ali.
Mau bagaimana lagi. Toh ini adalah jalan hidup yang harus Ia jalani. Kini Ali hanya bisa merenungkan nasib diri. Ia memikirkan banyak hal termasuk Firman dan Laila.
Pasti mereka sudah membalas chattanku! Gumamnya dalam hati.
Tring.
Ali terkesima. Ada pantulan cahaya yang sekelebat membuatnya tertegun dengan jantung berdebar.
Buyar sudah lamunannya tentang Laila dan juga isi hatinya.
Apaan itu?
Dengan penasaran, Ali berdiri dan berjalan lambat mengikuti arah pantulan cahaya yang keluar tiba-tiba.
Kilatannya berasal dari balik lemari kayu jati yang kokoh itu. Ali perlahan beranikan diri untuk membuka pintu lemari.
Semoga, semoga bukan hal yang buruk, ya Allah ya Tuhanku! Doanya dengan jantung dag-dig-dug tak karuan.
Krieeet...
Pintu lemari pakaian terbuka dan memperlihatkan seluruh isinya.
Penuh pakaian bergantung rapi. Bahkan masih dalam kantung plastik putih tembus pandang sehingga terlihatlah pakaian-pakaian mahal itu adalah buatan designer terkenal.
"Wuaaa!!!"
Takjub Ali melihat pakaian-pakaian yang bergantung rapi di tungkai kastop kayunya.
Tring.
Ali menoleh pada kaca cermin besar yang ada di balik lemari itu.
Ia tersenyum melihat wajahnya sendiri.
Tapi kemudian senyumnya hilang, berganti dengan rasa penasaran ingin menatap tubuhnya yang berbeda dari sebelumnya.
"Ehh? Ini beneran? Ini kaca bikin gue jadi ganteng maksimal ini!!!"
Ali kini fokus pada wajah setelah memperhatikan tubuh yang tidak terlihat kurus kering seperti biasanya.
Tubuh Ali jauh lebih berisi!
Wajahnya juga, wajahnya terlihat lebih keren dari yang lalu-lalu!
Ali tertawa menyeringai.
Ia bergoyang-goyang kesenangan.
"Hahaha... Makasih banyak Mbah! Setelah sekian lama Aku malas berkaca, ini adalah kaca cermin terbaik yang pernah kulihat seumur hidupku, Mbah! Hahaha... Asli Ali terhibur sekali Mbah! Makasih ya Allah, sudah bikin Ali menemukan rumah warisan ini dan semuanya!"
Seketika Ia berseru dengan suara lantang dan tawa terpingkal-pingkal.
Ia memang pernah mendengar kaca yang membagongkan. Yaitu kaca yang bisa berbohong dan membuat penampilan si pemakainya menjadi percaya diri meskipun hanya penipuan publik saja.
Tapi Ali merasa bahagia. Meskipun hanya sekedar hiburan saja baginya.
Ali terdiam merenung.
Teringat masa-masa tinggal di Ibukota. Masa lalu, masa sekolah dan masa-masa menyakitkan hati ketika teman-teman mencandainya sebagai pria paket lengkap minusnya.
'Hahaha, badan Lo udah kayak Pak Tile, Li! Emang sih, muka Lo berhasil nolong, tapi bodi model papan penggilesan gitu, gue rasa cewek-cewek bukannya naksir tapi malah prihatin, Li! Hahaha...'
Cicko teman sebangku SMP nya dulu pernah dengan jujurnya mengomentari tubuhnya yang jangkung tipis kala itu.
Tapi melihat dirinya di dalam cermin itu, seketika Ali bergumam sendiri.
"Andaikan saja dulu waktu SMP gue punya bodi sebagus yang ada di cermin itu! Hhh... Rasanya, mungkin nasib gue gak seburuk saat ini ya!?!"
Tring
Tring
Tring
Tiba-tiba ada kilatan besar yang membuat kedua bola mata Ali terbelalak lebar.
"Apaan itu?" pekiknya terkejut.
Dan ....
Wungg wungg wungg...
Wusss
Wusss
Wusss
Tubuh Ali seperti tersedot masuk ke dalam cermin, dan...
"Aliii! Ali gue belom bikin PR! Please tolongin!!!"
Ali kembali terkejut ketika seorang gadis cantik berkulit putih mengguncang-guncangkan tubuhnya.
Levi? Levita Dimitri?
Ali menoleh ke kanan dan kiri. Matanya melotot tak berkedip.
"Levi? Levita? Levita ini di kelas kita?" pekiknya keras membuat gadis itu menutup kedua telinganya dan bersungut, "Lo kira ini di pasar? Hah? Pake teriak-teriak kayak orang kesurupan, Lo Li! Ga kayak biasanya!"
Hahh?!?
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
next 👍
2023-04-07
0