Pukul satu siang. Bel sekolah berdentang pertanda pelajaran sekolah berakhir dan kelas hari usai.
"Selamat siang, anak-anak!" salam Pak Teguh, guru Bahasa Inggris yang selesai mengajar di kelas Ali.
"Selamat siang, Paaak!"
Kelas bubar. Satu persatu murid berhamburan keluar.
Ali menoleh ke arah Levita Dimitri.
Grep.
Jaffar menarik tangannya.
"Heh!? Lo beneran lagi ngebet naksir si Levita, Li?"
Ali mendongak kaget.
"Ini lebih dari itu, Far!"
"Yassalam! Eling Lo, bro! Baru tadi pagi pak Sembiring ngasih Lo ceramah, udah lupa Lo!? Hadeeuh..."
Ali tak pedulikan omongan Jaffar. Ia langsung beranjak ke meja Levita setelah selesai memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas.
"Levita!"
Levi yang baru saja berjalan keluar menoleh ke arahnya.
"Apaan?"
"Mau PMR ya?"
"Kenapa emangnya? Mau."
Ali mempercepat langkahnya.
"Tunggu! Gue ada perlu sama Elo, Le!"
"Le', Le. Lo pikir nama panjang gue Ikan Lele! Perlu apa?" sungut Levita dengan bibir mencebik.
"Tar aja, pulang PMR. Gue tungguin Elo di warung pak Dobleh!"
"Haish, ni orang kenapa sih!? Bikin gue jadi penasaran deh!"
"Hahaha... Si Ali masih penasaran, mau nembak si Levi biar bisa dapat jawaban tuh!" ledek beberapa teman sekelas membuat Levita memeletkan lidahnya.
"Makanya Le, jangan sering-sering nyontek PR sama si Ali. Baperan dia orangnya. Kan jadi minta pertanggungjawaban cinta. Huahaha..."
Ali tak pedulikan ledekan semua. Levita juga seolah cuek bebek dan terus melangkah keluar kelas.
Jaffar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman sebangkunya yang ia pikir cukup gila itu.
Ali membiarkan Levita bergabung dengan gerombolan angkatan mereka dari kelas tujuh yang lain untuk mulai ekstrakurikuler Palang Merah Remaja.
Ia sendiri awalnya masuk ekskul basket. Tapi sejak kakak pembina menunjuk Ridho sebagai kaptennya, Ali keluar dari ekskul.
Karena Ridho-lah yang membuka jati diri Ali yang memiliki Bapak seorang pemulung sampah daur ulang.
Ridho kurang lebih sama sifatnya seperti Anton, tetapi tidak segahar Anton yang juga sering main fisik alias sampai memukul dan mengeroyok Ali di saat kelas enam sekolah dasar.
Ali yang memang pada dasarnya seorang cowok pendiam dan pemalu kini duduk di pojok kantin.
Ia lupa kalau tidak ada sisa uang jajan di kantong bajunya. Bahkan untuk pulang ke rumah kontrakan orangtuanya pun Ali terbiasa berjalan kaki setiap hari.
Bahkan itu Ia lakukan sejak masih SD. Kini, jarak sekolah menengah pertama yang hampir dua kali lipat pun Ia tempuh berjalan kaki meskipun hanya saat pulang sekolah saja. Karena berangkat sekolah biasanya Ali naik bemo.
Uang sakunya hanya lima ribu rupiah saja. Ongkos bemo dua ribu rupiah untuk pelajar. Tiga ribunya lagi untuk jajan di kantin sekolah. Habis tak bersisa.
Ingin sekali marah pada Ibu Bapaknya, tapi tidak merubah keadaan karena tetap saja besoknya uang saku yang Ali dapatkan hanya lima ribu rupiah saja. Begitu dan begitu lagi hingga akhirnya Ia putuskan untuk pasrah dan menerima nasib yang menyedihkan ini.
Kantin semakin sepi. Murid-murid mulai menghilang pulang ke rumah masing-masing.
Ali yang sedari tadi hanya duduk tanpa pesan makanan akhirnya keluar kantin juga karena jengah diperhatikan Ibu kantin yang mendongkol.
Diluar cuaca sangat terik.
Ali yang terlihat sangat berbeda dengan murid-murid lainnya yang fokus dengan ponsel walaupun masih handphone model jadul tahun 2016 dan belum diperbolehkan membawanya bahkan kalau sampai ketahuan akan langsung disita guru di jam pelajaran.
Ali juga belum memilikinya seperti anak-anak yang lain.
"Anak kelas satu belum boleh punya hape. Lagipula itu alat komunikasi untuk orang dewasa, anak seumuran kalian hanya boleh menggunakan full nanti setelah tiga-empat tahun kedepan!" kata Bapaknya waktu itu.
Dan itu beneran jadi kenyataan. Karena di akhir tahun 2019 dunia diserang virus yang berasal dari Wuhan, China. Virus Corona namanya. Virus itu meluluhlantakkan seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Dan kedua orang tua Ali adalah salah satu korban virus yang paling Ali benci hingga saat ini.
Ali menghela nafas mengingat ucapan Bapaknya.
Panas terik matahari membuat kerongkongan Ali semakin haus.
Tapi apalah daya. Uangnya benar-benar telah habis. Dan yang jadi solusinya adalah pergi sholat Dzuhur dan ambil wudhu di mushola sekolah.
Sambil menyelam minum air. Dapat pahala dapat minum air kran gratis pula.
Ali berjalan menuju mushola sekolah yang cukup besar dan letaknya ada di tengah-tengah gedung sekolah yang berbentuk huruf U.
Kini jiwanya telah lebih jauh dewasa dari sebelumnya. Karena umur aslinya yang sudah 19 tahun sehingga lebih mudah mengambil keputusan ditengah keadaan yang menjepit ketimbang enam tahun lalu. Dulu dirinya hanyalah bocah berusia 13 tahun. Polos dan lugu, juga miskin, serta lebih banyak diam pasrah menerima keadaan.
Empat rakaat sholat Dzuhur telah Ali selesaikan secara khusu' seorang diri dalam musholla berukuran sekitar sepuluh kali dua belas meter itu.
Doanya pun kali ini lebih detail dengan memohon kepada Allah agar dirinya senantiasa diberikan kemudahan dalam menentukan langkah terbaik di hidupnya.
Perjalanannya masih panjang.
Ali berharap Ia bisa takhlukan dunia dan menggenggam matahari.
Ali ingin sukses. Ingin berhasil seperti orang-orang yang Ia jadikan panutan yang telah menjadi orang besar.
Pukul dua kurang lima belas menit.
Ali cepat-cepat bergegas mencari Levita di lapangan upacara. Berharap gadis kecil yang seumuran dengannya disaat ini masih ada di sana, latihan bersama kakak pembina Palang Merah Remaja.
Ali terkejut. Lapangan telah sepi.
Ia berlari kencang menuju tengah lapangan dan mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Pak, maaf... numpang tanya! Apa anak-anak yang tadi latihan PMR sudah pada bubar?" tanya Ali dengan nafas terengah-engah kepada Pak Jono, centeng sekolah yang sedang membereskan alat-alat olahraga.
"Oh, baru saja bubaran. Sudah pada pulang, Mas!"
Ali menelan salivanya.
Ia bukannya melangkah pulang keluar gerbang justru berlari ke dalam gedung sekolah.
Tujuannya adalah toilet/kamar mandi sekolah.
Gubrak! Gubrak!!!
Benar saja. Ali mendengar suara keras dari arah kamar mandi siswa perempuan.
Matanya membelalak melihat Levita dari celah pintu. Gadis itu tengah duduk di lantai kamar mandi dengan tubuh basah seperti diguyur seseorang.
Ali menoleh ke arah lain.
Dua siswi sedang berkacak pinggang sambil menatap dingin ke arah Levita yang menangis sesegukan.
"Sumpah demi Tuhan, Kak! Saya tidak ada maksud seperti yang kakak-kakak tuduhkan! Hik hik hiks..." tuturnya mencoba membela diri.
"Halaah, dasar lenje' Lo! Keganjenan sama Kak Arie. Mentang-mentang Lo dapat perhatiannya terus-terusan sejak masuk jadi anggota PMR."
"Engga Kak! Sumpah demi Allah!"
Bruk.
Ali mendorong pintu kamar mandi.
"Levita!"
Sontak semuanya terkejut.
"Siapa Lo?"
"Gue pacarnya Levita!" jawab Ali dengan tegas.
Tentu saja dua orang Kakak kelas yang membully Levita kaget.
"Gimana? Udah dikasih pelajaran belum? Udah, hajar aja itunya! Biar tahu ra,"
Seorang siswi dan satu siswa yang baru datang langsung termangu melihat Ali yang berdiri tegak di depannya.
Ali geram karena mendengar perintah kotor yang menjijikkan dari mulut siswi kelas dua SMP.
Berarti dulu Levita mendapatkan penganiayaan cukup fatal di bagian sensitifnya hingga harus dirawat bahkan sampai pindah sekolah setelah kejadian!
Ali langsung mengepalkan tangannya dan,
Bug.
Bug bug bug.
Tiga jotosan Ali tepat mengenai wajah siswa laki-laki yang ada di belakang siswi perempuan.
Seketika darah segar mengucur dari bibir bawahnya yang sobek kena hantaman.
"Hua!!!" Anak laki-laki itu berteriak sambil berlari menerjang Ali dengan emosi.
Namun,
Bruk. Gubrak.
Anak laki-laki itu kembali kena bogem mentah dari kepalan tangan Ali Akbar. Herannya Ali, tubuhnya sangat lincah saking ringannya. Ia bahkan bisa melihat pemuda tanggung itu bergerak dengan tinju yang mengarah kepadanya.
Ali bisa menangkis setiap serangan dan langsung kembali menghajar wajah anak laki-laki itu.
Jedug!!!
Seketika Ia berlari menjauh dengan bibir bonyok dan darah berceceran kena hajar Ali.
Ketiga kakak kelas yang perempuan berteriak memekik keras.
"Kalian telah melakukan perundungan! Aku akan laporkan kepada pihak sekolah agar kalian semua di DO dari sekolah!"
"Ehh!? Berani Lo laporin kita? Ga ada bukti juga!" Salah seorang dari mereka berkelit sengit.
"Aku saksinya! Di luar sana ada Pak Jono juga yang tadi kutanyai. Kalian bahkan bisa masuk penjara kalau sampai Levita kenapa-kenapa!"
Ali sangat berani. Dengan suara lantang Ia menakut-nakuti kakak-kakak kelas yang baru saja membully Levita. Bahkan nyaris saja terjadi penganiayaan.
Ali masih ingat enam tahun lalu, diesok harinya ada kabar kalau Levita pindah sekolah tanpa pamit pada teman-teman sekelas. Ada desas-desus katanya Levita menjadi korban perundungan yang dilakukan Kakak kelas tetapi berhasil diredam pihak sekolah agar beritanya tidak bocor dan menyebar kemana-mana.
Kini kejadian itu berhasil Ali gagalkan dan mereka bubar jalan lari tunggang-langgang meninggalkan dirinya bersama Levita yang masih menangis sesegukan.
"Memangnya ada masalah apa, Le?"
"Kak Yenny cemburu, katanya Aku genit-genitan sama Kak Guntur. Padahal demi Allah, Aku cuma kebetulan jadi model orang yang dibalut kepalanya oleh Kak Guntur barusan."
"Ya udah, kita kita laporkan dulu ke pak Jono, minta difoto buat bukti kalau kamu habis di-bully Kakak kelas dua!"
Levita menuruti perkataan Ali.
Mereka langsung keluar kamar mandi dan mencari Pak Jono agar segera mengambil bukti kalau Levita hampir saja mengalami kejadian yang mengerikan yang dilakukan oleh keempat Kakak kelas mereka.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Boy
crta yg gk msuk akl
2023-05-26
2
Elisabeth Ratna Susanti
hadir 😍
2023-04-10
1