Tok tok tok...
Tok tok tok...
Ali Akbar terkesima.
Rumah Kakek diketuk seseorang setelah Ia pulang dari puas bermain bersama Keti.
Tamu? Siapa ya kira-kira?
Pukul lima lebih dua puluh menit menjelang magrib. Kata orang tua dulu, itu adalah waktunya setan keluar untuk cari makan.
Ali ingat betul cerita Ibunya. Waktu itu saat usianya masih sebelas tahun. Ali, Firman dan juga Gunadi masih asyik bermain petak umpet di depan rumah kontrakannya tepat di bawah rumah pohon.
"Bubar, bubar! Ayo pada pulang ke rumah masing-masing! Mau azan Maghrib ga boleh main lari-larian, apalagi main petak umpet!"
"Emangnya kenapa, Bu?" tanya Ali kala itu.
"Husss, pamali! Ga boleh! Mancing genderuwo pingin nyulik!"
"Hah?!?"
"Mamaaa, takuut!!!"
Firman, Ali bahkan Gunadi anak tetangganya lari pontang-panting bubar kerumahnya masing-masing.
Merinding bulu kuduk Ali.
Hilih! Bisa-bisanya gue takut sama memedi! Justru memedi-lah yang takut ketularan miskin sama gue! Hadeuh...!
Ali bergegas membuka pintu.
Sejak dirinya yang bertekad pergi tinggalkan Ibukota menuju desa Kandut yang terpencil demi merubah nasib.
Dihina, dicaci dan dicerca, sudah menjadi makanannya sehari-hari sewaktu di Ibukota.
Dirinya sudah kebal dari hujatan semua orang termasuk teman-temannya. Miskin adalah identitasnya yang mau tidak mau disandang, apalagi semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia karena virus Corona 19 akhir tahun lalu.
Menyedihkan, memang.
Menyakitkan, pastinya.
Sehingga Ali Akbar seperti mati rasa menyikapi setiap ujian dan cobaan yang mendera.
Takut pada setan, manusiawi. Tapi saat ini dirinya yang tak punya apa-apa selain berpasrah dan ikuti alur Tuhan saja membuat Ali menjadi orang yang apatis dan dingin.
Hanya sesekali dirinya menampakkan jati diri yang asli. Jika sudah merasa nyaman berada di antara orang-orang yang baik padanya.
Krieeet...
"Pa_pa_pak setan? Ad ada apa, ya?"
Pucat pias wajah Ali melihat tamu yang datang ketika pintu rumah dibukanya.
Berdiri sesosok tubuh jangkung tipis dengan kemeja lusuh dan satu keping saja yang terkancing. Lainnya tidak dikancing karena hilang.
"Ini. Kamu lupa ambil kembalian beli lilin tadi!"
Oh iya! Gue lupa ambil uang kembaliannya. Padahal duit gue tinggal segitu-gitunya. Secara tadi langsung cabut ambil langkah seribu gara-gara bapak ini bilang namanya adalah SETAN.
Ali menerima uang kembalian sembilan puluh ribu rupiah.
Ada takut, juga rasa syukur. Itu adalah sisa uang terakhirnya. Jika itu tidak kembali, entah untuk esok lusa keadaan Ali.
"Terima kasih banyak, Pak!"
"Tadi saya tidak ada kembalian, jadi baru sekarang bisa diantarkan!"
"Terima kasih banyak!" kata Ali lagi dengan santun dan tubuh sedikit membungkuk.
"Belum dinyalakan lilinnya? Mau saya bantu?"
Ali terkesiap. Mata pak SETAN menatapnya.
"I iya. Lilinnya masih disetang sepeda!"
Pak Setan membantu Ali mengambilnya.
"Punya korek?"
Ali menggeleng.
Dia memang tidak pernah menyimpan korek api. Baik gas maupun yang batangan. Karena Ali bukan perokok seperti kebanyakan pemuda seumuran diluar sana.
Jangankan buat beli rokok, buat beli roti sobek yang harganya dua ribu perak pun kadang ia harus mengorek sampah dulu dan menjual pulungannya ke bandar pengepul.
Lihat saja badannya yang jangkung tipis. Bahkan jika diperhatikan lebih seksama, tubuh Ali jauh lebih tipis dibandingkan tubuh Pak Setan.
Makannya tidak teratur setelah Ibu Bapaknya tiada.
Dia lebih sering dikirimi makanan oleh Firman dan juga Laila ketimbang membeli sendiri.
Kehebatan Ali adalah ketahanan perutnya bisa sampai dua hari ia menahan lapar kecuali minum. Ali lebih membutuhkan air minum untuk mengenyangkan perutnya yang keroncongan.
Pak SETAN ternyata mengantongi korek gas di saku celana bahannya yang usang.
"Alhamdulillah, pak Setan memang keren!"
Tanpa sadar Ali berseru kegirangan. Kini Ia terlihat mulai akrab dan nyaman berteman dengan laki-laki paruh baya yang lebih muda sedikit umurnya dari almarhum bapak.
Upss... kenapa perkataan gue jadi terdengar kayak orang ngeledek ya?!? Padahal itu beneran niat gue muji dari dalam hati. Bukan bikin insecure pak Setan terhadap gue! Hhh...
Ali menghela nafasnya.
Pak Setan menyeringai hingga terlihat deretan giginya yang masih utuh dan rapi walaupun berwarna kuning kecoklatan.
Satu persatu lilin dinyatakan. Membawa cahaya terang serta secercah ketenangan.
"Kamu sendirian datang ke desa ini?" tanya Pak Setan setelah melihat tas ransel dan kardus mie yang Ali bawa.
"Iya, Pak! Tadi jam satuan saya baru sampai. Jadi belum sempat beberes. Ternyata rumah ini sudah sangat lama tidak ada yang menempati ya? Jadi, listrik juga mati tidak lagi berfungsi."
"Lima tahun lalu masih ada Ibu Marsinah dan putrinya yang merawat rumah ini!" cerita Pak Setan setelah selesai menyalakan empat lilin di tengah dua ruangan.
"Lalu, kemana Bu Marsinah itu sekarang?" tanya Ali penasaran.
"Entah! Saya juga tidak tahu, Dek!"
"Panggil saja saya Ali, Pak!"
"Oh iya, tadi kita sudah kenalan ya? Hehehe..."
"Iya. Hehehe... Dan saya ketakutan pas dengar nama bapak! Hehehe..."
Ali dan pak Setan tertawa.
"Meooong..."
"Hei Hitam! Darimana saja kau? Kukira menghilang tidak balik lagi!"
Ali mengelus-elus punggung si Hitam. Kucing yang tadi siang menemaninya berkeliling rumah besar warisan peninggalan kakeknya yang telah tiada.
"Kucing ini sepertinya sering berada di sini kalau siang!" tutur Pak Setan ikutan mengelus si Hitam.
"Pak! Kenapa kampung ini sepi sekali? Bahkan terlihat seperti kampung mati selain rumahnya yang jaraknya berjauhan sekali satu sama lain. Sejak saya turun dari bis antar kota di ujung gapura sana, saya tidak berjumpa seorang pun di jalanan. Padahal jalannya beraspal mulus dan lebar. Tapi koq, seperti jalan mati?"
Ali sangat penasaran sekali dengan desa Kandut ini.
Secara dia kini akan tinggal di kampung ini untuk jangka waktu yang cukup lama sampai dirinya kembali ke Ibukota setelah memiliki pekerjaan yang baik.
"Dulu, kampung ini bukan desa Kandut namanya. Tapi, kampung baru karena memang kampung yang baru dibuat. Kampung baru ini di diami oleh beberapa puluh kepala keluarga saja. Setelah kedatangan seorang warga baru keturunan tanah kampung ini yang lama merantau di kota, nama kampung ini dirubah sesuai namanya. Dengan cepat Mbah Kandut berhasil menghipnotis warga kampung dengan kekayaannya yang berlimpah hasil dari mengadu nasib di perantauan. Mbah Kandut dipilih sebagai kepala desa setelah berhasil menyunting putri satu-satunya Pak Hayuh diperiode berikutnya. Tapi..."
"Tapi apa, Pak!"
"Tapi sekarang sudah Maghrib sepertinya, Dek! Aku harus pulang. Istriku pasti mencari-cari karena Aku belum juga kembali!"
Ali menelan salivanya.
"Besok ceritanya lanjutkan lagi ya, Pak?" pinta Ali setelah melihat pak Setan berdiri dan siap keluar rumah besar Mbah Toro.
Pak Setan mengangguk. Dia pamit permisi setelah mengelus punggung si Hitam yang duduk melingkar di dekat Ali yang fokus menyimak ceritanya.
"Jangan kemana-mana, temani majikan barumu, Keti!"
Ali terkesiap. Pak Setan menggumamkan sesuatu pada si Hitam.
Keti? Si Hitam dipanggil Keti sama Pak Setan? Apa kuping gue yang sedikit Bolot kebanyakan konsumsi obat sakit kepala?
Baru saja Ali hendak bertanya, Pak Setan sudah berjalan cepat ke pintu rumah dan menghilang pergi ke luar.
Beneran penuh misteri desa ini!
"Meooong..."
Ali tersenyum menoleh ke arah si Hitam.
"Tem! Jangan kemana-mana ya? Tinggallah di sini sama Aku! Besok-besok kalau Aku ada rezeki, kubelikan ikan Cue di pasar!"
"Meooong..."
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Al^Grizzly🐨
kayaknya kucing kety..si cewek cantik yg namanya juga kety.
2023-04-19
2
Elisabeth Ratna Susanti
suka banget 😍
2023-04-06
1
Mom La - La
meongnya pintar ya..
2023-04-05
1