"Lo beneran Levita Dimitri? Kita ada di kelas 7 D? Beneran?"
"Ya ampun! Lo kenapa sih Li? Kesambet setan bingung? Lo abis dari kuburan Jeruk Purut? Apa dari tempat angker mana sih?"
Seketika Ali kebingungan. Matanya melalap habis semua yang tersapu pandangannya.
Ruang kelas 7D. Masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Papan tulis putih yang berdampingan dengan papan tulis hitam. Gambar foto presiden RI 1 dan RI 2, ehh??? Itu gambar foto RI 2 atau wakil presiden RI masih bapak Yusuf Kalla!!!
Ali sontak berdiri berlari menuju depan kelas. Ingin memastikan penglihatannya.
Ia khawatir matanya benar-benar sudah minus sehingga salfok melihat foto mantan wakil presiden masih dipajang padahal sudah ganti periode.
"Ehh???"
Ali menatap dirinya sendiri. Tubuhnya, dari kemeja seragam sekolah menengah pertama hingga sepatu kets-nya yang berwarna hitam polos karena peraturan sekolah yang tidak bisa diganggu gugat wajib memakai sepatu warna krusial itu.
"Gue kembali ke jaman SMP!!!" pekik Ali yang langsung diteriaki sorak-sorai teman sekelas.
Jam dinding di atas papan tulis menunjukkan angka tujuh pas, dan tak lama kemudian bel sekolah berdering pertanda kelas akan dimulai.
"Aliii!!! Ish, bukannya bantuin gue isi PR malah teriak-teriak kaga jelaaasss!!! Hiyaa!!!"
Gadis belia bernama Levita itu belingsatan tak karuan. Membuat Ali menangkup wajah sendiri dengan dua belah telapak tangan.
"Njiiirrr! Gue balik jadi anak SMP!!!"
Bletak!!!
Ali mengusap-usap kepalanya yang kena lempar bolpoin. Dan terkesiap jantungnya melihat wajah sangar Pak Sembiring, guru Fisikanya semasa SMP.
"Duduk! Jangan bikin onar di jam pelajaran saya!"
Semua diam hening seketika.
"Ambilkan bolpoin saya!"
Ali juga langsung kembali ke tempat duduknya yang berada di barisan ketiga setelah mengembalikan ballpoint Pak Sembiring yang melayang terbang dan jatuh tepat di atas kepalanya barusan.
Dadanya bergemuruh kencang. Matanya sedikit berembun.
Ada rasa haru sekaligus senang karena dirinya kembali pada masa-masa SMP kelas 7 yang menyenangkan baginya.
Saat itu Ali masih memiliki kepercayaan diri meskipun Bapaknya sudah menganggur dan menggeluti usaha persampahan, mengutip sampah plastik juga rongsokan besi untuk dijual kembali ke pengepul.
Dan dia masih merasa bersinar walau beberapa teman SMP mulai mencibir dan mencemooh Ali yang terlihat kucel penampilannya karena mulai susah untuk minta dibelikan ini itu pada Ibu Bapaknya.
Ali menoleh pada Muhammad Jaffar, teman sebangkunya yang lebih pendiam dari dirinya.
"Jaffar, tanggal berapa sekarang?" bisiknya pada teman sebangkunya di kelas satu SMP itu.
"21 Maret."
"Tahun berapa? 2022?"
Jaffar melotot ke arah Ali. Jari tangannya mengetuk buku yang ada dihadapan pemuda yang aslinya sudah berumur 19 tahun itu.
Ali menelan ludah.
Matanya melihat buku LKS mata pelajaran Fisika dan buku tulis yang bersampul coklat.
Tertulis tanggal 21 Maret 2016. Tujuh tahun yang lalu.
Memori ingatannya kembali diputar. Mencoba menelisik peristiwa demi peristiwa yang terjadi di kelas satu SMP. Yang membuat Ali berubah kepribadian menjadi lebih pendiam dan tertutup lagi.
21 Maret 2016 adalah hari Senin.
Hari yang bersejarah dimana ada kejadian luar biasa yang menimpa Levita Dimitri di pukul setengah dua siang ketika gadis itu sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PMR.
Bola mata Ali mendelik.
Ia teringat pada peristiwa itu.
Tepat siang hari ini, Levita teman perempuannya itu mendapatkan perundungan dari beberapa orang anak kelas dua. Hingga Levita harus pindah sekolah karenanya.
Apa...apa gue dikirim balik kemasa ini oleh Tuhan untuk mengubah nasib Levita? Apa gue bisa mencegah terjadinya perundungan itu? Dan merubah jalan cerita hidup Levita Dimitri, gadis imut yang suka sekali meminta bantuanku jika ada pekerjaan rumah yang belum Ia selesaikan?
Ali menoleh ke arah Levita.
Gadis itu terlihat sibuk menulis.
"Kumpulkan buku PR kalian! Yang belum mengerjakan, berdiri di depan kelas! SEKARANG!!!"
Levita tampak menghela nafasnya dengan binaran mata meredup sedih.
Dengan sportif Ali melihat Levita berdiri dan maju ke depan kelas.
Ali mengekornya di belakang.
Rupanya hanya mereka berdua. Yang lain membuat PR Fisika.
Ingatan Ali kembali terkenang. Tujuh tahun yang lalu, tepat di hari ini Levita berdiri di depan kelas seorang diri.
Ali belum punya keberanian untuk berbuat sejauh ini untuk menolong Levita dan menemani berdiri padahal Ali sudah mengerjakan semua tugas pekerjaan rumahnya.
Levita terkejut melihat Ali yang juga ikut berdiri di depan kelas.
"Emang Lo juga ga ngerjain PR, Li?" bisik Levi yang dijawab gelengan kepala Ali.
"Anak-anak, buka buku LKS kalian halaman 12 Bab Unsur, Senyawa Dan Campuran!"
Ali melirik Levita yang menunduk.
Wajahnya tampak sedih. Tapi tidak sesedih Levita enam tahun yang lalu yang bahkan matanya basah oleh air mata. Hhh... Semoga dengan gue yang ikutan berdiri di depan kelas bareng dia, kejadian perundungan ga akan Levi alami ntar siang!
"Unsur itu adalah zat tunggal yang sudah tidak bisa dibagi lagi. Tidak bisa diuraikan meskipun dengan reaksi kimia sekalipun. Contoh unsur adalah oksigen. Lalu Senyawa. Apa itu Senyawa, yaitu gabungan dari beberapa unsur. Contoh senyawa adalah air, garam, gula, alkohol. Campuran. Apa itu campuran? Kamu Ali, jawab! Sedari tadi kau berdiri cengangas-cengenges larak-lirik terus. Mentang-mentang kau tampan! Tiada guna tampanmu kalau otakmu kosong!"
Deg.
Ali gugup sekali, tiba-tiba pak Sembiring menyebut namanya.
"Kuperhatikan kau sedari tadi sengaja buat ulah denganku ya!?! Sejak Aku masuk, yang lain duduk rapi di kursi masing-masing, kau berdiri teriak-teriak 'Njiirrr Njiirr". Apa itu njiiirrr? Banjir? Ini musim panas kau minta banjir! Giliran banjir terus kau juga komentar pedas pada Tuhan minta hujan berhenti! Ck. Kau mau kuberi nilai tiga di raport semester akhir?"
Jaman itu bahasa gaul 'Anjirrr, Anjrit, Anjay' belum fenomenal.
"Jangan, Pak, jangan! Tolong, Pak, jangan! Saya mohon, saya minta maaf!"
Ali langsung menoleh ke arah Pak Sembiring dengan menyatukan kedua telapak tangannya memohon maaf.
"Ck. Baru kelas tujuh. Janganlah betingkah! Kucatat namamu di buku hitam, Ali Akbar. Nama bagus tapi kelakuanmu abstrak!"
Ali meringis. Mengusap wajahnya dan mengetuk-ngetuk kening karena pusing tujuh keliling.
"Pak!"
Jaffar mengangkat jari telunjuknya.
"Ya, ada apa?"
"Ali Akbar sebenarnya sudah buat PR, Pak! Ini buku LKS sama buku tulisnya. Malah tugas Fisika buat minggu depan sudah diisi juga, Pak!"
"Alamakk!!! Kau tipu Aku, Ali Akbar? Kau... hoho Aku tahu. Kau naksir gadis manis ini, ya?"
Ali makin meringis. Wajahnya kian tertunduk.
Teman-teman sekelasnya tersenyum tanpa ada yang mengomentari karena Pak Sembiring guru paling killer.
"Maaf, Pak!"
Ali memang sangat menyukai pelajaran Fisika di masa sekolah. Ia pernah bercita-cita menjadi seorang profesor penemu serum apalah begitu. Tapi hanya halu karena kenyataannya kemiskinan lebih merajai hidupnya.
"Dengar kau anak muda, generasi bangsa, penerus bangsa! Sekolah kau yang benar! Belajar dengan benar! Janganlah cinta-cintaan apalagi usia kau nih masih belasan! Ongkos sekolah pun kau pasti masih nangis minta Mamak, khan? Sok-sokan kau jatuh cinta sama perempuan! Tahan dulu. Buat prestasi dulu. Kalau kau sukses, perempuan macam mana pun bisa kau sunting sepuluh tahun kemudian. Faham kau bocah bau kencur?"
Ali mengangguk dengan wajah masih menunduk.
"Hei, perempuan! Siapa namamu?"
"Levita Dimitri, Pak!"
"Ini kali pertama kau berdiri di sini karena tidak buat PR. Kenapa? Apa kau lupa padaku yang tidak suka murid lalai kerjakan tugas?"
"Maaf, Pak! Bapak saya sakit. Jadi saya gantikan Bapak kerja antar pesanan sampai pukul sembilan malam. Saya, saya ketiduran sampai rumah. Jadi tidak buat PR pelajaran Bapak yang jam pertama."
"Bapak kau memangnya kerja apa?"
"Kurir paket, Pak!"
"Hm. Duduklah kalian berdua! E tunggu! Apa jawaban kau pada si Ali Akbar ini? Kau suka dia juga?"
Levita diam. Menenggelamkan wajahnya semakin tertunduk ke lantai.
"Dengar ya, usia kalian masih 13-14 tahun. Aku tidak mau dengar ada murid pacaran di kelas ini. Kalau sudah kau jawab ini cinta si Ali, putuskan dia depan Aku! Sekolah yang benar, belajar yang benar!"
"Kami sama sekali ga pacaran, Pak. Cuma temenan aja!"
Jawaban Levita membuat Pak Sembiring mengangguk.
"Bagus kalau begitu. Ya sudah, duduk kalian sana! Ali, ambil buku PR mu!"
Benar-benar seperti mimpi, Pak Sembiring memberikan mereka keringanan. Sangat bertolak belakang dengan biasanya.
Ali menghela nafas lega. Begitu pula Levita.
Satu masalah bisa gue rubah. Tinggal masalah besar yang akan datang nanti siang! Gue harus terus memepet Levita. Berharap peristiwa yang membuat Levita pindah dari sekolah ini tidak kejadian!
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
mantap 👍
2023-04-09
0
Mom La - La
waah.. si Ali bereinkarnasi ke masa lalunya..
2023-04-08
0