"Kenapa Lo diem aja pas si Anton mulai bertingkah nge-bully Elo?"
Ali tahu, reaksi Firman pasti akan seperti ini.
Dia-lah teman sejati Ali.
"Biarinin ajalah. Toh apa yang Anton bilang emang bener, Man!"
"Yassalam! Andai malam itu gue juga ada disitu, gue pastiin bakalan ada duel maut tuh antara gue sama si Cong*r Anj*ng itu!"
"Hehehe...! Gue ga ngelawan karena semua yang dia bilang itu kenyataan, Bro!"
"Kenyataan tapi bukan berarti jadi bahan candaan bullyan kayak gitu. Dia itu udah playing victim sama Lo! Dan gilanya lagi, yang laen ga ada yang berani lawan padahal jelas-jelas tu orang ngelakukan kesalahan!"
"Udahlah! Anton cuma pengen suasana reuni kali ini berbeda mungkin! Dan gue bersyukur kalo kali ini gue-lah yang jadi pemeran utama. Hehehe..."
"Sakit Lo ya? Sakit berobat. Mental Lo udah tumpul tuh kepekaannya!" sungut Firman kesal. Dia hanya bisa ngedumel melihat reaksi Ali yang pasif.
"Lo dengerin nih sumpah gue, Li! Mulai hari ini, gue bersumpah. Ga akan lagi mau ikutan reuni SD. Apaan itu reuni 'sampah'! Ngebully kemiskinan temen dianggap candaan semata! Bullshiiit itu!"
"Hahaha..., Lo ga sadar Man! Lo sendiri nyebut reuni 'sampah'. Itu apa namanya? Bully sampah juga kan Lo? Hahaha..."
"Ehh? Ih, bukan gitu maksud gue! Anjirrrr gue masuk perangkap gue sendiri! Hahaha... Sori, sori! Lo faham maksud gue, Li?"
Ali menggelengkan kepala kuat-kuat. Sengaja menggoda Firman yang mukanya merah bagaikan lampu lalu lintas di perempatan jalan raya.
Tawa mereka menggema. Mengumandang kalau kemiskinan tidak jadi penghalang kebahagiaan. Sampai tiba-tiba...
"Assalamualaikum!"
Mereka menoleh serempak ke arah suara lembut nan memikat dan menjawab salamnya.
"Waalaikum salam!"
Laila Purnama.
Ali dan Firman saling bertatapan.
"Laila? Sini, sini La! Kita lagi ngobrol santai. Sini gabung!"
Laila Purnama. Sebenarnya Ali dan Laila tinggal bertetangga. Dan sebenarnya pula, mereka bertiga itu bersahabat karib. Bedanya, Laila anak perumahan depan yang rumahnya gedong mentereng.
Sementara rumah kontrakan Ali berada di ujung berung perkampungan kumuh tepat di belakang perumahan elit Laila.
Mereka bersahabat sejak lima tahun lalu tanpa ada teman SD yang mengetahui keakraban yang terjalin diantara mereka.
Laila adalah Cinderella.
Laila benar-benar seperti Laila Majnun.
Dan Ali, hanya bisa terpesona oleh keindahan cahayanya dalam diam.
Oh mungkinkah diri ini
Dapat merubah buih
Yang memutih
Menjadi permadani
Seperti pinta
Yang kau ucap
Dalam janji cinta
^^^Juga mustahil bagiku^^^
^^^Menggapai bintang di langit^^^
^^^Siapakah diriku^^^
^^^Hanya insan biasa^^^
^^^Semua itu^^^
^^^Sungguh aku^^^
^^^Tiada mampu^^^
Sepenggal lagu yang kembali viral setelah direcycle. Seperti itulah perasaan Ali pada Laila dan juga kesadaran diri Ali menilai sisi lemahnya.
Basecamp mereka adalah rumah pohon yang ada di belakang rumah kontrakan Ali.
Rumah bambu sederhana buatan almarhum Bapaknya yang dibuat di atas ketinggian sepuluh meter dan dibangun dengan menopang ke batang besar pohon sengon yang sudah berpuluh-puluh tahun tumbuh dan hidup bersama.
Awalnya Bapak iseng membuat rumah kayu itu untuk tempat bermain Ali karena halaman sekitar rumah penuh dengan barang rongsokan.
Bapak Ali adalah pria yang sangat menyayangi anak dan istrinya. Meskipun beliau tidak mampu membahagiakan dengan harta, tapi hati Ali telah dipenuhi memori kenangan indah bersama Bapak juga Ibu.
Sempat depresi dan terpuruk sendiri ketika virus mematikan membuat seluruh penduduk Indonesia terisolasi dalam rumah sendiri. Hingga Bapak Ibu Ali turut serta terpapar dan terkontaminasi lalu meninggal dunia kena Virus corona 19. Masa-masa sulit yang hampir membuat Ali gila.
Berbekal dari harta emas perhiasan milik Ibu dan beberapa aset barang berharga Bapak, dua tahun Ali lanjutkan hidup berkat dorongan support Firman dan Laila.
Bekerja serabutan apapun itu selagi halal, pasti Ali lakukan demi menyambung hidup.
Firman dan Laila, lebih dari sekedar teman. Lebih dalam dari sebatas sahabat. Hubungan mereka, sangat dekat laksana saudara sedarah.
Tapi baik Ali maupun Firman sepertinya punya perasaan yang sama.
Sama-sama mendamba cinta Laila.
Berbeda dengan gadis imut itu. Laila justru pure murni menyodorkan tali persahabatan menjadi tali persaudaraan.
Senyumnya yang manis semanis madu, tawanya yang renyah serenyah wafer Tango yang berapa lapisan, ratusan. Semuanya terlihat polos tanpa beban.
Bagaimana bisa, seorang putri raja cantik jelita bergabung dan bermain selalu bersama dua orang miskin yang tidak punya taji untuk bergaul luas dengan mereka yang lebih berpunya.
Ini adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada Ali dan juga Firman.
Ayah Firman adalah seorang kuli bangunan. Ibunya seperti ibu Ali, hanya Ibu rumah tangga biasa yang kerjanya mengurus anak dan rumah.
Bedanya, Ali anak tunggal. Sementara Firman sulung empat bersaudara.
Dia kesal kalau belajar dirumahnya karena suara berisik adik-adiknya. Hingga lebih sering menghabiskan waktu belajar dan bermain dengan Ali, walaupun harus menempuh perjalanan kaki sekitar satu kilometer dari rumahnya yang milik pribadi meski hanya sepetak.
"Gue ga nyangka, akhirnya Lo mau juga datang ke acara reuni SD kita!" kata Laila dengan mengulum senyum dan duduk dilantai kayu rumah pohon yang mulai rapuh dimakan usia.
"Hehehe..., akhirnya gue hadir setelah kalian berdua selalu cerita si ini cerita si itu, begini begitu bla bla bla!" tambah Ali membuat Firman menyeringai.
"Tapi begonya Elo, mau aja jadi bahan bullyan temen-temen semua tanpa perlawanan!" sungut Firman.
"Maaf, Li! Gue ga bisa menolong! Gue juga pecundang ya, Man? Ga ada nyali buat bela teman!"
"Laila itu perempuan! Lagian gue ga marah sama Laila. Gue marahnya sama si Ali! Bodohnya dia diem aja dibully teman sekelas pas baru pertama kali reunian!"
"Hhh... Keonaran mereka semakin kompak! Gue juga bodoh. Cuma bisa diam melihat dan menyaksikan kelakuan mereka tanpa berani membela teman sendiri!"
"Kegoblokan yang hakiki!" cetus Firman lagi.
"Boleh ga kita ganti topik?" lerai Ali yang mulai jengah dengan obrolan yang menyesakkan dada.
"Topik mau diganti siapa? Ganti sama Bonge' apa Dylan cepmek?"
"Hahaha... Hahaha, Firman ish! Hahaha bisa aja deh Lo!"
Seperti biasa, Firman selalu bisa membuat Laila tertawa ngakak. Dan mereka berdua hanya bisa terpukau terpesona dengan keindahan alami natural ciptaan Tuhan.
Tuhan... Cantik nian Laila Purnama. Cantik secantik nama dan juga budi pekertinya. Bolehkah aku memiliki cinta dan perhatiannya walau sekali saja?
Oh tidak. Ali tidak boleh lupa pada janji persahabatan yang kami ucapkan tiga tahun lalu. Ia mulai mengingat masa-masa sulit persahabatan tiga serangkai. Kala itu usia mereka enam belas tahun dan sama-sama duduk di kelas dua SMA.
Kisah itu bermula...
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Sarah ajha
Cinta itu yah...
2023-05-31
0
Elisabeth Ratna Susanti
langsung like and fav ❤️
2023-04-03
0
ɳσҽɾ
Ini novel ciri khas Bubun banget, semongko
2023-04-01
2