Ali pamit pulang setelah perutnya kenyang.
Ia malu hati, belum mandi tapi sudah makan singkong rebus banyak sekali.
Sungguh pagi yang indah, karena memiliki tetangga lain selain Pak Setan dan Bu Susanah juga Keti.
Si Hitam masih setia mengekornya. Namun seketika Hitam melonjak pergi ketika Ali membuka pakaiannya satu persatu.
Sontak Ali tertawa.
"Kamu malu ya, Hitam? Lihat Aku bug++ begini! Hahaha...! Ya sudah, mainlah sana. Kalau bisa, pulang nanti bawa pasangan!" kekeh Ali bergurau layaknya sesama manusia.
Ali mandi dan berganti pakaian. Tubuhnya telah segar dan semangatnya full hari ini.
Meskipun perutnya kenyang, tapi Ali ingin mengunjungi warung kecil milik Pak Setan.
Lilinnya telah habis, otomatis Ia harus prepare untuk persediaan nanti malam. Ali takut juga kalau gelap-gelapan. Secara rumah besar ini sudah ditinggalkan belasan tahun lamanya.
Konon cerita orang-orang, rumah yang dibiarkan lama kosong pasti akan dihuni makhluk halus. Dan itu bukan mitos.
Meskipun begitu, Ali tidak mau larut dalam ketakutan. Bagaimana mungkin Ia takut, sedangkan hidupnya sendiri sudah jauh lebih menakutkan orang-orang terdekat. Bahkan satu persatu teman pergi meninggalkan dirinya.
Sisir kecil menjadi sentuhan pamungkas Ali di rambutnya.
Meskipun tak ada cermin besar di balik pintu lemari seperti tempo hari, tapi masih ada cermin kotak kecil miliknya yang dibawa dari ibukota. Bisa dipakai meskipun kecil saja.
Wajah gue makin terlihat keren. Apa cuma halusinasi apa emang beneran sih? Ali bergumam dalam hati sembari mematut diri.
Anehnya sejak tinggal di kampung, kulit Ali perlahan seperti lebih putih dan tubuhnya juga tampak padat berisi.
Padahal jika dipikir-pikir pola makannya masih sama seperti ketika di Ibukota. Pagi makan, siang malam menahan lapar.
Tapi memang sejak mengenal Pak Setan dan Bu Susanah, Ia jauh lebih sering makan. Sama saat dirinya di Ibukota yang akrab berteman dengan Firman dan juga Laila.
Laila... Apa kabarmu? Kuharap engkau baik-baik saja di Lombok sana. Pastinya sekarang sudah lupakan aku karena banyak teman, bukan?
Ali termenung sendiri.
Ia menghela nafas panjang. Sedih dan lesu.
Tringgg
Tringgg
Tringgg
Ali terkesiap.
Suara itu lagi!!!
Ia mencari-cari dari mana datangnya suara seperti kaca yang terpantul.
Ali melihat pantulan lampu kristal kuno yang menggantung di kamar menyala lalu mati. Seperti ada aliran listrik yang tersendat membuat Ali meremang bulu kuduknya.
Tringgg
Tringgg
Tringgg
Kali ini suaranya jauh lebih keras. Berasal dari pintu lemari.
Ali bergerak cepat ke arah lemari dan membuka satu daun pintunya.
Sringg...
Terlihat cermin besar itu jelas sekali.
Ali menelan air ludahnya. Antara takut tapi penasaran.
Berarti yang semalam itu bukan mimpi! Berarti..., berarti cermin ini adalah cermin ajaib!!!
Ali mendekat.
Terlihat pantulan dirinya dengan jelas di cermin itu. Gagah dan tampan. Berdiri tegap dengan postur tubuh yang nyaris sempurna.
Ali benar-benar terpana melihat dirinya sendiri di cermin itu.
"Cermin ajaib..." gumamnya tak berani berkedip.
Ali juga melihat deretan pakaian bagus yang terbungkus plastik bening sehingga terlindung dari debu lemari yang lumayan tebal.
Lampu kristal kamar kembali menyala dan mati. Seperti sedang dimainkan seseorang membuat Ali menoleh ke arah stopkontaknya.
Ini masih pagi. Mana mungkin setan berani mengajak bercanda padahal baru pukul delapan pagi. Aneh!
Ali kembali menoleh ke arah cermin.
Matanya terbelalak.
Cermin itu telah hilang!!!
"Anjirrr!!!" pekiknya kaget.
Ia membolak-balikkan daun pintu lemari. Berharap melihat kembali cermin ajaib itu. Namun... raib.
"Ya Allah ya Tuhanku! Apa ini? Ada apa ini? Apa Aku yang sudah berubah gila? Atau hanya halusinasi!? Apakah karena Aku miskin jadi punya pikiran aneh padahal Aku sama sekali tidak mengkhayal?" pekiknya khawatir dengan kejiwaannya sendiri.
Ali berlari keluar kamar.
Ia bergegas keluar lagi lewat pintu belakang. Hendak menuju rumah Mbah Marsinah.
"A_apa???"
Matanya melotot.
Gubuk Mbah Marsinah pun raib. Tidak ada. Bahkan hanya kebon yang dipenuhi tumbuhan rumput ilalang liar yang tinggi tak terurus bertahun-tahun.
"Apa ini??? Ya Allah ya Tuhan!!!" jerit Ali ketakutan.
"Hitaaam!! Hitaaam!!!" teriaknya keras memanggil kucing yang tadi mengekornya.
Ali berlari ke dalam. Mengambil sepedanya dan keluar lewat pintu depan. Membuka gerbang dan menggowes sepedanya kencang.
Ia tertengah-engah tapi bersyukur dalam hati. Warung kopi Pak Setan masih berdiri tegak pertanda pak Setan dan Bu Susanah bukanlah makhluk jadi-jadian seperti Mbah Marsinah.
Ali turun dari sepeda. Tak sadar sampai sepedanya jatuh karena belum di standar.
Ali duduk di teras warung Bu Susanah. Nafasnya turun naik, jantungnya berdentum tak karuan.
"Ini gila! Ini benar-benar gila!!!" gumamnya setelah agak lebih tenang.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Esther
vote like comment
2023-04-18
0
Elisabeth Ratna Susanti
top 👍
2023-04-14
0
Kang Anto
kwakwak di prank sama cermin ajaib
2023-04-13
1