"Kenapa, Li?"
Ali meloncat dari bale warung.
"Astaghfirullah!!!" pekiknya kencang.
Keti berdiri dengan wajah kebingungan.
"Ketiii!!! Kenapa sih tiap kali datang selalu bikin Aku jantungan?!?" umpat Ali kesal. Tapi segera Ia tersadar kalau Keti adalah seorang perempuan dan justru bisa membuat dirinya waras kembali karena bersama orang-orang yang nyata.
Grep.
Ali menarik tangan Keti.
"Duduk sini!" ajaknya setelah berhasil menenangkan kembali jantungnya yang tadi seperti terkena palu godam.
"Hehehe..., kamu. Pagi-pagi udah melamun sendirian! Ga baik, tau!" timpal Keti membuat Ali tersenyum miris.
"Hari ini Aku sedang kebingungan. Kuharap Aku tidak gila karena keadaan ini, Keti!" cerita Ali. Ia tersenyum kecut. Dirinya ternyata telah jauh berubah. Menjadi orang yang lebih terbuka. Tidak tertutup dan menutupi semua keadaan diri pada orang lain seperti dulu.
"Kenapa? Mimpi aneh?" tanya Keti dengan santai.
"Bukan mimpi. Tapi seperti halusinasi! Hhh... Aaarrrggh, beneran kalo gini terus bisa bikin oleng, Ket!"
"Hehehe... Pasrah saja pada kehendak Tuhan! Kamu kan pandai. Bisa mengaji?"
Netra Ali membulat.
"Tentu saja. Meskipun suaraku tidak seperti para qori di acara saritilawah."
"Nah tuh! Mengaji saja jika hati kita sedang tidak tenang."
"Ya! Kamu benar! Kenapa Aku panik dan jadi bodoh berkali-kali lipat?"
Senyum Ali mengembang. Ia senang karena ada Keti yang memberinya pencerahan.
Bagaimana mungkin ia lupa kalau di masa kanak-kanak dulu dirinya pernah menggondol piala satu qori terbaik tingkat RW di malam Nuzulul Qur'an.
Ia juga membawa Al-Qur'an dari Ibukota. Meskipun sudah berwarna agak kekuningan lembarannya, tetapi Qur'an itu adalah kitab suci yang biasanya dibaca Ibu dan Bapaknya usai sholat Isya.
Ali terpekur. Ia rindu kedua orang tuanya.
"Keti!"
"Hm?"
"Apa kamu tinggal bersama kedua orang tua? Masih lengkap semua?"
Keti tak segera menjawab. Tapi dari tatapannya yang sedih, Ali seperti bisa menebak.
"Jangan sedih,... mungkin kita senasib."
Keti menoleh pada Ali.
"Aku tinggal dengan Simbah. Hhh... Meskipun usianya sudah sepuh, tapi aku bersyukur masih memiliki Simbah. Cuma...,"
"Cuma apa?"
"Hehehe... Suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya sendiri. Biarlah kamu mengetahui secara alami."
"Maksudnya?"
Ali lelah dengan situasi yang serba misterius ini.
Ia bahkan seperti sedang berada di dunia lain padahal kampung ini nyata adanya. Dihuni oleh manusia-manusia seperti pak Setan dan Bu Susanah juga Keti dan Simbahnya.
"Dikira siapa, ternyata Ali dan Keti!" sambut Bu Susanah dengan senyuman.
"Bu, Ali mau lilin ya?"
"Boleh. Berapa, Li?"
"Sepuluh biji aja."
"Baik."
"Bapak kemana Bu?" tanya Ali menanyakan keberadaan pak Setan.
"Bapak ke kantor kelurahan, Li!"
"Kantor kelurahan? Dimana itu?" tanya Ali penasaran ingin tahu.
"Lumayan jauh. Tadi ada Pak Toha Kadus yang datang menjemput pakai sekuternya."
"Pak Toha Kadus? Sekuter?"
"Pak Toha kepala dusun. Sekuter itu sepeda motor kalo di sini, Li!" terang Keti memberi penjelasan.
"Oh, begitu. Hehehe... Thanks Keti sudah menjelaskan. Ehh kamu tahu di mana kantor kelurahan?"
"Lumayan jauh, Li!"
"Kalo pakai sepeda?"
"Kamu kuat? Jauh lho!?"
"Siapa takut? Aku bonceng kamu!"
"Tapi janji ga akan minta gantian boncengan ya? Soalnya Aku ga bisa naik sepeda!"
"Hehehe..., tenang Keti! Bolak-balik Aku yang gowes sepedanya!"
Keti ikut tertawa.
Ali senang, kecemasannya pada kejiwaan yang seperti oleng tidak berkelanjutan.
Ia merasa harus terus berada dengan orang-orang nyata seperti Pak Setan, Bu Susanah dan Keti agar kewarasannya benar-benar terjaga.
Kini Ia bahkan mengajak Keti untuk menyambangi kantor kelurahan. Ingin tahu tentang kampung ini lebih banyak lagi.
Ali betah tinggal di sini. Untuk itu Ali berusaha mencari informasi lebih banyak lagi tentang kampung yang misterius ini.
Tujuannya mendatangi kantor kelurahan adalah ingin tahu, apakah ijazahnya bisa berlaku di sana dan Ia melamar kerja meskipun hanya jadi office boy saja.
Ali menyadari kalau dirinya butuh pekerjaan.
Hari ke-hari akan terus berputar. Uang adalah kendalanya hidup terus di kampung ini.
Jika ia bekerja, minimal di kantor kelurahan. Ali bisa mendapatkan uang untuk menyambung hidup.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Mom La - La
mdah2an di kntor kelurhan nggak da yg aneh.
2023-04-13
0
Kang Anto
yup tul
2023-04-13
1
Kang Anto
cari lilin buat nyegig😁✌
2023-04-13
0