Tentu saja Ali ketakutan bukan kepalang.
Njirrr! Ini kampung aneh banget!!! Makinya dalam hati sembari mengayuh sepeda gunungnya dengan kecepatan tinggi.
"Saya memang SETAN! Kamu tidak percaya?"
Terngiang kembali jawaban Bapak paruh baya tadi ketika Ali menanyakan kembali namanya.
Tentu saja Ali memilih ambil langkah seribu daripada harus terus melanjutkan obrolan dengan bapak SETAN.
"Hosh hosh hosh!"
Nafasnya tersengal. Keringat mengucur deras ketika kakinya berhenti mengayuh karena sepedanya telah sampai di gerbang rumah warisan.
"Ya Allah ya Tuhanku! Hadeuh... Kenapa siiih gue bisa dapet warisan diujung Berung beginiii!??" umpatnya kesal dengan teriak kencang.
Baru saja Ali menghela nafas panjang agar kewarasannya terjaga, tiba-tiba matanya melihat sesosok perempuan bermain di lapangan depan rumah warisannya.
"Ehh???"
Ali berusaha fokus memandang.
Dadanya bergemuruh kencang. Khawatir kalau perempuan bertubuh tinggi, langsing dan berambut panjang itu ternyata juga golongan setan.
Tapi, tapi ini masih siang cuy! Ga mungkin khan siang-siang setan bergentayangan??? Kecuali..., kecuali...
Ali mulai was-was.
Keringatnya mengucur semakin deras.
Diliriknya jam di tangan. Pukul lima belas dua puluh dua menit. Masih siang menjelang sore.
Jangan-jangan..., ini..., ini kampung setan!!!
Ali terkesiap.
Gadis berambut panjang itu menoleh padanya.
Gadis cantik! Matanya juga begitu indah!!!
Yang lebih membuat Ali terpana ialah ketika gadis itu melambaikan tangannya seolah mengenal Ali.
Seketika Ali menoleh ke arah kanan kiri juga ke belakang tubuhnya. Ia tidak mau berfikir kalau sang gadis memang memanggilnya.
Tapi, ga ada siapa-siapa!?!
Ali menunjuk dadanya.
Gadis itu mengangguk sambil kembali lambaikan tangan. Seolah mengajak Ali untuk main bersama.
I_ini beneran? Itu cewek beneran khan? Bukan memedi di siang bolong?
Ali menghela nafasnya lagi.
Kali ini Ia beranikan diri turun dari sepeda, lalu menaruh sepedanya di pinggir gerbang.
Ali memilih untuk gentleman berjalan menuju gadis cantik itu.
"Kamu, panggil Saya?" tanya Ali setelah mendekat dan berjarak sekitar dua meter dari gadis itu.
Sang Gadis mengangguk.
"Kamu cucunya Mbah Jangkung?" tanyanya. Ternyata suaranya begitu imut membuat Ali menelan ludah merasakan gelenjar-gelenjar aneh menjalari tubuh.
Ali mengangguk.
"Kenalkan, namaku Keti. Kamu?"
Ali menatap mata Keti yang seperti familiar. Mata yang berwarna hitam berkilau kehijauan. Seperti mata orang bule. Ingin sekali bertanya apakah Keti keturunan blasteran, tapi urung karena menganggap pertanyaannya terlalu sensitif. Mereka baru saja kenalan, jadi Ali hanya akan berbasa-basi sekedarnya saja.
"Aku Ali Akbar. Senangnya punya teman baru! Betewe rumahmu dimana? Disekitar sini soalnya begitu sepi. Bahkan tidak ada hunian lain selain rumahnya Mbah Toro!"
"Itu. Rumah orang tuaku ada diujung jalan situ." Keti menunjuk ke arah kiri.
Syukurlah. Biarpun nama ni gadis rada aneh juga, karena keti dalam bahasa gaul artinya ketek. Tapi setidaknya bukan Kunti atau mayit seperti namanya tukang warung di ujung jalan sebelah kanan yang bernama Setan..
"Oh, hehehe... Maaf ya, Aku agak nervous tinggal beberapa jam di kampung ini! Kampung yang aneh. Beneran, deh! Bikin sport jantung parah. Hehehe..."
"Kamu pasti kaget ya pas masuk desa kami ini?"
"Iya. Kaget banget!"
"Selamat datang di desa Kandut. Hehehe...! Semoga kamu betah ya, tinggal di sini!"
Gimana gue mau betah, kalo kampungnya aneh begini bentukannya!? Nama pemilik warung diujung sana namanya SETAN. Apa orangtuanya ga kepikiran nama lain gitu selain 'setan'? Di kota, ada orang tua yang menamai anak mereka dengan nama yang indah meskipun kerjanya hanyalah pemulung sampah daur ulang. Apalagi nama itu kan bisa jadi doa dan pengharapan orang tua! Hadeuh, bikin gue insecure kan jadinya!
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Ali melihat kantong plastik yang dipegang Keti.
"Ini! Cari tutut!"
"Tutut?"
"Iya! Nih, lihat! Aku udah dapet banyak nih!"
Ali mengintip kantong plastik milik Keti.
Segerombolan hewan siput air itu sudah pasrah dalam kantong plastik hitam yang dipegang Keti.
"Mau diapakan hewan itu?"
"Dimasak lah! Buat lauk nasi nanti malam!"
"Oh, iya juga sih. Aku juga pernah makan tutut di tempat tinggalku yang dahulu!"
Keti tersenyum. Manis sekali.
Seketika Ali jadi teringat pada sahabat cantiknya, Laila Purnama yang sampai saat ini belum mengabarinya.
Ali juga seketika kangen Firman. Sahabat prianya yang selalu menempel sejak masih kanak-kanak. Tapi setelah Laila Purnama pindah, entah mengapa anak itu juga seolah ikutan pergi menjauh. Bahkan kini kerjanya juga dipindahtugaskan di wilayah barat ibukota.
Laila, Firman... semoga kalian berdua selalu dalam lindungan Tuhan. Dan semoga kelak kita bisa berkumpul lagi seperti dahulu.
Keti seperti merasakan kegundahan hati Ali.
"Boleh ya Keti jadi temannya Ali?"
"Tentu saja boleh! Ali senang sekali kalau Keti mau jadi temannya Ali!"
Mata Ali berbinar. Seperti kembali ke masa kanak-kanak, kata-kata yang barusan mereka ucapkan layaknya bahasa bocah cilik saja. Seketika Ali terkekeh geli mengingat ucapannya tadi.
"Ya ampun, berasa jadi bocil kita ya? Hehehe..."
"Sesekali berasa jadi bocil ga papa toh? Hidup itu hanya sekali, mati juga satu kali. Jadi, jangan dijadikan beban seolah kita tidak puas dengan ketentuan Tuhan!"
Ali merenungkan perkataan Keti.
Kalimat yang bagus dan penuh makna.
Kedua bola mata mereka saling berpandangan. Tapi Keti kalah kuat dan tundukkan kepala karena malu.
Hei! Kenapa gayanya Keti mirip si Hitam yang tadi menunduk ketika kutatap matanya saat Aku sedang mandi? Bola matanya juga, mirip sekali warnanya.
Wajah Keti merah padam.
Sontak dada Ali ikutan berdebar.
Ah! Pasti itu cuma kebetulan aja kan? Masa' cewek secantik ini disamain sama kucing! Hadeuh, mata gue udah siwer ini!
"Li, Keti pulang dulu ya? Kita ketemu lagi lain waktu!"
Gadis itu pamit membuat Ali mengangguk.
"Sampai jumpa lagi, Keti!"
Mereka saling lambaikan tangan. Keti berjalan dengan langkah yang menarik perhatian Ali. Jalan yang imut sekali dengan goyangan pinggul seperti seorang model catwalk.
"(Tuk tuk) Dasar otak mes+m! Ck... kenapa sih gue jadi berfikir hal gila tentang body perempuan!"
Ali memaki dirinya sendiri. Lalu melangkah pergi pulang kembali ke kediaman barunya yang layaknya istana.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
kucing hitam hiiii
2023-05-29
0
Mom La - La
jgn2 keti jelmaan kucing htam?
2023-04-05
0
Mom La - La
setuju..
usia boleh tua, tpi sekali2. berlagak kyk bocah jga nggak ap2
2023-04-05
1