Ali pikir dirinya akan kembali pulang ke kehidupan yang sebenarnya setelah kejadian pembullyan yang terjadi pada Levita berhasil Ia rubah.
Namun ternyata, Ali masih harus berada di sana. Di kehidupan usia 13 tahunnya. Sebagai seorang anak SMP yang masih duduk di kelas tujuh.
Selepas mengantarkan Levita Dimitri pulang ke rumahnya, Ali pun bergegas pulang ke rumah.
Matanya berkaca-kaca, melihat rumah kontrakan yang masih tampak agak baik meskipun sampah plastik sudah berserakan menggunung di pinggiran terasnya.
"Li? Kenapa bajumu itu? Ada banyak noda darah! Kamu abis berantem ya?"
Wajah Ibunya terlihat jelas kekhawatirannya. Membuat Ali semakin terharu dan hanyut akan kerinduan pada perempuan mulia yang melahirkannya itu.
Ali langsung memeluk tubuh Ibunya.
Ia menangis tanpa suara di bahu Ibu yang kebingungan.
"Hei, Ali?! Kamu pasti buat masalah ya?"
Ibunya langsung mendorong pelukan Ali dan menuduhnya yang bukan-bukan.
"Ali abis gebukin Kakak kelas, Bu!"
"Ya Allah ya Gusti!!! Pak, Bapak!!? Nih anakmu nih, ck... bikin bonyok anak orang!" pekik Ibunya dengan suara khas melengking melapor pada Bapaknya Ali.
Ali tersenyum, senang, sedih dan terharu, semua bercampur aduk jadi satu.
Bapaknya keluar dari dalam dapur dengan wajah kesal mendengar aduan Sang istri tentang putranya.
Tapi Ia hanya diam bingung ketika Ali justru merengkuh bahunya dan menangis lagi di bahu Bapaknya.
Kedua pasutri itu hanya bisa saling pandang.
"Ibu, Bapak hik hik hiks... Ali, sangat sayang kalian! Ali ga mau kalian berdua pergi cepat tinggalkan Ali di dunia ini sendiri! Hik hik hiks..."
Gepluk.
"Bocah gemblung! Dia nangis bilang sangat sayang, tapi kata-kata berikutnya justru kayak nyumpahin kita mati muda, Pak!"
Ibunya langsung menggebuk punggung Ali sehingga putra semata wayangnya itu meringis kesakitan.
Jeweran tangan Bapaknya si telinga kanan Ali menjadi ajian pamungkas setiap kali Ali berbuat nakal.
Ali tertawa sambil menyusut air mata yang tersisa.
"Maaf Bu, Pak, maaf..."
Ali memeluk tubuh keduanya.
"Kamu begini karena takut kita marah ya? Hei, dengar, Ali! Demi apapun, bahkan kerja keras yang harus kulakukan demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari juga sekolah kamu, Bapak rela lakukan! Tapi jangan karena teman-teman menghina pekerjaan Bapak yang sekarang, lantas kamu malah jadi anak yang pemarah dan berteman dengan kekerasan! Jangan, Nak! Biarkan saja mereka mengatakan apapun tentang kita! Yang penting, kamu bisa merubah masa depan menjadi lebih baik!"
Ali benar-benar terharu.
Nasehat Bapaknya semakin membuat Ali bertekad harus bisa merubah nasib.
Pelukan hangat Bapak dan Ibu yang sangat Ia rindukan kini menjadi dorongan semangat untuk Ali perlahan menata hidup.
Laporan Ali tentang Levita pada pak Jono akhirnya tembus juga ke telinga pak Anhar, Kepala Sekolah SMPnya.
Keesokan harinya mereka dikumpulkan di ruang Kepsek.
Semua dimintai keterangan termasuk Ali sebagai saksi kunci.
Masalahnya hanyalah sepele, yakni kesalahpahaman.
Kak Yenny cs langsung mendapatkan hukuman skorsing selama seminggu serta harus didampingi orang tua ketika masuk kembali agar tidak lagi melakukan perundungan kepada adik kelas dilain waktu.
Levita Dimitri tetap sekolah di SMP yang sama dengan Ali dan tidak pindah sekolah seperti yang terjadi enam tahun yang lalu.
Senyuman Levita membuat lega ketika mereka saling berpandangan.
"Heh, Ali! Lo udah kayak pahlawan super aja bagi si Levi! Bisa-bisa Lo beneran diterima jadi kekasih hati nih sama si Levi kalo Lo nembak dia sekarang-sekarang ini!" cetus Jaffar dengan suara datar.
"Gue belum mikirin cinta-cintaan, Far! Secara umur kita masih sangat muda. Gue mau sekolah yang bener. Belajar rajin biar bisa jadi anak kebanggaan orang tua. Ga ada tembak-menembak. Murni cuma kepingin nolong Levita aja kemaren itu!"
Jaffar tertegun.
Ucapan Ali seperti ucapan bapak-bapak.
"Lo, kesambet ye, Li?" tuduh Jaffar dengan wajah serius.
Syut.
Ali menoyor kepala Jaffar.
"Sialan! Gue ngomong bener di bilang kesurupan. Gue kemaren Lo anggap salah disuruh rukyah. Dasar Lo Far!"
"Hehehe..."
Nguung nguung nguung...
Wessewes sewessss
Bledarrr
Ali merasa pusing kepalanya. Seperti tersedot masuk lubang paralon yang pas-pasan sehingga tubuhnya terasa sesak dan pengap.
Ali mengumandangkan kalimat tauhid.
"Allaaahu Akbaaarrr!!!"
Syunggg
Nguung
Nguung
Nguung...
"Meooong! Meooong!"
Ali membuka matanya.
Seekor kucing Hitam sedang menatapnya dengan tatapan mata yang Ali rindukan.
"Keti!!!" pekiknya seraya langsung memeluk tubuh hewan manis itu. Sontak Keti melompat dari dekapannya seraya mengeong kencang.
Seperti mimpi, seperti habis menghalu, Ali yang tiba-tiba terbaring di atas ranjang dan terkejut tatkala membuka mata, sepasang mata indah kucing hitam betina bernama Keti menyambutnya kembali ke dunia Ali yang sebenarnya. Dunia pemuda yang usianya sembilan belas tahun.
Ali terdiam. Kembali terbayang wajah cerah Ibu Bapaknya. Rasa kangennya masih belum tertebus lunas. Walaupun Allah baru saja memberinya kesempatan melihat kembali paras orang-orang yang Ali sayang.
"Pak, Bu... Semoga Allah memberikan kalian tempat yang indah kepada Bapak dan Ibu. Al-Fatihah. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillaahirobbil'alamiin. Arrohmaanirrohiim. Maalikiyaumiddiin. Iyyaa kana' budu wa iyyaa Kanas ta'in. Ikhdinash-shirootolmustaqiim. Shirotholladzii na'an 'am ta 'alaihim, ghoirril maghduu bi 'alaihim. Waladh-dholliiin. Aamiin..."
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
next 👍
2023-04-10
0
Esther
Good morning like komentar vote U
2023-04-10
1
Mom La - La
Aamiin.
cerminx hbat bgat aku suka
2023-04-09
0