Malam kian beranjak.
Suara katak, jangkrik dan serangga liar diluar rumah besar warisan Ali terdengar begitu berisik.
Kwong kwong kwong
Kriiiik kriiiik kriiiik....
Rrrrzzzz rrrrzzzz rrrrzzzz...
Kian malam kian gaduh.
Tapi Ali justru merasa terhibur dan nyaman karena suara-suara hewan di luar sana seperti sengaja menemani malamnya yang hanya berdua dengan si Hitam di dalam kamar.
Malam benar-benar terasa syahdu.
Malam pertama di kampung kelahiran Bapaknya.
Kamar yang luas. Sangat luas bahkan satu ruangan itu lebarnya bisa lima kali lipat dari rumah kontrakan Ali di Jakarta.
Ali tidur di atas ranjang besar dengan kasur busa original asli buatan Eropa. Walau belum sempat ia bersihkan dengan benar, hanya dibuka lembaran kain putih lebar yang menutupi permukaannya.
Hari ini Ali terlalu antusias bermain dengan teman baru, yaitu Keti dan Pak Setan.
Awal pertemuan mereka lumayan menyeramkan. Namun setelah mengenal lebih jauh, Ali merasa kalau baik Keti juga Pak Setan adalah orang-orang baik. Seperti biasa, orang desa selalu tampil lugu dan apa adanya. Walau dipandangan Ali, mereka agak misterius memang.
Malam perlahan beranjak meninggalkan kegelapannya.
Menjelang pagi, suasana sekitar rumah sepi sekali. Bahkan tak terdengar azan Subuh yang berkumandang seperti ketika Ali tinggal di Ibukota. Walaupun bukan seorang muslim yang amat taat beribadah, tapi Ali selalu semangat bangun pagi dan subuhan di masjid. Setelah itu, sebungkus nasi uduk lengkap Mpok Romlah mengawali harinya yang keras.
Tapi di kampung ini, semua itu musnah. Hanya perut yang keroncongan karena belum makan sejak kemarin.
Ponselnya juga sepi tak ada chat yang masuk.
"Pantas saja, baterenya lowbat. Hm... Ternyata kini hape ini beneran ga ada guna!" gerutu Ali sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas ransel.
"Meooong..."
Ali menoleh pada si Hitam yang tidur di bawah ranjangnya dengan hamparan kain putih penutup ranjang.
Ali tersenyum. Ia bangun, kemudian berusaha meraih kucing yang menurutnya sangat sopan hingga benar-benar tidur di lantai tanpa berani beranjak dan naik ke atas ranjang tidur mencari kehangatan.
Tapi anehnya si Hitam malah menggeliat meloncat dari dekapan tangannya.
"Hei, kenapa Hitam?"
Ali tertawa kecil, Hitam mengibaskan ekornya dengan gaya seperti seorang betina yang malu-malu kucing.
"Hahaha...! malu-malu kucing ya!?"
Ali bangkit dari tempat tidur. Meregangkan semua ototnya hingga terdengar bunyi kretek yang membuat Hitam menatap Ali lama.
"Cari sarapan yuk?" kata Ali pada si Hitam.
"Meooong..."
Kucing hitam itu sangat pintar. Ia seperti mengerti apa yang Ali ucapkan dan meresponnya cepat.
Ali berjalan menuju pintu belakang. Tujuannya adalah kolam mata air.
"Mandi yuk?" tutur Ali sambil meraih tubuh si Hitam.
"Meong meong meong, rrrrrrggg..."
Si Hitam meloncat dari dekapan Ali. Seperti emosi dan marah, kucing itu mengeong juga meraung kecil.
"Hahaha...! Kamu ini kucing betina ya? Koq sering banget marah-marah mirip cewek? hahaha..."
Ali tertawa bahagia. Apalagi ketika wajahnya sudah terkena air kolam yang segar dan menyejukkan. Energinya seperti baterai yang baru diisi. Semangat hidupnya meninggi lagi.
Ali jahil mencipratkan air ke tubuh si Hitam yang duduk menjauh di pojokan.
"Meooong... Grrrr.." Si Hitam makin menjauh kabur.
"Hahaha, mandi Hitam, ayo mandi! Air ini beneran seger, tau!"
Ali membuka seluruh pakaiannya. Ia ingin mandi walaupun masih sangat pagi dan airnya dingin sekali. Namun setelah mengena kulit wajah dan Ali merasakan kesegaran luar biasa, ia jadi tergoda untuk berenang-renang di air kolam yang kedalamannya tak lebih dari setengah meteran saja itu.
Jeburrr
Kecipak kecipak.
"Tem! Item! Tapi kalo item itu panggilan buat kucing laki-laki. Karena kamu kucing perempuan, baiknya kupanggil Hitam Manis aja deh!"
Ali seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Lalu sibuk terbuai segarnya air kolam yang semakin menenangkan perasaannya.
Pemuda itu mengambil air dengan dua telapak tangannya dari pancuran kecil yang mengalir lewat celah-celah mata air yang terus memuncah. Kemudian meneguknya pelan.
"Hmmm... enaknya!" gumamnya lagi dengan suara mirip des+han.
Hampir setengah jam lebih, Ali nyebur di sana. Akhirnya Ia baru sadar kalau perutnya yang lapar semakin keroncongan minta di isi.
Ia bergegas naik dan mengenakan handuk kecilnya untuk menutupi bagian berharga tubuhnya.
"Aih!? Mana si Hitam Manis? Kabur duluan!"
Ali hanya bisa berdecak. Kucing hitam itu seperti biasa, kabur dan menghilang setiap kali Ia mandi.
Dengan semangat empat lima, pria muda yang pertengahan tahun ini akan menginjak usia dua puluh tahun itu bergegas ke warung Pak Setan.
Sepeda gunung kini menjadi tunggangan setianya mencari sarapan.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Seorang perempuan separuh baya keluar dari warung dengan jalan pincang. Cukup membuat perhatian Ali tertuju pada salah satu kakinya yang sepertinya agak panjang sebelah.
Kayaknya ini istrinya pak Setan, deh! Gumam hati kecil Ali.
"Bu, saya Ali. Boleh pesan nasi goreng ga?"
"Oh, Ali Akbar yang kemarin beli lilin?" katanya balik bertanya.
"Iya. Hehehe... Bu, Pak Setan kemana?"
"Dia lagi ke kebun dulu. Siang baru ada di rumah!"
"Oh gitu. Ngomong-ngomong dimana kebunnya? Jauh kah?"
"Dekat pemakaman desa."
Ali mengangguk pelan.
Pemakaman desa? Berarti dulu penduduk ini banyak dong ya? Coz ada pemakaman segala. Atau mungkin desa ini adalah desa pembuangan orang mati saja. Sementara yang hidup, ogah tinggal di desa ini!?
Ali hanya bisa menerka-nerka.
Dia menyantap nasi goreng bumbu kunyit buatan istri pak Setan.
"Ibu..."
"Ya?"
"Kenapa orang tuanya pak Setan beri nama bapak dengan nama SETAN?" tanya Ali kian penasaran.
"Itu karena Mbah Toro yang menyuruh."
"Aihh?!?" Sontak Ali berseru, dibuat kebingungan.
Apa? Mbah yang nyuruh? Lah? Emangnya Pak Setan itu anak siapa? Koq Mbah gue yang kasih nama? Ada hubungan apa antara Mbah Toro sama orang tuanya Pak Setan?Apa?
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
ExNiceBoy
up lagi thor
2023-04-06
1
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 😍
2023-04-06
0
Mom La - La
Aih. mkin pnasaran z.
2023-04-06
0