Ali berjalan menyusuri trotoar desa yang sunyi sepi. Pepohonan dan kebun mendominasi keadaan sekeliling desa.
Desa Kandut, sesuai dengan alamat jelas yang tertera di surat wasiat.
Ini beneran kan, lokasinya?
Menengok ke kiri dan ke kanan sepanjang jalan setelah diturunkan oleh kondektur bus dari Kota Wonogiri.
Jalan beraspal, mulus namun seperti kota mati. Tentu saja membuat hati Ali berdebar penuh tanda tanya. Apakah akan dilanjut perjalanan ini, atau kembali ke Ibukota dengan tangan hampa.
Ali berdiam diri sejenak sekalian mengistirahatkan kedua tungkai kaki yang mulai lelah.
Tas ransel besarnya yang tersandang di bahu segera diturunkan di jalanan aspal yang kokoh dan tampak baru karena jarang dilintasi kendaraan roda empat sepertinya.
Ini beneran gak sih? Masa' sih surat wasiat sama kunci rumah cuma prank dari Embah gue? Sebegitu gabutnya kah beliau sampai bikin surat wasiat kayak gitu? Apa emang jaman dulu para nenek moyang udah suka main prank-prank'an? Atau ikutan trend 'April Mop' gitu?
Ali hanya bisa menggaruk-garuk bok*ngnya yang tidak begitu gatal.
Sudah terlanjur jauh perjalanan ini.
Kembali ke Ibukota rasanya itu tidak mungkin. Selain jarak yang sangat jauh dan juga uang pegangannya sudah begitu menipis, rasanya Ali tidak akan bisa pulang ke Jakarta.
Rumah kontrakan yang paling murah pun sudah berpindah tangan kepemilikannya. Sudah digusur dan akan dibangun gedung bertingkat oleh si pemilik yang sekarang.
Bahkan rongsokan botol-botol plastik yang sudah Ali kumpulkan pun dibayar berikut uang kompensasi karena sudah bersedia meninggalkan rumah kontrakan tanpa bikin keonaran.
Uang sebesar lima ratus ribu dari pemilik kontrakan telah Ali terima. Uang ini pulalah yang membuatnya bisa membeli tiket bus jurusan Wonogiri Jawa Tengah yang tentunya lumayan jauh untuk kesana.
Sebelum berangkat, disempatkannya membeli pulsa kuota sebesar sepuluh ribu rupiah. Menchat Firman kalau Ali kini sudah tidak tinggal lagi di kontrakan rumah pohon kami.
Firman belum membuka hape sepertinya. Sampai saat ini pesan Ali belum juga dibaca apalagi di balasnya.
Ali juga menchat Laila. Sangat berharap sekali balasannya. Namun ternyata centang satu. Sepertinya dia sedang me-nonaktif-kan ponselnya. Entah kenapa.
Tapi dilihat dari tanggal terakhir Laila online, itu sudah hampir seminggu yang lalu.
Apakah ponselnya Laila hilang atau rusak? Seminggu tidak aktif bagi seorang mahasiswi rasanya itu tidak mungkin! Entah. Ali tidak tahu.
Ali menelan ludah dan menghela nafas sejenak.
Ia menyoren kembali ransel besar berisi pakaian dan semua barang berharga yang di punya. Juga se-dus bekas mie instan yang berisi beberapa buku, sepasang sepatu ganti serta sandal jepit butut yang selalu setia menemaninya jika sedang ada di rumah. Tak lupa gitar butut yang memiliki sejarah kenangan indah mengiringi suara merdu Laila Purnama selama beberapa dekade.
Nomor 1 RT 001 RW 011
Kediaman Keluarga Toro Margens Famili
Nah! Ini dia!!!
Ali bersorak melihat papan alumunium yang terpampang di atas gapura pintu gerbang yang berwarna hitam pekat.
Gerbang yang tinggi, besar, kokoh dan tampak menakutkan. Apa ini beneran rumah warisan Mbah Toro buat Bapak?
Ali menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada rumah tetangga. Hanya kebun-kebun dan juga tanah lapang yang ditumbuhi rumput tinggi. Sunyi dan sepi tiada satu orang pun walau hanya sekedar melintas.
Sepertinya memang kampung telah ditinggalkan oleh para penghuninya yang mulai pergi merantau ke kota besar untuk berjuang mencari nafkah serta kehidupan yang lebih baik.
Terus buat apa juga gue tinggal di kampung ini kalau suasananya mencekam begini? Rumah gedong, besar dan kokoh apa gunanya jika tak ada tetangga dan interaksi sosial antar warga? Ini siang hari sepi begini, gimana malam hari? Yassalam... Mbah, Mbah! Pantesan Bapak ga minat tinggal di rumah warisan. Ternyata, kehidupannya macam begini!
Ali mencoba mencocokkan salah satu kunci yang di berada di amplop surat wasiat.
Sebuah kunci untuk membuka gembok besar pagar hitam.
Berhasil.
Krieeet....
Pintu gerbangnya dibuka lebar-lebar.
Mata Ali memandang tak berkedip.
Ini rumah apa kastil? Gila parah ini!!! Ternyata Mbah gue bukan orang sembarangan! Ternyata bokap gue anak orang kaya juga rupanya. Terus,... Kenapa malah ninggalin rumah istana ini demi hidup susah di Ibukota? Ck ck ck...
Shock sekaligus senang hati Ali bukan kepalang. Mendapati warisan sebuah rumah besar yang bukan rumah sembarang. Rumah yang kini membuat sisi kesombongan dalam diri Ali mencuat naik.
"Anton Darmawan! Gue juga ternyata keturunan orang kaya, Ton! Setidaknya gue bisa senyumin Elo sekarang kalo Lo berani lagi remehin gue dan bilang gue adalah anak pemulung melarat!" gumamku seorang diri.
Rumah megah berdiri tegak cukup jauh dari gerbang utama. Mungkin sekitar dua puluh meteran untuk mencapai masuk terasnya.
Mata Ali masih terpana menatap rumah di depannya.
Beneran rumah yang indah. Dan bukan tukang bangunan biasa yang membangunnya pastinya. Ini murni desainer arsitek terkenal karena setiap lekuk polesan seluruh bagian rumah begitu detail relief ukirannya. Ini rumah dengan gaya Eropa style.
Memang terlihat tidak terurus.
Rumput ilalang tumbuh subur menghalangi keindahannya. Tetapi karena rumah ini sangat tinggi dan besar, dalam keadaan tak terawat pun masih mampu memperlihatkan keindahan apalagi jika benar-benar diurus dengan baik. Begitu pemikirannya.
Kunci yang lain lagi kini digunakan untuk membuka pintu utama rumah besar.
Kesrek kesrek
Ceklik.
Berhasil!
Krieeet....
Ruangan putih dipenuhi dengan bahan berwarna putih menutupi seluruh furniture dibawahnya.
Bau apek menyergap penciuman Ali.
Pengap dan sesak nafas seketika menyerang dada.
"Uhuk uhuk uhuk..."
Ali terbatuk hingga keluar rumah untuk menyegarkan pernafasan.
Ya ampun, puluhan tahun ditinggalkan begitu saja! Apa bapak sama ibu tidak pernah punya pikiran untuk sowan ke sini menengok rumah warisan?
Kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Bingung dan bingung, memikirkan kedua orang tuanya yang lebih memilih bergembel ria di Ibukota ketimbang kembali ke kampung halaman dan mengurus semua harta peninggalan orangtuanya. Hhh...
Gubrak gubrak
Sontak Ali terkejut hampir meloncat.
"Meooong..., meooong!"
Suara kucing mengeong membuat dadanya yang tadi berdebar kencang perlahan berkurang rasa takutnya.
"Sialan! Gue kira setan. Ternyata kucing!" gumamku pada diri sendiri.
"Meooong..."
Seekor kucing hitam berjalan pelan kearah Ali dengan mata hijaunya yang tajam menatap membuat bulu kuduk berdiri.
"Hei, hei! Aku adalah cucu dari Mbah Toro Margen! Aku bukan penghuni gelap yang punya niat merampok! Hallo, salam kenal! Atau jangan-jangan, kaulah penghuni gelap rumah ini karena tinggal tanpa izin? Hehehe..."
"Meooong.... Rrrrrrggg...!!!"
"Woles, woles, Bro! Hehehe... sini hitam! Sebentar, sebentar! Aku masih punya nasi bungkus sisa tadi beli di warteg terminal. Rasanya ga enak. Tapi sayang kalo kubuang. Jadi kubungkus siapa tau nanti bisa dimakan lagi kalo perut beneran lapar!" tuturku cukup senang karena ternyata dirumah ini Aku punya teman.
Di Hitam datang dan menggesekkan tubuhnya di kaki Ali.
"Hahaha... Kamu jadi baik karena aku bawa makanan ya? Oghey...., sebagai perkenalan, Ayo kita makan bareng! Seterusnya, kita harus hidup rukun dan akur ya, Hitam!"
Ali dan si Hitam makan sebungkus nasi warteg berdua. Sengaja disisihkannya separuh daging ayam di lantai agar Hitam bisa makan.
Tapi anehnya kucing itu hanya menatap makanan di lantai, lalu melirik makanan yang ada di kertas nasi. Hewan jinak itu mengendus-endus nasi dan lauk yang ada di kertas nasi.
"Hei! Itu makananmu! Kenapa masih mau makananku juga? Itu sama lah!"
Ali menunjuk-nunjuk kearah potongan ayam yang dilantai.
"Hm. Rupanya kau ini kucing orang kaya ya? Mau makan yang dialas? Dasar kucing sok higienis! Kamu ini kucing siapa sih? Ya sudah, kita makan berdua. Tapi kau ga punya penyakit khan? Awas aja kalo tiba-tiba aku sakit setelah kita makan bersama!"
Ali sedikit kesal. Tapi akhirnya beneran makan sebungkus berdua karena ternyata kucing hitam itu turunan menak.
"Setelah makan, kau harus bantu aku juga ya? Kita kerja bakti bereskan rumah ini agar kembali indah. Dan jangan kabur tanpa pemberitahuan! Oghey?"
Si Hitam mengeong. Membuat Ali tertawa lalu sedih lagi mengingat Laila.
Laila Purnama adalah gadis pecinta kucing liar. Dia akan jadi malaikat tak bersayap jika melihat kucing liar kurus kelaparan di jalanan.
Laila Purnama. Bagaimana kabarmu? Aku sungguh merindukanmu, Laila!
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
luarbiasa Laila
2023-04-17
0
Elisabeth Ratna Susanti
keren nih Laila
2023-04-05
0