Cekiiiiiiit...
"Woiii! Lo kalo mau modar jangan bikin susah orang!!!"
Tin tin tin
Tin tin tinnn!!!
"Minggir, bocah gila!!!"
Ali menolehkan wajahnya ke arah mobil besar yang ada di belakang. Dingin dan tanpa ekspresi.
Tuhan! Bahkan untuk mati pun, budak miskin hina dina ini sampai Kau diskualifikasi! Mau mati saja, susahnya minta ampun! Gerutu hati Ali yang merapuh.
Wajah cantik Laila seolah ada di pelupuk mata.
Telapak tangannya yang halus dan wangi, serasa masih menempel dijari jemari Ali.
..."Semoga kita bertiga hidup bahagia, dimanapun kita berada!"...
Suara lembut Laila kembali terngiang.
Laila Purnama. Apakah aku bisa hidup bahagia? Lihatlah diriku ini! Miskin, melarat dan selalu jadi hinaan orang. Mungkinkah aku akan hidup bahagia?
Lagi dan lagi, si cengeng itu menitikkan airmata. Beruntung hujan yang deras menyamarkan butirannya yang meluncur dari mata kanan dan kirinya.
Tuhan! Mengapa kemiskinan ini begitu membenciku? Mengapa? Bisakah kau sedikit berbelas kasih kepadaku, Tuhan? Angkatlah aku,Tuhan! Bapak, Ibu... Mengapa kalian tinggalkan aku sendirian hidup menderita di dunia yang penuh ranjau durjana ini...
Hujan mengguyur deras sekali.
Ali yang terduduk di pojokan halte bis dengan pakaian basah seolah menjadi manusia alien yang begitu berbeda dari segerombolan orang berteduh di bagian lainnya.
Krucuuuk krucuuuk...
Suara perutnya berbunyi keras sekali.
Cacing di perut pun bahkan tak punya empati padahal si pemilik tubuhnya sedang putus asa.
Cobalah kau simpatik sedikit padaku, Wahai Kau Cacing! Setidaknya, jangan kau tambah penyiksaan batin ini dengan kemanjaanmu minta makan pula! Cih, dasar makhluk tak berguna! Kerjamu cuma makan saja! Ada baiknua juga cacing di perut ini kusulap jadi ular kobra. Bisa kujadikan modal bahan ontinan di pasar malam! Dan aku akan jadi punya banyak uang!
Ali tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba jiwa humor Ali yang horror menyeruak. Ali membayangkan andai benar dia punya ilmu sulap dan 'TING', cacing-cacing di perutnya tiba-tiba beneran membesar berubah jadi ular kobra.
"Hahaha hahaha... Gokil, gokil! Hahaha...! Sebelum lo jadi kang sulap, pasti udah modar duluan lo, Ali Akbar! Seluruh isi jeroan lo bakalan dikunyah habis sama si king kobra! Hahaha..." Ia terkikik sendirian.
Ya ampun itu orang, ngenes amat ya hidupnya?'
'Hooh, padahal masih muda, udah gila!'
'Iya. Pantes bajunya basah kuyup gitu! Kesian ya?'
Woooi, gue bukan orang gila, woooi!!! Gue cuma stres! Stres karena tekanan hidup yang keras dari orang-orang seperti kalian!!!
Untung hanya suara hati yang berteriak. Bukan mulut yang celangap.
Njiiirrr!!! Susahnya hidup. Tapi mati juga ternyata tetap bakalan bikin gue susah! Kalo gue mati, mayat gue apa kabarnya! Pasti bakalan dibuang begitu aja sebab ga akan ada yang nebus jenazah gue di kamar mayat. Dan tubuh gue pastinya bakalan dijeblosin ke sumur tua rumah sakit! Ya Tuhan! Dahlah, gue gagal mati bunuh diri. Gue skip niat matinya. Jangan dulu mati sebelum jadi orang berhasil! Setidaknya, tunggu gue mampu beli sepetak tanah 1x2 meter buat jadi rumah masa depan gue. Minimal gue harus punya tabungan dulu buat bayar iurannya yang kalo setahun gak dibayar bakalan kena gusur dan ditumpuk tulang belulang gue sama jenazah orang lain! Hiks, ya Tuhan! Jangan dulu ambil nyawaku kalau begitu. Aku pending bunuh dirinya.
Ali... Bangkit dari duduk.
Tatapan matanya yang kosong, hanya memandang lurus ke depan.
Hujan masih sangat deras. Tapi Ia tetap melangkahkan kakinya berjalan pergi. Menerobos tanpa peduli.
Tak dihiraukan pandangan orang, tak didengarnya ocehan orang.
Dunia serasa sunyi sepi dan senyap bagi Ali.
Hanya rumah kontrakan orangtuanya yang bulan ini belum dibayar itu tujuan utamanya.
Kedinginan menyergap tubuh kurus Ali yang nampak ringkih.
Ia ingin pulang. Berganti pakaian dan minum segelas teh manis hangat. Pasti nikmat, begitu hibur hatinya yang lara.
..............
Mata Ali melalap habis pintu depan rumah yang terbuka lebar. Rumah kontrakannya berantakan. Sampah botol plastik yang sudah rapi dalam karung bekas beras raskin kini berhamburan di depan rumah.
Ada apa ini? Ada apa? Siapa yang mengobrak-abrik rumah kontrakanku?
"Ali!"
Baba Ibram! Pemilik kontrakan!
"Baba', maaf! Ali belum punya uang buat bayar kontrakan bulan ini!" ucap Ali sebelum si empunya rumah lebih dulu menagih kontrakan.
"Ali, kamu sebaiknya cari kontrakan lain ya? Soalnya tanah Baba' ini mau dijual!"
"Hah? Dijual?"
Ali yang menggigil kedinginan hanya bisa menggemerutukkan gigi mendengar perkataan Baba' Ibram.
Pindah? Harus pindah? Kemana?
"Saya, harus pindah kemana, Ba'?"
"Carilah kontrakan lain, Li! Maaf! Baba' juga butuh uang!"
Apalagi yang bisa kukatakan.
Hidup yang sempurna, lengkap sudah penderitaannya.
Ali Akbar, harus berkelana menjelajah isi alam raya. Sepertinya.
Dan dengan hati hancur lebur dan tubuh basah kedinginan merapikan berkas-berkas ijazahku dari SD sampai SMA. Juga dokumen lainnya seperti kartu tanda penduduk dan kartu keluarga yang seharusnya segera diganti di kantor kelurahan karena kedua orangtua yang sudah almarhum almarhumah.
Sebuah amplop besar berwarna coklat susu membuat mata Ali menatap layu.
Surat dokumen apa ini?
Ali penasaran dengan isinya. Dan segera ia buka amplop coklat besar yang masih disegel rapat.
...SURAT WASIAT...
Teruntuk putra tunggalku AGUS KURNIAWAN, Bapak TORO MARGEN dan Ibu LAMINAH KUSNANI memberikan sebuah rumah warisan beserta seluruh isinya untukmu. Berikut ini adalah sertifikat asli rumah berikut kunci yang berada di desa Kandut RT 001 RW 011 nomor 1 Wonogiri, Jawa Tengah.
Matanya membelalak tak percaya.
Surat wasiat? Rumah warisan? Di sebuah desa daerah Jawa Tengah?
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
TK
lam gak kasih kopi 😁✌️
2023-05-15
0
AnakMama AnakPapa
dpt warisan
2023-04-04
0
Embun Kesiangan
ontinan : tontonan 🤧 typo bikin resah
2023-04-04
0