EPISODE KEENAM BELAS

"Lah? Itu si Hitam, kenapa gue malah keinget si Keti? Hadeeuh... Perjalanan panjang roh bikin gue jadi oleng mengingat seseorang!"

Ali teringat pada cermin besar yang ada di balik pintu lemari kayu jati yang berdiri kokoh di pojokan.

Ia segera melompat turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari.

"Ih? Mana cerminnya?" sontak Ali kaget setengah mati. Cermin kaca itu raib dari balik pintu lemari.

Pintunya yang terdiri dari tiga buah Ia buka satu persatu.

Kosong.

Bahkan pakaian yang semalam terlihat banyak berjejer di hambalan gantungan baju, kini tak ada satupun disana.

Ali hanya termangu.

Kukuruyuuuuk

Kukuruyuuuuk...

Ali terkejut. Suara kokok ayam jago terdengar nyaring sekali.

Ia mendongakkan wajahnya dan termangu sendirian. Dua hari dua malam, tak ada suara ayam kecuali jangkrik dan kodok yang bernyanyi sahut-sahutan silih berganti di luar rumah.

Ayam jago? Tidak ada.

Ali yang masih bingung karena cermin besar yang semalam menariknya masuk dan pindah dimensi ke tahun 2016 ternyata tidak ada.

"Berarti semalam gue cuma mimpi! Semalam gue traveling ke masa SMP hanyalah bunga tidur!?" gumamnya pada diri sendiri.

"Ck. Beneran gila deh gue! Bisa-bisanya gue percaya kalo beneran gue bisa teleportasi pindah portal ke masa umur gue masih 13 tahun! Suwe bener! Hhh..."

Ali berfikir, mungkin karena efek kecapean. Sehingga semalam Ia tidur sampai terbawa mimpi saking rindunya pada Ibu Bapak.

Ali segera keluar kamar. pergi menuju ruang terbuka untuk nyemplung di kolam mata air.

Betapa terkejutnya Ia, pemandangannya telah berubah.

Kolam mata air yang tadinya hanyalah kolam kecil dilapisi adukan semen biasa, tiba-tiba berubah menjadi kolam yang jauh lebih besar dan lebih rapi juga asri ditumbuhi rerumputan hijau di area pinggirnya.

Sontak Ali terkesiap.

Langkahnya berhenti, bahkan Ia mundur beberapa kali.

Matanya menatap tajam.

Matahari masih belum bersinar. Otomatis penglihatannya masih agak samar.

Ali berusaha mengalihkan fikirannya yang mulai oleng.

"Ck aaarrrggh, mata gue beneran minus ini! Gegara dulu suka mabar tengah malam ga ingat waktu! Hhh... Sekarang jadi lamur gini deh nih!" keluhnya pada diri sendiri sembari menjitak dahi.

"Meooong..."

"Hitam! Hitam!!"

Senangnya Ali, si kucing hitam itu kembali lagi.

"A_aku bingung, Hitam! Kenapa kolam ini berubah ya? Apa Aku yang ga engeuh waktu di awal? Dan..., suara ayam jago? Darimana datangnya?"

Hitam melompat ke luar.

Ali terpancing untuk ikuti langkah si Hitam. Ada pintu pagar besi yang tembus tanpa sekat.

"Apa???"

Matanya kembali melotot.

"Ada... rumah di belakang rumah ini ternyata!?"

Ali menggaruk-garuk kepalanya. Sesekali Ia menoleh ke arah kucing hitam pekat yang bertubuh mungil lincah itu.

Ali belum pernah membuka pintu belakang. Baru kali ini Ia ternyata menyadari ada rumah tetangga di belakang rumah besar warisan dari Mbah-nya itu.

"Kenapa... Pak Setan dan Bu Susanah ga bilang ya pas kemaren?!?"

Lagi-lagi Ali hanya bisa bergumam dalam hati.

Ia mencoba keluar lewat pintu belakang yang ternyata ukurannya hanya pas di badan. Pintunya kecil sekali. Tidak seperti ukuran pintu pada umumnya.

"Kulonuwun! Permisi! Ada orang disini? Assalamualaikum..."

Sepi. Tiada jawaban.

Ali berjalan dengan langkah ragu. Tetapi Ia penasaran dengan tetangganya yang baru hari ini Ia ketahui.

Ali kini telah berada di depan pintu rumah kecil yang lebih mirip gubuk itu saking rapuhnya.

Tok tok tok

Tok tok tok

"Assalamualaikum..."

Pagi yang sejuk dan cahayanya yang perlahan menyibak kabut serta gelapnya malam kian menebarkan aura ketenangan.

Hitam yang berjalan di samping Ali mengibaskan ekornya.

"Ya? Siapa ya?"

Seorang perempuan agak tua sekitar umur 60 tahun keluar tapi dari arah samping.

"Mbah? Pagi Mbah! Mbah pemilik rumah ini?" tanya Ali dengan tubuh dibungkukkan.

"Nggih. Kamu siapa?"

"Saya Ali, Mbah! Saya cucunya Mbah Toro pemilik rumah yang di depan ini. Saya anaknya Pak Agus Kurniawan."

"Oalaa... Iya. Saya ingat! Namamu Ali?"

"Iya, Mbah."

Ali mencium punggung tangan Mbah tetangganya.

"Saya panggilnya Eyang Uti aja ya? Boleh?"

"Hehehe... boleh. Sudah lama sekali saya tidak lihat anak muda seumuran kamu, Ali. Senangnya, di kampung ini sudah ada pemuda yang bersedia tinggal. Ehh, apa kamu tinggal di sini atau... cuma sekedar liburan?"

"Saya akan mencoba tinggal di sini, Eyang!"

Ali tersenyum kecut.

Iya, Eyang! Selain rumah ini, dimana lagi Aku harus tinggal? Kecuali di kolong jembatan Ibukota. Itu pun tetap harus berjuang berebut lahan milik pemerintah yang dikuasai para kaum tuna wisma bahkan kudengar sampai nyawa jadi taruhannya. Hhh...

"Yang Uti tinggal sendirian di sini?"

"Iya, Ali! Dulu Mbah pernah bekerja di rumah Mbah Toro. Tapi sejak Putri saya meninggal dunia sepuluh tahun lalu, Saya memilih berhenti dan pergi mencari peruntungan di kampung lain. Ternyata..., hanya kampung ini yang selalu di hati."

"Berarti, Eyang yang bernama Mbah Marsinah?"

"Ali tahu nama saya?" tanya si Mbah kaget.

"Saya tahu dari Pak Setan."

"Dari Se_tan?"

"Iya. Beliau yang punya warung di ujung jalan sana, Eyang! Eyang Uti tidak pernah berbelanja ke warungnya?"

Si Mbah menggeleng, membuat Ali garuk-garuk kepala lagi.

"Terus, selama ini Eyang makan apa?"

"Sayuran. Itu, di kebun belakang."

Ali menelan ludah. Mirisnya.

Ternyata Ia memang makhluk yang kurang bersyukur selama ini.

Dia mengira dirinya adalah makhluk Tuhan yang paling tidak beruntung. Miskin, tidak punya apa-apa selain cerita kesedihan yang membuat dirinya sendiri ogah berteman dengan orang lain karena minder yang teramat besar. Bahkan pakaian yang Ia kenakan adalah pakaian yang bapaknya belikan tiga-empat tahun yang lalu.

Ternyata, dunia ini dipenuhi beragam keadaan.

Ali mengikuti langkah Mbah Marsinah. Ternyata di belakang gubuknya ada lahan lumayan luas untuk si Mbah berkebun.

Berbagai jenis sayuran di tanam oleh Mbah Marsinah yang jalannya agak tertatih-tatih itu.

"Eyang, kakinya kenapa?"

"Encok, Li! Beginilah, makhluk tua renta ini. Tinggal menunggu waktu, dicabut nyawanya oleh Sang Pencipta. Hehehe..."

"Mau Ali pijat? Kata Ibu, Ali ini lahirnya trujun. Kali duluan. Dan kata Ibu juga, kalo yang lahir trujun itu pandai memijat meskipun yang dipijat punya encok. Begitu. Hehehe..."

"Anak yang baik. Beruntungnya Agus memiliki putra sebaik dirimu, Nang!"

Kukuruyuuuuk...

Ali menoleh ke arah kandang ayam. Suara ayam jagonya Eyang Marsinah kembali berkokok.

"Eyang juga pelihara ayam?"

"Iya, Nang. Hanya satu ekor ayam jago dan tiga ekor ayam betina. Telurnya bisa Eyang masak untuk makan."

"Ayamnya makan apa? Beli makanan ayam dimana?" tanya Ali bersemangat sekali. Ia yang dulunya pendiam dan cuek kini berubah ramai dan suka bicara seperti anak kecil yang baru mengenal dunia nyata.

"Hehehe... Ayam ini seperti si Mbah. Makan yang ada saja. Sayuran, ya cacing tanah juga. Namanya juga ayam."

"Meooong..."

Ali tersadar kalau Hitam masih bersamanya.

Ia mengangkat tubuh Hitam kepangkuan dan mengelusnya lembut. Hitam sempat bereaksi dan memberontak. Tapi Ali mencoba memeluknya erat hingga kucing itu akhirnya pasrah dalam dekapan Ali.

"Mbah sedang apa?" Ali melihat panci yang ada di tungku yang menyala dekat kebun menggolak airnya.

"Rebus singkong. Kamu mau?"

"Wah, enak banget nih. Banyak rebusnya, Eyang?"

"Cukuplah untuk kita bertiga makan."

"Bertiga?"

"Iya. Itu, yang kamu gendong dan elus-elus itu. Dia paling suka singkong rebus."

"Iyakah? Wah, kamu suka singkong, Hitam? Gayamu mirip kucing Sultan, ternyata... suka makan singkong rebus juga. Hehehe... Lucunya!"

Ali mengangkat tubuh Hitam dan menggelitik lehernya hingga si Hitam menggeliat kegelian.

Mbah Marsinah tertawa. Giginya yang hitam berkarang tidak membuat Ali takut.

Kini Ali justru lebih bisa menghargai orang lain yang memiliki keanehan baik nama maupun penampilan.

Tuhan menciptakan manusia itu beragam. Seperti Pak Setan dan Bu Susanah. Keti juga. Kini Mbah Marsinah.

Ali kini belajar menghargai semua orang yang hadir di hidupnya.

Secara Ali pernah dicintai tapi ditinggalkan tanpa sempat Ia ucapkan secara benar rasa sayang dan cinta dihatinya kepada mereka yang sangat Ali cintai.

Ibu, Bapak, Firman juga Laila. Ali menyesal dulu selalu memendam perasaan tanpa ingin mengungkapkan apa yang Ia rasa apa yang Ia sayang.

Dulu Ali adalah orang yang pasif. Orang yang tidak banyak berkata-kata. Bahkan ketika bersama Firman dan Laila. Ia hanya jadi pendengar saja. Tertawa jika ada yang lucu dari cerita-cerita mereka.

Tidak berani melakukan interaksi lebih dulu karena malu yang berlebihan.

Ali minder karena miskin.

Singkong rebus menjadi perekat pertemuannya dengan Mbah Marsinah dan juga Hitam. Juga si Jalu, ayam jago Mbah Marsinah yang dikeluarkan dari kandang.

Sementara ayam si Mbah yang lainnya sepertinya sedang keluar mencari makan.

Ali tersenyum. Hitam melahap singkong rebus dengan nikmat.

Ternyata kucing juga suka rebus singkong.

BERSAMBUNG

Terpopuler

Comments

Raysonic Lans™

Raysonic Lans™

okay catty

2023-05-28

1

Kang Anto

Kang Anto

hm lanjut thor

2023-04-13

0

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

suka 😍

2023-04-10

0

lihat semua
Episodes
1 EPISODE KESATU
2 EPISODE KEDUA
3 EPISODE KETIGA
4 EPISODE KEEMPAT
5 EPISODE KELIMA
6 EPISODE KEENAM
7 EPISODE KETUJUH
8 EPISODE KEDELAPAN
9 EPISODE KESEMBILAN
10 EPISODE KESEPULUH
11 EPISODE KESEBELAS
12 EPISODE KEDUA BELAS
13 EPISODE KETIGA BELAS
14 EPISODE KEEMPAT BELAS
15 EPISODE KELIMA BELAS
16 EPISODE KEENAM BELAS
17 EPISODE KETUJUH BELAS
18 EPISODE KEDELAPAN BELAS
19 EPISODE KESEMBILAN BELAS
20 EPISODE KEDUA PULUH
21 EPISODE KEDUA PULUH SATU
22 EPISODE KEDUA PULUH DUA
23 EPISODE KEDUA PULUH TIGA
24 EPISODE KEDUA PULUH EMPAT
25 EPISODE KEDUA PULUH LIMA
26 EPISODE KEDUA PULUH ENAM
27 EPISODE KEDUA PULUH TUJUH
28 EPISODE KEDUA PULUH DELAPAN
29 EPISODE KEDUA PULUH SEMBILAN
30 EPISODE KETIGA PULUH
31 EPISODE KETIGA PULUH SATU
32 EPISODE KETIGA PULUH DUA
33 EPISODE KETIGA PULUH TIGA
34 EPISODE KETIGA PULUH EMPAT
35 EPISODE KETIGA PULUH LIMA
36 EPISODE KETIGA PULUH ENAM
37 EPISODE KETIGA PULUH TUJUH
38 EPISODE KETIGA PULUH DELAPAN
39 EPISODE KETIGA PULUH SEMBILAN
40 EPISODE KEEMPAT PULUH
41 EPISODE KEEMPAT PULUH SATU
42 EPISODE KEEMPAT PULUH DUA
43 EPISODE KEEMPAT PULUH TIGA
44 EPISODE KEEMPAT PULUH EMPAT
45 EPISODE KEEMPAT PULUH LIMA
46 EPISODE KEEMPAT PULUH ENAM
47 EPISODE KEEMPAT PULUH TUJUH
48 EPISODE KEEMPAT PULUH DELAPAN
49 EPISODE KEEMPAT PULUH SEMBILAN
50 EPISODE KELIMA PULUH
51 EPISODE KELIMA PULUH SATU
52 EPISODE KELIMA PULUH DUA
53 EPISODE KELIMA PULUH TIGA
54 EPISODE KELIMA PULUH EMPAT
55 EPISODE KELIMA PULUH LIMA
56 EPISODE KELIMA PULUH ENAM
57 EPISODE KELIMA PULUH TUJUH
58 EPISODE KELIMA PULUH DELAPAN
59 EPISODE KELIMA PULUH SEMBILAN
60 EPISODE KEENAM PULUH
61 EPISODE KEENAM PULUH SATU
62 EPISODE KEENAM PULUH DUA
63 EPISODE KEENAM PULUH TIGA
64 EPISODE KEENAM PULUH EMPAT
65 EPISODE KEENAM PULUH LIMA
66 EPISODE KEENAM PULUH ENAM
67 EPISODE KEENAM PULUH TUJUH
68 EPISODE KEENAM PULUH DELAPAN
69 EPISODE KEENAM PULUH SEMBILAN
70 EPISODE KETUJUH PULUH
71 EPISODE KETUJUH PULUH SATU
72 EPISODE KETUJUH PULUH DUA
73 EPISODE KETUJUH PULUH TIGA
74 EPISODE KETUJUH PULUH EMPAT
75 EPISODE KETUJUH PULUH LIMA
76 EPISODE KETUJUH PULUH ENAM
77 EPISODE KETUJUH PULUH TUJUH
78 EPISODE KETUJUH PULUH DELAPAN
79 EPISODE KETUJUH PULUH SEMBILAN
80 EPISODE KEDELAPAN PULUH
81 EPISODE KEDELAPAN PULUH SATU
82 EPISODE KEDELAPAN PULUH DUA
83 EPISODE KEDELAPAN PULUH TIGA
Episodes

Updated 83 Episodes

1
EPISODE KESATU
2
EPISODE KEDUA
3
EPISODE KETIGA
4
EPISODE KEEMPAT
5
EPISODE KELIMA
6
EPISODE KEENAM
7
EPISODE KETUJUH
8
EPISODE KEDELAPAN
9
EPISODE KESEMBILAN
10
EPISODE KESEPULUH
11
EPISODE KESEBELAS
12
EPISODE KEDUA BELAS
13
EPISODE KETIGA BELAS
14
EPISODE KEEMPAT BELAS
15
EPISODE KELIMA BELAS
16
EPISODE KEENAM BELAS
17
EPISODE KETUJUH BELAS
18
EPISODE KEDELAPAN BELAS
19
EPISODE KESEMBILAN BELAS
20
EPISODE KEDUA PULUH
21
EPISODE KEDUA PULUH SATU
22
EPISODE KEDUA PULUH DUA
23
EPISODE KEDUA PULUH TIGA
24
EPISODE KEDUA PULUH EMPAT
25
EPISODE KEDUA PULUH LIMA
26
EPISODE KEDUA PULUH ENAM
27
EPISODE KEDUA PULUH TUJUH
28
EPISODE KEDUA PULUH DELAPAN
29
EPISODE KEDUA PULUH SEMBILAN
30
EPISODE KETIGA PULUH
31
EPISODE KETIGA PULUH SATU
32
EPISODE KETIGA PULUH DUA
33
EPISODE KETIGA PULUH TIGA
34
EPISODE KETIGA PULUH EMPAT
35
EPISODE KETIGA PULUH LIMA
36
EPISODE KETIGA PULUH ENAM
37
EPISODE KETIGA PULUH TUJUH
38
EPISODE KETIGA PULUH DELAPAN
39
EPISODE KETIGA PULUH SEMBILAN
40
EPISODE KEEMPAT PULUH
41
EPISODE KEEMPAT PULUH SATU
42
EPISODE KEEMPAT PULUH DUA
43
EPISODE KEEMPAT PULUH TIGA
44
EPISODE KEEMPAT PULUH EMPAT
45
EPISODE KEEMPAT PULUH LIMA
46
EPISODE KEEMPAT PULUH ENAM
47
EPISODE KEEMPAT PULUH TUJUH
48
EPISODE KEEMPAT PULUH DELAPAN
49
EPISODE KEEMPAT PULUH SEMBILAN
50
EPISODE KELIMA PULUH
51
EPISODE KELIMA PULUH SATU
52
EPISODE KELIMA PULUH DUA
53
EPISODE KELIMA PULUH TIGA
54
EPISODE KELIMA PULUH EMPAT
55
EPISODE KELIMA PULUH LIMA
56
EPISODE KELIMA PULUH ENAM
57
EPISODE KELIMA PULUH TUJUH
58
EPISODE KELIMA PULUH DELAPAN
59
EPISODE KELIMA PULUH SEMBILAN
60
EPISODE KEENAM PULUH
61
EPISODE KEENAM PULUH SATU
62
EPISODE KEENAM PULUH DUA
63
EPISODE KEENAM PULUH TIGA
64
EPISODE KEENAM PULUH EMPAT
65
EPISODE KEENAM PULUH LIMA
66
EPISODE KEENAM PULUH ENAM
67
EPISODE KEENAM PULUH TUJUH
68
EPISODE KEENAM PULUH DELAPAN
69
EPISODE KEENAM PULUH SEMBILAN
70
EPISODE KETUJUH PULUH
71
EPISODE KETUJUH PULUH SATU
72
EPISODE KETUJUH PULUH DUA
73
EPISODE KETUJUH PULUH TIGA
74
EPISODE KETUJUH PULUH EMPAT
75
EPISODE KETUJUH PULUH LIMA
76
EPISODE KETUJUH PULUH ENAM
77
EPISODE KETUJUH PULUH TUJUH
78
EPISODE KETUJUH PULUH DELAPAN
79
EPISODE KETUJUH PULUH SEMBILAN
80
EPISODE KEDELAPAN PULUH
81
EPISODE KEDELAPAN PULUH SATU
82
EPISODE KEDELAPAN PULUH DUA
83
EPISODE KEDELAPAN PULUH TIGA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!