"Lah? Itu si Hitam, kenapa gue malah keinget si Keti? Hadeeuh... Perjalanan panjang roh bikin gue jadi oleng mengingat seseorang!"
Ali teringat pada cermin besar yang ada di balik pintu lemari kayu jati yang berdiri kokoh di pojokan.
Ia segera melompat turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari.
"Ih? Mana cerminnya?" sontak Ali kaget setengah mati. Cermin kaca itu raib dari balik pintu lemari.
Pintunya yang terdiri dari tiga buah Ia buka satu persatu.
Kosong.
Bahkan pakaian yang semalam terlihat banyak berjejer di hambalan gantungan baju, kini tak ada satupun disana.
Ali hanya termangu.
Kukuruyuuuuk
Kukuruyuuuuk...
Ali terkejut. Suara kokok ayam jago terdengar nyaring sekali.
Ia mendongakkan wajahnya dan termangu sendirian. Dua hari dua malam, tak ada suara ayam kecuali jangkrik dan kodok yang bernyanyi sahut-sahutan silih berganti di luar rumah.
Ayam jago? Tidak ada.
Ali yang masih bingung karena cermin besar yang semalam menariknya masuk dan pindah dimensi ke tahun 2016 ternyata tidak ada.
"Berarti semalam gue cuma mimpi! Semalam gue traveling ke masa SMP hanyalah bunga tidur!?" gumamnya pada diri sendiri.
"Ck. Beneran gila deh gue! Bisa-bisanya gue percaya kalo beneran gue bisa teleportasi pindah portal ke masa umur gue masih 13 tahun! Suwe bener! Hhh..."
Ali berfikir, mungkin karena efek kecapean. Sehingga semalam Ia tidur sampai terbawa mimpi saking rindunya pada Ibu Bapak.
Ali segera keluar kamar. pergi menuju ruang terbuka untuk nyemplung di kolam mata air.
Betapa terkejutnya Ia, pemandangannya telah berubah.
Kolam mata air yang tadinya hanyalah kolam kecil dilapisi adukan semen biasa, tiba-tiba berubah menjadi kolam yang jauh lebih besar dan lebih rapi juga asri ditumbuhi rerumputan hijau di area pinggirnya.
Sontak Ali terkesiap.
Langkahnya berhenti, bahkan Ia mundur beberapa kali.
Matanya menatap tajam.
Matahari masih belum bersinar. Otomatis penglihatannya masih agak samar.
Ali berusaha mengalihkan fikirannya yang mulai oleng.
"Ck aaarrrggh, mata gue beneran minus ini! Gegara dulu suka mabar tengah malam ga ingat waktu! Hhh... Sekarang jadi lamur gini deh nih!" keluhnya pada diri sendiri sembari menjitak dahi.
"Meooong..."
"Hitam! Hitam!!"
Senangnya Ali, si kucing hitam itu kembali lagi.
"A_aku bingung, Hitam! Kenapa kolam ini berubah ya? Apa Aku yang ga engeuh waktu di awal? Dan..., suara ayam jago? Darimana datangnya?"
Hitam melompat ke luar.
Ali terpancing untuk ikuti langkah si Hitam. Ada pintu pagar besi yang tembus tanpa sekat.
"Apa???"
Matanya kembali melotot.
"Ada... rumah di belakang rumah ini ternyata!?"
Ali menggaruk-garuk kepalanya. Sesekali Ia menoleh ke arah kucing hitam pekat yang bertubuh mungil lincah itu.
Ali belum pernah membuka pintu belakang. Baru kali ini Ia ternyata menyadari ada rumah tetangga di belakang rumah besar warisan dari Mbah-nya itu.
"Kenapa... Pak Setan dan Bu Susanah ga bilang ya pas kemaren?!?"
Lagi-lagi Ali hanya bisa bergumam dalam hati.
Ia mencoba keluar lewat pintu belakang yang ternyata ukurannya hanya pas di badan. Pintunya kecil sekali. Tidak seperti ukuran pintu pada umumnya.
"Kulonuwun! Permisi! Ada orang disini? Assalamualaikum..."
Sepi. Tiada jawaban.
Ali berjalan dengan langkah ragu. Tetapi Ia penasaran dengan tetangganya yang baru hari ini Ia ketahui.
Ali kini telah berada di depan pintu rumah kecil yang lebih mirip gubuk itu saking rapuhnya.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
Pagi yang sejuk dan cahayanya yang perlahan menyibak kabut serta gelapnya malam kian menebarkan aura ketenangan.
Hitam yang berjalan di samping Ali mengibaskan ekornya.
"Ya? Siapa ya?"
Seorang perempuan agak tua sekitar umur 60 tahun keluar tapi dari arah samping.
"Mbah? Pagi Mbah! Mbah pemilik rumah ini?" tanya Ali dengan tubuh dibungkukkan.
"Nggih. Kamu siapa?"
"Saya Ali, Mbah! Saya cucunya Mbah Toro pemilik rumah yang di depan ini. Saya anaknya Pak Agus Kurniawan."
"Oalaa... Iya. Saya ingat! Namamu Ali?"
"Iya, Mbah."
Ali mencium punggung tangan Mbah tetangganya.
"Saya panggilnya Eyang Uti aja ya? Boleh?"
"Hehehe... boleh. Sudah lama sekali saya tidak lihat anak muda seumuran kamu, Ali. Senangnya, di kampung ini sudah ada pemuda yang bersedia tinggal. Ehh, apa kamu tinggal di sini atau... cuma sekedar liburan?"
"Saya akan mencoba tinggal di sini, Eyang!"
Ali tersenyum kecut.
Iya, Eyang! Selain rumah ini, dimana lagi Aku harus tinggal? Kecuali di kolong jembatan Ibukota. Itu pun tetap harus berjuang berebut lahan milik pemerintah yang dikuasai para kaum tuna wisma bahkan kudengar sampai nyawa jadi taruhannya. Hhh...
"Yang Uti tinggal sendirian di sini?"
"Iya, Ali! Dulu Mbah pernah bekerja di rumah Mbah Toro. Tapi sejak Putri saya meninggal dunia sepuluh tahun lalu, Saya memilih berhenti dan pergi mencari peruntungan di kampung lain. Ternyata..., hanya kampung ini yang selalu di hati."
"Berarti, Eyang yang bernama Mbah Marsinah?"
"Ali tahu nama saya?" tanya si Mbah kaget.
"Saya tahu dari Pak Setan."
"Dari Se_tan?"
"Iya. Beliau yang punya warung di ujung jalan sana, Eyang! Eyang Uti tidak pernah berbelanja ke warungnya?"
Si Mbah menggeleng, membuat Ali garuk-garuk kepala lagi.
"Terus, selama ini Eyang makan apa?"
"Sayuran. Itu, di kebun belakang."
Ali menelan ludah. Mirisnya.
Ternyata Ia memang makhluk yang kurang bersyukur selama ini.
Dia mengira dirinya adalah makhluk Tuhan yang paling tidak beruntung. Miskin, tidak punya apa-apa selain cerita kesedihan yang membuat dirinya sendiri ogah berteman dengan orang lain karena minder yang teramat besar. Bahkan pakaian yang Ia kenakan adalah pakaian yang bapaknya belikan tiga-empat tahun yang lalu.
Ternyata, dunia ini dipenuhi beragam keadaan.
Ali mengikuti langkah Mbah Marsinah. Ternyata di belakang gubuknya ada lahan lumayan luas untuk si Mbah berkebun.
Berbagai jenis sayuran di tanam oleh Mbah Marsinah yang jalannya agak tertatih-tatih itu.
"Eyang, kakinya kenapa?"
"Encok, Li! Beginilah, makhluk tua renta ini. Tinggal menunggu waktu, dicabut nyawanya oleh Sang Pencipta. Hehehe..."
"Mau Ali pijat? Kata Ibu, Ali ini lahirnya trujun. Kali duluan. Dan kata Ibu juga, kalo yang lahir trujun itu pandai memijat meskipun yang dipijat punya encok. Begitu. Hehehe..."
"Anak yang baik. Beruntungnya Agus memiliki putra sebaik dirimu, Nang!"
Kukuruyuuuuk...
Ali menoleh ke arah kandang ayam. Suara ayam jagonya Eyang Marsinah kembali berkokok.
"Eyang juga pelihara ayam?"
"Iya, Nang. Hanya satu ekor ayam jago dan tiga ekor ayam betina. Telurnya bisa Eyang masak untuk makan."
"Ayamnya makan apa? Beli makanan ayam dimana?" tanya Ali bersemangat sekali. Ia yang dulunya pendiam dan cuek kini berubah ramai dan suka bicara seperti anak kecil yang baru mengenal dunia nyata.
"Hehehe... Ayam ini seperti si Mbah. Makan yang ada saja. Sayuran, ya cacing tanah juga. Namanya juga ayam."
"Meooong..."
Ali tersadar kalau Hitam masih bersamanya.
Ia mengangkat tubuh Hitam kepangkuan dan mengelusnya lembut. Hitam sempat bereaksi dan memberontak. Tapi Ali mencoba memeluknya erat hingga kucing itu akhirnya pasrah dalam dekapan Ali.
"Mbah sedang apa?" Ali melihat panci yang ada di tungku yang menyala dekat kebun menggolak airnya.
"Rebus singkong. Kamu mau?"
"Wah, enak banget nih. Banyak rebusnya, Eyang?"
"Cukuplah untuk kita bertiga makan."
"Bertiga?"
"Iya. Itu, yang kamu gendong dan elus-elus itu. Dia paling suka singkong rebus."
"Iyakah? Wah, kamu suka singkong, Hitam? Gayamu mirip kucing Sultan, ternyata... suka makan singkong rebus juga. Hehehe... Lucunya!"
Ali mengangkat tubuh Hitam dan menggelitik lehernya hingga si Hitam menggeliat kegelian.
Mbah Marsinah tertawa. Giginya yang hitam berkarang tidak membuat Ali takut.
Kini Ali justru lebih bisa menghargai orang lain yang memiliki keanehan baik nama maupun penampilan.
Tuhan menciptakan manusia itu beragam. Seperti Pak Setan dan Bu Susanah. Keti juga. Kini Mbah Marsinah.
Ali kini belajar menghargai semua orang yang hadir di hidupnya.
Secara Ali pernah dicintai tapi ditinggalkan tanpa sempat Ia ucapkan secara benar rasa sayang dan cinta dihatinya kepada mereka yang sangat Ali cintai.
Ibu, Bapak, Firman juga Laila. Ali menyesal dulu selalu memendam perasaan tanpa ingin mengungkapkan apa yang Ia rasa apa yang Ia sayang.
Dulu Ali adalah orang yang pasif. Orang yang tidak banyak berkata-kata. Bahkan ketika bersama Firman dan Laila. Ia hanya jadi pendengar saja. Tertawa jika ada yang lucu dari cerita-cerita mereka.
Tidak berani melakukan interaksi lebih dulu karena malu yang berlebihan.
Ali minder karena miskin.
Singkong rebus menjadi perekat pertemuannya dengan Mbah Marsinah dan juga Hitam. Juga si Jalu, ayam jago Mbah Marsinah yang dikeluarkan dari kandang.
Sementara ayam si Mbah yang lainnya sepertinya sedang keluar mencari makan.
Ali tersenyum. Hitam melahap singkong rebus dengan nikmat.
Ternyata kucing juga suka rebus singkong.
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Raysonic Lans™
okay catty
2023-05-28
1
Kang Anto
hm lanjut thor
2023-04-13
0
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
2023-04-10
0