Dear Diary
Hari ke tiga puluh satu di malam berdesakan keramaian kota yang tidak pernah sepi.
Suara ketukan para penjual yang menjajakan dagangan berlalu lalang. Ramai orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Pulang di dalam durasi waktu dini hari tidak menimbulkan tanda tanya besar. Para penduduk kota terkesan masa bodoh tidak mau mencampuri urusan satu sama lain.
Berbagai jenis pekerjaan yang di lakoni. Tidak jarang banyak yang pulang hingga hampir menjelang subuh. Hidup di kota besar kalau tidak mempunyai pijakan kaki yang kuat akan menjadi gelandangan, bekerja sebagai pekerja rumah tangga atau melakukan hal yang melanggar nilai-nilai kehidupan.
...🔥🔥🔥...
Rita memesan tujuh nasi goreng. Meja makan di pagi hari lengkap dengan orang-orang yang biasanya langsung melakukan aktivitasnya sendiri. Seolah kak Rita memperlihatkan pada Hani bahwa keluarganya adalah keluarga yang harmonis. Nek Rina menyuapi Riky, dia juga memberikan obat seperti biasanya. Terkadang Bilqis mengambil alih pekerjaan Rina jika dia ada urusan di luar.
Entah bahagia atau sedih, wajah Bilqis melihat raut wajah ibunya yang gusar. “Bu, apapun keputusan ibu, Bilqis terima. Kalau ibu suruh Bilqis ikut pulang, ya Bilqis pulang” bisiknya pelan.
“Ehem, kak Hani. Gimana tidurnya nyenyak kan? Kakak sudah aku pesan kan tiket ya pokoknya semua persiapan perjalanan pulang udah beres”
“Ta, kamu ngusir kakak mu Hani?”
“Ya nggak lah bu. Kan kak Hani sendiri yang bilang bakal balik hari ini. Jadi Bilqis jangan di bawa ya kak.“
”Kakak sejujurnya sungkan merepotkan arun, rita dan nek Rina. Kakak lihat kehidupan disini sangat jauh dari kebiasaan di kampung.”
“Kak Hani tenang aja, Arun sudah memikirkan secara matang semua kebutuhan Bilqis.”
......................
Hani di paksa agar tidak membawa Bilqis pulang. Dia terpaksa mengikhlaskan meninggalkan anaknya. Dia memeluk Bilqis erat. “Kamu harus cerita ke ibu apapun yang terjadi di sini dan kalau mau pulang langsung kabari ibu ya biar ibu jemput. Jaga diri baik-baik.”
“Ya bu, Bilqis akan selalu mengingatnya.”
“Kak Bilqis, jangan luoa sering kasih kabar ya. Biasanya tiap pagi Risa ada yang temenin ke Bak Umum. Sekarang Risa sendirian. Hiks.”
Risa menangis memeluk kakaknya.
Pada periode lalu waktu di kampung. Bilqis dan Risa setiap pagi mengangkat air dari Bak pemandian umum. Mereka juga bekerjasama mencuci piring dan pakaian berdua. Minimnya air membuat warga kampung menerapkan sistem budaya antri demi mendapatkan air yang bersih.
Semua kepahitan, perjuangan hidup menempa Bilqis lebih kuat lagi. Dia mengantarkan ibu dan adiknya sampai depan gerbang halaman. Lambaian tangan hingga mobil tidak terlihat lagi. Seperti di film sinetron sandiwara yang usai, Arun dan Rita saling berbalik melanjutkan kesenangan pribadi mereka. Arun dengan dunianya, hampir setiap hari pulang pagi dari kantor. Begitu pun Rita menghambur-hamburkan uang, minum-minuman keras dan berfoya-foya.
“Nek_kan” suara Riky terbata menggerakkan tangan memasukkan ke mulut.
Dia masih kelaparan, pandangan Bilqis melihat kantong mata Riky sangat besar melebihi mata panda yang dia miliki.
“Nek, biar Bilqis aja ya yang ngurusin Riky hari ini. Sekolah Bilqis libur tiga hari selesai masa peristirahatan perkemahan.”
“Yasudah, jangan lupa kasih minum obat Riky setiap tiga jam sekali ya. Obatnya ada di atas nakas.”
Riky patuh menelan suapan dari Bilqis. Dia juga tidak melawan ketika di beri minum obat. Jarang sekali dia gampang beradaptasi dengan orang baru. Bilqis sangat hangat memperlakukannya sampai Riky suka meminta bantuan hal-hal kecil padanya.
......................
Banyak yang mengincar rumah mentereng itu. Tidak jarang orang yang. sekedar melewati bertanya isi dalam karena melihat mobil-mobil mewah yang setiap hari berjajar rapi saat garasi terbuka.
Pencuri mencari celah kapan rumah sepi. Siang ini mereka memperkirakan hanya ada dua orang di tambah penjaga pos di rumah. Seorang pria melompat pagar belakang. Dia memakai penutup wajah. Memanjat dari bagian pilar pendek melalui lompatan kecil ke balkon.
Braghhh__
"Bunyi apa?" gumam Bilqis meletakkan piring makan Riky.
"Kakak lihat apa yang jatuh tadi ya."
Bilqis menangkap bayangan pria berlari masuk dari jendela lantai atas. Tepatnya di lantai tiga. Dia langsung masuk ke dalam kamar Riky meraih ponsel memanggil Hera. Namun nomornya tidak aktif, dia meneruskan panggilan Barka yang juga tidak bisa di hubungi.
"Bagaimana ini?" gumamnya.
Nomor Arun, Rita, nek Rina dan Pak Yosep. Seolah semua orang menghilang. Pilihan terakhirnya memanggil Wijaya. Dokter muda yang baru saja melakukan operasi langsung meraih ponsel yang tertulis nama masa depan ku.
"Assalamu'alaikum, Bilqis. Mas senang kamu kasih kabar menelpon mas."
"Walaikumsalam. Kak Wijaya tolong ke rumah sekarang ya. Ada maling! Bilqis berdua sama Riky di dalam rumah"
"Tenang kamu jangan panik. Kunci pintu rapat dan tahan pintu pakai kursi dan benda lainnya. Mas akan segera datang membawa polisi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
wah, gila 😍
2023-05-10
0
༻𝐆⍟𝐓⁷༺
Bilqis bawa pulang
2023-05-08
0
opuna
di pukul dahi sampe benjol itu namanya penyiksaan. gila si Rita
2023-05-08
0