Tega

Mengambil sisi bumi yang bengkok melengkung pada pusatnya. Bumi wanita yang berusaha di luruskan namun pada dasarnya tetaplah bengkok. Bisa saja di paksa lurus maka alhasil akan menjadi patah. Perkara seorang wanita yang memiliki sisi kelembutan lebih besar dari laki-laki. Sosok peran wanita perasa, jika di coba di arah kan yang baik tapi semakin parah perilakunya. Namun membiarkan wanita tidak baik merupakan wujud ketidak berdayaan seorang laki-laki sejati menjadi peran imam pengayom biduk rumah tangga.

Rita kelewatan batas membawa pria yang berstatus sebagai pacar gelap masuk ke dalam vila. Bilqis mengernyitkan dahi, dia masih memakai mukenah berjalan menghindari panggilan Rita yang meneriakinya sangat keras. Berlari melewati pintu belakang, suara dering ponsel menghentikan langkahnya. Dia menepuk dahi nyengir menoleh merasakan tepukan di pundak.

“Heh, kak ini nek Rina sepertinya mau ngomong sama kakak”

“Kamu jangan ngaco, panggilannya saja belum di angkat. Nanti kalau nenek tanya bilang saja kakak lagi keluar!”

Rita berlari menutup mulut Deni, mereka masuk ke salah satu kamar. Bilqis baru saja menekan tombol hijau, suara tawa Rita seakan memperlihatkan dia menjadi tumbal kebohongan. Berjalan beberapa kilometer lagi hingga situasi aman. Bilqis berjongkok menerima telepon, tangan kanan meraih patahan ranting yang jatuh.

“Assalamualaikum nek, Bilqis dan kakak sudah sampai.”

“Walaikumsalam. Alhamdulilah kalau gitu. Dimana kakak mu?”

“Nggg…”

“Mana cepat nenek mau ngomong.”

“Kakak barusan keluar, nenek mau pesan apa nanti Bilqis sampaikan.”

“Kakak mu itu mirip setrika baju yang nggak mau berhenti. Kesana-kemari, apa nggak capek ya perjalanan jauh bukannya istirahat..”

Omelan panjang nek Rina yang seharusnya terlontar untuk Rita kini berpindah padanya. Bilqis mendengarkan nasehat bercampur amarah. Hampir satu jam nenek berhenti ketika terdengar panggilan Riky dari dalam telepon. Singkat saja dari kesimpula itu yang terpenting adalah Rita mengaktifkan handphonenya. Melihat kendaraan sedan silver belum keluar, dia menunggu di belakang Villa sambil memandang langit.

Di langit yang tinggi tanpa batas, semakin kita melihatnya tamapk kosong dan hampa. Hanya pergantian musim dan perhiasan malam yang menampakkan bulan dan bintang. Begitu pula matahari sumber kehidupan di bumi. Cuaca hitam, kabut dan gumpalan awan yang meratakan langit. Semakin kita tinggi mengejar menggapai cita dan harapan maka semakin hampa kosong menghadapi berbagai macam cuaca yang berpengaruh pada kota yang dia diami.

“Non kok nggak masuk? Di luar udaranya kalau malam mulai dingin”

“Eh si bibi bikin kaget saja. Sebentar lagi bi.”

“Bibi kenal pria yang di dalam nggak?”

“Oh, pak Deni. Anu non sebenarnya si mbok nggak mau ikut campur. Tapi..”

“Ada apa mbok? Cerita aja, aku nggak bilang ke kakak kok.”

“Sudah hampir satu pekan si mbok mengenal pria muda itu. Dia sepertinya sebaya dengan non,si Bibi takut kalau tuan besar Arun tiba-tiba datang kesini dan memergoki. Pasti Bibi dan mang urip kena semprot atau di pecat karena menghalalkan perbuatan mereka”

Si bibi menutup mulutnya yang seolah tidak mau berhenti berbicara. “Maaf non__” ucapnya lagi.

Pekerja itu ada benarnya, Bilqis memberanikan diri setelah pria itu pulang maka dia langsung mengambil kesempatan berbicara dengan kakaknya. Berharap perkataan di dengar, Rita menuangkan seluruh amarahnya. Suara bisikan kuat terdengar Deni yang masih menunggunya.

“Kamu tau apa? Tugas kamu hanya sekolah!”

“Sayang! Lama banget sih” panggil Deni.

“Iya tunggu sebentar!” jawab Rita melotot mencubit kecil lengan Bilqis.

Dia menahan tangisan, tidak sempat menyampaikan pesan dari nek Rina malah mendapat kecaman marah. Bilqis menyeka air matanya, dia tetap memantapkan diri tidur di luar. Malam semakin larut, udara menusuk tubuh, berpikir ulang masuk ke dalam sama saja membiarkan kakaknya melakukan hal senonoh. Dering ponsel panggilan bersama, Bilqis, Barka, Hera dan Fati.

Suara jangkrik terdengar nyaring. Teman-temannya menyerbu menanyakan letak posisinya. Bilqis hanya bisa menjelaskan bahwa dia sedang menemani kakaknya bertugas di luar kota. Berbohong itu sama dengan mengatakan hal yang tidak sebenarnya seolah-olah benat, untuk memperkuat kebohongan selanjutnya.

“Gais jangan lupa ya hari senin lihat pertandingan basket, aku nggak semangat kalau nggak ada kalian. Hihih”

“Ya, kalau kami lagi nggak males” ucap Fati membalas tawa kecil.

“Bener tuh! Tapi kalau ada cogan yang mirip oppa-oppa korea aku mau deh”

“Yaudah ntar loe gua kenalin sama si oppa. Dahh” tutup Barka.

Hari sulit belum berlalu, sisa energi harus di manfaatkan sebaik-baiknya untuk tegas melangkang menyongsong masa. Jendela berembun, sinar mentari yang bersembunyi di balik awan gelap. Wajah pucat di sela tubuh menggigil, Bilqis masuk ke dalam setelah beberapa menit melihat mobil Deni pergi.

“Bilqis! Dari mana kamu?”

“Duduk di belakang kak.”

“Kok wajah kamu pucat gitu. Kamu habis tidur di luar? Mau jadi pemeran bawang putih, kamu kakak siksa gitu? Apa kata kak Hani nanti kalau kamu sakit dan tidak terawat disini? Kamu senang ya kakak di musuhin saudara sendiri?”

“Maafkan aku kak..”

Mengomel panjang kali lebar. Bilqis perlahan menyampaikan pesan nek Rina padanya. Sikap Rita tetap sam, acuh enggan memperdulikan keluarga. Dia hanya meneruskan kesenangannya dengan mengatakan aka nada tamu dan pesta kecil yang di adakan. Bilqis hanya bertugas memperhatikan barang-barang mewah yang terpajang di setiap sudut dan di dalam lemari.

......................

Kalau di kampungnya, pesta itu gambaran sebuah acara besar yang di hadiri banyak orang. Para tetangga terdekat hadir membantu. Ada yang memasak di dapur, menyiapkan keperluan rumah bahkan membantu tenaga secara sukarela. Bilqis mengira pesta yang sengaja di adakan mendadak karena Rita pasti ada keperluan yang sangat penting.

Selama di rumah besar, dia tidak pernah melihat Rita bekerja di perkantoran. “Lalu pesta apa yang kakak maksud?” gumam Bilqis.

Dia bergegas menyiapkan diri, acara dadakan ini akan menyita waktu bahkan sang kakak tidak memberitahu jam berapa acara itu di mulai. Suara bel berbunyi, langkah kakinya kurang ceoat dari bi Vita yang melihat kedatangan beberapa pria membawa beberapa kotak makanan dan keranjang buah.

Tidah hanya itu, ada beberapa mobil yang membawa beberapa peralatakn dekorasi. Tangan Bilqis di tarik Rita saat akan membantu bi Vita. Dia menggeleng kepala.

“Kamu lupa pesan kakak?” bisiknya.

“Tapi kak, yang namanya pest pasti banyak keperluan yang harus di selesaikan.”

“Kamus sekarang kok banyak tapinya. Ganti baju kamu yang elegan dikit. Itu rambut anak kampung juga kepanjangan. Besok kakak akan bawa kamu ke salon.”

Apa yang di pikirkan kak Rita memang ada baiknya. Menyamakan kebiasaan kota dan perkampungan sangat lah jauh bahkan tidak tercapai. Kehidupan Bilqis mulai di atur, tradisi lama dia hilangkan hingga kebiasaanya harus sama dengannya. Bilqis tetap menolak jika ada hal yang tidak berkenan baginya. Berpakain seksi bukan lah kepribadiannya.

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

makin seru 👍

2023-05-06

0

Tanah Karo

Tanah Karo

keterlaluan rita

2023-04-24

0

༶•┈┈⛧┈♛jemin

༶•┈┈⛧┈♛jemin

mohon maaf lahir batin kak

2023-04-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!