Penculikan

“Itu si Bilqis gimana sekarang ya. Aku jadi khawatir” gumam Rina.

“Bi Sum, Bi!”

“Ya Nona?”

“Cepat bilang ke pak Yosep siapkan mobil. Kita susul si Bilqis pulang.”

“Mau di susul kemana non? Pak Yosep pasti nggak tau rute nyonya Rita membawa nyonya Bilqis. Yang ada nyonya pasti pusing keliling kota” ucap Sumi.

“Kut-nek”

Ucapan Riky terbata minta ikut membuat Rina menjadi berat melangkah keluar.Kesehatan cucunya itu menurun. Dia menekan kepalanya yang sakit melihat nasib cucunya yang malang. Alhasil Rina menunggu kepulangan mereka di ruang tamu. Pukul satu dini hari, Riy sudah tertidur lelap di atas sofa sedangkan nek Rina masih berdiri mondar-mandir menyibak tirai.

“Lama sekali!” gumamnya.

Suara klakson mobil memasuki halaman, Tawa nyaring suara para wanita melambaikan tangan. Rita seperti orang gila mengangkat kedua tangan yang terdapat sepatu high heels. Bilqis membantunya masuk ke dalam. Jalannya tidak simetris, Bilqis kekusahan menopang tubuhnya yang berat. Di pintu ada bi Sumi membantu Rita masuk.

“Tunggu bi, nenek mau memberikan pelajaran sama anak ini!”

Tangan nek Rina memegang erat kemoceng. Dia mengayunkan kemoceng ke betis Rita, wanita itu sontak kaget menghindari pukulan selanjutnya. Rita berlari di kejar Rina dari belakang. Dia memanjat ke salah satu rak lemari yang sangat tinggi.

“Turun kamu! Udah kamu suruh ngapain aja si Bilqis? Mau buat malu mami? Kamu mau mami di serbu satu kampung kalau terjadi sesuatu sama si Bilqis?”

“Ampun mi! Rita Cuma mau tunjukin hidup keras di kota besar. Mami tenang aja ya. Bilqis nggak Rita ajak macem-macem kok. Heheh!”

-l

......................

Dear Diary

Malam selarut ini aku harus berkecambung dengan waktu. Tugas PR menanti di sela rasa kantuk memberatkan mata. Banyak pengalaman berharga, dunia yang belum pernah aku lihat terpampang keaneka ragaman cara bersosialisasi. Semoga hari ini aku tidak terlambat masuk ke dalam kelas dan bisa menyelesaikan semua PR dengan baik.

...🔥🔥🔥...

Harapan singkat di mulai bunyi dering jam beaker nyaring terdengar. Bilqis melirik jam tujuh tepat. Dia bergegas masuk ke kamar mandi. Dalam waktu singkat membereskan buku-buku pelajaran yang berserakan di atas meja belakar. Dasi belum di lipat, tergantung di lehernya berlari memikul tas dan botol air minum.

“Selamat pagi nek” sapanya mencium punggung tangan lalu meraih selembar roti selai kacang.

“Bilqis, makanannya di habiskan dulu baru pergi sekolah”

“Maaf nek. Bilqis buru-buru. Bilqis makan di mobil ya nek”

Laju kencang kemudi pak Yosep sukses berhenti tepat bel berbunyi. Bilqis berlari memasuki gerbang, Botol airnya tanpa terasa terjatuh. Barka berlari mengejar, tapi dia sudah masuk ke dalam kelas.

“Yah, cepat sekali lari nya” gumamnya membawa botol minum merah muda ke dalam kelasnya.

Di dalam kelas, Bilqis seperti biasa meletakkan tasnya ke dalam laci. Namun ada yang berbeda melihat di atas meja bertabur bunga mawar dan di dalam laci banyak bucket bunga segar tanpa nama. Bilqis berpikir apakah Wijaya yang melakukannya.

“Wah! Panen bunga nih!” ucap Siris.

“Nggak ada namanya. Kamu mau?”

“Nggak deh. Di kasih bunga gitu emangnya aku udah meninggal? Huhh!”

Drama bunga-bunga tanpa nama bersambung sepotong coklat yang di terima Bilqis pada saat jam istirahat pertama. Siswa bertubuh gemuk menyodorkan coklat kemudian buru-buru pergi.

“Hei tunggu! Ini dari siapa?” panggil Bilqis melihat siswa itu masuk ke dalam kelas Barka.

Bunyi bel masuk terdengar pengumuman seluruh siswa kerja bakti membersihkan ruangan kelas beserta halaman. Barka menghampiri menunjukkan senyum gigi pepsodent. Dia menyodorkan botol minum miliknya.

“Nih, pasti kamu nggak terasa kan botol kamu jatuh tadi pagi?”

“Terimakasih, ya aku buru-buru. Oh ya kamu kenal siswa gendut yang ada di kelas kamu nggak Bar?”

“Siapa? Ada tiga siswa bertubuh gendut.”

Percakapan mereka bersambung sambil mencabuti rumput di area taman kelas. Setiap ketua kelas mencatat murid yang aktif bekerja atau bersantai duduk di bawah pohon. Melihat Barka tidak ada di area kelasnya, dia berpikir Barka melarikan diri dari tanggung jawab.

Nomor satu, siswa yang tidak aktif bernama Barka. “Eh, tadi si Barka aku lihat di kelas A” ucap Topik.

Si ketua kelas memastikan posisi Barka disana. Dia sibuk membantu menyapu halaman. Pikri mengeluarkan volume pita suaranya sangat keras sampai mereka berdua menjadi pusat perhatian murid lain. “Bar, kamu udah pindah kelas ya sekarang? Rajin banget di kelas A!”

Plakkk__

Pukulan ringan mengenai kepalanya. Barka menarik Pikir berjalan ke kelasnya. “Memang apa bedanya? Semua kelas milik sekolah ini bukan? Buat malu aja lu!”

“Sorry Bar, gitu aja sensian!”

Barka menoleh ke setiap siswa yang bertubuh gemuk di kelasnya. Dia jadi penasaran hal apa yang di tanyakan Bilqis. Dia ingat sekali ada salah satu yang pernah bertanya nama siapa siswi yang pernah duduk di dekatnya. Barka mencari tau semua kejanggalan itu hingga mendengar kabar kalau Tito bertubuh gemuk membawa bunga bucket masuk ke kelas tiga A.

“To sini lu. Kamu tadi pagi ngapaian mengendap-endap masuk ke kelas Bilqis? Jangan-jangan kamu ya yang letakkan bunga di lacinya?”

“Hihhh, habisnya siswi pindahan itu cantiknya natural Bar. Isi dompetnya juga tebal.”

“Kurang ajar! Awas lu berani macam-macam sama sahabat gue. Gue kempesin perut lu! Paham?”

“Ampun Bar!”

Tito memasang wajah mengejek dari belakang, dia berencana menculik Bilqis. Siswa yang terlihat cupu itu ternyata ketua preman pengkolan di gang dekat sekolah. Dia menerima kabar dari anggotanya bahwa Bilqis selalu di antar jemput oleh mobil sedan hitam dan penampilan bagai anak konglongmerat. Bel pulang belum berbunyi, para murid masih sibuk mempersihkan sekolah. Bilqis di tarik oleh pria berpakaian biasa ke area belakang sekolah.

Brughh__

Tendangan Bilqis mengenai selakangan pria itu. Dia kesakitan tidak bisa mengejar Bilqis, di depan ada Tito menghadang dengan merentangkan tangan. Bilqis anak kampung yang terbiasa menghadapi segala rintangan, dia mencakar wajah Tito lalu melemparkan pasir ke arah matanya. Dia berteriak minta tolong, para penjaga sekolah memergoki beberapa pria masuk ke wilayah sekolah mengejar gerakan mereka yang sangat cepat.

“Bilqis, kamu nggak apa-apa?” tanya Barka.

“Nggak apa-apa. Aku sedikit kaget aja.”

“Ntar pulang sekolah kamu jangan sendirian ya. Pasti orang-orang tadi masih mengincar.”

Laporan di surat kabar melayangkan seorang siswi yang hampir menjadi korban penculikan. Arun menutup layar televisi yang ada di kantornya. Dia menelepon sekertaris agar menghandle semua rapatnya. Pada saat itu juga Arun menjemput Bilqis, dia sebelumnya meminta ijin kepada wali kelas agar besok melakukan pertemuan ke pihak sekolah.

“Tumben bang jemput Bilqis. Kan ada pak Yosep”

“Abang harus memastikan kamu baik-baik saja. Abang dan kak Rita menanggung jawab in kamu seutuhnya. Tidak biasa ada preman yang berani masuk ke sekolah dan berani lakukan percobaan penculikan. Kamu ingat ciri-cirinya?”

“Ya bang..”

Detak jantung Bilqis mulai normal, dia di bawa Arun ke polsek memberikan keterangan. Rita terpaksa menunda arisan di salah satu perumahan elit mendengar Arun pulang lebih awal membawa Bilqis. Mendengar semua cerita dari Arun, dia melotot menekan Arun agar secepatnya mengusut masalah ini.

“Pokoknya kabar ini jangan sampai terdengar sama nenek. Aku nggak mau kena ceramah dan omelannya. Kamu harus penjarakan preman yang berani mengganggu sepupu mu itu” ucap Rita melipat kedua tangannya.

“Ya, mas sudah menyewa seorang pengacara dan menyerahkan kasus ini ke pihak yang berwajib. Yang penting Bilqis baik-baik saja.”

kata Arun sambil melonggarkan dasinya.

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

suka banget 😍

2023-05-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!