Menolak Wijaya

Kegiatan ekstrakulikuler yang di adakan di luar campur tangan pihak sekolah. Pertandingan sepak bola dengan dana pribadi tiap-tiap murid. Beberapa siswa berkumpul di bawah pohon membicarakan anggaran dana yang membuat mereka kebingungan.

“Kalau dana sebanyak itu, uang yang kita kumpukan tidak lah cukup” ucap ketua tim.

Hera biasanya penyumbang dana terbesar, tapi kali ini dia tidak bisa membantu karena perusahaan ayahnya sedang di ambang kebangkrutan. Para siswa itu mencari solusi hingga melihat Hera yang sangat akrab dengan Bilqis. Salah satu dari mereka menariknya, mereka minta tolong agar membicarakan pinjaman pada sahabatnya itu.

“Kalian aja gih yang bilang, ntar aku yang temenin” ucap Hera menghela nafasnya.

Perlahan beberapa siswa itu memberanikan berbicara pada Bilqis yang asik bermain badminton. Dia berhenti melihat Hera di ikuti beberapa murid yang sering mengganggunya.

“Kamu kok bawa mereka sih Her, aku sering di ledekin tuh. Terutama yang botak itu. Gombalin versi buaya darat” ucap Bilqis.

“Heheh, maaf kan kami non.”

“Ih, kok non sih?"

“Mereka temen aku. Kalian sih gangguin mulu. Kenali ini Bilqis sahabat aku”

Satu persatu mereka berjabat tangan.

Menyampaikan maksud dan tujuan beberapa kata di selipkan menggunakan nama Hera sebagai jaminan. Berpikir Bilqis membuka hati akan meminjami mereka karena sikap mereka yang selalu mengganggunya.

“Kalian mau berapa?” tanya Biqis.

Ketua tim berat menyampaikan total nominal yang mereka butuhkan. Mulutnya mendadak tertutup rapat. Hera mencubit kecil lengannya hingga terlontar kuat.

“Lima ratus ribu rupiah”

“Nah aku kasih..”

Bilqis mengambil dompet di dalam saku. Dia memberikan Sembilan ratus ribu rupiah tapi dengan syarat itu adalah uang terakhir dan mereka tidak boleh meminjam padanya lagi. Pemberian Bilqis di luar dari pemikiran mereka. Jika di tambah seratus ribu maka genap satu ikat. Siapa yang mengira peran gadis kampung seorang siswi pindahan sekolah ke kota membawa uang sebanyak itu?

“Terimakasih banyak Qis. Kalau kamu nggak percaya kamu ntar sore datang ya ke pertandingan kami” ucap si ketua tim.

“Kalau ada waktu aku singgah deh..”

Dia hampir melupakan janji pada Wijaya, dokter itu telah lama menunggu di depan pintu gerbang. Seperti patung figura, lagi-lagi dia menjadi pusat perhatian para murid. Bilqis menghampiri lalu menoleh melihat mobil sedan milik kakaknya datang menjemput.

“Kakak nggak bisa ngomong disini. Kita makan sebentar yuk” ucap Wijaya.

“Uhuk, ehem. Duh ada yang mau nge-date nih” bisik Hera.

“Jangan ngomong sembarangan ya!”

Bilqis takut pak Yosep akan memberikan laporan khusus pada Rita. Sepanjang perjalanan jantungnya bedegup kencang. Dia enggan masuk ke dalam mobil WIjaya. Meminta pak Yosep menunggu sebentar dengan alasan ada kerja kelompok di sekolah yang harus di selesaikan.

Makan di kantin bersama WIjaya. Pria itu mengisyaratkan Bilqis segera menjawab semua perkataan yang di nyatakan.

“Kakak mau serius melamar kamu setelah kamu selesai sekolah. Kamu jangan sama siapa-siapa ya dik..”

”Kak, Bilqis belum mikirin masalah pernikahan. Bilqis dari kampung ke kota demi melanjutkan sekolah. Kakak sama wanita lain aja ya, Bilqis nggak bisa kasih harapan lebih.”

Bilqis berlari, dia lupa telah meninggalkan telepon genggamnya. WIjaya mengejar namun laju mobil jemputannya telah meninggalkan pintu gerbang. Wijaya membuka layar ponsel yang tidak terkunci itu melihat kontak nama-nama panggilan.

“Dia nggak ada gebetan atau cowok lain. Aku pikir tadi dia menolak karena udah ada yang punya” gumam WIjaya.

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

makin seru 😍

2023-05-08

0

♡ I Love U ♡

♡ I Love U ♡

di tolak mentah-mentah

2023-05-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!