Teringis

Pertengkaran di rumah itu terdengar lemparan benda-benda ke luar kamar. Bilqis mendengar suara caci maki yang di keluarkan kak Rita. Dia mendengar kakaknya setelah memaki mengatakan akan pergi dari rumah, bagaimana dengan dirinya. Nek Rina keluar kamar, dia melihat pertengkaran itu lalu mengatakan akan ikut pergi.

Lalu aku bagaimana?

Bilqis bersiap mengemasi pakaian, jika kakak dan neneknyaa pergi pastilah dia juga wajib angkat kaki dari rumah itu. Dia tidak memiliki uang untuk ongkos pulang kampung, berpikir akan mencari kerja serabutan di kota besar di sela membiayai sekolahnya. Bilqis membuka koper, dia memasukkan semua barang-barangnya.

Air mata menetes, keputusan ikut saudara berharap dapat meneruskan sekolah berakhir bahkan dia baru menginjak kaki di tanah orang dalam waktu satu minggu. Arun menarik tas rita, dia menarik masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari luar. Pria itu menuruni anak tangga lalu menuju gara mobil. Dia melaju kencang membawa mobil itu tanpa berpamitan dengan nek Rina yang sedari tadi melihat pertengkaran mereka.

Dia mengelus dada, membuka pintu kamar terlihat Rita tertidur membelakanginya. Dia paham bagaimana sifat anaknya. Si mbok yang berdiri di sampingnya membawa tasnya kembali ke kamarnya.

“Bilqis nggak sekolah? Sudah jam berapa ini?”

“Iya nek ini mau siap-siap berangkat__”

......................

DI dalam kamar, Rita membuka layar ponsel. Dia membuka sebuah pesan singkat. Isi dari pesan itu menggantikan wajahnya yang kusut menjadi segar kembali.

Rita jalan yuk.

Kita ada mangsa baru nih, kamu pasti suka deh

Rita melompat dari kasur bersiap meraih tas selempangnya. Dia terbilang wanita natural tanpa operasi plastik seperti para wanita kaya lainnya. Hidungnya mancung, bibirnya yang seksi dan kulitnya mulus. Fostur tubuhnya tinggi, lekukan tubuh bagai biola. Mungkin hal itu yang mmebuay Arun tergila-gila olehnya.

Seperti biasa dia mengemudikan mobil sendiri. Pak Yosep hanya di khususkan mengantar jemput Bilqis dan Riky. Sebelum pergi, dia membuka brankas suaminya dengan nomor kode yang selalu dia ingat luar kepala. Lima juta rupiah, dia juga membawa kartu kredit untuk berjaga-jaga.

Pertemuan di sebuah tempat karokean. Mereka memesan ruangan VIP dan beberapa kamar lainnya. Kali ini para wanita berpakaian seksi itu berpasang-pasangan. Saling bercanda bergantian bernyanyi kesukaan mereka.

“Sini deh Ta, gua mau bisikin sesuatu.”

“Apaan?”

“Lakik lu udah kaya tapi kenapa lu cari sampingan lain?”

“Lu jangan bawel sus, selagi masih hidup ya kita nikmati kesenangan dunia. Udah ah gua di tunggu mas Deni.”

Perselingkungan Rita tidak terlepas dari pembalasan dendamnya di masa lalu. Arun yang ketahuan menikah lagi dengan seorang gadis yang umurnya sangat jauh darinya. Permintaan maaf Arun tidak akan pernah bisa mengobati luka di hatinya. Rita bertekad seumur hidup membalas rasa sakit hatinya itu.

Mereka berencana melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dua mobil itu menepi di pinggir jalan. Seolah tiga pasang pria dan wanita yang sudah berumur itu bertingkah seperti usia muda. Rita memiliki dua handphone. Satu khusus pacarnya Deni dan satu lagi untuk keluarganya. Dia tidak pernah meminta sepeserpun dari Deni, seolah pria itu adalah pria bayaran yang siap sedia saat dia panggil.

......................

Terlambat bahkan lewat sampai dua puluh lima menit. Bilqis berdiri menghormat bendera dan di beri hukuman membersihkan perpustakaan. Dia masih sedikit lega karena meskipun tidak masuk ke dalam kelas tapi bisa mengumpulkan tugas dan buku-buku pelajar yang sudah dia beli .

Awan menggumpal membentuk kabut hitam tebal. Perlahan gerimis membasahi Bilqis yang masih bertahan berdiri di tengah lapangan. Barka datang menutupi dengan jaketnya, manik mata Bilqis membolang gerakan tangannya mendorong sejauh-jauhya.

“Memangnya kau pikir aku wanita murahan yang gampang di dekati laki-laki gitu? Pergi!”

“Bilqis, daku tidak berniat jahat atau berpikir engkau wanita seperti itu. Hujan akan semakin deras, ayo kembali ke kelas. Oh iya ini untuk mu dan__” perkataannya terputus.

Sebuah bucket titipan kak Wijaya yang belum sempat dia katakan membuat dirinya terlihat bertambah marah. Para murid yang melihat bersorak berpikir Barka sedang menyatakan cinta padanya.

“Oh so cuit ! uhuk!”

“Asikk! Jadian dong!”

“Cuit_cuit!”

Bilqis berlari masuk ke dalam perpustakaan, hukuman selanjutnya harus segera dia selesaikan. Mengesampingkan kelakuan Barka, dia sudah puas mempermalukannya dengan membuang bucket tepat di depan semua orang.

“Anak laik-laki itu pasti membeli bungkusan bunga ada permen dan boneka itu sangat lah mahal. Kasihan sekali uang orang tuanya Cuma di habiskan membeli benda yang tidak berguna. Pasti si Barka sering memikat hati wanita dengan pemberian seperti itu lalu dia kurang ajar menyentuh wanita-wanita yang berhasil dia inginkan” gumam Bilqis sambil meletakkan beberapa buku yang dia bawa ke bagian-bagiannya. Dia mengangkat tangga kecil, naik menyusun buku bagian atas.

Tangannya berusaha meraih buku ensiklopedi tebal. Dia menyusun hingga kakinya tidak berpijak sempurna di atas tangga.

Brugh_

“Aduh!”

Bilqis terjatuh. Karena berpegangan pada rak, buku-buku itu terjatuh tepat menimpanya. Barka menahan rak. Dia mendorong kuat, mengembalikan ke posisi semula.

“Kamu ceroboh banget sih Bilqis!”

“Terimakasih” jawab Bilqis datar melengos meninggalkannya.

“Mau kemana? Terus hukuman ini aku yang terusin gitu?” celetuk Barka.

Bilqis yang sudah terlanjur emosi, menarik Barka keluar. Dia membanting pintu perpustakaan, di luar Barka mengetuk memanggilnya. Suaranya yang keras terletan gemuruh petir yang menggelegar. Bel tanda kelas berakhir, para murid berdesakan berlomba keluar gerbang.

“Barka, kamu ngapain? Kayak anak minta pintu emaknya biar di bukain” ucap Fati.

“Berisik. Jangan ganggu,”

“Huh dasar anak mami!” cercanya memasang ekspresi mengganggu.

Wijaya menunggu di depan gerbang sedangkan pak Yosep memantau Bilqis yang tidak muncul-muncul. Karena sangat lama menanti, dokter muda itu masuk ke dalam gedung sekolah. Dia berkeliling hingga melihat Barka duduk di depan pintu.

“Dik kamu ngapain disini? Mana Bilqis?” tanya Wijaya.

Barka hanya menjawab dengan gerakan jari telunjuk. Wijaya menggedor pintu memanggil namanya.

“Kak Wijaya tolong aku!”

“Bilqis sebentar, kakak akan mendobrak pintu ini”

Wijaya dan Barka masuk ke dalam melihat Bilqis terduduk di lantai sambil memegang kakinya. Dia meringis kesakitan, Wijaya memeriksa perlahan memijat kakiny yang tampak terkilir.

“Pintunya kok kamu kunci dari dari dalam?” tanya Wijaya.

“Kami habis berantem kak__” lirik Bilqis melihat Barka.

Perlahan Wijaya dan Barka membantu Bilqis berjalan. Di depan gerbang hanya terlihat mobil Wijaya. “Kemana perginya pak Yosep?” tanya Wijaya.

“Mungkin pak Yosep menjemput Riky, salah ku terkena hukuman karena terlambat hadir ke sekolah. Riky pasti lama menunggu karena pak Yosep seperti biasa menjemput ku terlebih dahulu”

“Kamu kakak kantar pulang saja ya. Nanti biar kakak yang mengabari pak Yosep__”

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

lanjut 😍

2023-05-04

0

Utari💥

Utari💥

up

2023-04-09

0

Meica

Meica

love

2023-04-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!