Riki di bawa pulang, di kamarnya terpasang peralatan medis. Setiap hari Arun melakukan pembayaran penuh. Tampaknya hari ini Bilqis bisa tidur tenang, dia meluruskan kaki menghadap ke jendela. Keheningan ini hanya sebagian wujud nyata, dia mulai membaca sifat Rita yang tidak tentu arah. Panggilan alarm, suara nyaring Rita menjerit menembus sela ventilasi udara.
“Bilqis! Bilqis kemari lu!”
“Ya kak..”
Gerakan cepat kakinya tanpa sengaja menginjak sandal boneka yang menghalangi orang masuk.
Brughh__
Bilqis tersungkur. Dia meringis posisi tubuh berdiri tertatih mendekati Rita.
“Besok kamu absen, kakak sendiri yang akan menelepon wali kelas mu.”
“Kenapa kak? Maaf kak hari ini aku belum belum sempat melihat Riky. Aky baru saja sampai.”
“Riky sudah di tangani perawat yang sengaja di datang kan abang mu. Mala mini kamu berkemas, kita akan piknik ke puncak. Teman-teman kakak lagi pada sibuk bulan ini.”
“Ya kak..”
Bilqis terpaksa mengangguk setuju, dia tidak tau akan di ajak kemana. Berbekal baju dan perlengkapan seadanya, Bilqis tidak lupa tetap membawa mukenah. Rita tidak seperti gambaran seorang ibu, anaknya baru saja mengalami penurunan kesehatan. Dia setiap hari berjuang melawan penyakit kanker yang di derita. Tidak terlihat rasa kekhawatiran, sore berganti malam sang ibu menghidupkan musik barat di dalam kamarnya.
“Nek, nenek nggak makan?” tanya Bilqis bertanya dari luar kamar.
Wanita itu tidak menjawab. Ketukan pintunya juga tidak di gubris. Bilqis menghela nafas, dia melanjutkan langkah ke kamar Riky. Seorang suster memperlihatkan wajahnya yang ketakutan. Dia menggigil menoleh ke belakang.
“To, to, tolong saya mbak. Saya mau di bunuh anak itu. Arghh!”
“Suster mau kemana?” teriak Bilqis.
Riky memegang dua jarum suntik berukuran besar. Dia berdiri di depan Bilqis, merengut menganggkat tangannya.
“Kakak mau di suntik? Kakak kan nggak sakit. Kamu nggak sayang sama kakak ya?” ucap Bilqis setengah ketakutan.
Anak yang berkebutuhan khusus itu menyisakan hati kecil. Dia menurunkan jarum bahkan melemparkannya ke lantai. Gerakan kata yang sulit, perlahan Bilqis membaca setiap kata yang dia ucapkan.
“Kak, suster itu jahat. Aku nggak mau di suntik lagi”
“Kakak akan mengatakannya pada ayah dan ibu mu asal kamu mau berjanji menjadi anak yang baik dan tidak menyakiti orang lain.”
“Setuju..”
Jari kelingking keduanya menunjukkan kata janji. Bilqis benar-benar bisa mengendalikan anak itu. Ucapan anak autis yang meminta pertolongan. Suster itu tidak bersalah, dia hanya menjalankan tugasnya. Di malam hari, Riky meminta Bilqis menemaninya tidur di kamar.
“Tidak-tidak, Riky sudah besar. Kamu harus jadi anak laki-laki yang pemberani. Benar tidak?”
“Ju---“
Maksudnya setuju. Senyuman Bilqis lalu mengacungkan jempol ke arahnya. Terbitnya sang fajar ini membarikan pengalaman dan hari baru. Lembaran kehidupan di kota besar memperlihatkan kesibukan orang yang seperti biasanya menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Persiapan menuju puncak, Bilqis masih bertanya di dalam benak mengapa sang kakak tidak merawat Riky saja di dalam rumah. Mendegar suster bayaran tidak sanggup menjalankan tugas, Rita hanya tertawa menggelengkan kepala.
“kakak kenapa ketawa?”
“Ya, ya, selain aku, nenek dan si mbok. Siapa lagi yang bisa merawat anak itu? sudah jangan di pikirkan, kalau nurutin si Riky kita bisa ikut sakit jiwa.”
“Kak! Dia itu anak kandung kakak! Kenapa kakak sekasar itu?” gumam Bilqis mengerutkan dahinya.
Mbok Sumi di beri tanggung jawab mengurus Riky. Dia memberitahu jam-jam berapa saja Riky harus meminum obatnya. Nek Rina tidak mau keluar kamar. Rita melarang Bilqis memaksanya keluar.
“Aku cepat selagi udara masih sejuk. Perjalan ke puncak lumayan cukup lama.”
“Kita berdua aja kak?”
“Ya, Cuma kita dua aja. Kalau kakak nggak ngajak kamu pasti abang kamu nggak kasih ijin kakak pergi.”
......................
Kegilaan Rita di mulai kakinya melangkah di depan pusat perbelanjaan. Pikiran Bilqis melalang buana.
Apakah kakak ku ini sedang setengah sadar? Bilqis mengikuti dari belakang. Rita berhenti memebeli dua jaket, dua stel baju renang dan beberapa makanan tingat. Membayar cash nominal sepuluh lembar uang ratusan, mereka kembali masuk ke dalam mobil meneruskan perjalanan. Rambu-rambu merah lalu lintas, Bilqis hanya melihat satu jalan menuju kesana.
Mecet panjang menyita waktu berjam-jam, di tengah cuaca yang panas. Bilqis mulai gelisah, dia tidak pernah berhadapan dengan kerumitan alam luar yang menyesakkan hati dan pikirannya.Sejak kecil, Bilqis memang sudah berhadapan dengan kehidupan yang keras.
“Rasa-rasanya seluruh isi perut ku akan keluar” gumamnya.
“Kak bisa berhenti sebentar nggak aku mau muntah. Uhmm__”
“Pak supir cepat menepi! Sedikit aja kamu muntah seisi mobil aroma parfum muntahan kamu. Perjalanan masih panjang loh! Haduh! Dasar udik!”
Setelah mobil berhenti, Bilqis keluar buru-buru mengeluarkan seluruh rasa mualnya. Rita menepuk jidat, antrian semakin panjang beriring suara klakson panjang menunggu mobil mereka jalan. Rita menyodorkan sebotol aqua. Semula mobik ber AC kini jendela di buka selebar-lebarnya.
“Nah, aku lebih suka angin alam kak."
“Kamu duduk di atas mobil aja kalau gitu. Heran, emang nggak bisa jadi orang kaya. Semua-semua ngeluh, bete kakak lihat lu”
“Maaf kak , aku belum terbiasa..”
Wajah pucat Bilqis, lima kantung plastik muntahan. Bilqis lemas tidak sanggup harus memuntahkan kembali. Dia pasrah jika pingsan karena batas ketahanan tubuhnya.Tiga jam berlalu, mobil sedan hitam terparkir di depan villa. Seorang pria tersenyum sumringah, wajah yang tidak asing itu memperhatikan Bilqis, balasan senyum mengangguk. Dia membantu membawa tas dan koper masuk ke dalam rumah.
“Bibi mana mang?”
“Bi Vita baru saja selesai membersihkan Vila non, kemungkinan nanti siang kembali lagi. Maaf nyonya, sebelumnya nyonya tidak memberi kabar. Kami tidak ada persiapan apapun.”
“Halah, kamu tau kan saya datang tidak tau pasti. Asal kalian bekerja sesuai tugas maka saya tidak masalah.”
Mang Urip menunduk. Di dalam Vila yang sangat besar, Bilqis di perbolehkan memilih kamar manapun yang dia suka. “Kamu mau ikut kakak bareng mas Deni?”
“Mas Deni siapa kak?”
“Pacar kakak lah, siapa lagi.”
“Loh, kakak kan udah ada suami. Kasian bang Arun kak”
“Kamu tau apa soal sebuah hubungan? Memangnya kamu mengira dia adalah pria yang setia? Hahah, yasudalah kamu di Villa aja. Kalau butuh sesuatu, kamu panggil bi Vita dan mang Urip.”
“Tapi kak__”
Bilqis masih berstatus seorang pelajar yang menumpang bahkan di biayai hidup dan di sekolahkannya. Dia tidak bisa menentang atau menasehati Rita. Di depannya bang Arun tampak seperti lelaki yang sangat setia. Dia juga tidak pernah marah dengannya. Bilqis terkejut mengetahui sifat Rita.
“Aku harus bagaimana bu? Apa aku harus pulang ke kampung saja?” gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
semangat dan sukses selalu 😍
2023-05-04
0
Siju
lama up miss
2023-04-20
0
cimol🐯
nunggu bilqis serasa menunggu antrian beli sembako
2023-04-19
0