Wijaya maju tak gentar menunggu Bilqis membuka hati. Dia memberanikan diri mengikuti Bilqis hingga mobil sedan itu memasuki area pekarangan rumah. Di dalam sana, ada Rita bertolak pinggang. Bajunya sedikit terbelah menampakkan lingkar daerah dadanya yang seksi.
“Mau ngapain lu?” tanyanya melengos melipat tangan.
“Permisi kak, Bilqisnya ada?” tanya Wijaya sopan.
“Gua perhatikan lu mau gebetin adik gua. Udah bisa nafkahi dan bahagiakan adik gua berapa ratus juta lu? Baru jadi dokter aja udah belagu! Jangan karena lu anak temen suami gua lu jadi memanfaatkan situasi ini!”
Suara keras omelan Rita terdengar memenuhi ruangan di sumah besar itu. Lisa melihat dari atas tangga. Ada Wijaya menunduk menunggu Rita melanjutkan amarahnya. Bilqis tidak tega melihat Wijaya, dia menuruni anak tangga. Melihat amarah kakaknya masih meluap-luap. Dia berjalan mempercepat langkah menuju ke dapur.
“Mas Wijaya pulang aja deh, kakak marah besar tuh”
“Nggak, mas terima semua yang di katakan kak Rita itu benar. Belum bisa mas membahagiakan mu. Mulai sekarang mas akan berusaha berjuang untuk mu.”
Melihat Bilqis berdiri di dekat Wijaya membuat amarah Rita semakin tidak terkendali. Di tangannya ada satu baskom berisi air dia siram ke sekujur tubuh Wijaya.
Byurr__
“Masuk ke dalam lu Bilqis! Dan kamu pergi dari rumah gua!”
Setelah itu, keduanya tidak berkomunikasi. Kurang lebih hampir dua bulan keduanya menjalani aktivitas masing-masing. Wijaya tidak sedikitpun mengadukan perlakuan buruk Rita kepada orang tuanya. Dia lebih memperbaiki diri, bekerja lebih giat berharap Rita bisa memberikan restu untuk adiknya. Tepat di hari ke enam puluh, tanpa Bilqis ketahui kalau Rita membayar penjaga sekolah untuk memata-matai setiap gerakan adiknya.
Melihat sikap Bilqis yang selalu ramah, menjaga sikap, bertutur kata yang baik dan tidak ada satu pun pria yang berjalan berdua dengannya dia perlahan menyampaikan pada Bilqis bahwa selama ini di beri bayaran sebesar lima ratus ribu rupiah untuk memantau segala gerak-geriknya.
“Non, maaf bukannya bapak mau mengadu domba non dengan kakaknya non. Tapi menurut bapak kalau rasa sayang kakak non begitu besar menjaga adiknya. Kakak non tidak mau adiknya di sakiti oleh lelaki."
“Ya pak terimakasih atas informasinya.”
“Ya non sama-sama. Oh ya, apa benar pacar non bernama Wijaya? Bapak sering melihat pria berseragam dokter memperhatikan non dari pagi sampai pulang.”
Seolah hal yang di lakukan Rita tidak memberikan efek jera. Bilqis hari ini sengaja pulang lebih lama melihat siapa yang ada di balik gerbang sekolah itu. Dia mengintip Wijaya seperti orang gila menunggunya. Ini yang dinamakan penjagaan tanpa di ketahui oleh siapapun.
Dorr__
Fati hampir mengagetkannya. Dia memperhatikan sosok Wijaya, seorang dokter muda yang selalu menjadi incara para siswi di sekolah favorit Selatan Tritisan jaya.
“Kok belum pulang? Itu kasian kak Wijaya nggak di samperin."
“Aku justru lagi menghindarinya” bisik Bilqis.
“Kasian banget cowok semaco dan mapan gitu di kacangin. Lu pilih-pilih tebu ntar dapat yang bongkeng baru terasa lu”
“Apaan sih, nggak boleh do’a buruk ke sahabatnya sendiri! Pamalih!”
Melihat Wijaya sudah pergi. Bilqis buru-buru masuk ke dalam mobil. Dia meminta pak Yosep mengambil jalur lain agar tidak berpapasan dengan pria itu. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam merasa kasihan memikirkannya.
......................
Dunia tidak melihat kekacauan di hati mu. Dilema besar, bayangan seseorang yang berusaha di hilangkan dan Angin ribut mengacaukan pikiran. Buku-buku pelajaran telah bertumpukan di atas rerumputan palsu. Balkon menjadi tempat favoritnya sambil menikmati keindahan malam. Secangkir teh hangat. Buku Diary yang siap menjadi tempat curahan hati menemani waktu malam mingguan. Suara ketukan pintu, panggilan suara Rita mempercepat gerakannya.
“Bilqis! Ngapain sih lu lama banget bukakan pintunya? Lu lagi mojok telponan sama si WIjaya ya? Sini hand phone lu, kakak mau periksa!”
Keras suara Rita mirip pemeran ibu tiri yang ada di sinetron layar televisi. Bilqis mulai paham membaca kelakuan kakaknya. Dia tidak pernah sedikitpun memasukkan hati segala perlakuan yang di terima. Selesai memeriksa ponsel, Rita memberikannya waktu lima belas menit untuk bersiap-siap.
“Kita mau kemana kak?”
“Nggak usah bawel ya. Nurut aja, cepat kakak tunggu di bawah!”
Berpamitan dengan nek Rina yang belum menyahut panggilan mereka dari atas loteng. Rita menarik tangan Bilqis masuk ke dalam mobil. Kali ini mereka naik sebuah mobil harvard berwarna merah. Suara tawa teman-teman Rita terdengar keras di dalamnya.
“Bi Sumi, kemana tadi katanya mereka pergi?” tanya Rina menoleh dari balik kaca jendela.
“Nggak tau Nya, tapi nggak biasanya pakaian nyonya Bilqis sedikit seksi.”
“Si Rita buat malu saja. Dia pasti mengajarkan yang tida-tidak ke Bilqis!” gerutu Rina.
Di pusat kota, salah satu diskotik paling terkenal menjadi tempat singgahan kelas elit mejeng memamerkan kemewahan mereka. Suara keras musik, kerlap-kerlip lampu warna warni, asap rokok elektrik yang mengepul dan bau aroma minuman yang asing di indera penciumannya. Bilqis berkali-kali mengipasi hidungnya.
“Itu tas kamu gede amat. Bawa apa aja?” tanya Rita.
“Mukenah kak. Ini tempat apa sih kak?”
“Hahaha, Rita insyaf lu. Tuh adik lu ngajak sholat di diskotik!” sindiran teman-temannya melihat Rita.
“Kalian jangan banding-bandingin gua sama adik gua. Cepat pesan meja dan minuman gih!”
Bilqis risih, pakaian yang di paksa Rita malam ini terlihat sangat kurang pantas. Dia menutupi rok nya dengan tas. Memperhatikan sekeliling, pakaian wanita lebih seksi seperti memamerkan bentuk tubuh mereka. Ini lah dunia malam, Bilqis seakan melihat pertunjukan wanita dan pria berpasang-pasangan yang menggoyangkan badan mengikuti irama musik.
Seorang pria berpakaian kemeja celana hitam, kemeja putih ada dasi kupu-kupu yang dia pakai membawa sebuah nampan berisi gelas-gelas minuman warna-warni.
“Silahkan di minum mbak!” ucapnya lalu pergi.
“Eh tunggu, adik lu mau minum apa Ta? Dia pasti nggak sanggup minum anggur merah. Ahahah”
“Udah lu tenang aja, adik gua tahan banting kok!!”
Rita menyodorkan setengah gelas, dia memaksa Bilqis meminum minuman itu. Karena tidak bisa melawan, Bilqis menelan terasa rahangnya bagai terbakar kobaran api yang menyala. Dia baru tersadar mencoba minuman memabukkan. Bilqis berlari mencari kamar mandi, dia memuntahkan minuman itu ke dalam wastafel.
“Hueek!”
Orang-orang yang melihatnya berpikir dia telah mabuk berat sehingga tidak tahan lagi menampung minuman di dalam lambungnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
⛵perahu ⛵kertas
KEKEJAMAN DUNIA
2023-05-04
0
😈nge-game
kejam punya kakak 🤔 ini kakak apa? kakak sambung? sepupu? atau mamak tiri berwujud Setan? nggak boleh gitu sama tamu.
2023-05-04
0