Kepahitan hidup

Suara ramai cekikikan dari kejauhan. Suara langkah kaki Vera di ikuti teman-temannya. Barka melirik rombongan regu Bilqis tapi tidak ada di belakangnya. Dia meminta ijin pada kakak Pembina dan bapak, ibu guru mencari kelompok yang belum kembali.

“Mau cari dimana Bar? Mana gerimis. Besok aja deh” bisik Topik.

“Barka kalau mau ikut rombongan kakak Pembina, bawa peratalan matang. Jadi selalu stand by di jalan. Kalian juga jangan lupa bawa tali Rami.”

“Baik pak” sahut mereka.

Pencarian di bagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing terdiri dari tiga orang di tambah dua pemandu hutan. Di dalam perjalanan setiap pos, mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan. Sampai pada sebuah tanda yang berubah arah jalan yang mengarah ke wilayah jalan area batas hutan. Barka melihat bekas kapur pada penegak di atasnya.

“Kak sebentar deh, lihat ini tanda panahnya nggak seharusnya.”

Barka memperlihatkan tanda itu seperti baru terlepas.

“Kalau begitu titik ketemu kita di tempat ini ya” ucap pemandu hutan.

Barka bersama pemandu ke area yang berlawanan sedangkan dua lagi ke panah sebenarnya. Berjarak satu kilometer, Barka melihat tanda kapur pada sisi kiri pohon. Dia mengikuti jejak itu hingga langkah kaki terhentak hampir terjatuh ke jurang.

“Bilqis!” teriak Barka.

“Kak kemungkinan mereka di bawah.”

“Kita nggak boleh gegabah. Kita harus melaporkan ke bapak ibu guru dan kepala sekolah. Kalau kita langsung turun, tidak ada yang tau apa di dalam sana.”

“Bar!” teriakan suara Bilqis dari bawah.

Barka yang tidak sabar mengikat tali simpul ke batang pohon. Tanpa menunggu komandu dari pemandu hutan, dia menuruni jung menggunakan senter yang berada di kantungnya. Di bawah sana ada Bilqis dan teman-temannya yang terluka. Barka perlahan mengarahkan cara memanjat kepada mereka namun luka Fatih terlihat sangat parah sehingga tidak memungkinkan dia menopang tubuhnya dengan tali.

“Kalian duluan, aku nungguin Fati disini” ucap Bilqis.

“Kamu jangan kemana-mana ya aku akan mencari bantuan.”

Barka mempercepat naik ke atas, dia berlari sangat kencang. Di pertengahan jalan terlihat bantuan berjalan menuju jurang.

“Di sebelah sana pak” kata Barka sambil mengatur nafasnya.

Bilqis dan teman-temannya berada di perkemahan medis. Di luar perkemahan, siswa-siswi mulai melakukan kegiatan api unggun. Mendengar rombongan Bilqis selamat, vera dan teman-temannya saling melirik.

“Kita lihat keadaan mereka yuk gais”

Mereka keluar dari acara yang di langsungkan. Mengintip dari celah tenda, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan tarikan tangan dari belakang. Ada Hera melotot melihat tingkah mereka yang seperti mengendap-endap.

“Woy! Ngapain kalian? Mau maling?”

“Kami lagi cari angin. Heheh, dah!”

“Alasan yang nggak logika! Tunggu jangan kabur!” bentak Hera.

Bara melihat Hera memarahi kelompok Vera. Dia sedikit curiga melihat gelagat mereka hingga Vera membenarkan pikirannya.

“Aneh banget, aku rasa mereka deh Bar yang sengaja ubah tanda panah di hutan. Mereka kan bolot banget sama si Bilqis.”

“Nanti aku sendiri yang cari tau. Nih buat Bilqis dan lainnya, aku balik lagi ke barisan ya.”

“Ok, terimakasih.”

Di atas matras, lembar kertas Bilqis berserakan. Dia tetap melanjutkan tugas, sesekali hanya mengernyitkan dahi merasakan denyut pada luka. Hera datang membagikan botol minuman dan kue kering.

“Ini titipan si Barka. Saran gue, kalian hati-hati sama geng si Vera. Anak itu pasti biang kerok masalah ini."

“Kamu jangan berburuk sangka Her. Kita nggak ada buktinya”

“Qis, dari kamu pindah. Kan mereka terus memburu kamu!”

Ocehan Hera berlanjut hingga dia ikut terlelao di salah satu matras yang empuk. Perkemahan kali ini, regu Bilqis vakum akibat kejadian yang menimpa mereka. Pada hari terakhir, para murid di giringke air terjun di tengah hutan. Tetap saja Bilqis dan teman-temannya tidak bisa ikut. Dia menitipkan beberapa foto alam pada Hera.

“Loh kamu nggak pergi Bar?” tanya Bilqis melihat dia seperti orang bangun tidur.

“Nggak, males. Kalian udah sarapan belum? Masak indomie aja ya..”

Barka mencari ranting yang kering sebagai kayu bakar. Dia menyalakan api, meletakkan panic di atasnya. Setengah liter air yang mendidih di masukkan empat bungkus mie instant yang siap saji. Makanan panas di tuang di piring plastik. Tikar yang di siapkan Bilqis sebagai tempat makan membuat dia teringat suasana rumah.

Kalau di kampung, orang tuanya mencari kayu bakar. DIa ingat sekali cara memasak nasi di atas api yang menyala. Tanpa air matanya menetes, dia sangat rindu rumah. Sarah melihat dia menangis, posisi duduknya lebih mendekat melirik memperhatikan air matanya jatuh di dalam piring.

“Qis, jadi indomie kuah air mata tuh. Lu kenapa sih? Nggak suka makanan beginian ya?”

“Nggak apa-apa..”

Menikmati keindahan alam, anak-anak kota yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat bernuansa panorama air terjun yang menyejukkan. Mereka tertawa lepas, mandi berjam-jam hingga melompat terjun ke dalam air dari ketinggian bebatuan.

Rasa khawatir guru-guru, was-was jika muridnya tenggelam atau kecelakaan lain. Bunyi peluit sebanyak tiga kali menandakan waktu bermain-main telah habis. Sebelum pulang, para siswa dan siswi di beri waktu satu jam mengumpulkan tugas kerja.

Mereka juga melakukan doa bersama. Setelah itu para bapak dan ibu guru mengintruksi supaya murid tetap menjaga kebersihan. Memisahkan sampah organic dan non organic, para murid berbaris kembali ke rute awal tempat bus terparkir. Banyak pembelajaran berharga yang mereka dapatkan. Pengalaman menyatu dengan alam dan sifat gotong-royong yang semakin erat.

Sepanjang perjalanan kembali pulang, Bilqis melihat luka-luka dan plaster di tangannya. Dia harus bersiap-siap menguatkan hati menerima amarah kakaknya Rita. Berpikir sampai di rumah akan di marahin habis-habisan, di ruang tamu terlihat kakaknya sedang memarahi beberapa pria bertubuh tegap yang membawa tas hitam.

Di atas meja ada tumpukan uang di dalam koper. Seperti biasa tamu yang tidak di sukai kakaknya akan mendapatkan perlakuan kejam darinya. Para pria itu hanya menunduk tidak berani melawan.

“Bilqis masuk kamar lu!” bentak Rita.

“Kalian semua pergi! Uang jajan adik gua lebih-lebih dari gaji yang kalian tawarkan!”

Ucapan Rita terdengar jelas saat Bilqis menaiki anak tangga. Di dalam kamar, Rita mengancam keras akan mencekiknya jika diam-diam menemui orang-orang tadi. Bilqis berpikir bagaiman dia mengenali bahkan tau posisi mereka?

“Memangnya mereka tadi siapa kak?” tanya polos menarik sedikit tirai melihat dua mobil mewah meninggalkan gerbang halaman.

“Pokoknya awas aja kalau lu diam-diam jumpai mereka! Gua akan cekik lu sampai mati!”

Pintu terbanting kuat sampai pajangan dinding terjatuh pecah. Bilqis mencari sapu membersihkan pecahan kaca itu. Melihat Riky menangis di pojokan sudut dapur, Bilqis menghampiri sambil mengusap kepalanya.

“Kamu kenapa dik? Kok disini? Yuk kakak temenin ke kamar”

Anak yang berkebutuhan khusus haus akan kasih sayang. Bilqis memegang dahinya yang sangat panas. Bola matanya naik ke atas seperti orang kesurupan. Bilqis panik berlari mencari Rita. Obatnya habis, nek Rina sudah satu minggu tidak di rumah. Riky di angkat ke kamarnya, dokter yang khusus menanganinya mengatakan Riky wajib mengkonsumsi obat sesuai resep agar tidak timbul penyakit lainnya.

Rita mau menanyakan luka-luka di siku, lengan dan kaki Bilqis. Tapi melihat kedatangan Arun masuk ke kamar Riky. Dia menyambut lemparan sandalnya yang bertumit tebal. Mereka bertengkar adu otot. Bilqis meninggalkan kamar Riky, dia tidak mau ikut campur malah merasa bersalah kehadirannya seakan menjadi beban di keluarga itu.

Setiap keluarga ada masalah masing-masing. Tidak bisa di hindari, sepercik api yang membakar akan menambah amarah yang tidak terselesaikan. Sepasang suami istri itu hidup di dunia masing-masing. Berpikir bang Arun adalah sosok suami yang baik bagi kakak sepupunya namun ternyata dia diam-diam menelepon seorang wanita. Suara serak basah yang menggoda. Bilqis mendengar percakapan mesra mereka.

Tret_tret (getar ponsel Bilqis).

Pesan dari Wijaya.

Dik gimana keadaan luka kamu? Besok mas titipin obat ya ke Barka. Di minum tiga kali sehari.

“Terimakasih Kak” batinnya.

Pukul tiga pagi, Rita menarik rambut Bilqis hingga dia terbanting ke lantai. Dia memarahi, memaki Bilqis. Hampir saja dia terbunuh terkena tusukan pisau buah yang ada di atas meja makan jika Arun tidak segera menariknya.

“Hiks, hiks” Bilqis hanya bisa terdiam menangis.

“Apa? Memangnya aku apa di mata mu? hah?” ucap Rita memukul wajah Arun.

Bilqis mengobati memar biru di dahinya. Rita seolah memiliki kepribadian ganda atau sedang mabuk berat. Untuk yang pertama kali dia di hajar habis-habisan seperti pemeran anak tiri. Pagi ini dia bersiap ke sekolah, menutupi lebam dengan poninya. Bekas plaster dia ganti sebelumnya dia teteskan sedikit betadin.

Dia tidak selera menelan makanan, melewatkan meja makan dan berangkat lebih pagi. Pukk__ tepukan di tangannya. Sepotong roti dari Barka di tangan kanan dan kiri sebungkus plastik bening berisi obat-obatan.

“Kusut banget sih. Di minum tuh obatnya, COD kelas VIP pengantaran kilat untuk pasien” ledek Barka tersenyum melihatnya.

“Kamu jangan berharap apa-apa Bar. Aku nggak mau pacar-pacaran.”

“Huffhh jangan mikir yang nggak-nggak. Cepat di habisin rotinya.”

......................

Satu koper membanjiri kasurnya, Rita baru berhenti memaki suaminya dan membiarkannya pergi bekerja. Dia tidak perduli sepak terjang suaminya itu. Dia sudah puas menghancurkan semua hiasan di kamarnya. Pagi ini kepala Arun benjol, lengannya luka-luka.

“Bi Sumi, bersihkan kamar ini ya jangan ada yang terlewatkan sedikitpun!”

“Baik nyonya…”

Sumi sudah bekerja hampir lima tahun. Kamar bagai kapal pecah selalu dia rapikan setiap seminggu sekali. Barang-barang mewah hancur berkeping-keping. Beberapa perhiasan berserakan di lantai. Sumi terbilang peran pekerja yang jujur. Dia tidak pernah mencuri apapun dari rumah itu.

Rina yang baru saja tiba menggelengkan kepala. Dia tidak heran dengan tingkah anaknya. Rina berjalan ke kamar meletakkan tas sandangnya. Dia melihat keadaan Riky yang di infus, ada seorang perawat yang menjaga. Dia meneruskan langkah membuka kamar Bilqis.

Sebuah bingkai ada foto kecil yang tampak usang. Foto keluarga Bilqis, dia melihat Hani yang tersenyum memeluk anak-anaknya.

“Aku akan menjaga anak mu disini. Kamu tenang aja ya” batinnya.

“Ta, Rita!” panggil Rina melihat anaknya yang berantakan.

“Kamu jangan ajak Bilqis aneh-aneh ya. Mami nggak mau kak Hani marahin Mami.”

“Macem gimana sih mi?”

“Kamu kan gila, mami nggak mau dengar kabar yang buat jantung mami mau lepas. Kalau kamu nggak mau melihat mami mati berdiri ya kamu jangan rusak si Bilqis!”

“Nggak mungkin mi!”

Dia bersiap-siap berhias, bajunya semakin seksi. Rita mengemudikan mobil merahnya ke salah satu cafe mewah yang berada di kota. Bertemu Deni, pelukan mendarat pada keduanya. Deni menepuk tangan, beberapa pria membuka dua koper di salah satu meja yang kosong.

Meja itu di dekatkan, satu koper berisi uang dan satunya lagi perhiasan. Deni mengambil sebuah kalung dari tumpukan emas. Dia memakaikan ke leher jenjang Rita. Wanita itu tersenyum kembali memeluknya.

“Terimakasih sayang."

Bos ketua mafia itu benar-benar memuja kecantikannya. Dia mengeluarkan jurus romantis agar Rita tidak pergi meninggalkannya. Lantunan musik yang romantis, keduanya berdansa di bawah sinar lampu yang sedikit meredup. Tempat itu khusus di pesan oleh Deni hanya untuk mereka berdua.

......................

“Pak, perasaan ibu kok nggak enak ya” ucap Hani.

Tangannya teriris pisau. Hari ini dia sangat mengkhawatirkan Bilqis.

Terpopuler

Comments

PGRI

PGRI

❤❤

2023-05-07

0

denada

denada

gila si Vera sinting

2023-05-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!