Hari baru

Berharap bisa merubah kehidupan yang lebih baik. Di dalam kamarnya yang baru, Bilqis mulai berbenah merapikan kamar dan menyusun beberapa potong pakaian yang dia bawa. Kak Rita tidak mengijinkannya membawa satu potong pun baju, namun Bilqis hanya merengek meminta dia memperbolehkan membawa baju kesukaannya.

“Terus sore ini aku gantinya pakai apa? Onderdil pun tidak di perbolehkan di bawa” gumamnya.

Tok, tok (Suara ketukan pintu)

“Non di panggil nyonya”

Bi Sumi mendorong pintu lalu sambil meletakkan segelas susu di atas meja rias. Baru beberapa jam dia bagai putri kerajaan yang di sediakan segala kebutuhannya. Tidak mau menganggap dirinya sebagai cucu atau sepupu yang tidak berguna, Bilqis menganggap rumah itu seperti rumahnya sendiri dan melakukan tugas sehari-hari seperti di rumah orang tuanya.

Rita menunggu Bilqis di dalam mobil, mereka bersiap pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu. Di dalam mobil, dia menemui anak kecil yang menegurnya dengar sedikit bisu dan gagap.

Namanya Riky, anak berkebutuhan khusus yang memakai alat bantu mendengar yang terpasang di telinganya. Meskipun keadaannya seperti itu, Riky di sekolahkan di sekolah luar biasa yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Melihat Bilqis masuk ke dalam mobil, Riky tersenyum melambaikan tangan. Bilqis membalas lambaian tangannya, posisi duduk agak mendekat. Dia menunjukkan mainan yang baru saja dia rakit.

“B_a_g_u_s”

Bilqis mengusap keningnya. Rita tersenyum melihat anaknya yang biasanya arogan dengan orang asing tapi terlihat sangat dekat bahkan menerima kehadiran sepupunya itu. Sesampainya di depan mall, Rita menggiring mereka masuk ke salah satu toko baju. Dia memilihkan pakaian untuk Bilqis, ada banyak tumpukan baju di dala keranjang yang harus dia coba di dalam ruang ganti.

“Kak, harganya selangit. Bisa jadi uang jajan ku selama satu tahun lebih. Belikan saja aku di pasar tradisional kak”

“Hussh, jangan banyak komentar. Cepat coba semuanya.”

Rita mendorong Bilqis masuk, dia melanjutkan memilih baju lainnya sementara Riky duduk di sofa tampak sibuk memutar mainan barunya. Bilqis risih memakai baju mini dan ketat, dia berputar di depan kaca pandangan memperlihatkan lekukan di tubuhnya. Setelah berganti, hanya ada tiga baju atasan yang tidak terlalu ketat dan sedikit panjang.

“Apakah di tempat ini tidak menjual baju berukuran panjang dan longgar?” gumam Bilqis.

“Loh kenapa Cuma ada tiga baju saja? Kakak kan sudah memilihkan rok, celana dan gaun untuk mu. Oh iya ini pakaian dalam sudah kakak sendirikan di keranjang satu lagi.”

“Maafkan aku kak, tapi aku tidak terbiasa memakai baju seperti itu” Lisa menunduk takut kena marah.

“Huhh, kamu suka sekali gaya kampungan. Yasudah kamu boleh pilih sendiri, tapi kalau ada baju pilihan norak, kakak langsung comot dan buang”

“Setuju__”

Total pembayaran semua baju Bilqis, Rita dan Riky adalah tujuh juta rupiah. Bilqis keringat dingin takut uang Rita tidak cukup membayar. Pakaian dia yang paling banyak di tumpukan keranjang yang berjejer di meja kasir.

“Kakak yakin membayar semua ini?” bisiknya.

“Udah kamu tenang aja.”

Rute naik escalator ke lantai empat tepat bagian toko perlengkapan sekolah, Rita meletakkan dua keranjang tangan dan satu keranjang dorong di tangannya.

“Bilqis, kakak tinggal sebentar ya. Riky tetap disini temenin kamu.Satu keranjang khusus keperluan kamu, satunya lagi keperluan Riky. Satu keranjang dorong ini untuk keperluan tambahan seperti sepatu sekolah, tas dan lainnya.”

“Ba_baik kak” jawabnya terbata.

Seolah satu toko itu menjadi miliknya. Bilqis memilih alat tulis dan berbagai perlengkapan lainnya. Tidak lupa dia meraih kamus bahasa asing, tempat bekal dan botol minuman. Melirik tempat amplop dan satu set surat, dia teringat janjinya pada adiknya Risa agar selalu memberikan kabar.

“Dik Risa, kakak janji akan mengirim surat jika sudah ada uang ya, maafin kakak ingkar janji” batinnya merasa sangat sedih.

Menunggu kakak sepupunya itu yang tidak kunjung tiba. Dia tidak mempunyai uang sepeserpun, mengembalikan semua barang-barang itu akan menyita waktunya mencari dimana letak tempatnya masing-masing. “Bagaimana ini?”

Wajah gusar Bilqis berdiri di dekat Riky menunggu Rita hingga berjam-jam lamanya. Riky menunjuk, mengeja mengucapkan kata bu. Tidak berani bertanya dari mana dia sampai selama itu. Kali ini Rita mengeluarkan uang tunai sebesar tiga juta rupiah, selesai pembayaran tampak supir datang membawakan belanjaan.

“Kalian pulang duluan ya temen-temen arisan kakak sudah menunggu di cafe lantai atas.”

......................

Tumpukan belanjaan milik Bilqis, Rita dan Riky di pisah terletak di kamar. Bi Sum hanya berani membongkar belanjaan milik Riky. Bilqis siap menyusun semua benda itu di tempatnya. Bilqis mengambil buku diary baru berwarna merah.

^^^Kota Ampangan, 17 Maret 2000^^^

Dear Diary

Sekarang aku bisa leluasa menumpahkan unek-unek ku yang tertahan selama ini. Sambungan buku catatan yang terpisah di kampung seberang. Ini adalah hari pertama ku merantau di kota orang. Disini aku banyak mendapat pelajaran berharga mengenai kehidupan. Hal-hal yang paling mencengangkan disini adalah keuangan bagai air yang mengalir. Seolah semua keinginan dapat terkabulkan.

Tapi, meskipun aku mendapatkan semua itu. Aku sangat merindukan keluarga, aku terpaksa berpisah demi meneruskan sekolah ku yang tertunda.

......................

Tanpa Bilqis sadari, dia mendengar suara bel rumah berkali-kali yang tidak di bukakan oleh bi Sumi. Dia menutup buku diarynya lalu berlari menuruni anak tangga.

“Spada !” seorang petugas mengantarkan sebuah bingkisan kotak besar berwarna hitam.

“Kau cari siapa?” tanyanya.

“Mbak ini ada paket, tolong tanda tangan disini__”

Melihat pria pengantar paket tidak menutup gerbang halaman, Bilqis berlari kecil menutup gerbang yang berat itu. Dia menoleh di luar halaman banyak para penjual keliling berjejer di sepanjang jalan. Gerobak dorong terlihat berbagai macam makanan yang menggiurkan di sela cuaca mendung di sore hari. Salah satunya suara pukulan nasi goreng tek tek, salah satu pria bertubuh kurus berdiri mengantri dengan pria yang bertubuh gemuk menatapnya. Dia melemparkan senyuman, Bilqis melotot buru-buru masuk menutup pintu.

Bilqis tidak menemukan bi Sumi di dapur, dia mulai mengambil alih pekerjaan dengan mencuci piring yang kotor. Berlanjut menyapu rumah dan mengepel lantai, rumah mewah yang sangat besar itu cukup membuatnya sangat kelelahan membersihkan di setiap sudutnya.

“Non, kenapa non yang membersihkannya! Si mbok pasti akan di marah nyonya Rita!” suaranya histeris ketakutan jika ada yang melihat pekerjaannya di selesaikan oleh orang lain.

“Nggak apa-apa mbok, saya sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini di rumah.”

“Bo_Bi_”

“Eh ada Riky, yuk kita main!” ajaknya mengalihkan perhatian.

Dia mengacungkan jempol ke arah bi Sumi sambil tersenyum.

Terpopuler

Comments

brown

brown

jadii gini perjuangan mau sekolah lagi. titidj ya bilqis

2023-04-02

0

BTS

BTS

🎱➖✊➖➖✊➖🎱
🌟 \ / 🌟
⭐ \😁/ ⭐
✨ 🎽 ✨
/ \
👟 👟

2023-04-02

0

pradipta komunitas travelling

pradipta komunitas travelling

si bilqis harus tetap posisi waspada dong. jadi curiga di suruh pakaian mini.

2023-04-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!