Mengejar Bilqis

Jadi di dalam cerita berlanjut masih banyak sekali yang mengagumi sosok kepolosan si kembang desa yang namanya meluas menjadi perbincangan di lingkungan sekitar. Wijaya tidak mengira di dalam pikirannya selalu terbayang wajah Bilqis. Dia memberanikan diri besok menemui Bilqis secara pribadi. Tepat dia malam hari peran dokter umum yang bekerja di sebuah rumah sakit ternama menulis proposal singkat untuk dirinya dan calon masa depan.

Menulis gaji pokok sebesar tiga puluh juta rupiah, sosok dokter itu tidak sabar menunggu Bilqis selesai sekolah agar segera meminangnya. Bunyi ponsel nada dering lagu talking to the moon kini berubah menjadi Marry you. Berpikir panggilan berasal dari Bilqis, secepat kilat menyambar ponsel yang terletak di atas nakas. Tertulis nama Pepita, Peran seorang foto model sekaligus artist papan atas yang menjiwai peran akting tergila-gila pada Wijaya. Kedua orang tua mereka telah lama melakukan perjodohan, tapi Wijaya selalu menolak dengan alasan ingin fokus bekerja dan tidak ingin terburu-buru untuk menikah.

Pesan whatsapp

Oh jadi gini loe udah ga anggap gue ada. Cuma karena gadis udik nan kampung itu. Oke kita lihat aja sampai dimana lo tahan diemin gue!

Isi pesan itu terbaca oleh Barka dari belakang. Dia menggelengkan kepala membaca pertengkaran orang dewasa yang tidak kalah hebat mirip anak ABG.

“Ckckck, kakak bilang mau saingan sama Bilqis. Kok nggak bisa move on dari kak Pepita?”

“Apaan sih? Kakak sama kak Pepita Cuma korban perjodohan. Mami aja tuh yang mau kena rayuan ibunya."

“Hussh, kakak nggak boleh ngomong gitu. Kakak mau jadi anak durhaka?”

“Makanya stop bicarakan wanita itu.”

Dua jempol meninggalkan bekas kepergian Barka yang masih menggganggunya dari balik pintu. Lemparan bantal benar-benar mengusirnya. Semalaman jantung Wijaya berdegup kencang. Dia tidak sabar menunggu hari dimana dia menyatakan cintanya.

Pagi-pagi sekali, Wijaya menggunakan seragamnya berdiri menunggu di depan pintu gerbang. Para siswi yang datang lebih awal melihat dokter muda yang tampan itu sambil tersenyum meliriknya. Satpam berjongkok tidak berani menanyakan kehadirannya. Melihat Wijaya sering menjemput murid yang ada di sekolah itu. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Bilqis keluar dari mobil sedan hitam. Wijaya menyelipkan beberapa ratus ribu uang ke kantong satpam sebagai uang suap agar mengijinkannya masuk ke area sekolah.

“Bilqis tunggu!” panggil Wijaya.

“Eh, ada apa kak?”

“Bilqis ikut mas yuk, mas mau bicara.”

“Nggak bisa kak. Bilqis nggak mau bolos sekolah.”

“Yasuda pulang sekolah mas tunggu kamu ya di gerbang__"

Bilqis belum sempat menjawab tidak bisa. Hera menyerobot menarik tangannya menggandeng menuju ke kantin. “Siapa Qis? Tampan amat?”

“Temen.”

“Yakin? Mmm.. Besok-besok kenalin dong. Oh iya temenin aku sarapan ya. Lapar nih.”

Bilqis mengangguk, dia memesan sepiring gado-gado. Perasaannya mulai was-was jika kedekatannya antara Barka atau WIjaya membuat kesalahpahaman antara kakak beradik kandung itu. Namun, percikan api mulai mengarah melihat Wijaya, hari demi hari yang terlewati. Dokter muda itu mulai memberikan perhatian lebih kepadanya. Bilqis mengacak-ngacak poninya. Di dalam benak di menekan lagi perasaan yang terbilang cinta monyet. Dia tidak mau membuat kecewa kedua orang tuanya yang ada di kampung, keinginannya sangat kuat segera menyelesaikan sekolah.

“Tapi tapi kakak tampan itu bola matanya mau copot lihatin kamu deh Qis.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!