Mbok Sumi menggedor pintu, dia berdiri selama berjam-jam menunggu pintu itu terbuka. Riky menguncinya dari dalam. Memberitahu nek Rina mengenai sikap Riky, sontak saja dia memanggil mang Emon dan pak Yosep mendobrak pintu.
“Riky kenapa nek?” tanya Bilqis.
“Mungkin anak itu lupa memasang ABM atau pingsan karena tidak minum obat”
Pak Yosep dan mang Emon berhasil mendobrak pintu. Mereka melihat Riky asik bermain PS di depan layar lebar tertawa gembira. Nek Rina menggunakan bahasa isyarat bertanya apakah Riky sudah makan. Dia menjawab belum bahkan makanan yang di sediakan di atas meja sama sekali tidak tersentuh.
Nek Rina membujuknya, dia menyodorkan satu sendok potongan daging tapi dia menolak mendorongnya. Riky harus minum obat kalau tidak akan di infus kembali, nek Rina memaksa hingga membuka mulutnya. Alhasil anak berkebutuhan khusus itu memukul piring bersikap mengamuk.
“Tenang, Riky kan anak yang baik” Bilqis menggerakkan bahasa tubuhnya.
Bersikap lembut, mencoba memahami anak yang temperamental itu. Bilqis mengambil sepiring nasi yang berisi lauk pauk, dia menyuapi sampai habis. Meneguk air sambil menelan pil obat yang wajib dia konsumsi. Kedua semakin akrab, nek Rina tersenyum sedikit lega karena Riky mau minum obat dan kembali tenang.
“Nek, hari minggu besok Bilqis boleh nggak pergi ke kantor pos? Bilqis mau mengirim surat ke kampung”
“Boleh, kalau kamu nggak keberatan sekalian ajak Riky ya nenek besok mau ke check up di Rumah sakit.”
“Ya nek besok Bilqis bawa Riky juga.”
Tirai gorden menyibak terlihat dari kaca jendela yang tertutup itu suasana di kota pada malam hari. Biasanya kalau di kampung, jendela harus tertutup rapat tidak boleh ada celah terbuka. Berbeda kalau di kota. Bilqis bisa menikmati suasana malam dari atas loteng. Suara jangkrik tidak terdengar atau panggilan suara kodok bangkong yang bersahutan.
Dia meraih selembar kertas menulis sepucuk surat.
Teruntuk adik ku Risa
Assalamu’alaikum. Apakabar dik? Semoga kamu baik-baik saja. Bagaimana kabar ayah dan ibu? Bilqis disini juga selalu mendo;akan semoga ayah dan ibu sehat, panjang umur dan selalu di jaga Allah SWT. Maafkan kakak baru sempat memberi kabar, ada banyak hal yang harus di benahi.
Disini kakak di tempatkan di kamar yang sangat luas dan besar. Segala fasilitas terpenuhi, kakak bersekolah di sekolah kelas ekonomi menengah atas. Perlakuan anggota keluarga disini juga sangat baik menganggap kakak seperti bagian dari mereka.
Kakak berharap segera menyelesaikan pendidikan agar bisa secepatnya pulang ke rumah. Lain waktu kakak akan mengirim surat kembali.
Salam rindu dan sayang
Bilqis
Air matanya menetes, salah satu tulisan huruf di dalam surat luntur terkena air matanya. Dia menepis menggunakan jemari ketika mendengar suara ketukan pintu. Tidak ada cerita sedih atau duka yang dia alami di dalam surat itu. Si mbok masuk membawakan segelas susu hangat. Bilqis merasa sungkan, dia tidak mau mendapat perlakuan istimewa seperti itu.
“Terimakasih mbok, tapi lain kali biar Bilqis saja yang ke dapur membuatnya.”
“Nggak apa-apa non. Eh Bilqis, si mbok malah senang bisa melayani kamu.”
“Jangan mbok, Bilqis sangat berterimakasih tapi kalau sudah malam begini mbok istirahat saja ya.”
Mbok Sumi merasa senang kehadiran Bilqis mengurangi rasa lelahnya mengurus pekerjaan rumah sendirian. Bunyi bel menekan tanpa jeda, Rita seperti biasa pulang mabuk-mabukan. Bau alcohol menyengat, si mbok menutup pintu memperhatikan jalan Rita yang sempoyongan.
“Bilqis! Dasar anak kampung!”
“Kakak dari mana? Uhuk_” Bilqis tidak tahan menghirup aroma tubuhnya.
“Loe nggak perlu tau urusan gue. Cepat pijat punggung gue!” bentak Bilqis.
Bilqis melepaskan sepatunya, dia memijat tubuhnya sambil mendengarkan ocehan Rita yang terdengar tidak jelas. Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Setiap kali Rita berhenti, tangan Rita memukulnya sehingga Bilqis melanjutkan pijitannya.
Hingga pengeras suara ngaji-ngaji toa masjid menidurkan wanita itu, Seolah telinganya di kencingi setan membuatnya tertidur di kala waktu sembahyang sholat shubuh. Melihat Rita sudah tidur, dia menutup pintu berjalan ke kamarnya. Berat sekali dia membuka mata seolah ingin meletakkan batang korek api di kelopak matanya.
Selesai sholah shubuh dia tertidur di atas sajadah, Bilqis benar-benar mengantuk tanpa sadar si mbok menepuk pundaknya. Terbangun dengan hari berjudul kata terlambat masuk ke sekolah, Bilqis mendapat hukuman kedua kalinya dengan ruangan yang berbeda.
Memegang sapu lidi, dia menutupi kepalanya menggunakan jaket. Halaman belakang sekolah bertabur bunga dan dedaunan kering, dia keringatan beristirahat sejenak lalu melanjutkan kembali sapuannya. Hera membawa keranjang sampah bersama Siris dan Fati. Hukuman itu seolah seperti gotong royong membersihkan sekolah. Masing-masing dari mereka permisi pada guru dengan alasan masing-masing agar bisa keluar kelas. Begitupun Barka mengutip sampah, terlihat kedua tangannya memakai sarung tangan.
Bilqis tersenyum melihat kekompakan mereka membantunya.
“Bar, kamu beli sarung tangan di kantin mana? Aku juga mau dong”
“Dari kantong ajaib tas gue. Tinggal tutup mata aja!” jawabnya di samping menunjukkan senyuman datarnya.
“Huhhh rasain nih!”
Lemparan ranting kering dari Fati merusak tatanan rambutnya. Dia melotot memalingkan wajah. Berpikir membalas perempuan itu dengan kejam maka dia melayangkan sebuah kalimat yang membuatnya ingin merengek.
“Nanti malam kita nonton konser black pink yuk. Aku ada tiga tiket nih. Ntar pulang sekolah Cuma cukup buat gue, Bilqis dan Siris.”
“Oh jadi kalian mau tinggalin aku?” Fatia bertolak pinggang meliriknya.
“Hei, aku nggak tau bisa ikut atau nggak, Kakak aku kayaknya nggak kasih ijin deh. Tiket aku buat kamu aja Fat” kata Bilqis menghangatkan kembali suasana yang tegang.
“Yah nggak seru dong kalau kita nggak lengkap. Kalu Bilqis nggak ada, aku juga nggak ikut deh” ucap Hera sambil melanjutkan mengutip sampah.
“Kamu bener Hera, Aku juga nggak ikut ya all. Jadi tiket kita buat nge-date si Barka dan Fati aja. Gimana?” Siris memberikan tanda tanya besar melekukan tangan.
“Ogah! Kagak mau!” jawab mereka serempak.
“Tuh kan udah mulai barengan. Hihihi”
“Kuntilanak Sirih, nih makan semua daun dan ranting kesukaan loe!”
Ucapan si Barka membuat peperangan bersambungan saling mencibir satu sama lain. Halaman belakang sekolah kembali berantakan. Hujan daun kering, saling melempar ranting tampak hukuman Bilqis akan bertambah akibat ulah teman-temannya.
“Hentikan! Oiii! Halooo!” teriak Bilqis memekik gendang telinga.
Semuanya melihat ke arahnya, Bilqis mengambil sapu dan keranjang sampah dari tangan mereka kemudian mengusirnya. Berpikir pekerkaannya lebih cepat selesai malah sebaliknya. Saat Bilqis akan membuah sampah. Barka mencuri-curi kesempatan meraih sapu menyapu sampah lalu bersembunyi di salah satu pohon melihat Bilqis kembali memunguti sampah yang berserakan itu.
“Kamu sih Bar, kalau aja kamu nggak mulai duluan pasti kami nggak saling menyerang” tuduhan tepat pada Barka.
“Kalian jangan menyalahkan aku dong. Sekarang kita harus mikir gimana caranya Bilqis nggak merajuk lagi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Kopi coklat🍫
suratnya buat air mata satu ember
2023-04-11
1
𝘼𝙏𝙀𝙀ⁿᵃᵍᵉʳ𝙕
ada sakit jiwanya si rita ini
2023-04-10
0
🍯Nona yenyen🍯Madu
sedih bacanya. gimna lagi ya itu udh jadi pilihannya
2023-04-10
0