Sedu sedan

Selepas bersenang-senang di atas meja judi Rita menunggu Bilqis pulang. Senja menerangi langit di kota pesar, aktivitas hingar bingar tercipta terlihat memsuki malam maka susana di luar tampak semakin ramai. Dia masih setengah mabuk, berkali-kali mengeluarkan isi perutnya di atas wastafel. Bilqis berdiri menunduk, Rita mengernyitkan dahi memeperhatikannya, berpikir dia bolos sekolah. Teriakan suaranya memanggil pak Yosep agar menghadap.

“Dimana lokasi bapak jemput si Bilqis?”

“Dari sekolah non, bapak permisi sama satpam melihat ke dalam sebentar mencari nona Bilqis. Bapak melihat non Bilqis sedang membersihkan halaman belakang sekolah.”

“Kamu mau sekolah atau mau jadi tukang kebun?”

“Aku kena hukum karena terlambat masuk kak.”

“Kamu udah di sediakan supir pribadi kenapa bisa telat?”

“Kan aku semalaman pijatin kakak. Terus__”

“Ah sudah jangan banyak alasan! Ini handphone untuk mu, kakak selalu pantau kamu disini. Cepat bawa sana!”

“Terimakasih banyak kak, tapi aku nggak tau cara menggunakannya”

“Dasar anak kampung, ya kamu baca dong petunjuk penggunaanya.”

“Makan malamnya sudah siap non” ucap mbok Sumi.

“Nggak usah di siapin mbok, Saya nggak selera makan” kata Rita bergerak pergi.

Sikap Rita berbeda, ucapan dan tindakannya membuat dia harus lebih bersabar. Dia membuka kotak terlihat ponsel berwarna hitam. Perlahan dia mencoba sesuai petunjuk sampai aplikasi lainnya. Terdengar suara keributan suara Rita menjerit membanting benda-benda keluar kamar. Bilqis hanya bisa mengintip dari balik tembok.

“Riki jangan kesini” ucap si mbok menggendongnya ke ruangan tengah.

Pertengkaran rumah tangga dari dalam kehidupan keluarga itu porak poranda sedangkan di luar terlihat harmonis itu. Mereka berdua selalu menghadiri acara bersama-sama. Setiap kali Arun pulang, dia mendapat lemparan benda kali ini sebuah botol parfum mengenai dahinya. Arun menahan darah, lemparan selanjutnya hampir mengenai kepalanya jika dia tidak mengelak.

“Pergi kau lelaki tidak berguna!”

“Kalian berdua selalu saja ribut tanpa memikirkan anak! Riky demam tinggi!”teriak nek Rina.

Tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Selain menderita sakit kanker, dia juga terkena penyakit asam lambung. Arun menahan amarah, terlihat Rita tidak becus mengurus Riky. Di dalam ruangan, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan raut wajah menyesal. Dia malah melontarkan kata-kata kasar tanpa memperdulikan lika di dari Arun yang belum di obati.

“Apakah hubungan ini masih bisa di pertahan?” tanya Rita bersiap mencerca kata-kata kasar.

Di dalam ruang tunggu mereka berkelahi, suaranya amat keras sampai terdengar para suster yang berlalu lalang. Nek Rina berbisik menasehati agar mereka mengurangi volume suara. Keduanya saling meninggalkan ruangan. Bilqis sedikit merapat, dia gusar menyikapi semua yang terjadi. Bilqis menunggu nek Rina memberikan instruksi selanjutnya.

Bilqis di tugaskan menunggu Riky. Rita, Arun dan mbok Sumi pulang ke rumah. Tanpa berbekal pakaian ganti atau membawa perlengkapan apapun dia berbesar hati menjaganya. PR nya belum selesai, dia juga harus menghafal untuk ujian ulangan harian.

Tidur di samping kasur Riky tanpa beralas selembar kain pun. Riky mengigau, Bilqis terbangun memanggil salah satu suster yang berjaga. Panas Riky tidak stabil, sepanjang malam Biqis berjaga hingga tanpa terasa dia di bangunkan si mbok. Wanita itu tersenyum mengatakan bergantian berjaga sementara dia pulang ke rumah untuk bersiap pergi ke sekolah.

Sepasang mata itu mencoba tetap terbuka terjaga, dia ingin berteriak pasti mengalami insiden hukuman karena terlambat atau kena skors. Hukuman kali ini adalah menghormat sang merah putih, dia setengah sadar posisi pertahan runtuh. Pandangan Bilqis kunang-kunang, dia terjatuh tidak sadarkan diri.

Barka sudah mempunyai feeling bahwa Bilqis akan kena hukuman, dia melihatnya tidak sadarkan diri. Dia berlari memanggil guru piket. Bilqis di bawa ke ruang UKS, setelah dia membuka mata. Kepalanya terasa sangat pusing, dia duduk berpegangan pada dinding namun tubuhnya sangat berat.

“Fisik kamu masih lemah, istirahat saja. Guru piket sudah mempermisikan pada guru-guru bidang studi yang masuk hari ini”

“Terimakasih bu.”

“Kamu pasti belum sarapan kan, ibu sudah menyiapkan nasi goreng. Obat paracetamolnya juga jangan lua di minum. Ibu tinggal dulu ya” ucap bu UKS.

“Sekali lagi terimakasih banyak bu.”

Pada jam istirahat kedua, Barka tersenyum cengar cengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di belakang di susul para kawanan lainnya. Bilqis mengerukkan dahi, balada perseteruan hatinya yang gemuruh akibat harus berkerja dua kali membersihkan halaman belakang sekolah.

Ucapan kata minta maaf terhias di bibir mereka, ada yang membawa berbagai macam makanan yang kandungannya terbuat dari coklat.

“Cepat sembuh ya, maafkan kesalahan kami”

“Ya_ya_ya..”

“Wajah kamu pucat banget Qis, kantung mata kamu Cuma besar banget!”

“Ya benar ntuh kata si Fati, kamu juga rajin terlambat masuk ke sekolah. Kamu ada masalah apa?” tanya Tanya Siris bersunggut berharap temannya itu jujue kepadanya.

“Di tambah lagi kamu nggak ngerjain pr. Pak Botak viralin kamu di kelas aku, biasanya kan kamu siswi pindahan yang paling rajin” ucap Hera.

Semua lemparan pernyataan dan pertanyaan mereka yang tidak bisa Bilqis jawab. Dia hanya merengut menutup wajahnya dengan bantal. Tidak ada yang bisa di sampaikan bahkan menuangkan semua perjalanan hidupnya hanya akan menjadi cemooh orang-orang yang tidak menyukainya.

“Jadi siswi yang paling keras tertawanya adalah Brenda, pak Botak emang nyebelin banget. Gue mau tabok tuh si Brenda rambut pirang keriting!”

Hera yang sudah tidak sabar menunggu waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran padanya.

“Nggak usah di ambil hati Her, aku nggak marah kok. Emang kenyataanya aku adalah murid yang pemalas. Wajar saja guru marah pada ku. Oh ya maaf ya aku nggak bisa jelasin semua permasalahan ku pada kalian.”

Fati mengusap pundaknya para kawanan itu memeluk Bilqis erat kecuali Barka yang di dorong mejauh.

“Kamu tenang aja ya kapapun kamu butuh bantuan, kami siap membantu” ucap Barka.

“Ya ngomong terus terang aja sama kami__”

Dering ponsel Bilqis nyaring memenuhi ruangan. Barka melotot memasang wajah mengintai lalu merampas handphone nya. Dia mengecilkan suara hingga mode silent. Mengotak-atik penerangan kemudian menyimpan nomor ponselnya yang tertulis nama Teddy bear.

“Keras banget suaranya. Peraturan di sekolah kita kan nggak boleh menghidupkan ponsel selama jam pelajaran berlangsung. Untung nggak ada guru yang mendengar”

“Aku nggak tau cara pengaturannya Bar. Oh ya ini nomor kamu? Kok Teddy bear?”

“ Ya sengaja sebagai boneka beruang yang selalu menemani dimana pun kamu berada. Asik!”

“Huh lebay!” Fatih menampolnya.

Satu persatu semua nomor handphone temannya di masukkan. Fatih mengambil fose selfi, mereka menggunakan timer mengambil gambar.

“Ini pasti makanan dan obat untuk si Bilqis, ayo habisin atau kami marah dan membuat kekacauan di ruangan ini” ancam Barka nyengir.

Terpopuler

Comments

pak ngah

pak ngah

numpang di rumah orang kaga enak banget. balik ke kampung halaman aja dah

2023-04-15

0

Utari💥

Utari💥

lama up nungguin si bilqis

2023-04-15

0

bidan desa

bidan desa

lanjut miss

2023-04-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!