Perseteruan kasus penculikan mengingat keselamatan siswa dan siswi terancam akan teror preman yang masih mencari cela. Mendengar nama Tito andil mengganggu Bilqis, Barka meraih kunci sepeda motornya melaju ke sebuah gang kecil di dekat sekolah. Para anggota preman berpikir Barka datang sendirian ternyata, berselang beberapa menit berlalu beberapa preman yang penampilan dan fostur tubuhnya lebih besar dari mereka berdiri memegang senjata tajam.
“Kalian udah berani ganggu sahabat gue! Pasukan! Hajar mereka!” perintah Barka yang terlebih dahulu sudah memberikan beberapa ikat uang bayaran kepada ketua geng.
“Hajar!” pekik si ketua.
Barka meninggalkan wilayah itu. Wijaya ikut mendukung adiknya, agar menambah kapok para preman. Dia menyewa beberapa orang bayaran khusus menjaga Bilqis dan menghabisi para preman yang berkeliaran di area sekolah.
Tito di jebloskan ke dalam penjara, dia di fonis masa hukuman tujuh tahun penjara. Banyak pihak-pihak yang menuntut sehingga memberatkan masa tahanannya. Masalah yang masih memanas itu di tambahi bumbu perkataan aneh dari siswi lain.
“Nggak pernah sekolah ini masuk preman. Sepertinya setelah si anak pindahan itu jadi sekolah kita nggak aman!” ucap Vera melenggak lenggok mengipasi wajahnya.
“Ya kamu benar Ver. Ibarat kata dia bawa sial!” tambah Titin menimpali.
“Kalian ngomongin siapa? Noh sampah kalian di bawah meja banyak banget.”
Pikri sibuk menginstruksi teman-temannya, mendengar pengumuman dari mikrofon memanggil setiap ketua kelas maka dia berlari meninggalkan buku catatannya di atas meja. Setumpuk surat ijin berkemah di salah sebuah hutan tropis. Perkemahan yang di laksanakan selama setahun sekali itu di damping oleh wali kelas, guru-guru dan kepala sekolah. Siswa-siswi kelas tiga di wajibkan mengikuti kegiatan tersebut. Para siswa pulang membawa surat permintaan ijin kepada orang tua ataupun wali mereka untuk menandatanganinya.
Kreekk__ Bunyi robekan surat terbagi dua di tangan Rita. Dia tidak setuju Bilqis mengikuti kegiatan itu. Rina menyatukan robekan kertas yang terbuang di lantai. Membaca bahwa surat itu bersifat resmi maka dia memberikan ijin pada Bilqis.
“Mami, ntar aku bayarin aja sekolah si Bilqis. Nggak perlu deh dia jadi manusia hutan” ucap Rita mengambil ponsel akan menelepon wali kelasnya.
“Kamu jangan egois. Kegiatan positif kamu larang, kalau kamu ngajak Bilqis ke diskotik kamu bebasin! Ini kan ada keterangan di tanggung jawabkan sepenuhnya pada pihak sekolah. Kamu jangan menghalangi Bilqis belajar!”
Ucapan nek Rina tidak bisa di bantah. Rita tidak mau perkara kasus penculikan terbongkar atau aduan Bilqis pada sang nenek. Di dalam kamar dia di ancam untuk tetap menutup mulut. Bilqis memahami maksud baik kakak sepupunya itu tidak lain agar nek Rina tidak khawatir. Melakukan perjanjian menjaga diri sebaik-baiknya semasa berkemah. Rita memberikan satu ikat uang ratusan untuk keperluan perkemahannya.
“Kak, kalau di ijinkan. Aku kemah dua hari lagi kok. Uangnya banyak kali kak”
“Ya kamu simpan dah. Oh ya itu satu koper uang yang ada di bawah kolong kakak kamu rapikan ya. Bantuin kakak gaji pekerja rumah dan karyawan perkebunan abang mu. Males banget kakak hitung-hitungan”
“Tapi aku nggak berani pegang uang sebanyak itu kak. Gimana kalau hilang atau terselip?”
“Nggak ada tuyul disini, Yang ada tuyul kepala hitam!”
Bilqis kesusahan masuk merogoh ujung koper. Posisi benda tersebut tepat di tengah kasur. Dia menggunakan sapu mendorong koper. Perlahan dia menarik masuk ke dalam kamarnya. Rita membiarkan pintu kamarnya begitu saja. Bilqis mengunci kamar lalu menitipkannya pada nek Rina.
“Nek, hari ini Bilqis nggak bisa pijitin nenek ya Bilqis ada tugas dari kak Rita bantu hitung dan gaji pekerja”
“Memangnya si Rita kemana? Kamu harus fokus sekolah. Soal gaji menggaji itu serahkan saja sama dia”
“Bilqis sekalian belajar kok nek. Sebelum gaji nanti Bilqis tanya ke kakak udah bener atau belum.”
Anaknya terlantar, wanita yang masih menganggap dirinya ABG menggandeng seorang pria keliling mall menghabiskan uang. Arun memberikan uang jajan satu hari sepuluh juta di tambah pemberian selingkuhannya Deni sebanyak dua puluh juta perhari. Dia adalah seorang ketua gang bos mafia yang terkenal dengan kekejamannya.
Rita memberitahu kasus yang hampir menimpa Bilqis. Deni mengambil tindakan memerintahkan anak buahnya menjaga adiknya sampai Bilqis benar-benar di nyatakan aman. Deni mengagumi kecantikan Rita bagai artis papan atas. Kulitnya sangat mulus dan putih. Dia selalu berpenampilan seksi menggodanya.
“Aku menanti-nanti kematian suami mu” bisikan Deni yang selalu dia ucapkan.
Hari H perkemahan hutan gunung Kembang
Sebelum berangkat, kakak Pembina mengomando nomor kursi yang tertera sesuai data papan nama yang tergantung di leher mereka. Di dalam papan itu tertulis lengkap, nama, kelas, alamat, nama kelompok dan nomor bus. Bus yang di naiki Barka terpisah berjarak tiga bus di depannya.
“Duh! Jauh banget bus gua sama si Bilqis” gumamnya menggaruk kepala yang tidak gatal.
Dia meminta ijin pada ketua kelas dan kakak Pembina pindah ke bus kelas tiga A. Tapi sesuai peraturan, tidak ada satu pun murid yang bebas leluasa bertukar tempat. Sebelum bus melaju, barka memberikan sebatang kapur putih ke tangannya. Dia meminta Bilqis agar memberikan tanda sepanjang mendaki nanti menggunakan kapur menggores pada batang pohon.
Perjalanan menghabiskan waktu selama tiga jam. Tepat ketika matahari terbenam, para siswa berbaris rapi sesuai kelompoknya masing-masing. Pos-pos yang sudah terbagi sepanjang titik denah. Sebuah peta di berikan pada tiap ketua grup pemandu kelompok. Besok pagi mereka mulai mendaki, tenda-tenda yang mereka dirikan agak berdekatan.
Api unggun yang menyala menambah kesan suasana di alam liar. Para murid berbentuk lingkaran mendengarkan nasehat dari kepala sekolah agar semasa kegiatan pramuka ini tetap menjaga lingkungan alam, tidak merusak ekosistem dan tujuan dari perkemahan ini sebagai wujud keindahan panorama alam. Pada malam itu kegiatan doa bersama di pimpin oleh guru agama islam.
Selesai berdo’a para murid masuk ke dalam tenda masing-masing untuk beristirahat. Suara hewan-hewan liar, lolongan suara serigala dari kejauhan dan bunyi aneh di hutan. Para siswi banyak yang ketakutan menutup telinga mereka rapat-rapat karena baru pertama kali tidur di alam terbuka.
“Qis, temenin ke kamar mandi yuk” ajak Siris.
“Bentar, aku pake jaket. Bawa senter jangan lupa”
Siris lupa dia sedang di hutan, kamar mandi impian itu adalah kamar mandi darurat yang di tutupi ranting pohon dan dedaunan.
“Jijik amat, ih! Qis, gue nggak sanggup buang air kecil disini!”
“Ris kamu jangan manja. Kalau nggak siap kemah ngapain ikut. Cepetan, mulai gerimis nih” ucap Bilqis.
Sepanjang malam banyak siswa –siswi yang belum terbiasa berada di alam bebas. Suara bunyi toak teriakan dari kakak Pembina membangunkannya. Kegiatan mendaki di mulai, sepanjang perjalanan para siswa dan siswi di beri beberapa angket tugas yang harus di selesaikan dalam mengamati hutan.
......................
Siris merasakan ada yang melemparnya, patahan ranting dari pohon di atas kepalanya berpikir lemparan itu berasal dari hantu. Bergidik bahu terangkat menoleh ke kanan dan kiri. Siris berlari keluar meninggalkan Bilqis. Panggilan suara Bilqis dia hiraukan. Karena terlalu takut, tanpa sadar berada sangat jauh dari perkemahan.
Suara hewan malam menambah kesan merinding. Kabut asap menyelimuti area hutan. Bilqis panik menyampaikan ke kakak Pembina yang sedang berjaga di pos. Pencarian berlangsung selama berjam-jam.
“Siapa yang hilang kak?” tanya Barka yang tendanya berada sedikit jauh dari tenda Bilqis.
“Anak pos satu. Sirih, kamu mau bantu cari nggak?” tanya kakak penjaga pos dua.
Dia mengganggu menarik Yoga dan Erik untuk meramaikan perjalanannya. Dia berbelok ke pos satu mendekati tenda Bilqis yang sedang duduk di depan. Wajahnya sangat panik. Melihat Barka, dia meminta tolong membantu mencari Siris.
“Ya tapi kamu janji jangan kemana-mana. Tetap di tenda aja” ucap Barka.
Sepanjang jalan mereka menyorot pepohonan, berharap segera menemukan Siris. Suara aneh menggema bersahutan. Yoga memeluk erat Barka. Dia di tenda kemudian di hempas Barka yang merasa risih.
“Gila lu Ga!” bentak Barka.
“Maaf gue takut banget nih. Lu sih cari penyakit. Pokoknya gue nggak mau ikut tersesat”
“Jangan bawel, cepat jalan” ucap Erik.
Mereka menghentikan langkah mendengar suara tangisan wanita. Mengikuti arah suara yang di tuju. Alangkah terkejutnya mereka melihat wanita berbaju putih memeluk lututnya. Karena kabut putih sangat pekat, pandangan mereka tidak fokus. Berpikir penampakan itu adalah sosok kuntilanak. Ketiganya berlari terbirit-birit menuju ke perkemahan.
“Hantu kak! Di ujung sana! Arah Barat!” ucap Barka.
“Ya benar aku juga melihatnya kak” kata Erik.
“Kuntilanak!” tambah Geri melanjutkan berlari masuk ke dalam tenda.
Bilqis mendengar keributan hantu, dia menghampiri Barka menanyakan ciri-ciri sosok yang mereka temui. “Bar, bisa jadi itu Siris. Dia kan pake jaket putih.”
Bilqis memberanikan diri meraih senter Barka. Berjalan menuju sumber rute jalan yang dia katakan. Barka dan lainnya mengikuti dari belakang. Jejaknya menghilang, tiba-tiba di depan mereka berdiri sosok wanita menangis wajah tertutup rambutnya ke bagian depan.
“Hah! Hantu!” teriak mereka serentak.
“Siris! Ini aku Bilqis!”
Dia mengguncangkan tubuhnya yang dingin. Kakak Pembina dan guru-guru yang melihatnya membantu membawanya kembali ke tenda. Siris tampak shock berat. Tenaga medis, petugas UKS sekolah yang ikut dalam perkemahan memeriksa keadaannya. Di dalam sebuah tenda khusus penanganan murid yang sedang sakit itu Siris di tempatkan di bagian matras paling ujung dekat lampu.
“Bapak, ibu. Untuk malam ini Siris akan saya jaga. Besok kemungkinan suhu tubuhnya normal kembali” ucap petugas UKS.
Di dalam tenda, mereka selesai menyeduh mie instan. Pop mie yang mengepul di lahap di selingi susu coklat hangat di dalam termos mini. Mereka baru selera makan setelah mendengar Siris di temukan.
“Tapi tadi aku liat ada gerombolan pria asing seperti mengikuti kami dari jarak yang sangat jauh. Cahaya lampu ku yang terang membuat mereka terkejut lalu menunduk di antara semak rimbun.”
“Ih, kok jadi serem ya. Jangan-jangan mereka penculik!” ucap Fati.
“Jadi kesimpulannya lebih serem manusia kan dari pada setan?”
“Nggak keduanya Bilqis!” sanggah Sarah.
Pagi berudara sejuk, oksigen bersih bebas dari polusi udara. Para siswa dan siswi memakai pakaian olahraga berbaris di setiap masing-masing regu kelompok. Pembagian selebaran tugas di dalam map yang berisi peta, pulpen, dan beberapa lembar tugas. Satu persatu regu berjalan mengikuti ketuanya. Barka berlari keluar barisan menghampiri Bilqis.
“Jangan lupa kasih tanda kalau kamu tersesat!” bisiknya berlari lagi ke barisannya.
Siris mulai membuka mata, dia melingak-linguk melihat wanita berpakaian perawat sedang menulis di sebuah meja lipat. Perlahan dia menggerakkan tubuhnya yang sedikit kaku. Siris ingat terakhir kali tersesat di hutan.
“Kak Brenda, yang lainnya kemana?”
“Mereka mulai melakukan kegiatan penelitian. Gimana, masih pusing?”
“Nggak kak. Aku mau menyusul deh.”
“Jangan, tunggu rombongan regu kamu balik ya. Nanti kakak kabari penjaga pos satu biar kamu ikut ke dalam kelompok.”
“Terimakasih kak.”
Wajah beberapa pria yang sama kali ini tertangkap basah oleh Bilqis saat mereka beristirahat di dekat pepohonan yang tumbang. Bilqis meletakkan buku dan tasnya. Dia mengambil ranting yang berukuran besar dan batu-batu kecil dari sela rerumputan.
Lemparan kuat ke arah persembunyian para pria mencurigakan. Mereka kalang kabut berlari menghindari. “Gila nyali kamu gede amat Qis” ucap Fati.
“Namanya aku anak kampung. Kita harus tetap waspada, apalagi kita cewek semua.”
“Ckckck, kenapa kita tadi nggak minta si Barka temenin ya” kata Sarah.
Di ujung sana musuh mengincar kelalaian korban yang mereka incar. Tanda panah menuju jalan yang seharusnya mereka lewati di putar Vera dan teman-temannya ke rute yang lain. Mereka tertawa kecil, saling bertepuk tangan tidak sabar melihat mereka tersesat.
“Rasain! Biar mereka di makan harimau hutan!” ucap Vera sambil tertawa.
“Ide lu briliiant juga Ver. Makan apa sih?” tanya Titin.
“Dia makan batu, jadi hatinya sinkron gitu sama pikirannya. Hahaha” celetuk Cila.
Mendengar suara regu Bilqis mendekati tanda panah selanjutnya, mereka langsung bersembunyi. Bilqis berhenti mengamati arah panah yang rusak. Dia melihat bekas jari berlumpur seperti baru saja mencabut bagian tanah agar terangkat ke sisi lain.
“Kenapa kok berhenti?” tanya Fati.
“Aku curiga ada yang nggak beres sama tanda ini. Sebentar aku mau kasih kapur dulu di bagian pangkalnya.”
Selesai memberi tanda dengan kapur pemberian Barka. Mereka mengikuti arah jalan yang salah. Vera dan teman-temannya tersenyum menyeringai dari tempat persembunyian.
Matahari telah terbenam, seluruh regu telah berhasil menyelesaikan tugasnya. Panggilan setiap ketua kelompok. Tinggal dua kelompok yang belum kembali di area pos terakhir.
“Pak yang belum balik regi Fati kelas A dan Vera kelas C” laporan dari kakak Pembina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka camping 😍
2023-05-09
0
Wa Sakdes
ada senget-sengetnya si Tito
2023-05-05
0