Haru

Segalanya telah di milikinya, hidup yang berkecukupan, suami yang patuh menuruti semua yang dia inginkan. Perselingkuhan masih berlanjut hingga hari ini, dia tetap berfoya-foya dan mabuk-mabukan.

“Rita ku mohon hari ini saja kamu jangan minum. Akan ada tamu-tamu penting di rumah kita” pesan Arun sebelum pergi ke kantor.

Rita mengabaikan perkataan suaminya itu, hingga sampai pukul lima sore dia belum kembali. Pak Yosep keliling kota di tempat-tempat biasa nyonya besarnya itu terkadang minta di jemput. Di sebuat diskotik dia tertawa memainkan botol minuman keras. Sedikit lagi botol itu terbang pecah di kepala pak Yosep yang terpaksa menariknya masuk ke daam mobil sesuai perintah tuan besarnya.

“Maafkan saya nyonya__”

Pak Yosep sukses menyelesaikan misi membawa Rita pulang sebelum Arun bersama teman-temannya pulang ke rumah. Bilqis berlari membantu bu Sumi membawa Rita ke kamarnya.

“Bagaimana ini? nyonya besar kalau sudah mabuk, kemungkinan besar besok pagi baru bisa sadar” kata bi Sumi sangat cemas.

Di lantai bawah para tamu sudah memadati ruangan, Arun mempersilahkan para rekannya menikmati hidangan. Dia naik ke lantai atas kakinya lemas melihat pemandangan istrinya yang tampak mabuk.

“Bilqis kamu bantu bi Sumi ya menghidangkan makanan ke tamu. Kakak mu biar di kunci saja dari luar dari pada ngomong nggak jelas di tengah acara”

“Mau di bilang apalagi, aku harus berkata ya!” jawab Bilqis membatin.

Dia mengangguk, sebelum turun dia berganti pakaian dengan polesan riasan tipis. Bilqis tergolong cekatan memberi gelas-gelas air minuman sari buah berbagai rasa pilihan dan makanan pembuka hingga penutup.

“Bilqis aku boleh nambah dessert nya nggak? Kalau kesini setiap hari bisa-bisa aku gendut” Barka yang datang dari balik pintu.

“Loh, kamu kok bisa ada disini?”

“Ya, aku di ajak ayah. Kamu udah makan belum?” tanya Barka.

Suara berisik para tamu yang hadir mengalahkan suara perut keroncongannya. Wajah Bilqis merah padam menahan rasa malu. Ingin sekali dia protes pada cacing di perutnya mengapa harus mengeluarkan suara yang merdu tepat di depan orang. Bilqis pergi meninggalkannya, dia tanpa sadar memberikan nampan di tangan Barka.

Pria itu berjalan ke dapur membantu melakukan melayani tamu. Gelas dan piring kotor dia angkat tanpa rasa malu dan sungkan. Arun melihat anak sahabatnya itu melakukan pekerjaan di rumahnya, dia menghentikan pembicaraan langkan akan menghampirinya.

“Jangan biarkan saja, anggap saja dia sedang belajar mandiri. Tidak biasanya dia mau melakukan pekerjaan seperti itu di rumah” ucap Topik tersenyum.

“Nggak bisa gitu dong, aku nggak mau tamu istimewa ku ini membawa anaknya hanya untuk membantu ku” kata Arun.

Nek Rina mondar-mandir seperti mencari sesuatu. Bilqis mendekat bertanya apa yang sedang dia lakukan. “Nenek ngapain? Cari apa?”

“Nenek mencari penggaruk pungguk, apa nenek jatuhkan di sekitar sini ya__”

Bilqis harus melanjutkan pekerjaan melayani tamu di samping membantu nek Rina mencari benda itu. Karena terlalu menunduk dan membungkuk melihat di kolong meja dan kursi. Bilqis menabrak salah satu tamu yang hadir. Gelas yang berisi minuman itu tumpah mengenai jas putihnya.

Pria itu tidak marah sama sekali, dia tersenyum kenyut lalu mengguncangkan jasnya. Sosok pria muda berpakaian rapi, ada stetoskop yang terlihat di kantungnya.Meminta Bilqis memberikannya tisu namun wanita yang lainnya berebutan memberikan sapu tangan mereka.

“Wijaya! Pakai punya ku aja”

“Nggak, sapu tangan ku lebih bagus dan mahal”

“Hei, aku adalah anak pengusaha nomor tiga. Mas Wijaya harus menerima sapu tangan yang kualitasnya lebih bagus ini”

Rumah Arun yang sangat luas, para rekan mitranya itu bukan hanya membawa anak namun membawa istri juga kerabat lainnya.

“Kenapa tidak sekalian kita ada kan saja pesta besar besaran!” celetuk Deni.

“Kamu bercanda ya, aku jadi berpikir acara ini pasti berlangsung sampai pagi. Kita minum yuk__”

Dia telah mengunci istrinya akan tetapi tepat di penghujung acara terlihat Arun bersama teman dan sahabatnya minum anggur merah di selingi karoke bersama di ruang lainnya.

......................

“Kakak kok senyum-senyum sendiri?” tanya Barka.

Wijaya memikirkan eksprsesi wanita yang menabraknya tadi. Di sepanjang perjalanan hatinya terdetak menanyakan siapa wanita yang berada di rumah pak Yosep itu.

“Oh,dia namanya Bilqis kak. Pindahan dari pulau seberang yang tinggal bersama kakak sepupunya” kara Barka.

Usia Wijaya terbilang cukup jauh dengan Bilqis, tapi rasa penasarannya berlanjut sampai dia tidak bisa tidur nyenyak. Berpikir mencari cara bagaimana bisa bertemu gadis itu lagi, dia akan mempercepat pekerjaannya menjemput Barka di sekolah.

Cuaca terik tidak menghalangi niat Wijaya nangkring berdiri di depan pintu mobil menunggu adiknya dengann pandangan mata mencari sosok Bilqis. Dia tersenyum melambaikan tangan, wajah bahagia Barka melihat kakaknya yang menjemput dia pun membalas lambaian tangan mempercepat langkahnya. Lambaian tangan itu belum berhenti, dia membalikkan tubuh ternyata ada Bilqis di belakangnya.

“Ckckck, aku pikir kakak ku sangat menyayangi ku sehingga menjemput ku hari ini” batinnya berdecak kuat.

“Dik Bilqis, pulang bareng yuk!” ajak Wijaya.

“Nggak makasih kak, sebentar lagi pak Yosep menjemput” tolak Bilqis bersama senyumannya.

“Yaudah kami nungguin kamu di depan gerbang, Ntar kamu di culik kan jadi repot. Hihih”

“Kak Wijaya sama Barka pulang duluan aja.”

Mobil itu membuntuti sampai Bilqis tiba di rumah. Raut wajah melihat keduanya mengatakan ingin singgah terpaksa Bilqis mempersilahkan mereka masuk. Bi Sumi tersenyum menyambut kedatangan mereka, dia sangat hafal minuman kesukaan kedua dengan jenis makanan ringan yang berbeda.

“Katanya Cuma singgah sebentar, tapi kok lama banget!” gumam Bilqis memperhatikan mereka yang asik sendiri melihat layar ponselnya.

Tanpa Bilqis ketahui, keduanya mengambil wajahnya gambar dengan berbagai sudut. Di dalam album ponsel terambil ratusan foto dengan fose yang sama.Gerak-gerik Wijaya yang terlalu terlihat, Bilqis berdiri melihat layar ponsel itu penuh dengan gambarnya.

“Kak Wijaya! Kakak kok ambil gambar ku sih, pokoknya di hapus!”

“Heheh, maaf dik.”

Bilqis pergi meninggalkan mereka begitu saja. Bi Sumi yang kini menjadi lawan pembicaraan mereka bertanya mengenai kabar keluarga. Berpikir meminta maaf atau menunggu dia turun menemui mereka pasti sangat lah mustahil.

Isi pesan whatsapp Wijaya kepada Barka

Dik, besok kakak menemui Bilqis. Semoga dia mau memaafkan kita.

Berpamitan kepada si mbok . Mereka hanya bisa cengar cengir lalu kembali pulang. Walau sudah mendapatkan amarah dari Bilqis, bekas gambar yang sudah dia hapus masih bisa di kembalikan dari file folder sampah.

“Untung gambar ini belum terhapus secara permanen!” gumam Wijaya.

Pesanan sebuah bucket bunga yang tertulis I am sorry di atasnya. Dia juga menyelipkan sebuah boneka berwarna pink dan sebatang coklat di atasnya.

Terpopuler

Comments

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

like plus 🌹

2023-05-04

0

nobon

nobon

bang arun suami sayang istri. rita mabuk kaga perduli ada tamu rekan kerja suaminya, dia menyenangkan diri sendiri dengan dunia nya. waduh..

2023-04-07

0

magenta

magenta

bilqis

2023-04-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!