Kelakuan Rita

Rita tertawa terbahak-bahak, dia mabuk berat berjalan sempoyongan. Suara jeritan memenuhi ruangan, wanita itu mencampakkan tasnya dan hand phonenya di sembarang tempat. Bilqis mendengar suaranya, dia membuka pintu melihat Rita dari atas tangga.

Pakaian mini hampir tidak menutupi tubuh. Riasan tebal, aroma parfum memenuhi ruangan. Rita mabuk berat tampak bi Sumi membantunya berjalan menaiki tangga.

“Gile bener tuh cowok. Letoy! Ahahah”

Omongannya meracau, Bilqis mengikuti membantu si memegangi sampai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia membantu melepaskan sepatunya, bi Sumi juga mengganti pakaian Rita dengan gaun tidur. Mereka berdua perlahan menutup pintu, setelah itu Bilqis bersama bi Sumi memeriksa kamar Riky. Anak itu sudah mendengkur, Bilqis perlahan merapikan selimutnya lalu menutup pintu.

“Bang Arun belum pulang bi?”

“Tuan besar pulangnya tidak menentu non. Kadang tuan pulang berbulan-bulan.”

Hidup bergelimang harta tapi haus akan kasih sayang. Bilqis melihat mereka dengan dunia masing-masing menggunakan harta tanpa memperhatikan atau perduli satu sama lain. Nek Rina menepuk pundak Bilqis, dia meminta Bilqis membantu memijat kakinya yang sedang sakit.

Di dalam kamarnya, Bilqis memijat kakinya hingga dia tertidur. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, Bilqis berjalan kembali ke kamarnya. Di pagi hari dia terkejut mendengar teriakan sepupunya Rita, efek minuman keras itu masih lengket membuat sistem syarafnya masih terganggu.

“Hei, hei anak udik. Come here! “

“Kak Rita, sebentar ya Bilqis ambil air hangat”

“Nggak usah, kamu rebus aja air hangat untuk mandi ku!”

Bilqis menuruti perintah Rita, seolah keran air mancur itu rusak atau belum membayar tagihan listrik. Bilqis merebus air panas membawanya ke bathup berkali-kali hingga tempat bak mandi itu terisi penuh. Saat akan memberitahu bahwa airnya sudah hangat, Rita tertidur pulas dengan dengkuran yang sangat kuat.

“Kak Rita, airnya kakak sudah siap. Nanti keburu dingin kak.”

“Berisik!”

Bilqis keluar dari kamarnya, dia harus segera mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Saat akan mengoles selai di atas roti, terdengar suara teriakan Rita memanggil namanya. Lagi-lagi dia mengatakan hal aneh, kali ini Rita meminta Bilqis mengganti air yang dingin itu.

“Kak, aku akan terlambat. Nanti aku akan kena hukum dan mendapat point sanksi.”

Rita kembali tertidur, Bilqis terpaksa meminta bi Sumi mengganti airnya. Dia ingin berpamitan pada nek Rina, tapi sang nenek sudah menghilang di dalam kamarnya. Di sepanjang perjalanan, dia melihat aturan rumah yang masih terasa asing baginya. Hatinya berat meninggalkan Rita yang masih dalam kondisi mabuk.

“Kita kapan beli buku sekolah bareng?” tanya Siris.

“Nggak tau , aku belum pamit sama kak Rita.”

“Tapi besok kita udah harus mengumpul tugas, tanpa bukti bukunya juga harus segera di tunjukkan ke ibu guru IPA.”

“Huufhh__”

“Gimana kalau kamu nitip aja sama kau Qis?”

“Ya, ide yang bagus. Nanti sore setelah mendapat ijin dari kakak maka aku akan mengambilnya di rumah mu. Terimakasih ya”

Kelas matematika kali ini menyita pikiran, Bilqis menguap menahan kantuk. Dia lupa rumus matematika yang dia hafal pada ulangan hari ini. Berlanjut pada pelajaran terakhir, dia merogoh tas tidak menemukan baju olahraganya.

“Aku seperti nenek-nenek pikun , aku lupa membawa pakaian olahraga” gumamnya.

“Bilqis yuk cepat, pak guru sudah menunggu kita” panggil Fati.

“Aku lupa bawa baju olahraga!”

Hukuman membersihkan lapangan basket, pada bel pulang dia masih berada di dalam ruangan olahraga mengambil bola-bola basket yang berantakan di lantai. Sebuah bola menggelinding, langkah seorang anak murid laki-laki menyodorkan beberapa bola.

“Terimakasih..” jawab Bilqis jutek.

“Kenalin nama aku Barka. Nama kamu siapa?”

“Aku Bilqis, maaf ya aku lagi buru-buru.”

Barka tetap membantunya membersihkan alat olahraga. Dia juga merapikan setiap nakas dan laci yang berserakan berbagai macam alat olahraga. “Kamu nggak usah repot-repot, biar aku aja!”

Bilqis sudah di tunggu pak Yosep di depan gerbang sekolah, keringat bercucuran di seka dengan tangannya. Dari luar ada yang mengentuk jendela mobil, Bilqis membuka melihat siswa yang membantunya di ruang olahraga.

“Bilqis, ini botol minum kamu ketinggalan.”

“Makasih ya Bar__”

“Den Barka, apa kabar den?”

“Alhamdulilah baik pak Yosep. Kirim salam sama Riky ya pak. Hihihih”

“Loh, dia kok kenal Riky?” gumam Bilqis.

Saat perjalanan pulang, Bilqis bertanya pada pak Yosep mengapa dia mengenal sosok Barka. Ternyata Barka sering berkunjung ke rumah Rita jauh sebelum Bilqis datang. Kedekatan hubungan rekan kerja dan persahabatan dari bang Arun dan ayahnya Barka.

Tiba pada sore hari, dapur di penuhi dengan kesibukan para pekerja yang memasak di dapur. Bilqis melirik tumpukan sayur mayur dan bahan pangan lainnya. Rumah juga di dekorasi bunga-bunga segar serta tirai yang di ganti senada dengan riasan lainnya.

“Mau ada acara apa bi?” tanya Bilqis.

“Nanti malam ada makan bersama teman kantor tuan besar non.”

“Huh, si bibi selalu aja panggil non. Panggil Bilqis.”

Dia ingat ada janji mengambil buku pesanan ke rumah Siris. Melingak-linguk kak Rita belum pulang, dia berganti pakaian meminta pak Yosep mengantarnya pergi.

“Ke jalan Kapuk ya pak.”

Di tikungan mengarah masuk ke gang sempit, Bilqis turun melihat rumah-rumah susun yang berdampingan. Pada penduduk yang tinggal ramai bagian atas banyak ibu-ibu menjemur pakaian. Siris tersenyum melambaikan tangan dengan sapu lidi yang dia pegang.

“Bilqis, disebelah sini!” teriak Siris.

Dia menarik tangannya masuk ke gang bagian kanan menaiki tangga menuju ke pintu nomor satu dari atas tangga. Di dalam sana ada keluarga Siris tersenyum melihat Bilqis, ibunya sibuk menjahit dan ayahnya seperti mengotak atik sebuah radio. Dua orang anak kecil bermain bola suasana. Mereka tampak bahagia. Bilqis bingung harus duduk di mana, ruangan sudah penuh hingga satu petak tempat itu terlihat sebuah tikar di bagian tidur tersusun tumpukan bantal.

“Kamu duduk disini aja Qis”

“Aku duduk di depan pintu aja Ris” jawabnya sambil membalas senyum ibunya.

“Loh, anak gadis nggak boleh duduk di depan pintu, nanti jodohnya balik lagi” kata bu Ema.

“Heheh__”

Siris menyodorkan tanda bukti struk belanjaan dan sebuah plastik besar yang berisi buku pesanannya. Bilqis membayar lalu memberikan beberapa lembar uang recehan kepada kedua adiknya.

“Ini untuk jajan ya dik adik.”

“Terimakasih kak__”

Hati Bilqis terdetak, dia sangat merindukan keluarganya. Air matanya menetes, hanya ada foto lama yang dia ambil dari dalam bingkai foto di atas buffet. Sesampainya di rumah, dia mencari nek Rina. Dia mengetuk pintu lalu mencium punggung tangannya memberitahu baru saja pulang mengambil pesanan buku pelajaran sekolah.

“Kamu sudah makan?” tanya nek Rina.

“Belum nek.”

“Makan sana, sebentar lagi kamu pasti sibuk membantu kakak mu bersiap menyambut tamu.”

Terpopuler

Comments

kimci

kimci

nasib di rumah orang

2023-04-03

0

pramuka

pramuka

next. baca pulang tarawih

2023-04-03

0

Tante godang

Tante godang

cinlok....

2023-04-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!