Mencoba memahami bahasa isyarat dari anak berkebutuhan khusus. Bilqis perlahan belajar segala gerak-gerik maupun keseharian dari anak laki-laki yang selalu mendekatinya itu. Bang Arun adalah seorang manager di sebuah perusahaan. Dia juga pengusaha tambang batu bara yang bisnisnya berkembang sangat pesat.
Di meja makan tersaji berbagai macam hidangan, Bilqis sungkan tidak berani menyentuh menunggu mereka selesai makan. Arun memperhatikan piring Bilqis masih kosong. Dia menyenggol tangan Rita memberikan kode menatap ke arah sepupunya.
“Kamu kenapa nggak makan dik? Mau diet? Nanti apa kata kak Hani? Kamu ikut kakak jadi kurus kering” ucap Rita.
“Nggak gitu kak, aku nunggu semua selesai makan aja ya.”
“Nggak bisa gitu, ayo di cicipi olahan kakak mu. Biasanya si mbok yang memasak, hari ini adalah hari kebahagiaan abang bisa makan olahan kakak mu setelah setiap lama.”
Tawa kecil hinggap melihat celetuk bang Arun. Di dalam hati Rita ingin menjerit berteriak bahwa itu adalah olahan dari dia memasak dari tutorial ajaran para teman-teman arisannya. Bang Arun mengatkan bahwa dia sudah mendaftarkan Bilqis di sebuah sekolah menengah atas favorit yang terkenal di wilayah Selatan. SMA Trisisan jaya yang lokasinya setengah jam perjalanan dari rumah. Pak Yosep sebagai supir yang bertugas mengantar jemputnya.
Seragam sekolah di sudah di sediakan bi Sumi di atas kasurnya. Bilqis mengucapkan terimakasih pada Arun dan Rita. Selesai makan bersama, mereka kembali ke kamar masing-masing.
Hari baru di mulai di cuaca yang mendung, seperti biasa mata Bilqis menyala pukul empat pagi menatap langit-langit kamar yang berbeda. Dia baru ingat sudah berada di rumah orang, perjuangan melanjutkan sekolah mengingat waktu kini biasanya dapur ibunya sudah sibuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Tidak ada lagi menimba air di sumur, mencuci piring di bak besar umum atau menyiapkan dagangan belanjaan ibu. Suara kumandang adzan subuh terdengar di dekat rumah Rita. Dia meraih mukenah lalu pergi ke masjid melaksanakan sholat subuh.
......................
“Maaf non Bilqis, sebaiknya kalau mau sholat shubuh di rumah saja. Disini kota besar, banyak preman berkeliaran hingga menyandera orang-orang yang keluar sendiri dari rumahnya” ucap bi Sumi ketika melihatnya kembali dari masjid.
“Tapi kan jaraknya Cuma sejengkal dari rumah mbok.”
“Tetap saja non.”
Di dalam kamar sambil bersiap memakai seragam sekolah, dia memikirkan perkataan bi Sumi. Dia mulai membaca situasi menanamkan dalam niat agar lebih mawas diri. Mengepang rambut, ransel dan botol air minum sudah berada di punggungnya, sepatunya di pengang menuruni tangga. Di bawah, ruangan meja makan di penuhi berbagai macam selai, roti lapis dan segelas susu di atas meja.
“Sarapannya non” ucap bi Sumi.
“Makasih bi, tapi panggil aku Bilqis saja ya. Mana yang lainnya bi?”
“Yang lainnya sudah pergi non, eh Bilqis”
Si mbok merasa Bilqis sebagai anak yang bersahaja. Dia tetap tidak mau memakai sepatu di dalam rumah. Di depan sana pak supir bersiap membukakan pintu mobil.
“Terimakasih pak sekali lagi biar saya yang membuka pintu sendiri.”
Senyuman melambai pak Yosep memperhatikan Bilqis tergolong anak yang memiliki sikap sopan santun pada orang tua. Tiba di depan gerbang sekolah, Bilqis memandang bangunan tinggi yang menjulang ke atas langit itu membuat bola matanya tidak bisa berhenti berkedip.
“Pasti bang Arun dan kak Rita mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk ku” gumam Bilqis.
Dia masuk ke dalam melihat setiap lorong dan kelas-kelas sangat bersih. Lantainya bisa di buat untuk berkaca dan para siswa yang berseragam sepertinya tampak angkuh berjalan memamerkan telepon genggam dan benda canggih lainnya.
“Halo, kamu sepertinya murid baru ya, kelas berapa?”
“Iya, aku mau cari bu Khumar. Dia wali kelas tiga A plus, apakah kamu tau dimana kantor guru?”
“Eh kenalan dulu dong, aku Hera anak kelas tiga B plus. Salam kenal ya”
“Aku Bilqis. Senang berkenalan dengan mu juga.”
Hera berjalan beriringan dengan Bilqis, dia menunjukkan letak kantor guru dan berjanji akan bertemu pada jam istiarahat di kantin lantai bawah. Perkenalan sebagai siswa baru di kelas itu, bu Khumar menempatkannya di bangku bagian dua dari depan.
“Hey kenalkan aku Siris.”
“Aku Bilqis.”
Sistem belajar di sekolah itu berbeda dengan tempat Bilqis bersekolah. Guru dan murid lebih aktif serta para murid di haruskan memiliki buku-buku paket lengkap. Pada hari pertama di sekolah, Bilqis tampak sibuk menulis tugas praktek yang harus dia selesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
“Dimana mencari buku sebanyak ini?” gumam Bilqis.
Dia duduk bersama Siris di salah satu bangku kantin sambil menunggu kedatangan Hera. Mereka bertiga memesan tiga mangkuk bakso dan minuman jus jeruk.
Glek__
Bilqis lupa bahwa dia tidak memiliki uang seperserpun. Bisa bersekolah saja dia sudah sangat bersyukur. Dia merogoh saku pada kantung baju. Semula dia tidak menyangka selembar uang berwarna merah hingga di dalamnya.
“Siapa yang meletakkan uang ini? tidak mungkin si mbok” gumam Bilqis.
Proses belajar mengajar berakhir pada pukul dua siang. Pak Yosep sudah menunggu di depan gerbang menjemputnya. Dia melambaikan tangan ke kedua temannya itu lalu masuk ke dalam mobil. Di dalam rumah yang tampak sepi itu hanya sesekali terdengar suara Riky dari dalam kamarnya.
Krek__
“Dik Riky sudah pulang sekolah?” tanya Bilqis menggunakan gerakan bahasa isyarat.
Riky mengangguk dia sedang sibuk menulis huruf di buku yang di sediakan untuk murid yang berkebutuhan khusus. Pikiran Bilqis bercabang, dia bingung bagaimana menyampaikan kepada kakaknya mengenai tugas sekolah dan beberapa buku yang harus dia beli.
Bang Arun datang dari balik pintu, dia menyodorkan sebuah amplop coklat ke tangan Bilqis. Sementara Riky yang masih fokus menyelesaikan tulisannya. “Ini apa bang?”
“Ini untuk keperluan sekolah kamu, bagaimana tadi sekolahnya? Kamu suka?”
“Alhamdulilah terimakasih banyak bang. Suka, tapi sekolah itu terlalu elit dan pasti biayanya sangat mahal.“
“Kamu jangan bicara seperti itu, abang dan kakak sudah berunding terlebih dahulu. Oh ya kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan bilang ke abang dan kakak ya__”
Arun berbalik badan meninggalkan mereka, menuju ke kamarnya. Tanpa menyapa Riky seolah dia tidak memiliki rasa kasih sayang pada anaknya itu. Bilqis meletakkan amplop melihat Riky hidup kekurangan kasih sayang bahkan sentuhan dari orang tuanya.
“Riky sudah makan? Mau kakak suapi?” tanyanya.
“S_u_d_a_h” jawabnya gagap kesusahan lalu menggerakkan bahasa tubuhnya.
Bilqis tersenyum mengusap rambutnya lalu beranjak pergi melambaikan tangan. Duduk di kursi menghadap ke luar. Di atas balkon kamarnya, dia membuka amplop coklat pemberian bang Arun tadi.
Satu tumpukan uang berwarna merah, dia melotot melihat saudaranya itu sangat royal kepadanya.
“Uang ini banyak sekali. Aku harus memberitahu kak Rita sebelum menggunakannya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Tanah Karo
gigih. berjuang demi kata sekolah. kamu harus mampu dan bertahan
2023-04-03
0
moci
lanjut menyimak
2023-04-03
0
Violet✨🟣
terksima dengan kegigihan Bilqis.
2023-04-03
0