BAB 7 Babi

“Saya serius!” tegas Melvin.

Tidak pikir panjang, dia akan menjadikan Disra miliknya tanpa harus mengulur waktu. Tidak peduli pula dengan usia mereka yang masih tergolong teramat muda. Tidak pernah menyangka mereka bertemu karena provider internet dan tak akan pernah Melvin melepaskan gadis itu lagi.

“Gila!” maki Disra. “Emang ….”

Tina datang dengan membawa secangkir teh untuk Melvin. Sontak membuat Disra mengurungkan melanjutkan makiannya.

“Silakan diminum Pak Peter,” ujar Tina sembari meletakan secangkir teh di atas meja.

“Terima kasih, Bu. Panggil saja saya Peter atau Melvin,” jelas Melvin.

“Oh begitu, baiklah Nak Peter,” ucap Tina masih berdiri di tempat tanpa ada keinginan untuk beranjak pergi.

“Bu, kami masih ada urusan. Aku keluar sebentar dengannya, ya,” izin Disra.

Dia ingin menjauhkan Melvin dari rumahnya. Dia tahu sifat ibunya yang sangat jelas menyukai Melvin. Tak ingin jika sang ibu berbicara sembarangan akan menggiring opini dia dan Melvin memiliki hubungan.

“Memang tidak bisa bicara di sini saja?” tanya Tina.

“Nggak bisa, Bu. Bukan sekedar obrolan. Kerusakan internet Pak Melvin berada di … emm … rumah kabel,” jelas Disra bingung menjelaskan pada sang ibu.

“Rumah kabel?” tanya Tina bingung karena memang dia tidak mengerti tentang jaringan.

“Iya, kotak besi yang suka ada di pinggir perlintasan jalan itu loch,” jelas Disra seumum mungkin. Tidak mungkin dia menjelaskan secara terperinci fungsi rumah kabel dalam jaringan internet.

“Emang kamu sekarang jadi teknisi lapangan? Kamu nggak takut hitam kerja lapangan? Bukannya kamu bilang kalau kamu itu teknisi melalui telepon saja?” tanya Tina berentet. Sedangkan Melvin hanya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak di depannya.

“Nanti Disra jelasain ya. Nggak enak sama pelanggan. Disra pergi dulu, Bu.” Disra langsung menarik tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya. “Disra pamit.”

Dahi Tina berkerut, dia memang tidak berpendidikan tinggi. Namun, dia merasa ada yang aneh dengan pemaparan anaknya. Perusahaan besar membiarkan pelanggan datang ke rumah karyawan kecil dan bukan ke kantor cabang atau kantor pusat untuk keluhan pelanggan. “Jangan lupa kunjungi Bapak. Ibu sudah menyiapkan makanan untuk Bapak.”

“Sekalian Disra bawa aja!" serunya.

Disra melirik kotak di atas meja makan dan mengambilnya. Dia beralih ke Melvin. “Ayo Pak, kita perbaiki internetnya,” ajaknya pada Melvin.

Melvin hanya tersenyum. “Saya izin pamit, Bu,” ujarnya pada Tina.

“Oh, iya. Hati-hati,” ucap Tina.

Disra menggiring Melvin untuk keluar dari rumahnya. Menuju ke taman yang tidak banyak orang berlalu lalang.

“Sekarang, katakan apa yang Anda mau?” tanya Disra.

“Sudah aku katakan. Aku akan bertanggung jawab padamu,” jelas Melvin.

Disra mendengus. “Sepertinya Anda kebanyakan belajar hingga mengeluarkan kata-kata omong kosong seperti itu.”

“Bukan omong kosong. Tapi itu sungguh-sungguh,” jelas Melvin.

Disra menggusar rambutnya. “Kita hentikan di sini. Aku tidak akan meminta maaf karena kau pun juga bersalah. Di tambah lagi, aku sudah dipecat dari pekerjaan. Jadi, anggap saja aku sudah menerima ganjarannya. Mari kita lupakan yang telah berlalu, anggap saja tidak pernah terjadi!” tegas Disra.

“Aku serius dengan perkataanku,” jelas Melvin menarik lengan Disra.

Disra melihat lengannya yang disengal oleh Melvin. “Lepaskan tanganmu! Jika kau tidak suka dengan makianku tempo lalu. Kau bisa melaporkanku pada polisi. Aku yakin kau memiliki bukti rekamannya!” tegas Disra menepis tangan Melvin setelah itu pergi meninggalkan pria itu sendiri.

Melvin hanya menatap kepergian Disra. Dia sadar telah berbuat gegabah. Tidak seharusnya dia langsung mengajak Disra menikah.

“Bisa-bisanya ketemu orang gila!” gerutu Disra masih berjalan menuju halte bus.

Dia menepati janjinya pada sang ibu. Dia pergi ke tempat ayahnya ditahan. Memberikan makanan pada sang ayah tanpa bisa menjanjikan kebebasan sang ayah.

Setelah mengunjungi sang ayah, dia pergi ke warnet dekat kampusnya. Hari sudah siang membuatnya enggan untuk pulang dan memilih mengahabiskan waktu untuk mencari pekerjaan. Membuka emailnya dan mulai melamar ke berbagai perusahaan. Tanpa disadari Disra. Melvin berada di kabin warnet yang berbeda dengan Disra.

Melvin mengikuti perginya Disra. Hingga ia tahu kasus yang sedang menimpa ayahnya. Mulai mengetikan pada komputer yang digunakannya.

Tidak sulit baginya untuk meretas. Melvin menyelidiki gadis pujaannya. Mulai dari jenjang pendidikan, melihat IPK yang didapat Disra selama perkuliahan, hingga saat ini dia bekerja. Bahkan Melvin bisa tahu apa yang sedang Disra lakukan di dalam warnet.

“Resepsionis, Teller, Costumer Service, aish! Harus pandai merias diri,” lirih Disra melihat lowongan pekerjaan yang lebih banyak mencari front liner.

“Desk Collection, nggak jauh-jauh sama headset sih. Programmer, design grafis,” gumamnya lagi. “Oke lah, semua aja gua lamar, mana duluan aja yang manggil dah.”

Disra mulai memasukan surat lamaran menggunakan email. Beruntung semua kelengkapan untuk melamar pekerjaan sudah di scan dan disimpan dalam email. Semua lowongan yang dikiranya masuk kriterianya dia masukan semua CV dirinya.

Detik demi detik terlewati. Dirinya hanya fokus mencari pekerjaan. Hingga ponselnya berdering. “Hallo, Beb,” sapa Disra. Bukan berarti kekasih memanggil teman dengan ‘Beb’. Hal itu dilakukan Disra pada hampir semua teman dekatnya.

“Elo mau bareng nggak? Gue lewat tempat kerja loe nih!” seru Felix.

“Gue dah nggak kerja, sekarang lagi di warnet deket kampus. Loe ke sini aja, Lix.”

“Ya udah, gua langsung ke kampus dah.”

Disra mematikan sambungan teleponnya dan melanjutkan mencari pekerjaan. Hingga dirinya lelah dan keluar dari warnet dan bertepatan dengan kedatangan Felix.

“Ciprut! Libur loe?” tanya Felix baru turun dari motornya.

“Dipecat gue! Bukan libur!” dengus Disra.

“Kok bisa?”

“Panjang ceritanya. Dah, entar gua ceritain. Laper nih, traktir gua nasi goreng ya!” seru Disra.

“Ya udah ayo. Naek motor ja ya.”

“Oke.”

Disra naik ke atas motor Felix dan meninggalkan warnet. Melvin hanya bisa melihat kepergian Disra dan Felix dari balik pintu kaca warnet buram. Pintu yang tak tampak terlihat dari luar. Tangannya mengepal, tidak rela jika Disra pergi dengan pria lain.

Felix tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Disra yang memaki pelanggan dan ternyata pelanggan tersebut adalah dosen mereka. Namun. Disra melupakan lamaran Melvin. Dia hanya berpikir bahwa sang dosen hanya omong kosong belaka.

“Jangan banyak ketawa loe!” Disra memasukan timun ke dalam mulut Felix.

Felix tidak marah, dia memakan timun tersebut. “Kebiasaan maki orang sih, jadi keterusan di tempat kerja ‘kan!”

Disra tak menggubris ejekan Felix. “Ada lowongan nggak di tempat loe?” tanya Disra.

“Apa ya, paling banyak yang dicari lulusan sarjana.”

“Yang D3 lah, kaya loe gitu! Tapi, nggak pa-pa juga sih yang kriteria S1‘kan gua bisa ngelamar pake transkip nilai!” seru Disra.

“Udah nggak ada lowongan kalau buat data analys. Tapi, nanti gua coba liat ya. Kayanya ada dech buat costumer service. Loe kan udah pengalaman di dunia call center. Delivery Support Quality Assurance bisa tuh loe lamar. Atau mungkin ngelamar jadi Customer Operations Team Lead.”

“Nggak jauh-jauh dari call center. Lama-lama jadi Miss Call deh gue!”

“Yang penting ‘kan nggak open BO (Booking Out)!” kekeh Felix.

“Ngaco loh! Loe pikir gue l*nte!”

“Harga diri tinggi ye. Mending mulung dari pada open BO.”

“Bukan! Itu karena gua nggak laku! Kurang cantik and kurang bahenol!” gurau Disra.

Felix dan Disra tertawa bersama. “Idung loe minimalis sih!” ejek Felix.

“Kucing makin pesek makin mahal! Jangan salah loe!”

“Emang loe kucing!” seru Felix. Dia lelah tertawa mengambil air mineral dan meminumnya. “Ya udah, kalau ada yang kosong gue langsung kabarin loe,” ujar Felix.

“Apa aja dech, yang penting gua interview dulu. Syukur-syukur diterima. Abis Kerja loe kayanya enak bener,” ucap Disra.

“Enaklah, makan bebas di sana. Cemilan cepuluh boleh dimakan sepuasnya!” ujar Felix membanggakan tempat kerjanya di salah satu perusahaan e-commerce terbesar.

“Pantesan tambah lama loe kaya babi, tambah endut!” ejek Disra.

“Ye, emang gua suka makan babi. Enak tahu, apalagi lemak babi yang pekat, itu bisa bikin kulit mulus tanpa tanpa harus pake skin care.” Felix menunjuk pipinya yang mulus tanpa jerawat.

“Kampret! Entar deh gue makan kalau si babi dah halal,” canda Disra terkekeh.

“Ngaco loe! Babinya di sunat dulu ya,” tambah Felix ikut terkekeh.

“Sebelum babi disunat, mending loe dulu yang di sunat!”

“Meskipun gua bukan muslim. Gua disunat kali waktu kecil!”

“Masa!” seru Disra.

“Nggak percaya? Mau bukti nggak?”

“Dih, ogah! Bisa muntah-muntah gua!”

“Belum tahu aja enaknya!”

Mereka tertawa bersama. Persahabatan yang terjalin membuat mereka bebas berekspresi. Tidak ada saling tersinggung dalam perbedaan mereka. Hanya melihat ketulusan dalam pertemanan. Sejenak, Disra melupakan segala permasalahan yang ada.

Terpopuler

Comments

jen

jen

cb aku bs punya teman kayak Felix /Grin/

2025-03-03

1

safana

safana

ada apa antara Peter dan disra waktu kecil

2025-03-12

0

Endang Sulistia

Endang Sulistia

betul tuh...

2025-03-27

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Magic Word Tak Berguna
2 BAB 2 Kerja Kuliah
3 BAB 3 Tamat Riwayatmu! Miss Call Angel!
4 BAB 4 Surat Pembaca
5 BAB 5 Dasar Kecoa Bunting! Babi Busuk! Cowok Brengsek!
6 BAB 6 Tanggung Jawab
7 BAB 7 Babi
8 BAB 8 Interview
9 BAB 9 Sekali Interview
10 BAB 10 Hari Pertama Kerja
11 BAB 11 Hidung Minimalis
12 BAB 12 Keganjenan
13 BAB 13 Enkripsi
14 BAB 14 Bebek Jontor
15 BAB 15 All You Can Eat
16 BAB 16 Tembus
17 BAB 17 Ciuman Pertama
18 BAB 18 Sah!
19 BAB 19 Mimpi
20 BAB 20 Ciuman Kedua
21 BAB 21 Cinta Ditolak, Dukun Bertindak!
22 BAB 22 1 Tahun Pacaran
23 BAB 23 Beauty and The Beast
24 BAB 24 Syntax Error
25 BAB 25 Dinas
26 BAB 26 Thailand
27 BAB 27 Bos Besar
28 BAB 28 Jenius
29 BAB 29 Trust
30 BAB 30 Transphobia
31 BAB 31 Makan Malam
32 BAB 32 Jam Tangan
33 BAB 33 Couple Sweater
34 BAB 34 Aturan Persahabatan
35 BAB 35 Pattaya
36 BAB 36 Satu Ranjang
37 BAB 37 Panggilan Telepon
38 BAB 38 Mineral Water
39 BAB 39 E-Commerce
40 BAB 40 Klakson
41 BAB 41 Di bawah pohon mangga
42 BAB 42 Penculikan
43 BAB 43 Room 19
44 BAB 44 Battle Dance
45 BAB 45 Makam
46 BAB 46 Kepergok
47 BAB 47 Tanggung Jawab
48 BAB 48 Persiapan Pernikahan
49 BAB 49 Bawa istrimu pergi
50 BAB 50 Malam Pertama
51 BAB 51 Tragedi Malam Pertama
52 BAB 52 Kabur
53 BAB 53 ASET
54 BAB 54 Bertaubat Bersama
55 BAB 55 Pesugihan
56 BAB 56 Mulutmu Harimaumu
57 BAB 57 Rendah Diri
58 BAB 58 Keistimewaan Hidung Minimalis
59 BAB 59 Video
60 BAB 60 Antara Marah dan Panggilan Alam
61 BAB 61 Persahabatan
62 BAB 62 Publikasi
63 BAB 63 Sistem Pakar
64 BAB 64 Hamil
65 BAB 65 Menuju Pernikahan
66 BAB 66 End
67 Terima Kasih
68 Promo Novel
69 April's Voice
70 Lucid Dream
Episodes

Updated 70 Episodes

1
BAB 1 Magic Word Tak Berguna
2
BAB 2 Kerja Kuliah
3
BAB 3 Tamat Riwayatmu! Miss Call Angel!
4
BAB 4 Surat Pembaca
5
BAB 5 Dasar Kecoa Bunting! Babi Busuk! Cowok Brengsek!
6
BAB 6 Tanggung Jawab
7
BAB 7 Babi
8
BAB 8 Interview
9
BAB 9 Sekali Interview
10
BAB 10 Hari Pertama Kerja
11
BAB 11 Hidung Minimalis
12
BAB 12 Keganjenan
13
BAB 13 Enkripsi
14
BAB 14 Bebek Jontor
15
BAB 15 All You Can Eat
16
BAB 16 Tembus
17
BAB 17 Ciuman Pertama
18
BAB 18 Sah!
19
BAB 19 Mimpi
20
BAB 20 Ciuman Kedua
21
BAB 21 Cinta Ditolak, Dukun Bertindak!
22
BAB 22 1 Tahun Pacaran
23
BAB 23 Beauty and The Beast
24
BAB 24 Syntax Error
25
BAB 25 Dinas
26
BAB 26 Thailand
27
BAB 27 Bos Besar
28
BAB 28 Jenius
29
BAB 29 Trust
30
BAB 30 Transphobia
31
BAB 31 Makan Malam
32
BAB 32 Jam Tangan
33
BAB 33 Couple Sweater
34
BAB 34 Aturan Persahabatan
35
BAB 35 Pattaya
36
BAB 36 Satu Ranjang
37
BAB 37 Panggilan Telepon
38
BAB 38 Mineral Water
39
BAB 39 E-Commerce
40
BAB 40 Klakson
41
BAB 41 Di bawah pohon mangga
42
BAB 42 Penculikan
43
BAB 43 Room 19
44
BAB 44 Battle Dance
45
BAB 45 Makam
46
BAB 46 Kepergok
47
BAB 47 Tanggung Jawab
48
BAB 48 Persiapan Pernikahan
49
BAB 49 Bawa istrimu pergi
50
BAB 50 Malam Pertama
51
BAB 51 Tragedi Malam Pertama
52
BAB 52 Kabur
53
BAB 53 ASET
54
BAB 54 Bertaubat Bersama
55
BAB 55 Pesugihan
56
BAB 56 Mulutmu Harimaumu
57
BAB 57 Rendah Diri
58
BAB 58 Keistimewaan Hidung Minimalis
59
BAB 59 Video
60
BAB 60 Antara Marah dan Panggilan Alam
61
BAB 61 Persahabatan
62
BAB 62 Publikasi
63
BAB 63 Sistem Pakar
64
BAB 64 Hamil
65
BAB 65 Menuju Pernikahan
66
BAB 66 End
67
Terima Kasih
68
Promo Novel
69
April's Voice
70
Lucid Dream

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!