Sepanjang perjalanan pulang baik Arga maupun Kasih sama-sama diam. Arga hanya fokus menyetir meski saat ini pikirannya sedang carut marut.
Ucapan Papanya seolah menjadi tamparan keras untuknya. Dia tahu betul Papanya adalah sosok pria yang sangat setia terhadap pasangan juga sangat menyayangi keluarga.
Bahkan sejak istrinya meninggal Pak Wijaya sama sekali tidak kepikiran untuk menikah lagi.
Lah tapi ini, Arga yang hanya di uji dengan pernikahannya sendiri malah sibuk bermain api dengan Kasih.
Sekilas dia menatap gadis yang sedang duduk di sampingnya. Dia memang tampak lugu dan penurut. Jelas saja ini bukan kesalahan Kasih.
Arga sendiri yang menginginkan hubungan kontrak itu. Bahkan dia memanfaatkan kesusahan Kasih untuk kepentingannya sendiri tanpa memikirkan perasaan Kasih.
Sejenak dia berpikir untuk menghentikan perjanjian kontrak itu. Dia ingin seperti ayahnya yang fokus bekerja saja dibanding menuruti saran sialan dari Alvin.
Sampai di apartemen mereka langsung masuk. Sementara Arga hanya mengantar Kasih setelah itu dia bilang ingin pulang ke rumahnya.
Tentu saja Kasih tak mungkin menahannya. Dia tahu Arga memiliki seorang istri di rumah yang harus diurus.
Mengingat fakta itu Kasih kembali merasa bersalah. Statusnya kini sebagai orang ketiga, perusak rumah tangga orang lain. Kasih dibuat frustasi karenanya.
...****************...
"Ahhh.. Sam.. Iyaahhh aku suka honey.. Teruskan..." suara sahut sahutan itu terdengar nyaring di rumah yang sudah beberapa hari ini tidak ada yang menempati.
Ya, rumah Arga. Felicia dan Samuel tengah memadu kasih di kediaman itu. Kediaman yang tampaknya jarang sekali Felicia datangi namun kali ini dia memilih tempat itu untuk bercocok tanam.
Tak lain tujuan Felicia sebenarnya adalah untuk membuat Arga meradang. Terlebih pria yang tengah menidurinya itu adalah Samuel, sahabat Arga dan mendiang Arka semasa kuliah dulu.
Semua itu dia lakukan hanya untuk membalaskan dendamnya kepada Arga yang telah memanipulasi keluarganya agar mau menerimanya menikahi Felicia.
"aku tidak akan biarkan kamu bahagia saat bersamaku Arga, jika kau licik maka aku bisa lebih licik darimu" gumam Felicia dalam hati.
Bagi Felicia cintanya kini telah mati terkubur bersama Arka.
Dia melakukan hubungan dengan beberapa laki-laki hanya untuk pelampiasan emosinya saja yang tanpa sadar sebenarnya hal itu justru merusak dirinya sendiri.
Namun selama tiga tahun ini pula Arga masih saja sabar menghadapi Felicia bahkan dia sama sekali tak ingin menceraikannya.
"Fel, ini beneran gak papa kita main di kamar Arga? Kalo dia tahu gimana?" tanya Samuel yang masih menggenj*ti Felicia.
"Enggaakk.. Gausah dipikirin.. Ahh" balas Felicia.
Felicia sempat gelisah karena Arga belum juga pulang ke rumah. Apa jangan-jangan pria itu tidak pulang?
Namun kegelisahannya tak berlangsung lama setelah mendengar suara mobil yang pasti milik Arga.
"Honey.. semakin keras Ahhh.. Faster..." suara Felicia dia buat lebih kencang.
Arga baru saja masuk ke dalam rumah. Namun dia dibuat heran melihat sepasang sepatu yang asing untuknya. Tidak mungkin milik Felicia karena ukurannya milik laki-laki. Daripada penasaran akhirnya Arga mencari tahu ke dalam. Namun saat berjalan di dekat kamarnya dia mendengar suara perempuan dari dalam.
Arga membuka pintu kamarnya dan apa yang telah dilihatnya benar-benar di luar dugaan.
"KALIAN..!!" Arga langsung berteriak ketika melihat Felicia yang ditunggangi sahabatnya sendiri.
Arga langsung mendekati mereka berdua. Samuel yang gelagapan langsung mendapat bogem mentah Arga hingga tersungkur di lantai.
Sementara Felicia yang masih berbaring dengan tubuh polosnya sambil menahan seringaiannya.
"Arga.. So-sorry. Gue gak maksud.."
"Halah... Parah lo Sam." Arga kembali melayangkan pukulannya.
"Pergi lo dari hadapan gue sebelum ancur disini" emosi Arga benar benar tak terbendung.
Kini Arga mendekati Felicia yang masih dalam posisi yang sama.
Dia beranjak naik ke atas tubuh Felicia. Sorot matanya sudah penuh dengan kobaran api emosi. Rahangnya yang mengerat kuat saat melihat istrinya itu.
"Mau apa? Nidurin aku sekalian? Sini mumpung aku juga lagi di puncak-puncaknya" ujar Felicia tanpa bersalah.
Dia bahkan berani meraih tangan Arga dan menempelkannya ke miliknya.
"Kamu selalu menginginkan lubangku kan? Ini.. Sekarang nikmati ini. Tapi sedikit becek karena cairan Samuel. Ups" Felicia tak berhenti menyindir Arga.
Arga segera menarik tangannya.
Kali ini dia langsung menekan leher Felicia dengan kuat. Mencengkeram hingga Felicia membuka mulutnya karena kehabisan nafas.
"Kau pikir aku mau tubuhmu yang bercampur banyak pria hah? Memang benar sekali ****** tetaplah ******" Arga terus mempererat cengkeramannya di leher Felicia.
Sementara Felicia kini wajahnya sudah memerah bahkan matanya telah mengeluarkan air mata. Tangannya yang mencoba untuk melepaskan cengkraman itu sama sekali tak berhasil.
"Kau sengaja kan? Kau gunakan kamarku untuk perbuatan kotormu? Kau mau apa? Cerai? Mati? Hah.." kini Arga baru melepaskan tangannya.
Felicia langsung terbatuk-batuk sambil tersengal mengambil nafas dalam-dalam.
Arga beranjak dari atas tubuh Felicia dan berjalan menjauhinya.
"Mulai sekarang kau bukan istriku lagi. Puas kau?" ujar Arga menahan kecewa.
"yaa.. Aku memang puas. Ini yang aku inginkan sejak dulu" Felicia menyeringai.
"Tapi jangan senang dulu. Jangan harap kau bisa menang dariku" Arga membuka ponselnya dan menunjukkan rekaman CCTV kamarnya.
Rupanya kamar itu ada CCTV tersembunyi. Felicia benar-benar tak tahu.
"Mas.. Jangan macam-macam kau" ujar Felicia panik.
"Tidak, hanya satu macam. Aku hanya akan menunjukkan ini kepada orang tuamu" ujar Arga yang berjalan keluar meninggalkan Felicia.
"Arga.. Jangan.. ARGAA..." teriakan itu tampaknya tak lagi dipedulikan oleh Arga.
Sementara Samuel kini telah kabur entah kemana. Dia benar-benar sangat malu dan bersalah karena telah jatuh pada rayuan Felicia.
Arga pergi meninggalkan rumah itu dengan keadaan kacau. Dia benar-benar marah dan kecewa. Selama ini memang membebaskan Felicia tapi saat melihatnya berhubungan dengan pria lain di atas ranjangnya itu benar-benar.
Arga tak habis pikir. Dia juga sangat bersalah kepada mendiang saudaranya.
Padahal Arka, saudara kembar Arga yang mengatakan sendiri untuk menjaga dan membahagiakan Felicia jika sewaktu-waktu dia pergi.
Kini dia gagal. Dia tidak bisa menjalani amanah itu. Harapannya menjadikan Felicia sebagai istri pertama dan terakhirnya kini telah pupus. Arga tidak kuat lagi.
Dia terus memacu mobilnya hingga berhenti di sebuah klub malam. Tempat yang sangat jarang sekali Arga datangi bahkan hanya beberapa kali jika ada teman yang mengajaknya.
Dia langsung memesan berbagai macam minuman beralkohol bahkan sejak di meja bar itu total sepuluh gelas berjajar dihadapannya.
Arga meminumnya satu persatu berharap pikirannya jadi teralihkan sebab kejadian tadi.
"Kau harus menanggung konsekuensinya Feli.. Kau telah mematahkan hatiku"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
sabar arga
2023-09-13
0
George Lovink
Selalu cerita novel baik aplikasi sebelah kalau kecewa lari keminuman keras...
2023-09-07
0