Pikiran Felicia terus terusik. Entah kenapa saat mengetahui Arga di hotel saat itu dia menjadi penasaran dan merasa kecewa.
Dia tahu betul Arga bukanlah pria yang suka main perempuan. Tapi... Apa yang dilihatnya waktu itu benar-benar tubuh seorang perempuan.
Meski tak dipungkiri dirinya sendiri juga tidak mau menerima Arga sepenuhnya menjadi suaminya.
Bahkan Arga sering memergokinya bersama pria lain. Tapi kali ini giliran Felicia yang memergoki Arga rasanya sejengkel ini.
Jangan-jangan Felicia mulai memiliki perasaan kepada Arga? "Ah, tidak mungkin" Felicia langsung menepisnya.
Kemudian dia berpikir jangan-jangan wanita itu tinggal di rumah Arga.
Karena sudah hampir satu bulan ini Felicia sama sekali tidak pulang ke rumah Arga.
Akhirnya Felicia bergegas menuju kediaman Arga untuk memastikan.
Setelah sampai di rumah tersebut Felicia segera masuk ke dalam rumah dan mencari-cari keberadaan wanita itu. Namun dia tak menemukan siapapun.
Arga baru saja pulang dari kantor. Kebetulan dia tidak ke apartemen Kasih hari ini karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah.
"Mas Arga.." panggil Felicia.
"Iya ada apa Fel?" balas Arga.
"Emm.. Enggak. Aku cuma mampir saja" Felicia berusaha menutupi kecanggungannya. Karena selama ini dia tidak pernah pulang jika Arga tidak memintanya.
"Aku boleh nginep sini mas?" tanya Felicia.
"Tentu saja. Kan ini rumah kamu juga" ujar Arga yang masih fokus dengan laptopnya.
"Ya barangkali aja nggak boleh, kan mas Arga sudah punya.." Felicia ragu untuk meneruskan ucapannya. Berharap Arga yang mengklarifikasi sendiri.
Namun sama sekali tak ada sahutan bahkan kini Arga justru beranjak pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Ck, berlagak nggak ingat lagi" gumam Felicia kesal.
Sebenarnya Arga sengaja untuk diam dan tidak membahas apapun agar Felicia menjadi semakin penasaran.
Ada setitik kebahagiaan untuk Arga. Setidaknya kini Felicia mau pulang tanpa dia yang minta.
...****************...
Kasih merasa lega saat Arga tidak datang ke apartemen. Itu artinya dia bisa sedikit lebih bersantai serta mengistirahatkan badannya dari pergelutan di atas ranjang.
Semenjak kejadian di hotel beberapa waktu lalu Arga semakin gencar meminta itu kepada Kasih.
Mau tidak mau dia harus menurutinya bahkan terkadang saat istirahat siang hari Arga membela-belain pergi ke apartemen Kasih hanya untuk minta jatah.
Namun saat di apartemen itu sendirian membuat Kasih merasa bosan juga. Akhirnya dia memutuskan untuk menonton tv, namun sendirian dan tidak ada cemilan benar-benar membuatnya bosan.
Akhirnya Kasih berinisiatif pergi ke minimarket untuk membeli makanan ringan.
Jarak apartemen ke minimarket kurang lebih sekitar 150 meter. Daripada mencari kendaraan Kasih lebih senang berjalan kaki. Itung-itung olahraga.
Sampai di minimarket Kasih langsung mengambil beberapa beberapa snack dan minuman dingin.
Saat hendak membayar di kasir tak sengaja dia bertemu Alvin.
"Kak Alvin.." sapa Kasih.
"Eh Kasih, kamu disini juga?" tanya Alvin.
"Iya Kak, beli cemilan" ujar Kasih sembari menunjukkan belanjaannya yang sekeranjang penuh. Sementara Alvin hanya terlihat membeli rokok dan sebotol air mineral.
Tiba saatnya giliran Alvin membayar di kasir.
"Sini sekalian" Alvin langsung mengambil keranjang belanjaan Kasih.
"Eh, Kak nggak usah, ini banyak.." Alvin tak mempedulikan ucapan Kasih.
"Tunggu di luar ya" ujar Alvin selagi membayar di kasir.
Kasih pun akhirnya hanya bisa mengangguk kemudian berjalan ke luar.
Beberapa saat kemudian Alvin juga keluar membawakan satu kantong belanjaan Kasih.
"Makasih Kak, tapi bener ini nggak ngrepoti?" tanya Kasih.
"Sama sekali enggak kok, kamu mau langsung pulang atau mau santai dulu?" tanya Alvin.
"Kak Alvin sendiri?"
"Aku sih pengen nyantai tapi gak ada temen, mau nemenin aku?" tanya Alvin.
Kasih pun mengiyakan saja karena di apartemen dia juga merasa suntuk.
Setelah berkendara beberapa saat mereka sampai di sebuah cafe. Tempatnya cukup nyaman dengan desain tempat yang klasik.
Alvin dan Kasih memesan dua es kopi. Mereka duduk di salah satu sudut cafe.
"Bagaimana kamu sama Arga?" tanya Alvin tiba-tiba.
"Eng_Enggak gimana-gimana Kak" ujar Kasih agak gelagapan.
Entah kenapa saat mendengar nama Arga dia menjadi salah tingkah sendiri. Masak iya mau bilang ke Alvin kalau Arga semakin liar di ranjang kan malu.
"Oh iya, ngomong-ngomong masakan kamu enak Kasih, aku sering dikasih Arga waktu makan siang. Eh tapi maaf ya aku jadi lancang, harusnya itu kan buat dia." ujar Alvin.
"Iya gak papa kak, aku bikinnya sengaja agak banyak siapa tahu Mas Arga mau bagi ke yang lain" ujar Kasih.
Saat sedang berbincang tiba-tiba Kasih menangkap pandangan seseorang yang tak asing baginya.
"Itu kan.." tak mampu meneruskan ucapannya sebab seorang yang dia lihat adalah wanita yang kemarin dijodohkan dengan Felix.
Tak lama kemudian muncul Felix di belakangnya. Pria itu tampak dingin.
"Ada apa Kas?" tanya Alvin heran.
Sementara Kasih berubah raut wajahnya melihat keberadaan mereka berdua yang sepertinya sedang memesan sesuatu.
Alvin pun berusaha mencari tahu.
"Kamu kenal mereka?" tanya Alvin.
"Dia.. Mantan suamiku Kak" ucap Kasih lirih.
Alvin menyadari bahwa Kasih sepertinya mulai tidak nyaman.
"Mau pulang aja?" ujar Alvin.
Kasih pun mengangguk. Dia langsung berjalan keluar cafe tanpa memandang Felix sama sekali.
Kini Alvin dan Kasih sudah berada di dalam mobil. Kasih menyerongkan tubuhnya memandang nanar keluar jendela mobil.
"Kasih, Are you okay?" Tanya Alvin pelan.
"Kalau kamu pengen cerita gak papa, aku siap mendengarkan." ujar Alvin lagi.
Kini Kasih menatap Alvin dengan berlinang air mata.
Entah kenapa hati Alvin terasa begitu miris melihatnya.
"Aku kemarin dengar Felix mau dijodohkan dengan wanita itu. Tapi kenapa secepat ini?" Kasih menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Menangislah, luapkan semua kekesalanmu. Itu akan membuatmu lega" ujar Alvin.
Kini Kasih tak merasa malu lagi. Dia menangis sekencang-kencangnya hingga dia merasa lega.
Hampir satu jam dia menangis. Hingga lama-lama dia mulai mereda.
"Aku mungkin tidak pernah mengalami hal menyakitkan sepertimu. Tapi aku yakin kamu wanita yang kuat Kasih. Bersabarlah suatu saat kamu pasti akan bahagia" kata-kata Alvin tampaknya mampu menyejukkan hati Kasih.
"I-iya kak.. Terimakasih" ujar Kasih masih sedikit terisak.
"Jika kamu butuh sesuatu. Bilang saja padaku Kasih. Anggap saja aku adalah kakak laki-lakimu." ujar Alvin serius.
Tak pernah Alvin seserius ini dengan seorang wanita. Namun melihat Kasih hatinya seperti ada sebuah dorongan. Bukan dorongan nafsu atau sekedar ingin memiliki.
Melainkan rasa ingin melindungi layaknya seorang saudara.
Kasih merasakan ada setitik asa yang membuatnya merasa tenang. Untuk pertama kalinya seseorang menganggapnya saudara. Meski belum lama kenal dengan Alvin dia tahu bahwa pria itu memiliki hati yang baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
semoga benar kasih adkny alvin
2023-09-13
0