Kasih tergolek lemas di atas ranjang. Permainan Arga benar-benar menguras tenaganya.
Arga melampiaskan semua hasratnya yang terpendam selama ini.
Meski ini bukanlah yang pertama untuk Kasih namun menghadapi tenaga Arga yang seolah memiliki kekuatan super membuatnya sangat kewalahan.
Di luar, langit sudah mulai gelap. jam sudah menunjukkan pukul 18.30. Itu artinya hampir enam jam mereka melakukan pergumulan.
Arga tampak tidur memeluk Kasih dari belakang. Tubuh mereka masih sama-sama polos. Hanya terbalut selimut menutupi hingga dada.
Hening. Tak ada yang bersuara hanya suara nafas mereka yang saling bersahutan.
Tiba-tiba...
"Tidak.. Jangan.. Lepaskan aku.. Ampun... Hiks.. Hiks.." Kasih berteriak dan menangis dengan histeris.
Ketenangan itu buyar seketika. Arga yang masih mengantuk langsung tersentak melihat gadis di sampingnya menangis histeris sambil menutup mata.
"Kasih.. Kasih.. Sadarlah.. Kasih.." Arga dengan panik menepuk-nepuk pipi Kasih.
Setelah beberapa saat Kasih pun tersadar. Dia membuka matanya dan mendapati Arga sudah duduk di sampingnya.
Pria itu membantu Kasih untuk duduk dan memberikan segelas air putih.
Kasih masih canggung menerima gelas itu kemudian dia minum sampai habis.
"Kamu mimpi buruk?" Arga mengusap pundak Kasih.
Namun seketika Kasih menepis tangan Arga. Dari sorot matanya masih tampak ketakutan.
"Mau mandi?" tanya Arga kembali sembari memakai boxernya.
Kasih hanya mengangguk pelan. Kemudian dia mencoba berjalan namun kakinya terasa sangat lema. Alhasil dia langsung jatuh dengan selimut membelit tubuhnya.
Arga segera bangkit dan mengangkat tubuh Kasih meninggalkan selimut tergeletak di lantai.
Sebenarnya Kasih sangat malu ketika dirinya yang tela njang bulat digendong oleh pria. Namun dia tak bisa berbuat banyak karena tubuhnya juga sangat lemas.
Arga mendudukkan Kasih di atas meja wastafel kemudian mengisi bathtub dengan air hangat serta memberinya sabun.
Setelah terisi dia mengangkat tubuh Kasih dan meletakkan di dalam bathub dengan pelan.
Tak lupa di melepas boxernya dan ikut bergabung. Duduk di belakang Kasih.
Kasih yang sedikit terguncang tadi mulai sedikit tenang.
Sementara Arga dengan telaten menyabuni tubuh Kasih dan membasahi rambut Kasih.
Dia menuangkan shampo ke tangannya kemudian membalurkan ke rambut Kasih.
Dikusaknya dengan lembut seolah Kasih merasa seperti anak kecil yang dimandikan ayahnya.
Arga memang tak banyak bicara, namun perlakuannya kepada Kasih mencerminkan bahwa pria itu sangat perhatian.
Bahkan saat berhubungan dia berkali-kali menanyai Kasih apakah sakit, mengurangi tempo gerakannya saat Kasih mengaduh.
Setelah berhubungan pun Arga dengan sigap membersihkan milik Kasih dengan tissue. Mengecup keningnya dan membenarkan posisi bantal Kasih agar nyaman.
Padahal setau Kasih saat dia mencari informasi di internet seorang Sugar Daddy kebanyakan selalu bersikap semaunya sendiri, mendominasi serta tak jarang menganggap lawan mainnya hanyalah benda untuk pemuas saja.
Namun apa yang dilakukan Arga ini benar-benar jauh dari itu. Bahkan bisa dibilang dia lebih perhatian dibanding Felix mantan suaminya.
Ah, lagi-lagi Kasih harus mengingat nama itu lagi. Rasa sakitnya yang ditorehkan oleh pria itu benar-benar masih membekas tajam di hatinya.
Namun, Arga pun juga di orang asing, tak ada ikatan pasti bahkan pria itu audah memiliki istri. Hubungan di antara mereka hanyalah sebatas kontrak saja.
Selesai membilas tubuh Kasih kini Arga memakaikan bathrobe dan kembali menggendongnya menuju meja rias.
Arga mengambil sisir dan hendak menyisir rambut Kasih namun segera dicegah oleh Kasih.
"Aku bisa sendiri mas.." Kasih berusaha meraih sisir tersebut namun Arga menolaknya.
"Kau sudah bekerja keras hari ini. Biarkan aku memanjakanmu" ujar Arga.
Seketika hati Kasih langsung berdebar.
Bahkan Arga mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Kasih.
"Mau makan apa? biar saya order. Kamu masih sangat lelah kan?" ujar Arga.
"Terserah Mas Arga aja.." jawab Kasih pelan.
Akhirnya Arga memesan beberapa makanan dari restoran kesukaannya. Mereka menikmati makan malam di apartemen tersebut sembari masih memakai bathrobe.
Tak banyak yang mereka bicarakan. Baik Arga dan Kasih sama-sama sibuk menikmati makanannya. Hanya Arga yang beberapa kali memeluk pinggang dan mencium pipi Kasih.
Sementara Kasih kini makan dengan sangat lahap. Dia benar-benar lapar dan butuh mengisi kembali tenaganya.
"Pelan-pelan Baby," Arga mengusap bekas makanan yang belepotan di bibirnya.
Kasih pun hanya tertunduk malu. "Maaf.." gumamnya lirih.
Arga pun tersenyum melihat tingkah Kasih.
Selesai makan mereka mengobrol di sofa. Kasih kini sudah memakai piyama sementara Arga memakai kaos polos putih serta boxer hitam.
"Kasih, boleh tanya?" ujar Arga.
"Iya mas?"
"Kamu menikah umur berapa?" tanya Arga.
"Umur dua puluh tiga mas, pas lulus kuliah" ujar Kasih tak berani menatap Arga.
Sementara Arga langsung menoleh ke arahnya seolah tak percaya.
"Dua puluh tiga tahun sudah menikah? Kenapa secepat itu memutuskan menikah?" tanya Arga penasaran.
Kasih pun sedikit gugup saat menjawabnya.
"Emm.. Waktu itu Mas Felix ngotot untuk mengajak nikah. Karena dia tidak mau dijodohkan oleh orang tuanya." ujar Kasih.
"Berarti mertua kamu tidak setuju dong?" Arga merendahkan suara televisinya sehingga bisa mendengarkan suara Kasih yang cenderung pelan.
Kasih pun mengangguk. Berarti benar dugaan Arga, bahwa Bramantyo tidak setuju dengan pernikahan mereka.
"Lalu, kenapa kamu bercerai?" tanya Arga lagi.
"Soal itu.." Kasih menundukkan kepalanya. Dia teringat Felix yang menceraikannya karena dirinya pernah diperk*sa orang tak dikenal. Namun mengatakannya langsung kepada Arga sepertinya akan sangat sulit.
Kasih ingin sekali mengubur dalam-dalam masalah itu.
Sementara Arga yang melihat Kasih tampak bersedih pun jadi merasa bersalah.
"Baiklah. Tidak usah dijawab jika kamu tidak ingin mengatakannya" Arga menepuk bahu Kasih kemudian terdengar suara ponsel Arga yang berdering.
Arga segera bangkit dan berjalan menjauhi Kasih untuk mengangkat ponselnya.
Entah kenapa jantung Kasih tiba-tiba berdebar dengan keras. Dia takut bahwa seorang yang menelepon Arga adalah istrinya. Bagaimana kalau dia tertangkap basah?
Tak berapa lama Arga kembali menemui Kasih. Tapi apa yang di lihatnya sungguh berbeda.
"Why you so scared?" Arga melihat ekspresi Kasih yang ketakutan.
"A-Apa.. Itu Istri M-Mas Arga?" suara Kasih tampak gemetar.
"Bukan, Alvin yang menelepon" Arga berjalan menuju kamar tidur.
Kasih masih di sofa merasa lega. Setidaknya itu bukan istri Arga.
Beberapa saat kemudian Arga keluar kamar sudah berganti pakaian lebih formal.
"Saya ada urusan jadi harus pergi. Kamu tidak apa kan sendiri? Besok saya akan kesini lagi" Arga mengusap pipi Kasih kemudian mengecup bibirnya singkat.
"I-Iya Mas.. Mas sudah seharusnya pulang. Nanti dicari istri mas" jawab Kasih ragu-ragu.
Arga hanya menatap Kasih sekilas kemudian berjalan pergi menghilang di balik pintu.
Kasih menghempaskan tubuhnya ke sofa. Wajahnya menengadah ke atas memandangi langit-langit berwarna putih dengan lampu temaram itu.
Air mata mulai basah membanjiri pipinya. Dia masih tak menyangka bahwa hidupnya akan menjadi seperti ini.
Harapannya membina rumah tangga dengan Felix kini telah kandas dan bahkan lebih parahnya lagi dia harus menerima kenyataan menjadi wanita simpanan seorang pria beristri.
"Ini salah, tapi aku bisa apa?" gumam Kasih sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
.
.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
sabar y kasih entr ada pelangi bt mu
2023-09-13
0