"Fel, kamu dimana sih. Coba dihubungi gampang dikit napa?" Arga sedikit uring-uringan jika harus berbicara dengan istrinya.
"Mas Arga kenapa sih? Aku ini masih sibuk pemotretan katalog di London mas. Tumben banget nyariin." jawab Felicia dari sambungan teleponnya.
"Papa ngajak dinner suruh ngajakin kamu." ujar Arga.
"Aduh mas, kalau sekarang-sekarang ya nggak bisa. Aku lagi sibuk banget tau. Mungkin paling cepat dua minggu lagi. Ntar deh aku kabarin kalau pulang" ujar Felicia.
Arga yang kesal tak menjawab ucapan Felicia dan langsung menutup teleponnya.
Selalu dan selalu seperti itu. Sejak awal pernikahannya Arga dan Felicia tak pernah benar-benar menjalankan rumah tangga seperti pasangan pada umumnya.
Pernikahan mereka adalah hasil perjodohan dengan kesepakatan bisnis. Tak ada cinta di antara mereka. Bahkan Felicia terang-terangan mengakui bahwa dia tidak bisa mencintai Arga sekalipun mereka sudah saling mengenal sejak kecil.
Felicia juga selalu disibukkan dengan pekerjaannya sebagai model sekaligus desainer.
Belakangan dia juga mengaku kepada Arga bahwa dirinya telah menjalin hubungan dengan pria lain.
Jika pada awal pernikahannya Arga terus berusaha membangun rumah tangga yang baik kini akhirnya dia menyerah.
Arga sudah lelah dengan sikap Felicia yang sangat semaunya sendiri. Pada akhirnya Arga memutuskan untuk mengumbar Felicia apapun yang ingin dia lakukan asalkan di mata Papanya hubungan mereka tetap terlihat harmonis.
Sementara di tempat lain kini Kasih mulai beranjak pergi dari kediaman Felix. Harapannya mendapat pertanggung jawaban kini pupus sudah.
Dengan langkah gontainya dia menyusuri pinggiran jalan karena memang tidak ada trotoar tempatnya berpijak. Bahkan dia masih mengenakan pakaian rumah sakit.
Kasih merasa haus dan ingin membeli minuman di minimarket seberang jalan sekalian mengambil uang dari kartu kredit yang diberikan oleh Felix.
Saat hendak menyebrang tiba-tiba ada mobil yang melaju cukup kencang ke arahnya. Kasih berusaha minggir namun mobil itu sepertinya memang mengincarnya.
BRAKKKK....
Kecelakaan pun tak terhindarkan. Setelah menabrak Kasih mobil itu cepat-cepat tancap gas dan pergi.
Orang-orang yang mengetahui langsung datang untuk menolong Kasih.
Sayang sekali keadaannya yang cukup parah sehingga dia langsung di panggilkan ambulan.
Kebetulan salah satu orang yang menolong mengenali pakaian yang digunakan Kasih sehingga dia langsung membawanya ke rumah sakit X.
Kasih yang tak sadarkan diri dengan keadaan cukup memprihatinkan segera diberi pertolongan pertama.
"Bukankah dia nona Kasih yang kabur pagi tadi?" ujar salah satu perawat yang pernah menanganinya.
Tak berselang lama dia memberitahu dokter dan langsung menghubungi Arga.
Masih di kantor Arga tengah sibuk mengecek beberapa dokumen dikejutkan dengan dering teleponnya.
"Siapa sih. Awas saja kalau Felicia. Tidak bakal aku angkat" ujar Arga yang masih geram.
Dia meraih ponselnya dan melihat nomor tak dikenal sedang menghubunginya. Karena penasaran Arga pun langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Arga.
"Selamat siang. Ini benar Pak Arga? Nona Kasih istri anda sudah ditemukan pak. Namun keadaannya sangat memprihatinkan. Dia mengalami kecelakaan dan kami minta persetujuan untuk tindakan operasi" ujar perawat yang menelepon Arga.
"Apa? Kecelakaan? Baik saya segera kesana. Tolong segera beri tindakan apapun yang penting dia selamat." tanpa pikir panjang Arga langsung bergegas ke rumah sakit. Dia juga langsung menghubungi Alvin untuk menyusulnya.
Lima belas menit kemudian Arga sampai di rumah sakit. Dia langsung menemui dokter yang menangani Kasih.
"Dokter, apa yang terjadi?" Arga yang masih mengatur nafas karena dia sempat berlari memasuki rumah sakit tersebut. Tak berselang lama Alvin juga datang menyusulnya.
"Tadi kami menemukan Nona Kasih mengalami kecelakaan. Keadaannya cukup memprihatinkan. Janin yang dikandungnya tak selamat dan kepalanya mengalami cidera sehingga harus kami operasi untuk menghentikan pendarahannya"
Arga mengusap wajahnya dengan kasar. "Dokter apapun yang terjadi selamatkan nyawanya. Dia harus sembuh" ujar Arga khawatir.
"Kami akan lakukan yang terbaik" sikap Arga tentu saja membuat dokter semakin percaya bahwa dia adalah suami Kasih.
"Alvin. Tolong cari tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi" ujar Arga.
"Baik Pak.." Alvin segera menjalankan perintah majikannya.
Lebih dari satu jam berlalu Arga masih saja menunggu operasi Kasih yang belum selesai. Hal itu membuatnya semakin khawatir.
Hingga lampu pemberitahuan di ruang operasi tersebut berubah warna. Menandakan Kasih selesai di operasi. Arga menjadi lega namun juga was-was karena dokter belum memberitahu hasilnya.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri Arga.
"Bagaimana dokter operasinya?" tanya Arga.
"Operasi berjalan lancar dan Nona Kasih sudah berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang tinggal menunggu siuman serta kami akan terus memantau keadaannya." ujar dokter tersebut.
"Terimakasih dokter" ujar Arga lega.
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan Arga akhirnya diperbolehkan untuk menemui Kasih.
Dia kembali melihat tubuh lemah wanita itu yang terpasang beberapa selang di tubuhnya.
Tampak kepalanya yang terbungkus perban serta bekas luka di beberapa anggota tubuhnya.
Rasa iba dan prihatin memenuhi benar Arga. Sekilas dia teringat mendiang sang ibu yang dahulu juga mengalami kecalakaan seperti ini. Namun bedanya ibu Arga tak terselamatkan dan harus berpisah selamanya dengan dirinya.
Tiba-tiba air mata merembes keluar dari sudut netranya. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat serta mengeratkan rahangnya.
"Lihat saja suatu saat nanti akan ku balas perbuatan kejimu yang telah merenggut ibuku" batin Arga memanas.
Alvin yang ditugaskan oleh Arga mencari tahu penyebab kecelakaan Kasih pun kini mulai menemui titik terang. Dia menemukan rekaman CCTV minimarket yang merekam kejadian tersebut.
Sementara di tempat lain Bramantyo kini sedang duduk berbicara dengan asisten suruhannya.
"Bagaimana kau sudah membereskan gadis itu?" tanya Bramantyo sembari menyeruput kopinya.
"Sudah Tuan, sudah saya lakukan sesuai perintah anda" ujar pria tersebut.
"Lalu kau sudah memastikan bahwa dia telah lenyap?" tanya Bramantyo lagi.
"Melihat keadaannya yang cukup parah sepertinya dia sulit untuk diselamatkan. Mungkin dia sudah mati" ujar pria itu lagi.
"Apa? Mungkin? Sejak kapan aku minta jawaban mungkin. Aku ingin jawaban pasti. Dia sudah mati atau belum?" bentak Bramantyo.
"Ma-maaf tuan. Saat itu jalanan sedang ramai dan saya tidak mungkin mengecek keadaannya. Bisa-bisa saya kena amuk massa"
Bramantyo menjadi geram. Namun dia tak ingin terlalu mengambil pusing. Setidaknya wanita itu sudah terluka. Dan semoga saja janin yang dikandung Kasih tidak selamat.
Meski itu benih Felix namun dia tidak rela jika Kasih yang mengandung. Dia menganggap Kasih hanya akan menjadi benalu untuk keluarganya.
Bramantyo takut jika keberadaan Kasih dalam keluarganya hanya akan mengeruk kekayaannya saja.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Dia Amalia
sadis hidupmu kasih🥺🥺🥺
2023-11-18
0
Nur Lizza
semoga kamu tidk mendptkn keturuna berupa cucu untk selamany bramantyo😠😠😠
2023-09-13
0
nana purvis🌾🌾🌾
aku mampir, ceritanya seru..
semangat yah ..
2023-04-11
0