"Halo, iya Pa, pasti Arga sempatin. Tapi tidak dalam waktu dekat ini karena Arga masih banyak kerjaan. Felicia juga masih sibuk Pa" ujar Arga yang sedari tadi sedang menelepon Papanya.
Setelah telepon itu mati barulah dia sedikit lega. Lagi dan lagi, orang tuanya meminta Arga untuk dinner.
Bukannya Arga tidak mau, hanya saja keberadaan Felicia istrinya saja tidak tahu. Wanita itu juga jarang sekali bisa dihubungi.
Selama ini Arga pura-pura pernikahannya harmonis di depan kedua orang tuanya. Dia hanya tidak ingin kesehatan Papanya terganggu. Karena dia hanya punya Papanya.
...****************...
Di ruangan VVIP rumah sakit X Kasih masih terbaring lemas. Selang infus juga menempel di tangannya.
Dia masih memikirkan sosok pria yang menolongnya itu. Kemarin dia tidak sempat berbicara banyak karena pria itu nampak sibuk menelpon kemudian meninggalkan begitu saja.
Terdengar suara pintu terbuka membuyarkan lamunan kasih. Dokter datang untuk memeriksa keadaan Kasih.
"Selamat pagi nona Kasih, bagaimana keadaan anda? Apa masih pusing?" tanya dokter.
"Sudah lebih mendingan dok, Hanya saja masih terasa mual" ujar Kasih.
"mual itu wajar untuk anda yang masih hamil muda. Biasanya perlahan akan hilang saat usia kandungan menginjak trimester kedua" ujar dokter santun.
"Apa? Hamil? Sa-saya hamil dok?" seketika tubuh Kasih menegang.
"Iya, apa suami anda belum memberitahu anda?" tanya dokter.
"Suami?" seketika Kasih bertanya-tanya. Mungkinkah Felix yang datang.
"Iya, suami anda Pak Arga"
"Hah?" Kasih terkejut seketika. Bagaimana bisa seorang yang bahkan belum dia kenal mengaku suaminya.
Kasih tak ingin mendebat. Selain karena tubuhnya yang masih lemah namun situasinya juga kurang tepat untuk mendebat seorang dokter. Alhasil dia hanya diam.
Sementara yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah dia harus memberitahu Felix perihal kehamilannya.
Bagaimanapun Felix adalah ayah dari bayi ini. Dia yakin sekali.
Didalam ruangan tersebut hanya ada Kasih seorang diri. Hal itu segera dia manfaatkan untuk kabur.
Meski tubuhnya yang masih lemas dia mencoba untuk bangkit dan melepas infus yang menancap di tangannya secara paksa.
Darah sempat mengalir dari tangannya namun secepatnya Kasih meraih tissue dan menempelkan di tangannya.
Sambil terseok-seok Kasih mulai berjalan keluar ruangan. Dia berjalan sembunyi-sembunyi diantara orang-orang lalu lalang agar tidak dipergoki perawat.
Akhirnya Kasih berhasil juga keluar dari rumah sakit itu. Dalam hatinya dia merasa tidak enak dengan Pria yang telah menolongnya karena belum sempat mengucapkan terima kasih namun jika terlalu lama menunggu dia takut tidak ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan Felix.
Ditambah biaya administrasi rumah sakit itu tidaklah murah apalagi dia telah menempati ruangan VVIP.
"Maafkan aku.. Maafkan aku..." gumam Kasih dalam hati.
Dia terus melanjutkan perjalanannya menuju rumah Felix dengan berjalan kaki.
Jarak rumah sakit dengan rumah Felix untungnya tidak terlalu jauh. Kurang lebih dua kilometer.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya Kasih terus berjalan. Sesekali dia berhenti saat kepalanya terasa pusing.
Sementara Alvin yang diperintahkan Arga untuk menengok keadaan Kasih kini dibuat terkejut. Pasalnya di ruangan itu tidak ada siapapun.
Hanya ada cairan infus yang menggantung dan bekas darah tercecer di lantai bekas tangan Kasih.
Alvin segera menghubungi perawat serta Arga.
"Halo, Pak Arga. Nona Kasih kabur" ujar Alvin.
"Kabur? Bagaimana bisa? Bukannya kata dokter dia masih sangat lemah?" Arga pun tak kalah terkejutnya.
"Kata perawat tadi pagi dua masih berada di ruangannya tapi sekarang dia sudah pergi" ujar Alvin dalam sambungan teleponnya.
"Ya Sudah. Kamu cari saja di sekitar rumah sakit barangkali dia belum jauh" ujar Arga dengan nada sedikit kesal.
"Baik pak" Alvin menutup teleponnya.
Sebenarnya Alvin sedikit heran dengan sikap bosnya yang sedikit aneh. Tidak biasanya Arga akan sepeduli ini dengan orang lain bahkan baru dikenalnya.
Tapi meski bagaimanapun dia hanyalah bawahannya dan akan tetap patuh apapun yang di perintahkan oleh Arga.
Sementara Arga yang sedang duduk di ruangan kerjanya menjadi bingung sendiri.
Sejak menemukan kasih yang pingsan saat itu Arga tak bisa berhenti memikirkannya. Bagi Arga Kasih adalah sosok wanita yang cukup misterius.
Wajah cantiknya terus membayangi pikirannya.
Padahal ingin sekali dia tahu tentang kehidupan Kasih dan bagaimana bisa dia pingsan di jalan dalam keadaan hamil muda.
Bahkan Arga sempat menduga jika Kasih adalah wanita bayaran. Tapi wajah sendunya tidak cocok menjadi seperti itu.
Ah entahlah, Arga mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk.
.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya Kasih sampai juga di depan rumah Felix. Lebih tepatnya rumah yang pernah dia tempati bersama Felix mengarungi biduk rumah tangga.
Dia mulai memasuki pekarangan tersebut. Namun dia melihat mobil Bramantyo ayah Felix terparkir di halaman.
"Tumben sekali dia datang ke rumah ini, Apa karena Felix sudah menceraikan aku?" batin Kasih.
Tak mau ambil pusing dia langsung memecet bel pintu. Tak berselang lama sosok yang dia cari membukakan pintu.
"Kasih?" Felix sangat terkejut dengan kedatangan Kasih.
"Felix, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu" ujar Kasih.
Namun Felix buru-buru menarik tangan Kasih untuk menjauhi pintu.
"Ada apa Kasih kamu kesini? Bukannya urusan kita sudah selesai?" ujar Felix sedikit berbisik. Sepertinya agar Ayahnya tidak mengetahui hal ini.
"Felix, aku hanya ingin memberitahu bahwa aku hamil. Aku hamil anakmu Felix" ujar Kasih berkaca-kaca. Dia sangat berharap Felix kembali menerimanya.
"Apa? Kamu hamil? Yang benar saja. Yakin kamu kalau itu anakku?" tiba-tiba ucapan Felix terasa menyayat hatinya.
"Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa ini anak kamu" ujar Kasih.
Felix tampak kelabakan dan bingung. Bagaimanapun Felix sebenarnya masih mencintai Kasih. Namun saat ini Ayah Felix sedang dirumahnya. Tidak mungkin dia membawa Kasih kembali.
"Sudah, begini saja. Ini untuk kamu. Pakailah untuk kebutuhanmu tapi ku mohon cepat pergi dari sini" Felix menyodorkan sebuah kartu kredit ke tangan Kasih.
"Tapi Felix. Aku tidak butuh uangmu. Aku butuh tanggung jawabmu" air mata Kasih kini mulai meleleh membasahi wajah cantiknya.
"Maafkan aku Kasih. Tapi cepat pergilah" Felix mendorong tubuh Kasih agar menjauh darinya.
Kasih yang sangat sedih dengan perlakuan Felix hanya bisa diam menuruti. Digenggamnya kartu kredit itu kuat-kuat hingga membekas di telapak tangannya.
Sebenarnya dia tidak ingin menerima kartu itu namun dia juga tak munafik bahwa dirinya membutuhkan uang untuk melanjutkan hidup dengan calon bayinya.
Sementara di dalam rumah rupanya Bramantyo mendengar semua obrolan Felix dan Kasih. Dia menangkap betul pengakuan Kasih bahwa dirinya tengah hamil.
Perlahan Bramantyi mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Bereskan wanita itu secepatnya"
.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
gk sbr pengen lht felix dn bramatyo hancur2 ny 😠😠😠
mungkin mereka lhr dr batu
2023-09-13
0
վմղíα | HV💕
ku rasa kasih mau dicelakai mertua nya
2023-04-10
1
Nuhume
jahat bnget mertuanya tuhan😭🔪
2023-04-09
0