Felix merasa sangat enggan sebenarnya menuruti ayahnya yang ingin mengenalkan dirinya dengan anak koleganya.
Biar bagaimanapun hati Felix masih sangat mencintai Kasih. Dia terus merasa bersalah terlebih terakhir kali dia melihat Kasih dalam keadaan hamil.
Sementara Felix sama sekali tidak tahu sekarang keberadaan Kasih.
Bahkan kartu kredit yang pernah dia berikan kepada Kasih tak pernah digunakan sama sekali. Hal itu semakin membuatnya frustasi.
"Kasih.. Kau dimana?" gumam Felix sembari menatap nanar jalanan.
Jika saja ayahnya tidak mengancam akan menyakiti Kasih maka Felix tidak akan melepaskan istri yang sangat dicintainya. Namun bagaimana lagi, Felix tak berdaya melawan Bramantyo. Padahal tanpa dia tahu Bramantyo sudah berusaha melenyapkan Kasih.
****************
Kasih masih bergelung dengan selimutnya. Dia sangat malas hari ini. Entah kenapa moodnya sangat buruk dan melihat seisi apartemen ini saja membuatnya bosan.
TING!
Sebuah notifikasi di ponselnya menunjukkan transfer uang masuk ke M-banking Nya. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung.
"Tiga puluh juta?" gumam Kasih terkejut.
Tak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi. Rupanya pesan masuk dari Arga.
Mas Arga: "Saya sudah transfer uang, pakai saja buat belanja atau jajan apapun supaya tidak bosan"
Kasih pun kembali di buat heran. Bagaimana bisa Arga begitu memanjakannya.
Kasih : "Mas, apa itu tidak terlalu banyak?"
Lagi-lagi sikap Arga membuat Kasih bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang diinginkan pria itu darinya.
TING..
Mas Arga: "Tidak, itu untuk keperluanmu. Oh ya, kamu bisa masak? Saya ingin makan masakan rumahan nanti malam" pesan baru masuk dari Arga.
Kasih: "Bisa, Mas Arga mau makan apa?" tanya Kasih.
Mas Arga: "Terserah, sebisamu saja."
Seketika Kasih menjadi bingung. Selera pria itu pun dia tidak tahu. Lalu dia teringat sesuatu, makanan favorit mendiang ayah angkatnya.
"Baiklah, aku akan masak ayam kecap. Itu kesukaan Ayah" gumam Kasih.
Sejenak dia menjadi teringat Ayah angkatnya. Hanya dia sosok yang menyayangi Kasih, namun hal itu hanya berlangsung sampai dirinya berusia tujuh belas tahun. Ayahnya telah meninggal dunia.
Tak ingin berlama-lama sedih, Kasih pun segera bergegas pergi ke supermarket terdekat membeli bahan bahan untuk memasak.
Hanya ingin makan makanan rumah saja sudah transfer tiga puluh juta, sudah bisa dipastikan bahwa Arga tidak hanya sekedar makan masakan Kasih, namun juga sekalian orangnya.
Tapi dia tidak ingin membuat Arga kecewa, sehingga Kasih berinisiatif untuk bertanya kepada Alvin.
"Halo, Kasih ada apa? Kamu perlu sesuatu?" tanya Alvin.
"Kak, tadi Mas Arga minta dimasakin masakan rumahan, tapi aku bingung. Emang Mas Arga sukanya makan apa sih?" ucap Kasih.
"Oh, Pak Arga apa aja suka kok, dia gak pernah milih-milih makanan" ujar Alvin.
"Oh, yaudah makasih Kak"
"iya," Arga menutup teleponnya.
Alvin jadi tersenyum sendiri membayangkan hubungan Arga dan Kasih. Sebenarnya Arga ini mencari sugar baby atau istri?
Sementara Kasih dan Alvin kini sudah cukup akrab sehingga dia tidak lagi memanggil Kasih dengan sebutan Pak lagi.
Sosok Kasih mengingatkan Alvin akan Adik perempuannya yang terpisah dua puluh empat tahun lalu. Mungkin jika masih bersama kini pasti seumuran dengan Kasih.
.
Kasih sudah membeli bahan-bahan makanan dan sekarang dia langsung memasaknya di dapur.
Biasanya Arga akan datang sekitar pukul enam sore. Sekarang masih pukul empat jadi masih ada dua jam lagi untuk menyiapkannya.
Ketika masakan sudah siap tinggal menyajikan di meja, Kasih bergegas ganti pakaian dan merias diri.
Dia tahu Arga selalu ingin melihat penampilan Kasih yang stunning.
Kasih kini sudah merias diri dan memakai dress yang Arga belikan. Berwarna hitam lengan panjang di atas lutut. Dengan model press body serta belahan dadanya yang rendah membentuk V membuatnya kian seksi.
Kasih kembali ke dapur dan menata makanan di atas meja. Namun dirinya langsung tersentak saat dua tangan menelusup di pinggangnya.
"Hmmm.. Masak apa nih sepertinya enak" Arga menciumi pipi Kasih.
"M_Mas Arga.. Aku masak ayam kecap, tumis kangkung sama perkedel tahu. Soalnya bingung selera Mas apa?" jawab Kasih sedikit gemetar karena perlakuan pria itu yang sama sekali tidak lepas dari tubuhnya.
"Tapi saya mau mandi dulu. Tunggu ya.." Arga beranjak pergi ke kamarnya.
Sementara Kasih menunggu di meja makan tak berhenti meremas jemarinya sendiri. Dia takut Arga tidak cocok dengan masakannya padahal dia sudah memberi uang yang banyak.
Setengah jam kemudian Arga sudah selesai mandi. Dia memakai kaos oblong serta celana se lutut.
Aroma wangi sabun bercampur parfum serta wajah Arga yang tampak lebih segar membuat Kasih sejenak terpana.
Namun buru-buru dia menampiknya. Dia sadar Arga dan dirinya tak lebih hanya terikat kontrak.
Arga duduk di kursi dan Kasih segera mengambil nasi dan lauk pauk ke piring. Sekilas Arga membayangkan bahwa orang yang melakukan itu adalah Felicia. Mungkin dirinya akan lebih bahagia.
Saat suapan pertama masuk ke mulut Arga, Kasih benar-benar cemas dan gusar. Sementara ekspresi Arga benar-benar datar.
"G_Gimana mas? Nggak enak.. Ya?" tanya Kasih ragu-ragu.
Kemudian Arga menoleh dan menatap Kasih di sebelahnya. Benar-benar tatapan yang sangat sulit dimengerti.
"Enak kok, enak banget persis masakan mamaku" sudut bibir Arga terangkat membentuk lengkungan yang entah kenapa sangat indah saat dipandang.
Lagi-lagi Kasih dibuat deg-deg an dengan pemandangan itu namun segera hilang setelah mendengar penjelasan Arga. Dia sangat lega.
"Mas, mau tambah lagi?" Kasih menawari Arga.
"Boleh.." Dengan semangat Kasih langsung mengambil lagi makanan ke piring Arga.
Kini mereka berdua layaknya suami istri yang sedang menikmati makan malam bersama.
Ini untuk pertama kalinya Arga merasakan masakan yang dibuat langsung dari dapurnya.
"Terima kasih ya" ujar Arga sembari mengecup punggung tangan Kasih.
Begitu lembut perlakuan Arga.
"Sama-sama Mas, besok mau dimasakin lagi?" tanya Kasih.
"Boleh, kalau kamu tidak sibuk" ujar Arga.
"Tentu saja tidak Mas, lagian aku bosan juga tidak ada kegiatan" ujar Kasih.
"Baiklah, mulai malam ini saya akan sering tinggal disini jadi siapkan makanan untuk saya. Mau kan?" ujar Arga.
"Emm.. Tapi.. Bagaimana istri Mas?" Kasih mulai gelisah.
"Dia tidak pernah seperti ini" Arga menurunkan suaranya. Ada rasa getir dan sesak di benaknya.
Kasih sebenarnya penasaran dengan hubungan Arga dan istrinya. Namun dia juga tidak ingin lancang bertanya tentang hal itu.
"Yaudah, kalau mas butuh sesuatu bilang saja padaku." ujar Kasih.
Arga menatap Kasih, dia mengusap pipi wanita itu. Ternyata benar, saran Alvin sangat membantu. Setidaknya dia merasa lebih nyaman sekarang. Ada seseorang yang menemaninya saat pulang.
"Kasih.."
Panggil Arga pelan.
"Iya mas?" jawab Kasih.
"Besok buatkan saya bekal ya buat makan siang di kantor" ujar Arga.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
jgn jgn kasih adek ny alvin yg hilng dulu🤔🤔
2023-09-13
0
Eosha_shi
uwaaaa😍
2023-04-16
0