Setelah satu minggu hanya bisa berbaring di rumah sakit kini Kasih sudah berangsur pulih dan diperbolehkan untuk pulang.
Dan ini masalahnya, Kasih tak tahu kemana dia akan pulang. Sedangkan kartu kredit yang diberikan oleh Felix hilang entah kemana. Mungkin jatuh saat dia kecelakaan.
Sementara Alvin kini sudah berada di rumah sakit untuk menjemput Kasih.
"Nona, silahkan kami antar" ujar Alvin.
Kasih menjadi kelabakan. Dia saja tidak tahu akan kemana.
"Tidak.. Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri" ujar Kasih.
"Tidak bisa Nona, ini perintah Pak Arga. Saya bisa kena masalah" ujar Alvin.
"Tapi..." belum sempat Kasih meneruskan ucapannya Albin langsung menggiring Kasih ke dalam mobil.
"Anda bisa jelaskan di mobil. Sekarang mohon masuk dulu" dengan segera Alvin membuka pintu mobil dan mau tidak mau Kasih menurutinya.
Kasih duduk sendiri di kusi belakang sementara Alvin duduk di depan samping sopir.
Hening.
Nyatanya Alvin tak bertanya sama sekali kepada Kasih. Dia masih sibuk dengan ponselnya.
"Emm.. Saya.. Turunkan saya di sini saja. Saya bisa pulang sendiri" ujar Kasih mulai salah tingkah.
Namun sepertinya Alvin tahu. Ini bukan tempat yang tepat untuk Kasih turun. Jika dibiarkan wanita itu bisa jadi gelandangan di jalan tak tahu arah tujuan.
Sementara mobil terus melaju hingga menuju ke sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi.
Kasih dan Alvin turun dari mobil. Kasih tahu ini adalah sebuah komplek apartemen mewah. Tapi dia masih bingung kenapa Alvin membawanya kesini.
"Kenapa kita kesini?" Kasih masih bingung.
"Ini permintaan Pak Arga" ujar Alvin singkat.
Kasih tidak bisa menolak lagi jika Arga yang minta. Pria itu telah menolongnya dua kali. Sudah semestinya dia mengucapkan terima kasih.
Kasih terus mengekori Alvin dan kini dia sedang berada di dalam lift. Alvin memencet tombol ke lantai 12.
Akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah unit apartemen.
Alvin memencet kode keamanan pintu tersebut untuk membuka pintu.
"Silahkan nona" Alvin mempersilahkan Kasih memasuki apartemen tersebut.
Kasih melangkahkan kaki kedalam ruangan tersebut. Apartemen itu cukup luas. Dengan desain interior minimalis dominasi warna abu-abu dan terkesan maskulin.
"Nona, anda bisa beristirahat di sini sembari menunggu Pak Arga. Karena beliau masih ada urusan" ujar Alvin membukakan pintu kamar.
"I-iya terima kasih" jadi ini apartemen milik Arga. Gumam Kasih.
"Makanan sudah siap di meja makan. Jika butuh sesuatu bisa langsung hubungi saya. Ini sudah ada nomor saya" Alvin memberikan sebuah ponsel kepada Kasih.
Sebenarnya dia ragu menerima ponsel tersebut. Tapi Kasih tak bisa berbuat banyak.
Setelah itu Alvin pamit pergi dan kini tinggal Kasih sendirian di apartemen sebesar itu.
Kasih merasa bosan seharian karena Arga sejak tadi tidak juga muncul. Dia lalu iseng-iseng mencari tahu sosok Arga melalui internet.
Banyak sekali artikel bermunculan. Bagaimana sepak terjang seorang Arga di dunia bisnis yang tentu tak diragukan lagi.
Perusahaan bernama Aro Corp. Adalah miliknya dan menduduki rating cukup bagus di negeri ini. Bisa dibilang Arga bukanlah orang sembarangan.
Namun Kasih sejenak mulai berpikir. Seorang Arga yang namanya begitu besar dan tentu tidak mungkin tidak sibuk kenapa bisa mengurusi dirinya yang bukan siapa-siapa.
Kebanyakan orang menolong hanya sekedarnya tapi yang dilakukan untuk Kasih seolah berlebihan. Apa mungkin dia mau menagih biaya pengobatannya. Tapi orang kaya seperti dia mungkin akan berbelas kasih kepadanya.
Memikirkan hal itu membuat Kasih pusing sendiri apalagi keadannya yang masih belum pulih sepenuhnya membuat tubuhnya terasa lelah.
Alhasil Kasih pun mulai tertidur dengan pulas.
...****************...
Felix kini sedang disibukkan dengan persiapannya menjadi CEO di perusahaan milik ayahnya.
Meski begitu dirinya tetap merasa bersalah kepada Kasih. Demi kedudukan ini dia harus kehilangan istri yang begitu dicintainya.
"Maafkan aku Kasih.. Maafkan aku.." kalimat itu terus menggema di dalam hatinya. Terbalut pilu yang entah kapan atau sama sekali tak akan sampai kepada empunya.
"Felix, besok ayah mau kenalkan kamu kepada seseorang. Ayah rasa dia sangat cocok untuk menjadi pasanganmu" ujar Bramantyo.
Felix tersentak. Bagaimana bisa masih beberapa hari bercerai dengan Kasih kini ayahnya sudah ingin mengenalkan dirinya dengan wanita lain.
"Tapi ayah, aku masih ingin sendiri. Aku belum siap berhubungan dengan siapapun" tolak Felix.
"Ayah mau kamu punya pasangan yang sesuai. Bukannya salah pilih seperti kemarin" ujar Bramantyo.
Lagi-lagi Felix hanya bisa pasrah. Berdebat dengan ayahnya tidak akan pernah dia menangkan.
Tapi justru sikap Felix yang seperti itu membuatnya menjadi sosok yang kurang tegas.
...****************...
Kasih sangat pulas dengan tidurnya hingga tak sadar Arga sudah datang. Sebenarnya Arga ingin membangunkan Kasih namun melihat tidurnya yang tampak sangat nyenyak membuatnya tak tega.
Hampir satu jam berlalu dan hari sudah sore akhirnya Kasih mulai terbangun. Dia tersentak saat mengingat bahwa dirinya harus bertemu dengan Arga.
Dengan segera Kasih langsung bangkit dan berjalan keluar kamar meski sedikit sempoyongan.
Benar saja Arga sedang duduk di sofa sambil sibuk memainkan ipadnya. Kasih perlahan mendekati Arga.
"Ma-maaf.. Saya ketiduran" ujar Kasih.
Arga menatap Kasih kemudian meletakkan ipadnya di meja.
"Bagaimana keadaan kamu Kasih?" tanya Arga memastikan.
"S-sudah baik.." Kasih menunduk tak berani menatap Arga. Entah kenapa aura pria itu terkesan dingin dan mengintimidasi membuat Kasih bergidik sendiri.
Tapi bagaimanapun Kasih harus tetap berterima kasih kepada Arga.
"Pak Arga, saya ucapkan terima kasih banyak sudah menolong saya. Sungguh jika bisa saya ingin sekali membalasnya. Tapi.."
"Tentu kamu harus membalasnya" potong Arga.
Kasih tersentak saat mendengar ucapan Arga. Membalas? Dengan apa?
"Tapi.. Saya belum punya uang untuk sekarang ini. Mohon beri saya waktu untuk mengembalikan biaya pengobatan saya" ujar Kasih.
Kini Arga menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan kasih. Bahkan aroma parfum maskulin pria itu semakin terasa dihidung Kasih.
"Jika kamu tidak punya uang, kamu bisa membalasnya dengan yang lain" Suara Arga menjadi lebih berat.
"Ma_maksudnya?" Kasih mulai terbata.
Arga menyodorkan sebuah map kepada Kasih. Dengan ragu-ragu Kasih menerimanya.
"Apa ini Pak Arga?" tanya Kasih.
"Kamu terus memanggil Pak, memangnya Saya bapak kamu?" sanggah Arga.
"Maaf.. Tapi Pak Alvin memanggil anda begitu." ujar Kasih masih tak berani menatap pria itu.
"Itu beda. Kalau kamu tidak boleh memanggilku seperti itu. Panggil nama atau yang lainnya." ujar Arga.
"Mas.. Arga.." tanpa berpikir panjang Kasih langsung memanggilnya.
Arga sedikit terkejut. Ini pertama kalinya seseorang memanggilnya dengan 'Mas', tapi entah kenapa panggilan itu terasa beda.
"Baiklah terserah kamu saja. Sekarang cepat baca dan tanda tangani itu" Arga menunjuk Map itu.
Dengan ragu Kasih membuka map itu dan membaca lembaran kertas yang ada di dalamnya.
"Apa? Perjanjian kontrak?"
.
.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
setuju aja kasih apa yg di usul sm arga br bs balas dendam dn hidup mu gk melarat
2023-09-13
0
A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿
sekarang mas dulu ya arga, nanti lagi jadi ayang😁
2023-04-10
1