Sudah tiga hari sejak Kasih kecelakaan namun dirinya tetap belum siuman. Hal itu membuat Arga mulai cemas.
Sementara Alvin kini sudah mengantongi rekaman Video CCTV yang menampilkan kejadian kecelakaan itu. Dia langsung menemui Arga.
"Pak, aku menemukan rekamannya. Tapi polisi masih memburu pelaku. Mobil yang digunakan ternyata tidak terdaftar artinya pelaku sengaja mengincar Nona Kasih." ujar Alvin.
"Baiklah. Terimakasih Alvin" ujar Arga.
Arga semakin dibuat penasaran. Sebenarnya siapa Kasih dan kenapa dia diincar untuk di celakai?
Memikirkan hal itu membuat Arga menjadi pusing sendiri. Tak berselang lama dia menatap Kasih yang masih terkapar.
Saat memperhatikan tangannya tampak bergerak. Arga langsung mendekati Kasih dan benar saja, Kasih mulai menggerakkan jemarinya kemudian kelopak matanya mulai bergetar.
Dengan pelan dia mencoba untuk mengerjapkan matanya. Masih terlihat samar dan berat.
Saat matanya sudah mulai terbuka Kasih mencoba untuk mengumpulkan tenaga tapi entah kenapa badannya terasa sangat sakit bahkan lebih sakit dari sebelumnya.
Dia mengedarkan pandangannya dan langsung menangkap sosok Arga di sampingnya.
"Syukurlah, kamu sudah siuman" ujar Arga dengan wajah datarnya.
Kasih hanya memandangi pria itu dengan tatapan heran. Kesadarannya memang belum terbentuk sempurna.
Arga langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Kasih.
Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Kasih.
"Syukurlah keadaan Nona Kasih sudah lebih baik. Tinggal masa pemulihannya saja" ujar dokter yang memeriksa.
"Terimakasih dokter" ujar Arga.
Kemudian Arga mendekati Kasih. Dia menatap wajah sendu itu yang terlihat menahan sakit.
"Butuh sesuatu?" tanya Arga pelan.
"Ha_us.." sara Kasih sangat pelan karena tenaganya yang masih sangat lemah. Untung saja Arga langsung mengerti.
Dia mengambil segelas air minum di nakas kemudian mengambil sendok dan memberikannya kepada Kasih sedikit demi sedikit.
Arga sangat telaten merawat orang sakit karena kebiasaan dirinya yang dulu merawat ibunya.
Delapan tahun yang lalu, Ibu Arga mengalami kecelakaan yang juga korban tabrak lari.
Saat itu ibunya mengalami pendarahan otak dan kelumpuhan. Setelah berusaha bertahan selama dua bulan nyatanya Tuhan berkehendak lain.
Sejak saat itu Arga mencoba mencari tahu siapa yang telah mencelakai ibunya. Ternyata hal itu disengaja oleh saingan bisnis papanya.
Kenangan yang terlalu pahit jika harus mengingat hal itu. Hati Arga kembali tergugah saat melihat Kasih.
Setelah memberi minum Arga membiarkan Kasih beristirahat dan memproses kerja otaknya.
Tak sadarkan diri selama tiga hari membuat Kasih sedikit kesulitan mengingat masa lalu.
Dua jam berlalu dan Arga masih berada di ruangan itu. Sementara Kasih berulang kali bergerak. Arga yang mengetahui hal itu segera menghampirinya.
"Ada apa Kasih? Apa ada yang sakit?" tanya Arga.
"Tidak, tapi punggungku terasa panas. Sangat tidak nyaman" ujar Kasih.
Akhirnya Arga sedikit menaikkan posisi ranjang agar Kasih lebih nyaman.
"Maaf, kalau boleh tahu. Anda siapa?" tanya Kasih tiba-tiba.
Arga pun langsung melihat Kasih. Dia teringat bahwa waktu kemarin dia belum mengenalkan dirinya.
"Aku Arga, aku menemukanmu pingsan di jalan saat itu" ujar Arga.
"Terimakasih sudah menolongku. Maaf sudah merepotkanmu" ujar Kasih.
"i'ts okay, tapi kenapa kau kabur waktu itu? Dan bagaimana bisa sampai kecelakaan begini?" Tanya Arga.
Kasih menunduk dan mengusap perutnya. Tampak kedua matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku baru saja bercerai. Suamiku mengusirku dan saat dokter bilang aku hamil, aku mencoba untuk memberitahunya. Tapi bukannya dapat pertanggungjawaban aku kembali di usir. Entah kenapa saat di jalan ada mobil menabrakku. Setelah itu aku tidak ingat lagi" Air mata mulai menetes dari sudut netranya.
Sejenak Arga tertegun mendengar cerita Kasih. Melihat wajah itu sepertinya Kasih tidak berbohong.
"Tapi jika ini memang takdirku maka aku hanya bisa pasrah dan membesarkan anakku sendiri" ujar Kasih mengelus perutnya.
"Tapi... Tapi kau keguguran" Arga tak bisa menyembunyikan kenyataan ini lagi. Dia tidak ingin Kasih terus berharap pada hal yang sebenarnya sudah tak ada.
Kasih sangat terkejut mendengarkan ucapan Arga. Seketika tangisnya mulai pecah. Kasih tak dapat membendung kesedihannya.
"Kasih, Kasih.. jangan menangis.. Aduh sudah dong" Arga mencoba untuk menenangkan Kasih dengan menepuk-nepuk bahunya.
Sementara Alvin tiba di ruangan itu tampak keheranan. Dia melihat Kasih yang menangis histeris dan Arga yang tampak kebingungan.
Arga memang sosok yang kaku. Dia tidak terbiasa membujuk seseorang yang menangis.
Alvin pun akhirnya turun tangan.
"Nona Kasih, mohon tenanglah dulu.. Kondisi nona masih belum stabil, tenang ya nanti kita jelaskan.. " dengan sabar Alvin menenangkan Kasih. Dia mengusap lembut bahu wanita itu.
Dan benar saja akhirnya Kasih mulai sedikit tenang.
"Apa benar aku keguguran?" tanya Kasih.
"Sayangnya iya nona, kecelakaan yang anda alami cukup parah. Namun beruntung dokter bisa menyelamatkan anda." ujar Alvin penuh kesabaran.
"Tapi seharusnya mereka membiarkan aku mati saja. Percuma juga aku hidup. Tidak akan ada yang peduli kan?" gumam Kasih kesal.
"Tapi.." Arga yang mulai emosi hampir berdiri namun segera ditahan oleh Alvin.
"Nona, jangan seperti itu. Mungkin sekarang nona mengalami masalah tapi kita tidak tahu rencana Tuhan kedepannya kan?"ujar Alvin.
Sejenak Kasih mulai terdiam. Dia memikirkan kata-kata Alvin barusan.
"Pak ada yang ingin saya sampaikan" ujar Alvin kepada Arga.
"Baiklah silahkan." balas Arga.
Tapi Alvin memberi isyarat untuk berbicara secara pribadi. Akhirnya mereka pergi ke cafetaria rumah sakit.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Saya dapat informasi bahwa pelaku yang menabrak Nona Kasih adalah orang suruhan Bramantyo. Dan Nona Kasih adalah istri dari Felix anak Bramantyo" ujar Alvin.
Arga sangat terkejut mendengar hal itu. Dia tidak menyangka bahwa pelaku yang mencelakai Kasih sama dengan orang yang mencelakai ibunya dulu.
"Bramantyo?" Arga mengepalkan tangannya dan amarahnya mulai mendidih.
"Dia tega mencelakai menantunya sendiri?" gumam Alvin.
"Dia bilang baru saja diceraikan suaminya" ucap Arga membenarkan.
"Baiklah, jangan lepaskan Kasih. Mulai sekarang dia tanggung jawabku. Dengan dia juga aku akan membalaskan dendam ibuku" ujar Arga dengan perasaan kesalnya.
"Apakah kita akan memberitahu nona Kasih tentang hal ini?" tanya Alvin.
"Tidak, jangan sekarang. Aku yang akan memberitahunya pada saat yang tepat" ujar Arga.
Sementara Kasih di ruangannya menjadi semakin gelisah. Lagi-lagi dia harus mengalami musibah. Bahkan kali ini lebih parah.
Dia tak tahu tujuannya pulang saat ini. Dan juga dia tak memiliki uang sepeserpun. Bagaimana kalau Arga menagih biaya perawatannya di rumah sakit?
Jika dia harus kabur lagi sepertinya tidak mungkin. Tubuhnya saja masih terasa remuk.
"Arghh.." Kasih meringis kesakitan saat tak sengaja menghempaskan tangannya ke sisi ranjang. Dia lupa bahwa selang infus masih menancap.
.
.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
bersiap2 bramantyo😠😠😠
2023-09-13
0
վմղíα | HV💕
Arga lindungi kasih
2023-04-10
2
A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿
nah iya bener, balas dendam aja kasih, bareng arga
2023-04-10
1