Teriknya sinar matahari tak mengurangi Hiruk pikuk sibuknya kota. Jalanan macet, lalu lalang manusia yang sedang menghabiskan hari-harinya dengan setumpuk pekerjaan dan tanggungan mempertahankan hidupnya.
Ada yang tampak sibuk, ada pula yang santai menikmati hidupnya. Pilihan ada di tangan mereka.
Sementara Arga kini sedang sibuk-sibuknya untuk mempersiapkan proyek baru.
Bahkan hari ini saja dia harus melakukan meeting hingga empat kali. Beruntung suasana hatinya sedang baik hari ini sehingga dapat dia lalui dengan baik.
"Pak Arga, ada jeda tiga puluh menit anda mau dipesankan makan siang?" tanya Alvin.
"Tidak perlu saya sudah.."
TOK..TOK..TOK...
Suara seseorang mengetuk pintu ruangan Arga.
Arga mempersilahkan masuk. Salah seorang karyawan membawa sebuah paper bag untuk Arga.
"Pak ini ada kiriman untuk anda" ujar karyawan itu meletakkan Paper Bag di mejanya.
"Terimakasih" ujar Arga.
Alvin penasaran dengan isinya. Biasanya dia pesan makanan pasti di restoran andalannya namun melihat kantong itu seperti ya bukan tempat bisanya.
Arga mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag itu. Sebuah kotak bekal makanan.
"ini makan siang saya sudah sampai" Arga membuka kotak makan itu. Rupanya isinya tumis wortel, ayam goreng serta sambal goreng kentang.
Alvin pun heran melihat makan itu.
"Pak, tumben makan siangnya.."
"Ini masakan Kasih. Saya memang minta dibuatin bekal" ujar Arga berusaha menahan senyumannya.
"Ehhmm.. Jadi sekarang sudah ada yang masakin juga?" goda Alvin.
Arga hanya tersenyum miring. "udah, nih bantu ngabisin. Banyak banget soalnya"
Alvin pun tampak senang melihat bosnya menjadi lebih ceria sekarang. Entahlah takdir mereka seperti apa di masa depan yang pasti sekarang Arga sudah ada yang memperhatikan.
TING!
Saat mereka asyik menyantap makanan ponsel Arga berbunyi.
Kasih: "Mas, apa makanannya sudah sampai? Tadi ku antar pake ojol"
Arga langsung memotret makanannya beserta Alvin yang ikut makan.
Mas Arga: "ini kami sedang makan. Saya nggak habis jadi dimakan sama Alvin juga" Arga membalas pesan Kasih diam-diam dengan sudut bibir sedikit terangkat.
Kasih: "Kebanyakan ya Mas, maaf ya. Tapi gak papa sekalian Kak Alvin juga bisa makan siang"
Kak? Seketika Arga melirik Alvin. Sejak kapan mereka memanggil Kak?
Mas Arga: "It's okay, nanti malem nggak usah masak. Kita dinner di luar ya"
Kasih: "Iya Mas.."
...****************...
Felix sedang duduk dengan gelisah di sebuah kursi salah satu restoran ternama di daerah itu.
Sementara Bramantyo baru saja datang dan langsung disambut Felix.
"Selamat malam Ayah" Felix memeluk Bramantyo.
"Malam anakku, bagus sekali kamu selalu datang lebih awal" ujar Bramantyo.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bariton langkah kaki mendekati mereka.
Seorang pria paruh baya yang berumur sepantaran dengan Bramantyo serta gadis cantik dengan penampilan glamour.
"Selamat malam Bram, maaf lama nunggu ya. Biasa kena macet" ujar pria itu menyalami Bramantyo juga Felix.
"Selamat malam, Om" ujar wanita itu
Bramantyo pun langsung menyambut kedua orang itu dengan begitu hangat.
"Tidak apa-apa, kami juga baru datang. Oh jadi ini putrimu Har? Benar-benar sangat cantik" ujar Bramantyo.
Gadis itu pun langsung tersenyum mendengar pujian Bramantyo.
"Jadi siapa nama gadis cantik ini?" tanya Bramantyo lagi.
"Olivia Om," jawabnya.
"Olivia, ini Felix anak Om" ujar Bramantyo mengenalkan Felix. Felix hanya menyapa seadanya.
Sejak tadi sebenarnya Olivia sudah tertarik kepada Felix. Sementara Felix terkesan cuek dan pendiam membuat Olivia semakin penasaran dibuatnya.
Mereka berempat sedang menikmati hidangan makan malam.
Sementara Kasih dan Arga baru saja sampai di restoran. Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan luar serta indahnya langit malam yang diterangi sinar bulan.
Sembari menunggu makanan yang dipesan datang Kasih meminta ijin untuk ke toilet.
Disaat yang sama Olivia juga pergi ke toilet sehingga mereka bertemu di sana.
Kasih sedang mencuci tangan dan membetulkan penampilannya di depan wastafel.
Tiba-tiba fokusnya teralihkan oleh seseorang yang sedang sibuk menelepon.
"Iya-iya, aku udah ketemu orang ya kok. Ya ampun ternyata lebih cakep aslinya banget. Pokoknya gak nyesel aku dijodohin papa sama dia" ujar wanita itu berbicara dengan seseorang melalui teleponnya.
Tampak wanita cantik itu tersenyum kegirangan. Tak ingin berlama-lama Kasih segera kembali menemui Arga.
"Kasih," panggil Arga pelan.
"Iya Mas?" jawab Kasih.
"Sejak kapan kamu panggil Alvin Kakak?" tanya Arga penasaran.
"Oh, itu beberapa hari yang lalu. Biar akrab aja Mas" ujar Kasih.
"Awas lo, Alvin itu playboy." entah kenapa tiba-tiba Arga mengucapkan hal itu.
"Iya-iya Mas, lagian kami hanya berteman kok" ujar Kasih.
Tak berselang lama makanan pun datang. Arga dan Kasih langsung menikmati makanan tersebut karena mereka juga sudah lapar.
Saat sibuk memakan makanannya Kasih melihat sosok wanita yang ditemuinya di toilet tadi berjalan. Rupanya mereka ada empat orang dan salah satu dari mereka adalah sosok yang sangat di kenalnya.
"Mas Felix?" gumam Kasih sambil mengernyitkan dahinya.
Arga langsung menatap Kasih kemudian mencari sosok yang dilihat Kasih.
Tampak Empat orang berjalan keluar restoran. Dan sosok yang sangat Arga kenal yaitu Hendro.
Seketika wajah Kasih memanas. Dia meletakkan sendoknya dan matanya kini mulai berkaca-kaca.
"Jadi, wanita yang di toilet tadi yang akan dijodohkan dengan Felix? Secepat itu?" batin Kasih dengan wajah semakin memanas.
"Hey Baby, are you okay?" Arga melihat perubahan ekspresi Kasih yang cukup drastis.
"Dia.. Dia mantan suamiku" ujar Kasih.
Arga langsung tahu bahwa pria itu tadi adalah putra Bramantyo dan mantan suami Kasih.
"hmm.." jawab Arga singkat.
Selesai makan malam mereka kembali ke mobil. Sementara Kasih kini tampak sekali lesu wajahnya.
Arga hendak memasang seatbelt tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Pak, saya melihat nona Felicia menginap di hotel x bersama seorang pria" tulisan pesan dari anak buah Arga.
Akhirnya tanpa ba bi bu Arga langsung bergegas pergi ke hotel X.
Kasih yang masih bersedih hanya bisa pasrah kemana Arga membawanya.
Sampailah mereka di hotel X. Arga segera memesan kamar tepat di sebelah kamar Felicia.
"Mas, kenapa kita ke hotel?" tanya Kasih penasaran.
"Saya ingin tidur di sini. Bosan di rumah" seketika ucapan dan ekspresi pria itu berubah menjadi dingin.
Kasih bergidik sendiri tak berani menatap wajah Arga itu.
Arga segera menuju kamar yang dia pesan. Saat berada di lift Arga tampak diam membisu hingga mereka sampai di kamar yang dituju.
Namun Arga tampak diam sejenak menatap pintu kamar sebelahnya. membuat Kasih semakin penasaran.
"Jika kau pikir bisa bermain api dengan pria lain. Sekarang aku pun bisa mengikuti permainan kalian. Suatu saat nanti akan ada saatnya untukku menang" ujar Arga dalam hati.
.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
lnjut
2023-09-13
0